Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23.
Matahari pagi perlahan merayap naik, memantulkan cahaya keemasan yang menembus tirai jendela ruang rawat inap VVIP rumah sakit. Aroma khas cairan antiseptik dan obat-obatan mendominasi ruangan yang luas dan tenang itu.
Di atas ranjang, perlahan-lahan kelopak mata Arabella berkedip. Bulu matanya yang basah oleh sisa air mata bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Pandangannya tampak kosong, menatap lurus ke langit-langit kamar yang putih bersih tanpa nyawa.
Gerakan kecil dari jemarinya yang mencengkeram selimut seketika membangunkan seseorang yang tertidur di samping brankar. Christian mengangkat kepalanya. Pria paruh baya berwibawa itu tampak kelelahan, kemeja nya sedikit kusut karena semalaman suntuk berjaga di kursi tanpa beranjak.
"Arabella, kau sudah bangun.. Bagaimana keadaan mu.. Apakah ada yang sakit.." Tanya Christian beruntun.
Bella hanya diam, sama sekali dia tak menoleh atau menjawab pertanyaan itu.
Bukan hanya Christian yang ada di sana. Tidak jauh dari ranjang, di atas sofa panjang sudut ruangan, Nathan tertidur dengan posisi meringkuk. Wajah pemuda itu tampak letih, dengan sisa air mata yang sudah mengering di pipinya.
Bella menoleh perlahan, menatap Christian sekilas tanpa sepatah kata pun. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan. Sorot matanya begitu datar, seolah jiwanya telah tertinggal di tempat lain.
Tak lama kemudian, pintu ruang rawat terbuka pelan. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi obat dan jarum suntik.
"Selamat pagi, Dokter Christian," sapa perawat itu ramah sambil menunduk hormat kepada atasan sekaligus dokter yang merawat Bella.
Christian mengangguk kecil, mengusap wajahnya yang lelah. "Bagaimana keadaannya pagi ini, Suster?"
"Suhu tubuhnya sudah jauh membaik, Dok. Tinggal kita pastikan cairan infusnya terserap dengan baik," jawab perawat itu, lalu beralih menatap Bella yang terbaring kaku. "Arabella, saatnya minum obat dan disuntik vitamin ya, Nak. Biar cepat pulih."
Bella tetap diam seribu bahasa. Ia tidak menolak, namun juga tidak merespons. Ia membiarkan perawat menyuntikkan cairan vitamin ke selang infus di tangannya dengan tatapan kosong menerawang ke dinding. Setelah selesai, perawat itu undur diri dengan senyuman prihatin.
Christian berdiri dari kursinya, merapikan sedikit pakaian yang dikenakannya. Ia menatap Bella dengan sorot mata penuh keteduhan yang kontras dengan perangainya yang biasanya dingin.
"Arabella... Om harus pergi ke rumah sakit pusat untuk urusan medis mendadak," pamit Christian lembut, mengusap puncak kepala Bella penuh kasih. "Kakakmu, Nathan, akan menjaga kamu di sini sementara waktu. Nanti siang, Papa dan Mama kalian akan datang kemari."
Mendengar kata "Papa dan Mama", mata Bella mengerjap perlahan, namun ia tetap memilih mengunci rapat bibirnya.
"Om pergi dulu. Jangan lupa sarapan dan istirahat," imbuh Christian sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan, meninggalkan pintu yang tertutup rapat pelan-pelan.
*
Di dalam ruangan yang kembali sunyi, hanya tersisa Bella dan Nathan.
Nathan yang tadinya berpura-pura tidur perlahan membuka matanya. Pemuda itu bangkit dari sofa, merapikan bajunya dengan canggung, lalu berjalan pelan mendekati ranjang Bella.
Jantungnya bergemuruh hebat. Sebenarnya, rasa khawatir meremukkan dada Nathan sejak semalam; ia ingin meminta maaf, ia ingin memeluk adiknya. Namun, egonya sebagai seorang kakak lelaki yang terbiasa bersikap keras terlalu besar untuk diakuinya secara langsung. Di dalam kepalanya, ia masih merasa bersalah namun tertutup oleh gengsi yang tebal.
Belum sempat Nathan membuka suara, pintu kembali terbuka. Kali ini perawat masuk membawa nampan berisi sarapan hangat—bubur lembut dan segelas air hangat.
"Silakan dimakan ya, Nona muda, biar lekas bugar," ujar perawat itu ramah sebelum meletakkan nampan di nakas lalu pergi.
Nathan mengambil mangkuk bubur tersebut. Ia menatap sendok di tangannya, lalu melirik Bella yang masih membuang muka ke arah jendela.
"Bella..." panggil Nathan dengan suara serak, terdengar kaku dan canggung. "Makanlah sedikit. Kamu belum makan dari kemarin malam."
Bella tidak bergeming. Ia menutup matanya pelan, mengabaikan keberadaan kakaknya sepenuhnya.
Nathan mendesah berat, rasa frustrasi dan takut bercampur aduk di dadanya. "Jangan begini, Bell... Jangan buat aku merasa semakin bersalah. Tolong, makanlah suapan ini..." bujuk Nathan lagi, suaranya mulai bergetar hebat. "Kalau kamu nggak mau makan, nanti saat Mama datang, aku pasti akan dimarahi habis-habisan karena nggak bisa jagain kamu..."
