Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Rawa Kematian dan Mulut Jurang
Sepatu bot baja berlapis lumpur hitam menghantam tanah lembap Hutan Misti dalam satu ritme yang memekakkan telinga. Dua ribu lima ratus prajurit gabungan bergerak membelah kabut tebal, meninggalkan jejak kehancuran berupa pohon-pohon tumbang dan sisa abu dari sihir pembakaran di belakang mereka.
Selama tujuh hari terakhir, rute barat daya Qirwood telah menguji kewarasan pasukan manusia. Ekspedisi yang dimulai dengan sorak-sorai keserakahan di alun-alun kota perlahan berubah menjadi pawai penderitaan.
Rawa-rawa yang mereka lewati bukanlah sekadar genangan air kotor, melainkan perangkap biologis. Tiga hari lalu, unit kavaleri sayap kiri terjebak di ladang Corpse-vine—sulur beracun yang secara agresif merespons panas tubuh. Belasan kuda perang dan penunggangnya ditarik ke dasar rawa sebelum para penyihir sempat membakar area tersebut. Kemarin, barisan infanteri Viscount Rejerson disergap oleh sekelompok Mud-Crawler, monster amfibi raksasa bermulut capit yang memakan puluhan prajurit sebelum Baron Cass turun tangan langsung membelah makhluk itu dengan pedang besarnya.
Hutan ini hidup, dan ia menolak kehadiran umat manusia. Lebih dari lima puluh petualang dan ksatria telah tewas atau diamputasi di tengah jalan hanya karena infeksi dari air rawa beracun.
Namun, mesin perang itu menolak berhenti.
Di barisan depan, Khaelar menunggangi kudanya dengan wajah tegang. Perban di wajah dan lengan kirinya kini berwarna kecokelatan akibat debu dan cipratan lumpur. Matanya yang awas terus memindai pepohonan raksasa di sekeliling mereka. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
"Berapa jauh lagi dari titik koordinat sinyal sihir putriku?" suara berat Baron Cass terdengar dari sisi kanannya. Sang Baron menunggangi kuda perang hitam berlapis zirah perak, zirah pelatnya sendiri telah ternoda oleh darah monster rawa.
Khaelar menoleh, menatap perkamen peta di tangannya. "Kita sudah berada di batas terluar sektor tersebut, My Lord. Kurang dari setengah mil."
Viscount Rejerson, yang menunggang kuda di sisi lain Baron Cass, memandang ke arah pepohonan gelap dengan mata merah kurang tidur. "Selama tujuh hari kita menyisir wilayah ini, membakar setiap sarang serangga dan membantai monster rawa. Tetapi di mana hama-hama hijau itu? Kita belum melihat satu pun goblin sejak memasuki sektor ini."
Pertanyaan sang Viscount mewakili teror yang diam-diam menggerogoti pikiran para komandan. Untuk sebuah area yang diklaim sebagai sarang monster penyebab anomali, wilayah ini terlalu sunyi. Tidak ada pos penjagaan, tidak ada jejak kaki segar di lumpur.
"Itulah yang mengganggu saya, Yang Mulia," jawab Khaelar dengan suara parau. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang pedangnya. "Goblin adalah makhluk teritorial. Mereka biasanya akan melempari kita dengan batu atau menembakkan panah racun dari atas pohon begitu kita memasuki wilayah mereka. Tapi ini... seolah-olah area ini sengaja dikosongkan. Atau lebih buruk lagi... mereka sedang menunggu kita."
Baron Cass mendengus dingin. "Biarkan mereka menunggu. Itu akan menghemat waktu kita untuk memusnahkan mereka semua sekaligus. Pasukan sihir! Bakar sisa kabut di depan!"
Puluhan ksatria sihir berjubah abu-abu melangkah maju menembus barisan infanteri. Mereka merapalkan mantra serentak, menembakkan gelombang api ke udara yang seketika menyapu kabut tebal dan menghanguskan kanopi pepohonan.
Seiring dengan menipisnya kabut, pemandangan di ujung lembah akhirnya terungkap.
Pasukan besar itu seketika menghentikan langkahnya. Suara gemuruh ribuan sepatu bot tergantikan oleh keheningan yang mencekam.
Di hadapan mereka, tertanam di dinding bukit batu berwarna hitam, menganga sebuah mulut gua raksasa. Gua itu tidak terbentuk secara alami; sisi-sisinya menunjukkan tanda-tanda pahatan kasar dan struktur penyangga dari kayu gelondongan serta tulang monster raksasa. Bau anyir darah, besi berkarat, dan belerang tercium samar terbawa angin dari dalam lorong yang gelap gulita itu.
"Kita menemukannya," bisik Khaelar, merasakan bulu kuduknya meremang saat menatap kegelapan di dalam gua.
Viscount Rejerson menarik napas panjang, mencabut pedang emasnya dari sarung. Di sampingnya, Baron Cass mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi isyarat kepada seluruh komandan divisi.
"Kavaleri, turun dari kuda! Medan di dalam terlalu sempit!" perintah Baron Cass, suaranya menggelegar memecah keheningan lembah. "Infanteri perisai, bentuk formasi kura-kura! Petualang garis depan, nyalakan obor sihir kalian! Kita masuk sekarang, dan kita tidak akan keluar sampai setiap nyawa di dalam lubang itu musnah!"
Ribuan prajurit menghunus pedang dan menaikkan perisai mereka serentak. Penderitaan akibat rawa maut selama tujuh hari terakhir kini digantikan oleh adrenalin pertempuran dan nafsu membunuh.
Mereka berderap maju mendekati mulut gua, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam kegelapan sempit yang menanti mereka, sesosok raksasa putih bermata satu dan barisan Hobgoblin tengah tersenyum menyambut kematian.