"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Lonceng pintu "Blossom florist" berdenting.
_Krincing._ Pertanda ada orang yang masuk.
Ilona yang sedang merangkai bucket tulip langsung menoleh. Dan seperti biasa, senyumnya mengembang duluan sebelum kata apa pun keluar. "Pagii," sapanya.
Elang masuk, senyumnya lebar. Mengenakan Kaos putih polos, celana chino hitam, dan membawa tas ransel berisi laptop dan lain-lain.
Di tangannya ada dua kantong kertas berisi roti dan kopi.
"Buat sarapan." Katanya sambil meletakkan di meja kasir.
Ilona tertawa kecil. "Aku sudah sarapan."
"Kalau gitu, sarapan lagi, temenin aku." Elang menarik kursi kayu tanpa sandaran, duduk di sebelah meja kasir. Tas ransel berisi laptop, ia letakkan ke atas etalase.
Setelah sarapan, seperti kemarin dan lusa, Elang membantu membersihkan rak buket. Mengganti air di ember, juga melayani pelanggan, meski saat ditanya ini namanya bunga apa, ia musti tanya dulu ke Ilona, belum hafal.
Tangan yang dulu biasanya menandatangani kontrak perjanjian, sekarang kotor kena getah tangkai bunga dan serbuk sari. Tapi anehnya, harinya justru terasa lebih menyenangkan, ia menikmati.
"Lang, kamu...gak kerja lagi hari ini?" Ilona merasa aneh. Sudah hampir seminggu sejak grand opening, Elang selalu ada di toko seharian.
Elang yang sedang menggunting tangkai mawar, menoleh. Menatap Ilona. "Aku kan sudah bilang, sekarang kerjaku disini." Ia bangkit, mengambil serbet, menyeka tangannya yang ada bekas air.
"Kamu...gak kerja di kantor lagi?"
Elang melangkah mendekati Ilona. "Aku lebih suka kerja disini, bos nya cantik soalnya, meski kadang agak galak," ia terkekeh.
Ilona menunduk, tersipu malu. "Emang aku galak?"
"Sedikit, tapi lebih banyak manisnya."
"Gula kali." Ilona kembali melanjutkan membuat buket. Buket tersebut harus segera diantar 1 jam lagi.
Elang mengambil setangkai mawar putih di atas meja, menggunting pendek, menyisakan sekitar 3 cm tangkainya.
"Ish, Elang! Itu kependekan!" Ilona geram. "Kalau segitu, mana bisa ditancap ke spon?"
"Emang siapa yang mau nancepin ke spon. Aku mau nencepin kesini." Elang menyelipkan bunga tersebut ke telinga Ilona. "Cantik."
Wajah Ilona memanas, menunduk, menyembunyikan rona dikedua pipinya. "Tapi kan ini mau dibuat buket."
"Aku ambilin gantinya." Elang mengambil satu tangkai mawar lagi, meletakkan ke atas meja. "Gimana aku gak seneng kerja disini coba? Gak perlu pusing mikirin target, yang ada selalu happy melihat bunga-bunga yang cantik, sekaligus ownernya yang gak kalah cantik."
"Bisa aja kamu kalau gombal." Jantung Ilona berdegup dua kali lebih dapat, kembali melanjutkan buket, meski kurang fokus gara-gara salting brutal.
"Permisi, mau ambil buket." Seorang driver ojol memasuki blossom florist.
"Ah iya, Pak, sebentar."
"Yang mana?" Elang bersiap mengambilkan.
"Itu, buket tulip, di rak paling atas." Jawab Ilona.
Elang mengambil buket yang dimaksud, lalu menyerahkannya pada driver ojol. Tiba-tiba, terlintas ide di kepalanya. Kenapa bukan ia saja yang mengantarkan buket, kan lumayan.
Setelah ojol keluar, Elang kembali duduk di kursi dekat meja kasir. "Lain kali, kalau ada yang harus diantar, biar aku aja yang ngantar."
Ilona menoleh, menatap Elang dengan kening mengernyit. "Kamu yakin?"
"Hem." Elang mengangguk. "Kenapa tidak?"
"Lang, kamu beneran sudah gak kerja di kantor lagi sekarang?" Ilona jadi makin penasaran.
"Cuti sementara. Nanti insyaallah kerja lagi. Gimana, setuju gak, kalau nanti aku aja yang nganterin pesenan." Ia tak mau membahas soal pekerjaan.
"Pakai?"
"E...mobil." Elang menunjuk keluar, tempat mobilnya diparkir.
Ilona tersenyum tipis. "Yang pesen gak selalu rumahnya ada akses jalan mobil. Selain itu, ongkirnya murah, apa gak rugi di bensin kamu?"
Elang garuk-garuk kepala, benar juga apa yang dikatakan Ilona. Apa sebaiknya ia jual mobil saja, ganti dengan motor. Kemarin Kenan juga bilang, kalau pakai mobil, jatuhnya gak bisa irit, mana bahan bakar mobilnya kelewat mahal.
Setelah makan siang bersama, Elang meninggalkan toko. Ia ada janji temu dengan temannya, membicarakan soal lowongan kerja.
Masa diskon susah selesai, toko tak lagi seramai hari-hari sebelumnya, pesanan juga mulai menurun.
"Selamat sore!" Sapa Ilona pada pelanggan yang baru masuk. Seorang wanita muda dan cantik. "Ada yang bisa dibantu?" Ia turun dari kursi, meninggalkan meja kasir untuk melayani pembeli.
Yang masuk adalah Alisya.
Gaun linen putih, kacamata hitam, tas branded digantung di bahu. Wangi parfumnya mahal dan menusuk, terlalu kuat untuk ruangan kecil berisi bunga.
Alisya melepas kacamatanya pelan. Matanya menyapu seluruh toko. Dari vas di pojok kanan, hingga rak yang ada di sebelah kiri.
"Kalau boleh tahu, ingin cari bunga potong atau pesan buket?" Ilona kembali bertanya.
"Bunga." Alisya menjawab dengan nada datar, tanpa senyum sama sekali. Ia memperhatikan Ilona, dari atas hingga bawah. Menurutnya biasa saja, bahkan terlalu biasa untuk seorang wanita yang berhasil merebut Elang darinya.
"Kalau boleh tahu, bunga apa?"
Alisya berjalan pelan ke arah deretan bunga potong. Suara heelsnya terdengar nyaring, memecah keheningan toko yang kebetulan tidak sedang memutar lagu. Ia menyentuh kelopak mawar putih, lalu berpindah menyentuh lily. "Ada bunga bangkai?"
Ilona mengernyit. "Bunga...bangkai?" Apa dia sedang salah dengar? "Maksudnya..."
"Oh, nggak ada?" Alisya tersenyum kecut. "Aku mencium bau busuk. Jadi aku fikir ada bunga bangkai disini."
"Maaf, tapi tidak ada bunga tersebut disini."
"Tapi...aku mencium baunya. Busuk! Sangat busuk sekali. Jauh lebih busuk dari sampah." Mencondongkan badan ke arah Ilona. "Atau jangan-jangan...asal bau busuk ini dari...kamu."
"Maaf, maksud anda apa?" tanya Ilona. Suaranya tetap tenang. "Sebenarnya anda kesini mau mencari bunga atau apa?"
Alisya tersenyum. Senyum yang tipis yang mirip sebuah seringai menakutkan.
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