NovelToon NovelToon
The Yakuza’S Cold Princess

The Yakuza’S Cold Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: KimiHaruka

Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cowok Misterius...

​Minggu pagi di kediaman utama klan Uchiha menyambut dengan udara sejuk dan ketenangan yang menyejukkan. Sunyinya kompleks rumah tradisional itu hanya diisi oleh suara tiupan angin lembut yang meresos di antara dahan pohon pinus serta gemercik air kolam ikan koi.

​Di dalam living room utama yang sangat luas, Yoona sedang meringkuk santai di atas sofa kulit empuk.

​Muka bantalnya masih tercetak jelas. Matanya yang polos masih sedikit berat oleh kantuk, dan rambut hitam panjangnya terurai agak acak-acakan namun tetap memancarkan aura cantik alami yang sangat mahal. Layar TV pintar berukuran monster—OLED 85 inci yang menempel di dinding kayu—sedang menyiarkan tayangan santai dengan volume rendah. Di atas meja kaca di depannya, tersaji sebuah mangkuk porselen berisi potongan buah segar seperti stroberi, anggur hitam, dan kiwi yang sesekali dicomot oleh jemari lentik Yoona.

​Gaya santai Yoona pagi ini mengusung estetika chill-loungewear yang seksi dan santai.

​Yoona mengenakan Zip Up Hoodie warna hitam pekat dari Calvin Klein yang resletingnya dibiarkan terbuka lebar hingga ke bawah. Di balik jaket oversized itu, terbalut Triangle Bralette hitam dari Calvin Klein yang melekat pas membungkus dadanya, memperlihatkan perut ratanya yang mulus bergaris tipis. Bawahannya hanya dipadukan dengan Cycle Shorts ketat warna hitam yang memamerkan paha jenjangnya secara bebas.

REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK

​Sejak subuh tadi, Hatake Kakashi belum kelihatan di rumah utama. Pria berusia 30 tahun itu sedang sibuk berada di markas bawah tanah Yakuza Uchiha, mengoordinasikan laporan keamanan jaringan klan dan memastikan sisa-sisa pengintai musuh dari minggu lalu sudah bersih total.

​Namun, Yoona tidak sendirian di area rumah utama.

​Melalui pintu kaca geser yang menghubungkan living room dengan taman dalam, tampak seorang pria sedang sibuk memangkas rumput dan merapikan dedaunan gugur.

​Pria itu adalah Yamato.

​Di kalangan anggota klan Uchiha, Yamato yang berusia 29 tahun—beda setahun saja dari Kakashi—adalah sosok yang sangat disegani. Dia adalah salah satu "Pembersih" tingkat atas kepercayaan Kakashi. Jika ada eksekusi berdarah atau pembantaian musuh yang membutuhkan penyelesaian rapi tanpa jejak, Yamato adalah eksekutor utama yang dipanggil Kakashi untuk merapikan segalanya.

​Namun, jika sedang tidak ada tugas berdarah di luar, Yamato punya fungsi ganda yang cukup kocak: dia adalah "korban" utama Kakashi untuk membereskan pekerjaan rumah tangga di kediaman utama.

​Sifat Yamato sebenarnya sangat ramah, murah senyum, tapi agak lempeng dan santai. Dan minus utamanya cuma satu: kalau sedang di rumah utama, Yamato hobi sekali hanya mengenakan celana pendek (kolor) santai tanpa kaus, sengaja memamerkan tatanan tato Irezumi Yakuza yang memenuhi seluruh punggung, dada, hingga kedua tangannya yang kekar.

​SZZZT.

​Yoona menggeser sedikit pintu kaca, menatap Yamato yang sedang menyapu rumput. "Yamato, Kakashi masih lama di markas?"

​Yamato menghentikan gerakan sapunya, menyapu keringat di lehernya menggunakan handuk kecil yang melingkar di bahunya. Pria bertato itu menoleh dan menyunggingkan senyum lempengnya yang khas.

​"Masih, Nuna," sahut Yamato dengan suara beratnya yang santai. "Tuan Kakashi tuh kalau nyuruh-nyuruh emang nggak ngotak. Subuh-subuh saya disuruh ikutan interogasi di bunker, jam delapan pagi disuruh nyapu taman... padahal tangan saya masih agak pegal habis merapikan musuh semalam."

​Yoona terkekeh pelan, mengambil sepotong buah stroberi. "Lagian kamu ngapain nyapu taman cuma pakaikan kolor gitu? Untung pelayan cewek di rumah ini lagi pada libur."

