NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPANIKAN MARCO

Serpihan kaca dari layar ponsel yang hancur berhamburan di atas karpet Persia. Benda persegi panjang seharga ribuan dolar itu kini cuma jadi rongsokan plastik dan logam yang menancap di dinding ruang kerja Valenti Tower.

Marco berdiri mematung di depan meja kerjanya yang terbuat dari kayu ek solid. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun di balik kemeja hitam mahalnya. Wajah pria paruh baya yang biasanya selalu terlihat tenang dan penuh perhitungan itu kini pucat pasi, dihiasi urat-urat yang menonjol tegang di pelipisnya.

Di luar ruangan, badai masih mengamuk, menampar-nampar kaca jendela setinggi langit-langit. Namun, badai di luar sana tidak ada apa-apanya dibandingkan badai kepanikan yang baru saja meledak di dalam kepala Marco.

Pintu ganda ruang kerja itu terbuka ragu-ragu. Silas, kapten keamanan bertubuh kekar yang baru saja diusir keluar, melongokkan kepalanya ke dalam.

"Bos... Anda tidak apa-apa? Kami mendengar suara pecahan barang dari luar," tanya Silas dengan suara tertahan, matanya melirik ngeri ke arah sisa ponsel yang berserakan di karpet.

"Masuk," perintah Marco suaranya serak dan bergetar hebat. "Tutup pintunya. Kunci dari dalam."

Silas buru-buru masuk dan memutar kunci pintu. Pria besar itu menelan ludah, merasa atmosfer di ruangan itu sangat mencekik. Ia belum pernah melihat Marco kehilangan kendali seperti ini, bahkan di malam saat mereka melakukan kudeta berdarah dan membunuh Don Valenti.

Marco berjalan gontai menuju meja bar kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat ia menuangkan wiski Scotch murni ke dalam gelas kristal. Ia bahkan tidak repot-repot menambahkan es batu, langsung menenggak cairan berwarna amber itu dalam satu kali tegukan panjang. Rasa panas yang membakar tenggorokannya sedikit membantu menenangkan detak jantungnya yang gila-gilaan.

"Leo Valenti masih hidup," ucap Marco memecah keheningan, suaranya kini terdengar sangat dingin dan mematikan.

Silas tersentak kaget. Matanya terbelalak lebar. "I-itu tidak mungkin, Bos. Saya sendiri yang melihatnya jatuh ke sungai dengan peluru di bahu. Arus malam itu sangat deras. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari luka dan arus seperti itu."

"Aku tidak butuh analisis medis darimu, keparat!" bentak Marco membanting gelas kristalnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Dia baru saja mengirimiku pesan! Fotonya menempelkan cincin serigala sialan itu di atas tumpukan uang kasino kita!"

Silas terdiam kaku. Cincin serigala perak itu adalah pusaka klan, bukti sah kepemimpinan Valenti yang hilang malam itu bersama Leo. Kalau cincin itu ada bersama uang rampokan kasino, artinya tidak ada keraguan lagi.

Marco mulai mondar-mandir di belakang mejanya, mengusap wajahnya dengan kasar. Otaknya yang licik mulai merangkai kepingan-kepingan kejadian malam ini.

"Pikirkan baik-baik, Silas," gumam Marco setengah bicara pada dirinya sendiri. "Sistem keamanan Golden Palace bernilai jutaan dolar. *Firewall* mereka tidak bisa ditembus oleh peretas amatir. Dan orang yang masuk ke ruang hitung... dia tahu persis kapan jadwal rotasi penjaga. Dia tahu jalur evakuasi lewat pintu bongkar muat sayap barat. Itu bukan kebetulan."

"Maksud Anda... dia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari?" tebak Silas dengan kening berkerut.

"Bukan!" teriak Marco menunjuk wajah Silas. "Maksudku, bajingan kecil itu tidak mungkin melakukan ini sendirian! Dia kehilangan segalanya dua hari yang lalu! Dia tidak punya uang, tidak punya orang, tidak punya apa-apa! Tapi malam ini, dia tiba-tiba punya peretas kelas dewa dan tahu persis kelemahan internal kasino kita!"

Marco berhenti mondar-mandir. Ia menatap Silas dengan sorot mata yang dipenuhi kecurigaan gelap. Paranoia mulai meracuni setiap sel di otaknya.

"Ada musuh di dalam selimut," desis Marco mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ada seseorang di dalam organisasi ini... seseorang yang memiliki akses tingkat tinggi, yang diam-diam menyembunyikan Leo dan memberinya informasi."

Silas menelan ludah, tiba-tiba merasa posisinya sendiri sangat terancam. "Bos, Anda curiga pada salah satu kapten kita?"

"Hubungi Dante, Rocco, dan Bruno. Suruh mereka ke sini sekarang juga," perintah Marco matanya menyipit berbahaya. "Katakan ini darurat tingkat satu. Kalau ada yang beralasan sedang tidur atau di luar kota, kirim tim eksekutor untuk menyeret mereka hidup-hidup ke hadapanku."

"Sekarang juga, Bos," Silas mengangguk cepat dan langsung mengambil *walkie-talkie* di pinggangnya, setengah berlari menuju pintu untuk melaksanakan perintah.

Tiga puluh menit kemudian, ruang kerja Marco yang megah terasa seperti ruang interogasi blok tahanan mati.

Tiga orang kapten senior klan Valenti—Dante, Rocco, dan Bruno—berdiri berjejer di depan meja Marco. Wajah mereka terlihat tegang, beberapa masih mengenakan pakaian tidur yang dirangkap dengan mantel tebal karena dipanggil paksa di tengah badai jam tiga pagi. Silas berdiri di belakang mereka, tangannya bersiap di atas gagang pistol.

