Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Peluru untuk Sang CEO
Pecahan kaca beterbangan bagaikan hujan kristal tajam, berkilat di bawah sorotan lampu gantung restoran. Bau mesiu yang menyengat langsung memenuhi udara bersamaan dengan jeritan histeris dari para pengunjung dan pelayan yang berhamburan mencari perlindungan.
"Adrian!" pekik Aria.
Aria merasakan tekanan berat tubuh Adrian yang menindihnya di lantai marmer, mendekap kepala dan lehernya rapat-rapat. Suara dentuman senapan jarak jauh berkaliber tinggi kembali menggema, menembus dinding kayu tepat di atas tempat mereka berlindung beberapa detik lalu.
"Tetap di bawah, Aria! Jangan bergerak!" bisik Adrian. Suaranya terdengar parau dan tertahan.
Pengawal pribadi Adrian yang bersiap di luar restoran langsung mendobrak masuk, merangsek maju seraya mengokang senjata api untuk membuat barikade perlindungan.
"Tuan Adrian! Kita harus evakuasi sekarang juga! Sniper berada di atap gedung seberang!" teriak salah satu pengawal dengan nada panik.
Adrian perlahan mengangkat tubuhnya, membantu Aria berdiri di dalam kepungan barikade para pengawal. Saat itulah Aria merasakan cairan hangat dan kental mengalir mengenai jemarinya yang gemetar.
Aria menatap tangannya. Warna merah pekat melapisi telapak tangannya.
"Adrian... kau..." Aria menatap bahu kiri Adrian dengan mata membelalak horor.
Kemeja putih mewah sang CEO telah terkoyak dan diresapi oleh darah segar yang mengalir deras. Sebuah peluru penembak jitu telah menyambar bahu kirinya saat ia melempar tubuhnya untuk melindungi Aria.
"Aku tidak apa-apa, Aria... hanya luka gores," ujar Adrian berusaha tersenyum, meski wajahnya mendadak pucat pasi dan peluh dingin menetes di pelipisnya.
"Tuan, cepat!"
Para pengawal melindunginya hingga mereka berhasil masuk ke dalam mobil lapis baja (armored car) yang sudah bersiap di pintu belakang restoran. Mobil melaju kencang dengan kecepatan tinggi, membelah lalu lintas menuju rumah sakit swasta eksklusif milik Mahardika Group.
Dua jam kemudian.
Ruang tunggu VIP lantai teratas rumah sakit terasa amat hening dan dingin. Aria duduk di kursi panjang dengan gaun hitamnya yang ternoda bercak darah kering milik Adrian. Kalung platina berliontin berlian masih melingkar di lehernya, terasa amat berat seolah mengingatkan dirinya akan pengorbanan nyawa yang baru saja terjadi.
Dokter bedah keluar dari ruang operasi, melepaskan maskernya. Aria langsung meloncat berdiri.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Aria cemas.
"Beruntung pelurunya tidak menembus arteri utama atau mengenai tulang sendi, Nona Utama," jelas dokter tersebut. "Prosedur pengangkatan proyektil berjalan sukses. Tuan Mahardika sudah sadarkan diri, namun beliau masih sangat lemah akibat pendarahan."
Aria menghela napas lega yang panjang, air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes melewati pipinya.
Aria melangkah pelan memasuki kamar perawatan VIP. Adrian terbaring di atas ranjang medis dengan infus terpasang di tangannya dan balutan perban tebal membungkus bahu hingga dadanya. Meski raut wajahnya masih pucat, mata cokelat gelapnya langsung berbinar saat melihat Aria masuk.
"Aria..." panggil Adrian pelan, suaranya lemah.
Aria mendekat dan duduk di kursi samping ranjang. Ia meraih tangan kanan Adrian yang bebas dari infus, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.
"Kenapa kau melakukan hal gila itu, Adrian?" bisik Aria dengan suara bergetar menahan tangis. "Kau bisa terbunuh! Peluru itu seharusnya tidak mengenai dirimu!"
Adrian mengelus punggung tangan Aria dengan ibu jarinya, memberikan tekanan lembut yang hangat.
"Aku lebih baik mati daripada melihatmu terluka di hadapanku, Aria," jawab Adrian tulus. Tatapan matanya memancarkan kehangatan dan komitmen mendalam tanpa ada sedikit pun rasa penyesalan. "Aku sudah berjanji akan melindungimu dari bahaya apa pun... dan aku memegang janjiku."
Rasa bersalah dan keharuan membakar dada Aria. Di saat ia mempertanyakan niat Adrian dan sempat goyah oleh pesona berbahaya Dante Vance, Adrian justru mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkannya.
"Terima kasih, Adrian..." bisik Aria, menyandarkan keningnya di atas genggaman tangan Adrian. "Saya berjanji... saya tidak akan pergi ke mana-mana. Saya akan tetap di sisi Anda."
Adrian tersenyum tipis, membelai rambut hitam Aria dengan penuh kasih sayang.
Namun, di balik pintu kaca kamar perawatan yang kedap suara, Rian—asisten pribadi Adrian—melangkah mendekat dengan raut wajah keras. Ia menunjukkan sebuah kantong bukti plastik berisi proyektil peluru yang baru saja diangkat dari tubuh Adrian.
Di atas proyektil timah berdarah itu, terukir sebuah simbol kecil yang sangat spesifik: Kepala Ular Naga.
Serangan sniper ini bukan sekadar ancaman, melainkan deklarasi perang terbuka dari Dante Vance untuk merebut Aria dan menghancurkan sang CEO secara mutlak.