Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Kamar Sang Presdir
Mobil sedan mewah membawa mereka meninggalkan kediaman utama Adijaya menuju sebuah penthouse dua lantai di kawasan termahal pusat kota. Tempat ini adalah hunian pribadi Evan, jauh dari jangkauan keluarga besar maupun mata-mata media.
Suara pintu bernomor 3601 yang terbuka secara otomatis menggunakan pemindai sidik jari terdengar menggema. Aura melangkah masuk dengan hati-hati. Interior penthouse itu didominasi warna hitam, abu-abu monokrom, dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Mewah, modern, namun terasa sangat sepi dan hampa.
"Ini tempat tinggalmu mulai sekarang," suara Evan memecah keheningan seraya melepaskan jas lamanya dan menyampirkannya di lengan.
Aura memperhatikan sekeliling. "Di mana... kamar saya?"
Evan berbalik, menatap Aura dengan sepasang mata cokelatnya yang tajam. "Kamar utama ada di lantai dua. Kau akan tidur di sana."
Aura mengerutkan kening, teringat salah satu poin perjanjian mereka semalam. "Bukannya di dalam kontrak tertulis kalau kita tidak akan tidur di kamar yang sama?"
"Secara publik dan di depan para pelayan di rumah ini, kau adalah istriku," jawab Evan datar seraya melangkah mendekat. "Kakek terkadang mengirim pengawas atau dokter pribadinya secara mendadak ke mari untuk memastikan pernikahan kita bukan rekayasa. Jadi, kita harus berada di satu kamar yang sama."
Jantung Aura berdegup lebih cepat saat jarak di antara mereka menipis. "Lalu..."
"Tenang saja. Aku tidak tertarik untuk menyentuh wanita yang menjual dirinya demi uang," potong Evan dingin tanpa beban. Pria itu menunjuk ke sebuah sofa panjang berbahan kulit yang terletak di sudut kamar utama setelah mereka naik ke lantai atas. "Kamar ini memiliki tempat tidur berukuran king size dan satu sofa besar. Kau bisa tidur di tempat tidur, dan aku di sofa. Atau sebaliknya. Terserah padamu."
Aura menelan ludah, sedikit lega namun juga merasa martabatnya sedikit tergores oleh ucapan pedas Evan.
"Saya bisa tidur di sofa, Tuan maksudku, Evan," kata Aura cepat, membetulkan panggilannya saat melihat tatapan peringatan dari pria itu.
"Terserah," sahut Evan acuh tak acuh. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas dan satu unit laptop. "Lemari sebelah kanan sudah dikosongkan untuk pakaianmu. Pakaian yang dibeli oleh Bimo tadi siang juga sudah digantung di sana. Mulai besok, aku tidak ingin melihatmu memakai pakaian murah seperti yang kau kenakan hari ini jika kita sedang keluar bersama."
Aura meremas jemari tangannya sendiri. Rasa sakit akibat kata-kata Evan kembali menghantam dadanya. "Pakaian saya mungkin murah, tapi dibeli dengan uang hasil keringat saya sendiri. Saya tahu posisi saya di sini hanya sebagai pajangan, tapi tolong jaga ucapanmu."
Evan yang baru saja hendak membuka laptopnya terhenti seketika. Ia mengalihkan pandangannya, menatap Aura dengan alis terangkat. Jarang sekali ada orang (terutama wanita) yang berani memprotes atau membalas ucapannya dengan nada sedingin itu.
"Kau punya keberanian juga ternyata," bisik Evan seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja. "Tapi ingat, Aura. Di rumah ini, aku yang membuat aturan. Jangan coba-coba mengajariku cara berbicara."
Aura memilih untuk tidak membalas lagi. Memperpanjang perdebatan dengan pria seperti Evan hanya akan menguras energinya. Ia berjalan menuju lemari besar yang ditunjuk Evan, membelakangi pria itu, lalu mulai memindahkan beberapa potong pakaian sederhananya dari dalam koper.
Saat Aura membuka pintu lemari, matanya melotot kecil. Di dalamnya sudah terpajang puluhan gaun malam, pakaian santai berbahan sutra, hingga tas dan sepatu dari merek-merek ternama dunia yang harganya bisa menyamai gaji Aura selama bertahun-tahun. Semua tersusun rapi dengan label harga yang bahkan belum dilepas.
Uang benar-benar bisa membeli segalanya bagi orang seperti dia, batin Aura pahit.
Malam semakin larut. Suara dentikan jemari Evan yang mengetik di atas papan ketik laptop menjadi satu-satunya suara yang mengisi kamar luas itu. Aura yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan piyama kain biasa yang ia bawa dari kosan, duduk canggung di tepi tempat tidur besar.
"Kenapa belum tidur?" tanya Evan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Saya... belum terbiasa," jawab Aura pelan. "Bagaimana dengan kondisi rumah sakit adikku? Apakah proses operasinya sudah dijadwalkan?"
"Bimo sudah mengurus seluruh tim dokter spesialis terbaik di rumah sakit Medika. Hari Selasa depan adikmu akan menjalani operasi tahap pertama," jawab Evan datar. "Kau tidak perlu khawatir. Adijaya Group tidak pernah ingkar janji dalam hal transaksi."
Mendengar kata 'transaksi', dada Aura kembali terasa sesak. Namun kabar bahwa adiknya akan segera dioperasi membuat sebagian beban berat di pundaknya terangkat.
"Terima kasih," cicit Aura tulus.
Evan menghentikan ketikannya sejenak. Ia melirik wanita yang sedang duduk di tepi ranjang itu melalui sudut matanya. Aura tampak begitu rapuh dengan rambut hitamnya yang terurai basah di bahu, namun matanya memancarkan ketegaran yang aneh.
"Terima kasihnya disimpan saja untuk nanti," gumam Evan dingin, lalu mematikan laptopnya. Ia berdiri, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja. "Aku mau mandi. Jangan sentuh barang-barang di meja kerjaku."
"Baik."
Begitu Evan melangkah masuk ke dalam kamar mandi dalam, Aura menarik napas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa sangat empuk. Ia memandang langit-langit kamar yang tinggi. Hidupnya telah berubah seratus delapan puluh derajat dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Evan keluar hanya dengan mengenakan celana panjang kain hitam dan kaos polos berwarna abu-abu. Rambutnya yang basah sedikit berantakan, memberikan kesan yang sangat berbeda dari penampilan formalnya di siang hari.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Evan mengambil sebuah selimut tebal dan bantal dari dalam lemari, lalu berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan. Pria itu merebahkan tubuh tingginya di atas sofa yang sebenarnya agak terlalu sempit untuk posturnya.
Aura yang melihat hal itu merasa tidak enak hati. "Evan... kasur ini sangat luas. Kamu bisa tidur di sini jika sofanya terlalu sempit. Aku bisa pindah ke sofa."
Evan yang sudah memejamkan mata membalas tanpa membuka matanya, "Tidur saja. Jangan buat aku menyesal sudah memberimu kamar ini."
Suaranya yang tegas mengunci rapat-rapat niat Aura untuk berdebat lebih lanjut. Aura akhirnya membalikkan badan membelakangi posisi sofa, memeluk bantalnya erat-erat.
Di dalam kegelapan kamar mewah itu, dua orang asing yang terikat oleh lembaran kertas perjanjian kini berbagi ruangan yang sama. Satu terbelenggu oleh ambisi kekuasaan, dan yang satu terperangkap oleh tuntutan takdir. Tanpa mereka sadari, benih-benih takdir baru saja ditanam di antara dinginnya dinding batu penthouse tersebut.
________
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komentar...