NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 02

Hari kedua Karina disekolah itu mulai dengan sesuatu yang tidak terduga, yaitu Bram sudah duduk dibangkunya ketika ia tiba, dan yang lebih mengejutkan lagi ada buku catatan terbuka didepannya, hal yang tidak ia lihat kemarin.

"Pagi." Sapa Karina sambil duduk dikursinya, mencoba biasa saja meski dalam hatinya cukup senang melihat perubaahan kecil itu.

Bram hanya melirik sekilas dan mengagukkan kepalanya singkat, lalu kembali melihat bukunya meski Karina bisa melihat dari sudut matanya bahwa halaman itu kosong, mungkin itu sekedar cara agar terlihat sibuk supaya tidak ada yang mengganggunya.

Jam pelajaran berjalan seperti biasa sampai jam ketiga, saat Bu Retno mengumumkan sesuatu yang membuat separuh anak anak dikelas bersorak riang.

"Anak anak, minggu depan kita ada acara classmeet sebelum ujian tengah semester."

"Setiap kelas wajib ikut minimal tiga cabang lomba, nanti ketua kelas yang koordinasi pembagian regu ya..."

Naura yang duduk didepan Karina, langsung mengangkat tangan dengan semangat. "Bu, saya usul kelas kita ikut lomba vokal grup, basket sama cerdas cermat!"

"Setuju!" Sahut beberapa anak lain hampir bersamaan.

Refan menoleh kebelakang dan tersenyum kearah Karina, senyum yang entah kenapa terasa seperti sudah dilatih untuk membuat siapapun yang melihatnya merasa istimewa.

"Al, lo jago apa? Biar bisa masuk regu yang pas."

Karina yang sebenarnya tidak tau sama sekali kemampuan tubuh Alya yang ia tempati, hanya bisa tersenyum kikuk. "Belum tau juga sih, belum pernah nyoba banyak hal disekolah baru."

"Nanti kita coba coba aja pas latihan." Kata Naura ramah ikut menoleh.

Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuat Karina merasa Naura memang benar benar baik hati, bukan kebaikan yang dibuat buat.

Melainkan yang tulus meski Karina belum bisa memastikan apakah itu juga berlaku untuk semua orang dikelas termasuk Bram.

Seolah membaca pikiran Karina, Naura melanjutkan. "Bram, kamu ikut apa?"

Seluruh kelas mendadak sedikit lebih sunyi, seperti pertanyaan itu adalah sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah diajukan padanya.

Bram mendongak sebentar, menatap Naura dengan ekspresi datar. "Gue nggak ikut."

"Yah... Jangan gitu dong, kan seru kalau ikut bareng bareng." Ucap Naura masih dengan nada ramah yang sama.

"Ngapain juga dia dimasukin, ntar malah bikin kacau kayak biasanya." Celetuk seorang siswa dari barisan tengah yaitu Dimas salah satu teman dekat Refan.

Beberapa anak tertawa kecil. Bram tidak menjawab, hanya menunduk kembali menatap buku kosongnya, tapi Karina bisa melihat rahangnya mengeras sedikit.

"Dimas... Jangan begitu, semua anak berhak ikut lomba kalau mau." Tegur Bu Retno

"Iya Bu, maaf." Jawab dimas meski nada suaranya tidak terdengar seperti benar benar menyesal.

Karina memperhatikan semua adegan itu dengan seksama. Naura sudah mencoba bersikap adil itu jelas.

Tapi lingkungan disekitar Bram mulai dari komentar sinis dimas sampai tawa kecil murid murid yang lainnya membuat setiap ajakan baik yang ditawarkan padanya terasa seperti bisa basi yang tidak akan pernah benar benar tulus diterima oleh orang lain dikelas itu.

Tidak terasa jam istirahat kedua telah tiba.

Karina berjalan menuju kantin, ketika ia melihat kerumunan kecil didekat lorong menuju ruang OSIS dan ditengah kerumunan itu, Refan berdiri dengan wajah tegang berhadapan langsung dengan Bram.

"Gue nggak ngerti maksud lo apa." Kata Refan dengan nada suara yang lebih keras dari biasanya. "Naura cerita, katanya lo yang sebar foto itu."

"Foto apa?" Bram balik bertanya dengan nada suara yang datar tapi ada ketegangan yang tersembunyi dibaliknya.

"Jangan pura pura nggak tau, foto Naura lagi jajan berdua sama kakak kelas trus dikasih caption yang bikin orang salah paham kalo dia deketin cowok lain padahal masih sama Refan." Sambung seorang siswi lain yang Karina kenali sebagai Vina teman dekat Naura.

"Gue nggak pernah nyebarin foto apapun, kalo mau nuduh gue minimal ada buktinya dulu." Jawab Bram kali ini suaranya lebih tegas.

"Buktinya ya, cuma lo yang pernah difoto ngintip ngintip dideket kantin waktu itu." Celetuk Dimas, yang entah sejak kapan sudah ikut bergabung dalam kerumunan.

"Gue lewat situ mau ke perpus. Kalian pikir semua yang gue lakuin pasti ada maksud jahatnya?" Bram mendesis dengan kedua tangannya yang mengepal.

Karina yang sejak tadi berdiri dipinggir kerumunan akhirnya melangkah maju. "Coba deh ada yang tau nggak foto itu pertama kali muncul diakun siapa?"

Semua mata beralih padanya, termasuk Bram yang tampak sedikit terkejut melihatnya ikut campur.