​Yamato nyengir polos, menepuk dada bidangnya yang dipenuhi ukiran tato naga hitam. "Sirkulasi udara, Nuna. Biar tato saya kena angin pagi, kasihan kalau ditutup baju terus."

​"Dasar hobi pamer tato," gumam Yoona tertawa kecil sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.

​Tak berapa lama kemudian, suara deru mesin Porsche 911 GT3 RS yang khas terdengar mendarat halus di pelataran depan.

​Pintu depan terkuak, dan sosok Lisa melangkah masuk tanpa canggung. Sebagai sahabat paling dekat Yoona yang sudah menganggap rumah Uchiha seperti rumah sendiri, Lisa selalu mampir tanpa perlu undangan formal.

​Penampilan Lisa pagi ini tetap memperlihatkan gaya high-fashion streetwear yang sangat chic.

​Lisa mengenakan Johansson Denim Jacket warna biru terang dari Andersson Bell yang disampirkan santai di bahunya. Di dalamnya, terbalut kaus polos putih berpotongan santai yang dipadu dengan celana kain Adidas Daniëlle Cathari Trousers warna hitam bergaris putih yang longgar dan elegan. Di lehernya, melingkar Libertad Gold Necklace berliontin merah dari Supreme, sementara tangan cantiknya menjinjing Envelope Leather Clutch warna biru muda lembut dari Bottega Veneta.

REFERENSI OUTFIT by LISA BLACKPINK

​"Haii, Babe!" sapa Lisa riang, melangkah masuk ke living room.

​Begitu melihat Yoona yang masih rebahan di sofa, tawa Lisa seketika pecah.

​"ANJIRRR! Muka bantal banget lu pagi-pagi, Na!" celoteh Lisa heboh sambil melemparkan tas Bottega-nya ke sofa. "Tapi tetep aja seksi bener pamer bralette CK sama jaket dipelorotin gitu! Lu kalau Kakashi pulang bisa-bisa langsung ditarik ke kamar ini mah!"

​Yoona merapatkan jaket hoodie-nya manja, melempar bantal kecil ke arah Lisa. "Bising banget lu pagi-pagi, Lis. Bawa makanan nggak?"

​"Bawa dong! Gue tahu lu pasti belum sarapan," sahut Lisa bangga.

​Mereka berdua pindah ke meja makan dapur bersih yang berdesain modern. Lisa mengeluarkan beberapa bungkus kantong makanan yang baru saja dibelinya dari restoran Korea langganan mereka di kawasan Roppongi.

​Pemandangan di atas meja makan seketika membuat selera makan membuncah.

​Di atas piring-piring keramik, tersaji sebuah Pesta Ayam Goreng Korea (Korean Fried Chicken Feast):

​Satu piring besar Yangnyeom Chicken—potongan ayam goreng tepung renyah berbalut saus merah gurih pedas manis yang melimpah dan mengkilap.

​Mangkuk-mangkuk porselen berisi nasi putih hangat yang pulen.

​Piring pendamping berisi Kimchi sawi segar berwarna merah menyala serta tumisan zucchini dan olahan acar gurih.

​Dan tentu saja, dua gelas besar berisikan es serta dua kaleng bir dingin merek Cass impor yang menyegarkan.

REFERENSI MAKANAN cr. Pinterest

​"Wah... ini sih kombinasi terbaik buat Minggu pagi," puji Yoona, langsung mengambil sepotong ayam goreng renyah itu dan menggigitnya nikmat.

​"Kan! Gue paham banget selera lu," sahut Lisa sambil meneguk bir Cass-nya langsung dari gelas dingin.

​Sambil menikmati ayam goreng pedas dan nasi hangat, Lisa mulai membuka obrolan. Raut wajah Lisa yang biasanya savage dan cuek mendadak berubah sedikit berbeda—ada pendaran pipi yang agak memerah dan tatapan mata yang sedikit senyam-senyum sendiri.

​Yoona yang sangat peka menyadari perubahan itu. Dia menaikkan sebelah alisnya. "Lis. Muka lu kenapa gitu? Kesetrum listrik?"

​Lisa menepuk pahanya sendiri, mengunyah kimchi-nya cepat-cepat. "Aduh, Babe... gila, gue mau cerita! Beberapa hari ini ada satu cowok yang bikin pikiran gue terdistraksi parah!"

​Yoona hampir tersedak bir Cass-nya. "Ha? Lu kesemsem sama cowok? Anak konglomerat mana lagi yang berani dekatin lu?"

​"Nggak tahu! Masalahnya gue nggak tahu dia siapa!" oceh Lisa gemas, meremas kaleng birnya. "Jadi minggu lalu, pas gue lagi nyetir sendirian malam-malam di daerah gang sepi dekat club di Roppongi, ada mobil klan musuh atau entah siapa yang nyaris nabrak mobil gue dari samping. Terus... tiba-tiba ada satu cowok tinggi tegap melompat!"