Marco duduk bersandar di kursi kulit besarnya, menatap ketiga pria itu dalam diam selama hampir dua menit penuh. Keheningan itu sangat menyiksa. Suara detak jam dinding terdengar seperti bom waktu.

"Kasino Golden Palace dirampok malam ini. Tiga juta dolar tunai lenyap," buka Marco memecah kesunyian, nada suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai di matanya.

Ketiga kapten itu saling berpandangan dengan raut terkejut.

"Siapa yang berani merampok tempat kita, Bos? Konsorsium Rusia? Atau geng motor distrik selatan?" tanya Rocco pria tambun dengan bekas luka di pipi.

"Leo Valenti," jawab Marco singkat, menatap tajam reaksi setiap orang di ruangan itu.

Dante, pria paruh baya yang paling senior di antara mereka, membelalakkan matanya. "Leo? Bukankah dia sudah tewas malam itu? Anda sendiri yang bilang—"

"Aku salah," potong Marco cepat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertautan. "Anak itu masih hidup. Dan dia baru saja mengirimiku salam dari uang kita. Yang jadi pertanyaannya sekarang adalah... bagaimana bocah bau kencur yang sedang sekarat bisa tahu titik buta kamera CCTV kasino kita?"

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya. Udara seolah tersedot habis. Ketiga kapten itu bukan orang bodoh. Mereka tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.

"Bos, Anda tidak mungkin mencurigai kami," ucap Bruno suaranya bergetar menahan panik. "Kami bersumpah setia pada Anda malam itu. Kami ikut menyingkirkan loyalis don tua!"

"Kesetiaan itu gampang dibeli, Bruno," sinis Marco berdiri dari kursinya dan mulai berjalan memutari ketiga pria itu perlahan-lahan. "Mungkin salah satu dari kalian merasa jatah wilayahnya kurang besar. Mungkin salah satu dari kalian merasa kasihan pada pangeran kecil kita, lalu memutuskan untuk bermain dua kaki. Memberinya tempat sembunyi, membawakannya peretas, dan membocorkan jadwal uang kasino."

"Demi Tuhan, Marco, ini gila!" Dante meninggikan suaranya, merasa terhina. "Aku sudah mengabdi di klan ini selama dua puluh tahun! Aku mendukung kudetamu karena aku percaya kau bisa memimpin lebih baik dari anak itu. Aku tidak ada hubungannya dengan perampokan ini!"

Marco berhenti tepat di belakang punggung Dante. Tangannya bergerak sangat cepat, mencabut pistol dari balik jasnya dan menempelkan moncong baja dingin itu ke belakang kepala Dante.

"Jangan pernah menaikkan suaramu padaku, Dante," bisik Marco tepat di telinga pria itu. Terdengar bunyi klik saat Marco menarik pelatuk pistolnya ke posisi siap tembak.

Rocco dan Bruno terkesiap mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi melihat bos baru mereka benar-benar sudah kehilangan kewarasan. Dante menelan ludah, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya.

"Bos... tolong, Bos. Bukan saya. Saya berani sumpah," mohon Dante suaranya kini mencicit ketakutan, kakinya nyaris tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.

Marco menahan posisi itu selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun. Ia menatap lekat-lekat dari sudut matanya, mencari sedikit saja tanda kebohongan dari Dante atau kedua kapten lainnya. Paranoia membuatnya melihat pengkhianatan di setiap kedipan mata mereka.

Perlahan, Marco menurunkan pistolnya, tapi ia tidak memasukkannya kembali ke sarung.

"Silas," panggil Marco tanpa menoleh.

"Ya, Bos!" Silas menyahut sigap.

"Sita ponsel mereka bertiga. Lucuti senjata mereka," perintah Marco melangkah kembali ke balik mejanya. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun kapten atau manajer wilayah yang boleh keluar dari gedung ini tanpa izinku. Kirim tim untuk membongkar seluruh mutasi rekening mereka selama tiga hari terakhir. Periksa daftar panggilan, periksa keluarga mereka. Kalau ada anggota keluarga yang tiba-tiba pergi ke luar kota, bawa mereka ke ruang bawah tanah."

"Marco, kau tidak bisa mengurung kami seperti ini! Bisnis di luar sana butuh pengawasan kami!" protes Rocco memberanikan diri.

Dor!

Marco menembak lantai tepat di depan ujung sepatu Rocco. Serpihan marmer memercik mengenai celana pria tambun itu. Rocco menjerit tertahan dan langsung mundur ketakutan.

"Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau!" raung Marco matanya memerah penuh amarah. "Satu-satunya bisnis yang penting sekarang adalah menemukan bangkai Leo Valenti dan siapa pun tikus yang membantunya dari dalam! Sampai aku menemukan siapa pengkhianatnya, kalian semua adalah tahanan di rumah ini!"

Ketiga kapten itu tidak berani membantah lagi. Mereka menyerahkan ponsel dan senjata api mereka kepada Silas dengan tangan gemetar. Saat mereka digiring keluar dari ruangan dengan pengawalan ketat, mereka saling melempar pandangan putus asa. Benih perpecahan dan rasa tidak percaya kini tertanam kuat di hati mereka.

Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Marco duduk merosot di kursinya. Pistolnya masih tergeletak di atas meja. Ia menatap kosong ke arah kegelapan badai di luar jendela.

Leo Valenti belum melepaskan satu tembakan pun ke arah Valenti Tower malam ini. Namun, hanya dengan sebuah foto dan pesan singkat, pangeran buangan itu telah berhasil menghancurkan fondasi terkuat yang dimiliki Marco: rasa saling percaya.

Perang gerilya ini baru saja dimulai, dan Marco sudah mulai menghancurkan pasukannya sendiri dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!