Mendengar kalimat terakhir itu, pertahanan Bella runtuh seketika.
Bella menoleh perlahan. Air mata yang sejak semalam tertahan akhirnya tumpah begitu saja, membasahi pipinya yang pucat pasi. Tanpa diduga, gadis itu perlahan menegakkan tubuhnya, bersandar pada bantal rumah sakit dengan bantuan napasnya yang memburu.
Nathan tertegun kaku melihat Bella mau bergerak. Dengan tangan bergetar hebat, Nathan menyendok sedikit bubur itu, lalu menyodorkannya ke bibir adiknya.
"A-ayo... makan, Bell..." ucap Nathan terbata, sementara air mata pemuda itu sendiri akhirnya lolos menetes, jatuh mengenai punggung tangannya. Namun, Nathan dengan cepat menggigit bibirnya, mempertahankan egonya setengah mati agar tidak terlihat terlalu lemah.
Bella membuka bibirnya perlahan, menerima suapan pertama dari sang kakak. Seketika itu juga, tangisan Bella pecah tanpa suara. Bahunya bergetar hebat.
Bagi Bella, ini adalah pertama kalinya seumur hidup ia disuapi oleh Nathan—kakak lelaki yang selama ini selalu bersikap dingin, ketus, dan kasar kepadanya. Di balik bentakan dan tatapan tajam yang selama ini ia terima, baru kali ini ia merasakan sentuhan perhatian seorang kakak.
Namun, kenyataan pahit langsung menghujam ulu hatinya: kakak yang sangat ia rindukan kasih sayangnya ini... ternyata bukan kakak kandungnya. Pria yang selama ini melindunginya secara tidak langsung adalah orang lain yang tidak memiliki ikatan darah apa pun dengannya.
Nathan ikut terisak pelan melihat Bella menangis tergugu. Ia terus menyuapi adiknya dengan tangan yang gemetar hebat, berusaha menelan rasa sakit dan ego yang selama ini membelenggu hubungan mereka.
"Sudah.." ucap Bella singkat.
"Sedikit lagi." Nathan mencoba membujuknya lagi
"Tidak.. Sudah cukup." Bella tetap kekeh. Dan akhirnya, Nathan menghentikan suapannya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawat terbuka lebar. Alan dan Karin masuk dengan terburu-buru. Wajah Karin tampak pucat dengan mata sembab, sementara Alan berjalan dengan rahang mengeras penuh wibawa.
Melihat kondisi putrinya, Alan langsung menoleh tajam ke arah putranya. "Nathan," panggil Alan tegas. "Pulanglah sekarang. Bukankah hari ini kau harus ke kampus dan ke kantor?. Kalau Tak enak badan karena bergadang, biarkan masalah kantor dan urusan luar, biarkan asisten pribadi Papa yang atur. Kau istirahat saja di mansion."
Nathan sempat ragu, melirik sekilas ke arah Bella yang menunduk. "Tapi, Pa..."
"Sudah, ikuti kata Papa, Nathan, biar Bella mama yang menjaga." timpal Karin dengan suara parau.
Dengan berat hati dan rasa berat di dada, Nathan mengangguk pelan. Ia menatap Bella sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Karin langsung menghambur ke ranjang. Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Bella dengan erat, menangis sejadi-jadinya di ceruk leher putrinya.
"Bella... anakku... maafkan Mama, sayang... Maafin Mama..." rintih Karin pilu, menciumi rambut Bella berulang kali.
Bella hanya terdiam kaku di dalam pelukan itu. Jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sangat bahagia. Pelukan inilah yang paling ia rindukan di dunia—kehangatan seorang ibu yang selama ini melindunginya. Namun, rasa hangat itu kini terasa asing dan menyakitkan karena bayang-bayang rahasia besar keluarganya.
Dengan tangan gemetar, Bella perlahan melepaskan pelukan Karin. Ia menatap kedua orang tua yang telah membesarkannya itu dengan mata basah dan tatapan yang menyayat hati.
"Mama... Papa..." bisik Bella parau, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Kalau aku... kalau aku memang benar-benar bukan anak kandung kalian... di mana orang tua kandungku sebenarnya?"
Karin dan Alan tertegun seketika, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan.
"Biar aku pergi dari sini..." lanjut Bella dengan air mata yang terus mengalir deras. "Biar aku kembali pada keluarga kandungku... Aku nggak mau kehadiran aku merusak semuanya. Aku nggak mau perusahaan Papa hancur gara-gara perbuatan Bodoh ku..."
"Bella! Apa yang kamu bicarakan?!" sela Alan tajam, suaranya meninggi namun bergetar hebat. "Kamu adalah anak Papa dan Mama! Jangan pernah bicara seperti itu lagi!"
"Tapi itu kenyataannya, Pa!" jerit Bella tertahan, napasnya tersengal-sengal menahan sakit di dadanya. "Biar aku yang buat klarifikasi ke semua rekan bisnis Papa... Biar aku umumkan kalau aku bukan anak kandung keluarga Allegra... Dengan begitu, tidak akan ada rekan bisnis yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan Papa... Tolong... biarkan aku pergi..."
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang