Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN KAISAR
Duchess Clara mendekati Aura dan menggenggam tangan putrinya erat-erat, napasnya lega luar biasa.
"Akhirnya... sampah-sampah itu sudah tersingkir dari hidupmu, Sayang," bisik Duchess Clara dengan mata berbinar puas.
"Iya, Ibu. Pertunjukan malam ini benar-benar berjalan sesuai rencanaku," jawab Aura menoleh pada ibunya, lalu tersenyum manis.
Aura melirik sekilas ke arah singgasana Kaisar, di sana, Kaisar Zane masih fokus menatap ke depan dengan raut wajah datar nya, benar-benar sosok penguasa yang dingin dan sulit ditebak.
"Sesuai dugaan, pria seperti Kaisar Zane memang tidak peduli pada siapa pun, tapi setidaknya, rencanaku memanfaatkan situasi ini berhasil," batin Aura tersenyum sinis.
Pesta yang sempat kacau itu perlahan-lahan kembali berjalan, walau suasana terasa berbeda dari sebelumnya.
Suara denting gelas dan alunan musik kembali terdengar, tapi pandangan hampir seluruh bangsawan masih sering tertuju pada Aura.
Duchess Clara menyenggol pelan lengan putrinya sambil tersenyum bangga.
"Ibu benar-benar tidak menyangka kamu akan seberani itu, Aura," bisik Duchess Clara dengan mata berbinar.
Aura menyunggingkan senyum tipis, merapikan lipatan gaunnya yang sedikit kusut.
"Seseorang harus memberi pelajaran pada mantan pangeran bodoh itu, Ibu, kalau tidak, dia akan terus merasa di atas angin," jawab Aura santai.
Duke Daren yang berdiri di sisi lain merangkul bahu putrinya erat-erat, raut wajahnya masih memperlihatkan ketegangan yang tersisa.
"Lain kali, biarkan Ayah yang membereskan sampah seperti dia, kamu tidak perlu mengotori tanganmu sendiri," ucap Duke Daren dengan suara berat nya.
Aura terkekeh pelan melihat ekspresi protektif ayahnya.
"Tenang saja, Ayah, pisau kecilku ini sudah terbiasa membereskan hal-hal mengganggu," jawab Aura terkekeh.
Tiba-tiba, langkah kaki yang teratur mendekat ke arah mereka.
Nico, orang kepercayaan Kaisar Zane, melangkah anggun dan membungkuk hormat di hadapan keluarga Luminar.
"Salam Lady Aura, Duke Daren, Duchess Clara," ucap Nico sopan.
Duke Daren menaikkan sebelah alisnya, menatap Nico dengan pandangan selidik.
"Ada apa, Nico? Apakah Kaisar menginginkan sesuatu dari keluarga kami, karena telah mengacaukan pesta nya?" tanya Duke Daren tegas.
Nico tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke arah Aura.
"Yang Mulia Kaisar menyampaikan pesan untuk Lady Aura," ucap Nico dengan suara yang cukup pelan agar tidak terdengar tamu lain.
Aura menatap Nico penuh rasa ingin tahu, namun tetap mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Pesan apa yang ingin disampaikan Yang Mulia padaku?" tanya Aura datar.
"Yang Mulia mengundang Lady Aura untuk menghadiri teh pagi di kediaman pribadi beliau besok," jawab Nico tanpa merubah raut wajahnya.
Duchess Clara langsung menahan napas kaget, sementara raut wajah Duke Daren seketika berubah makin tajam.
"Apa? Untuk apa Kaisar memanggil putriku secara pribadi?" tanya Duke Daren cepat, tidak menyembunyikan rasa keberatannya.
Nico tetap bersikap tenang menghadapi aura menekan dari sang Panglima Kerajaan.
"Saya hanya menjalankan perintah, Duke Daren, Yang Mulia hanya ingin berbicara sebentar mengenai urusan pemutusan pertunangan resmi dan dampaknya pada kekaisaran," jawab Nico, menjelaskan.
Aura melirik ke arah singgasana utama. Kaisar Zane tampak sedang menyesap anggurnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah mereka, seolah-olah pembicaraan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria itu.
"Sangat dingin dan sulit ditebak seperti biasa," batin Aura sinis.