"Darimana gue tau, yang jelas semua orang udah share, jadi susah dilacak dari mana asalnya." Jawab Vina agak defensif.

"Justru itu, kalau semua orang udah share berarti kalian juga nggak tau pasti dong siapa yang pertama kali upload kan? Terus kenapa langsung nuduh Bram?" Ucap Karina mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang.

Refan tanpak sedikit goyah, tapi Vina dengan cepat menyahut. "Karna selam ini dia juga yang paling sering bikin masalah antara gue sama naura, ini bukan yang pertama."

"Bukan berarti setiap ada masalah baru itu otomatis salah dia juga." Balas Karina.

Suasana menjadi hening sejenak, sampai suara langkah kaki dari ujung lorong membuat semua orang menoleh, Naura dengan napas sedikit terengah seolah barusaja berlari.

"Refan." Panggilnya. "Udah jangan berantem disini. Aku..... aku udah cek, ternyata fotonya yang pertama kali diupload sama akun anonim yang suka bikin gosip disekolah kita, bukan Bram." Jelasnya.

Kerumunan itu mendadak sunyi. Vina dan Dimas saling pandang, sementara Refan menghela nafas panjang, tampak lega sekaligus canggung."

"Sorry, gue keburu kesel tadi jadi langsung nuduh." Ucap Refan meski suaranya masih terdengar agak kaku.

Bram tidak menjawab, ia hanya menatap Refan sesaat lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa sepatah katapun, meninggalkan kerumunan yang perlahan bubar dengan wajah masing masing yang tidak sepenuhnya nyaman.

Karina segera menyusul Bram sampai ketangga darurat diujung koridor, tempat yang jarang dilewati siswa karena terletak jauh dari kelas kelas utama.

"Kamu nggak papa?" Tanyanya agak terengah karna harus setengah berlari untuk mengejarnya.

Bram berhenti, tapi tidak menoleh. "Kenapa lo belain gue tadi."

"Ya.... Menurutku nggak adil aja main nuduh tanpa bukti." Jawabnya jujur.

"Semua orang disekolah ini juga mikirnya kayak gitu kalo lo nggak tau. Setiap ada masalah selalu nama gue yang pertama disebut, nggak perduli gue bener atau salah" Ucap Bram, suaranya lebih pelan hampir seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

"Itu nggak bikin kamu marah?"

"Dulu... Sekarang udah biasa." jawabnya singkat.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Karina terasa sesak.

Ia teringat masa masa awal setelah kedua orang tuanya meninggal, saat beberapa tetangga mulai berbisik bisik setiap kali ia lewat, seolah kemalangan yang menimpanya adalah semacam aib yang harus dijauhi, bukan sesuatu yang pantas mendapat simpati.

"Aku enggak akan bilang aku ngerti persis rasanya jadi kamu, tapi aku tau rasanya diliatin orang orang seolah kamu itu masalah, bukan orang yang lagi butuh dibantu." Ucapnya pelan.

Bram akhirnya menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, bukan lagi curiga seperti kemarin, tapi lebih seperti rasa penasaran yang belum berani ia percayai sepenuhnya.

"Lo itu sebenarnya siapa sih, baru dua hari di sini, tapi udah ikut campur urusan yang bahkan orang-orang yang udah kenal gue bertaun taun aja males ikut campur." Ucapnya pelan seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Karina tersenyum kecil. "Mungkin karna aku enggak punya sejarah apa-apa sama kamu. Jadi aku bisa liat kamu apa adanya tanpa harus inget-inget cerita lama."

Untuk sesaat, sesuatu yang mirip senyum tipis muncul di sudut bibir Bram, begitu cepat sampai Karina hampir tidak yakin apa yang barusan ia lihat itu benar-benar terjadi.

"Terserah." Ucapnya dan kembali berjalan menuruni tangga. Tapi kali ini, langkahnya tidak seburu-buru seperti sebelumnya.

...----------------...

Malam harinya, di kamar kos sempit yang menjadi tempat tinggal Alya a.k.a Karina, tiba tiba sebuah layar tembus pandang kecil muncul di sudut penglihatannya, yang hanya terlihat oleh Karina sendiri.

[Pembaruan status.]

[Poin Kehidupan: 120 / 100.000]

[Poin diberikan atas keberhasilan meluruskan kesalahpahaman kecil yang berdampak pada kepercayaan diri subjek.]

[Catatan: perubahan emosional subjek terhadap lingkungan sekitarnya mulai terdeteksi meski masih dalam tahap sangat awal.]

Karina menatap angka itu dengan seksama, 120 dari 100.000, meskipun jauh dari kata cukup, ada sesuatu yang menghangatkan dadanya.

Bukan semata-mata karena poin itu adalah jalan pulangnya, tapi karena untuk pertama kalinya sejak kedatangannya ke dunia ini, ia merasa langkah kecil yang ia ambil benar-benar berarti bagi seseorang.

"Ini baru permulaan, tapi kali ini aku nggak akan biarin cerita ini berjalan sesuai alur." Ucapnya dalam hati sambil menyandarkan punggung ke dinding.

Di luar jendela, bulan mengintip dari balik awan tipis seolah menjadi satu-satunya saksi bahwa sesuatu di dunia "Cinta Terlarang Sang Ratu Sekolah" mulai bergeser sedikit demi sedikit dari jalur yang seharusnya.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!