​Lisa memajukan tubuhnya dengan mata berbinar-binar.

​"Cowok itu langsung menghadang mobil itu, narik pintu mobil musuh, dan... gila, dia bantai orang-orang di dalam mobil itu sendirian cuma pakai tangan kosong! Badannya tinggi, badannya tegap banget, tatonya gila banget di leher sama lengan... tapi mukanya agak samar karena dia pakai topi sama masker hitam!"

​Yoona mendengarkan cerita itu dengan dahi berkerut. "Tato di leher... bantai musuh malam-malam di Roppongi? Kok rasanya familiar ya?" batin Yoona.

​"Terus pas gue mau turun buat ngasih kartu nama gue atau minta nomornya," lanjut Lisa heboh, "cowok itu cuma nengok sebentar ke arah gue, terus hilang gitu aja melompati pagar kayak setan! Gila, Babe... keren banget, vibes-nya badass parah! Gue sampai kepikiran terus sama tatapan matanya!"

​Yoona tertawa renyah melihat sahabatnya yang biasanya garang mendadak seperti cewek SMA yang sedang kasmaran. "Ya lagian lu cari gara-gara malam-malam keluyuran sendiri. Untung ada orang yang nolongin lu."

​Usai menghabiskan piring ayam goreng kedua, Lisa berdiri dari kursi makan. "Babe, gue mau ambil bir Cass satu kaleng lagi di kulkas ya, aus banget," pamit Lisa.

​"Ambil aja di kulkas sebelah kanan," sahut Yoona santai.

​Lisa melangkah menuju area dapur kotor yang berada di balik celah pintu kayu. Dapur itu terhubung langsung dengan koridor samping menuju teras belakang.

​Di saat yang bersamaan, pintu samping dapur terbuka.

​Yamato melangkah masuk ke dalam dapur. Pria berusia 29 tahun itu baru saja selesai menyapu taman. Dia sudah mengenakan kaus oblong hitam tipis yang agak ketat, namun tatanan tato naga di leher dan lengannya masih mengintip jelas. Yamato bermaksud mau mencuci tangannya di wastafel dan mengambil air minum. Sebuah topi baseball hitam terpasang agak rendah di kepalanya untuk menutupi rambutnya yang sedikit basah oleh keringat.

​STAP.

​Lisa yang baru saja berbalik badan sambil memegang kaleng bir Cass cold-brew mendadak menghentikan langkahnya.

​Langkah Yamato ikut terhenti.

​Jarak di antara mereka berdua hanya berkisar satu jengkal. Dada tegap Yamato yang tinggi nyaris bertabrakan dengan bahu Lisa.

​"Ah... maaf, Nona," gumam Yamato pelan. Suaranya terdengar sangat berat, tenang, dan lempeng. Yamato menundukkan kepalanya sedikit, membetulkan posisi topinya agar wajah bagian atasnya terhalang bayangan.

​Lisa mematung di tempat.

​Pandangan mata Lisa tertambat pada leher Yamato. Di sana, di bawah garis kerah kaus hitamnya, terukir ujung tatanan tato Yakuza berwarna hitam-merah yang sangat pekat. Aroma tubuh Yamato—perpaduan antara wangi kayu cendana, aroma keringat maskulin, dan sedikit jejak bau bubuk mesiu yang sangat tipis—seketika menghantam indera penciuman Lisa.

​DEG.

​Dada Lisa berdesir hebat. Postur tubuh tinggi tegap ini... garis otot lengan bertato ini... suara berat yang dingin dan tenang ini...

​Sangat familiar.

​"Wait..." gumam Lisa refleks, matanya memelotot menatap wajah Yamato dari bawah topinya. "Lu... kok rasanya gue..."

​Yamato yang sadar bahwa insting Lisa mulai bekerja cepat-cepat menarik langkahnya mundur satu tapak. Wajah lempengnya sama sekali tidak menunjukkan panik. Yamato hanya menyunggingkan senyum tipis yang sangat sopan dan lempeng.

​"Saya cuma tukang beres-beres di rumah ini, Nona," potong Yamato dengan nada suara yang sangat tenang. "Permisi, saya mau cuci tangan sebentar."

​Yamato melangkah melewati Lisa menuju wastafel, mencuci tangannya dengan cepat, lalu mengeringkannya menggunakan serbet dapur. Tanpa memberi kesempatan bagi Lisa untuk mengamati wajahnya lebih lama, Yamato membungkuk tipis lalu melipir pergi keluar dapur melalui pintu samping dengan langkah kaki yang sama sekali tidak bersuara.