Aura kemudian kembali menatap Nico dan mengangguk pelan.
"Sampaikan pada Yang Mulia, saya akan datang besok pagi tepat waktu," jawab Aura tegas.
"Aura!" bisik Duchess Clara cemas sambil menggenggam jemari putrinya.
Aura menoleh pada ibunya, memberikan tatapan menenangkan yang penuh percaya diri.
"Tidak apa-apa, Ibu, ini cuma undangan teh biasa, lagi pula, tidak ada alasan bagiku untuk takut pada Kaisar," jawab Aura dengan senyum tipis yang penuh keyakinan.
Nico membungkuk sekali lagi dengan sangat sopan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Lady Aura. Kereta istana akan menjemput Anda besok pagi," ucap Nico sebelum balik badan dan melangkah kembali ke sisi singgasana Kaisar.
Duke Daren mendengus kasar, bersedekap dada sambil menatap punggung Nico yang menjauh.
"Pria itu selalu bertindak sesuka hatinya. Kamu harus tetap waspada besok, Aura," peringat Duke Daren dengan nada khawatir.
Aura menyesap minuman di gelasnya santai, matanya berkilat penuh antisipasi.
"Tentu saja, Ayah, aku penasaran permainan apa yang ingin dimainkan oleh sang Kaisar itu padaku," gumam Aura pelan dengan senyum miring di bibirnya.
Melihat kepergian Nico, Duchess Clara memegang kedua belah tangan Aura dengan raut wajah yang masih memancarkan rasa cemas.
"Aura, Ibu benar-benar merasa tidak tenang," bisik Duchess Clara pelan, matanya melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada bangsawan lain yang menguping.
"Kaisar Zane itu terkenal sangat dingin dan kejam, selama ini tidak pernah ada satu pun wanita yang berani berurusan secara pribadi dengannya," lanjut sang Duchess dengan nada khawatir.
Aura menepuk-nepuk punggung tangan ibunya dengan lembut, menyunggingkan senyum manis yang menenangkan.
"Ibu tenang saja, ya," jawab Aura santai.
"Kaisar Zane memanggilku bukan karena dia berniat jahat," lanjut Aura penuh keyakinan.
Duke Daren mendengus pelan, lalu berdiri makin rapat di dekat istri dan putrinya.
"Ayah tetap tidak suka cara pria itu memanggilmu secara mendadak," ucap Duke Daren dengan alis bertaut.
"Kalau sampai besok dia bertindak macam-macam atau mencoba menuduh mu atas kejadian malam ini, bilang pada Ayah. Ayah yang akan menghadapi pria itu!" seru Duke Daren tegas, matanya berkilat penuh emosi.
Aura tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengar ucapan sang Ayah, rasa hangat kembali memenuhi dadanya melihat perlindungan yang begitu besar dari kedua orang tuanya, hal yang sama sekali tidak pernah dia dapatkan di kehidupan pertamanya.
"Aduh, Ayah... Ayah jangan emosi dulu," bujuk Aura sembari merangkul lengan ayahnya.
"Kaisar Zane sendiri kan tadi yang mencopot status Pangeran Luis di depan semua orang? Itu artinya dia memang sudah muak dengan anaknya sendiri. Jadi Ayah tenang saja," lanjut Aura terkekeh.
Duchess Clara helat napas panjang, mencoba menguasai dirinya.
"Hah... kamu ini pintar sekali ya menenangkan orang tua," ucap Duchess Clara menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi Ibu serius, Nak. Besok kamu harus sangat hati-hati menjaga ucapanmu di depan Kaisar. Pria itu tidak gampang ditipu," pesan Duchess Clara lagi.
"Iya, Ibu... aku mengerti," jawab Aura manis, mengedipkan sebelah matanya.
Tiba-tiba dari arah belakang, Sora berlari-lari kecil mendekat dengan napas sedikit terengah-engah, pelayan pribadi Aura itu membungkuk sedikit sembari memegangi dadanya.
"N-Nona Aura!" bisik Sora setengah berteriak pelan.
"Ada apa Sora? Kenapa napas mu seperti habis dikejar hantu begitu?" tanya Aura memutarkan tubuhnya menatap Sora.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