​Lisa berdiri mematung di depan kulkas, matanya menatap pintu kayu yang baru saja tertutup tempat Yamato menghilang.

​Jantung Lisa berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.

​"Bentar... masa iya sih?" batin Lisa kebingungan setengah mati, memegangi dadanya sendiri. "Postur badannya, tatonya, wangi tubuhnya... mirip banget sama cowok misterius yang nolongin gue di Roppongi malam itu! Tapi... masa iya cowok se-badass itu cuma tukang beres-beres rumahnya Yoona?!"

​Lisa mengacak-acak rambut bangs-nya yang rapi, merasa otaknya mendadak konslet.

​Di luar pintu dapur, Yamato yang sedang berjalan menuju koridor luar menyunggingkan senyum lempengnya yang sangat tipis.

​Sebagai eksekutor kepercayaan Kakashi, Yamato tahu betul siapa Lisa. Malam itu di Roppongi, saat dia sedang menjalankan tugas bersenjata untuk menghabisi anggota klan Yokohama, dia melihat mobil Porsche milik Lisa dikepung. Karena tahu Lisa adalah sahabat paling berharga bagi Yoona, Yamato turun tangan menghabisi para pengganggu itu dalam semalam sebelum menghilang di kegelapan.

​Yamato memilih merahasiakan identitasnya. Baginya, seorang "Pembersih" Yakuza berdarah dingin tak seharusnya berurusan terlalu jauh dengan seorang putri konglomerat media seperti Lisa. Namun, takdir rupanya punya cara sendiri untuk mempertemukan kembali benang-benang tersembunyi di antara mereka.

​Beberapa saat kemudian, Lisa kembali ke meja makan tempat Yoona duduk.

​"Lu kenapa, Lis? Kok mukanya bengek gitu habis dari dapur?" tanya Yoona heran melihat sahabatnya yang mendadak melamun sambil memegang kaleng bir Cass.

​"Gak... gak ada apa-apa," sahut Lisa cepat-cepat, menggelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan Yamato dari pikirannya. "Cuma salah lihat orang aja tadi."

​SZZZT.

​Pintu depan utama terkuak. Langkah kaki tegap yang sangat familiar bergema di koridor kayu.

​Hatake Kakashi telah kembali dari markas Yakuza. Pria berusia 30 tahun itu melangkah masuk ke ruang dapur. Dia mengenakan kemeja hitam resminya yang rapi, dengan masker hitam menutupi separuh wajah tampannya. Aura dominan, protektif, dan berbahaya memancar kuat dari sosoknya.

​Begitu mata kelam Kakashi tertambat pada Yoona yang sedang duduk mengenakan bralette CK dan jaket hoodie terbuka, tatapan dingin Kakashi seketika melunak hangat.

​"Saya pulang, Nuna," bisik Kakashi dengan suara beratnya yang selalu berhasil membuat dada Yoona berdesir.

​Yoona yang tadinya duduk santai seketika melupakan makanan dan ayam gorengnya. Seluruh aura baddest-nya meluap, berganti menjadi sisi manja penuh kerinduan. Yoona langsung bangkit dari kursinya, berlari kecil menghampiri Kakashi, lalu melompat memeluk leher tegap sang pengawal jiwa erat-erat.

​"Kakashiii... lama banget dari pagi!" aduh Yoona serak dan manja, menyusupkan wajah cantiknya di celah leher Kakashi.

​Kakashi terkekeh rendah—suara tawa serak yang sangat hangat. Tangan besarnya yang dihiasi tato Yakuza melingkar protektif di pinggang ramping Yoona, mengangkat tubuh gadis itu sedikit dari lantai dan menahannya dalam pelukan hangat. Kakashi menurunkan maskernya sebentar untuk mendaratkan kecupan dalam di pelipis Yoona.

​"Maaf membuatmu menunggu lama, Nuna," puji Kakashi lembut.

​Lisa yang menyaksikan pemandangan bucin tingkat dewa di depannya hanya bisa memegangi jidatnya, merotasikan matanya pasrah. "Dah lah... gue jadi nyamuk lagi di rumah ini."

​Namun, di balik canda tawa Minggu pagi itu, atmosfer di antara mereka perlahan mulai berubah. Kakashi menatap Yoona dalam-dalam—sebuah tatapan mata yang menandakan bahwa masa-masa tenang mereka akan segera menyambut sebuah puncak momen besar yang telah lama dinantikan di antara hubungan privat mereka berdua.

...----------------...

FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!