Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Halo, Sylvia," sapa Arlan, suaranya langsung kembali ke suhu nol derajat. Tatapannya dingin dan tidak ramah. "Ada urusan apa?"
Sylvia mengabaikan nada dingin itu, matanya menyapu tubuh Karin dengan tatapan meremehkan yang sangat jelas. "Aku hanya ingin menyapa istrimu yang... unik itu. Arlan, kau benar-benar punya selera yang aneh. Membawa istri yang tidak waras ke restoran sekelas ini? Takut dia makan piringnya?"
Karin menelan ludah. Boss level menengah muncul! Harus tetap idiot, jangan membalas dengan kemarahan!
"Halo, Mbak Sylvia!" sapa Karin riang, melambaikan tangan. "Baju Mbak Sylvia merah banget! Kayak cabai rawit. Kalau Mbak Sylvia duduk di sini, nanti makananku jadi pedas nggak ya?"
Wajah Sylvia memerah karena dihina secara tidak langsung (atau langsung, tergantung sudut pandang). Ia mencengkeram gelas anggur merah di tangannya. "Kau!"
Tiba-tiba, pergelangan tangan Sylvia berkedut. Gelas anggur merah itu terbalik, dan cairan berwarna merah pekat itu meluncur langsung ke arah gaun putih musim panas Karin!
Waktu seolah melambat bagi Karin. Otak aslinya yang tajam berteriak: Mundur! Miringkan badan! Tangkap gelasnya!
Tapi jika ia melakukan itu, topeng idiotnya hancur. Seorang idiot tidak akan punya refleks secepat itu.
Dalam sepersekian detik, Karin membuat keputusan gila. Alih-alih mundur, ia justru membanting tubuhnya ke bawah meja, menelungkup di lantai karpet yang empuk.
SPLASH!
Anggur merah itu tidak mengenai gaun Karin sama sekali. Sebaliknya, karena momentum lemparan Sylvia yang terlalu kuat dan targetnya yang tiba-tiba menghilang, seluruh cairan anggur itu mendarat sempurna di gaun merah Sylvia, membuat wanita itu terlihat seperti korban pembunuhan berantai.
"Aaaah!" jerit Sylvia, melompat mundur dan menatap gaun mahalnya yang kini basah kuyup oleh anggur. "Kau! Kau wanita gila! Kenapa kau masuk ke bawah meja?!"
Arlan, yang refleksnya juga cepat, sudah berdiri dan menatap Sylvia dengan tatapan yang bisa membekukan neraka. "Clara," ucapnya pada sekretarisnya yang kebetulan sedang menunggu di dekat pintu masuk. "Batalkan semua rencana merger dengan grup suami Nyonya Sylvia. Jika istrinya saja tidak bisa memegang gelas dengan benar, saya ragu suaminya bisa memegang kendali perusahaan."
Pria di belakang Sylvia langsung pucat pasi. "Pak Arlan, tunggu, ini cuma kesalahpahaman..."
"Keluar," potong Arlan dingin.
Sylvia gemetar, tidak percaya bahwa Arlan membela istri idiotnya sampai mengorbankan kontrak miliaran. "Arlan! Istrimu yang gila! Dia sengaja menjatuhkan diri!"
Karin perlahan keluar dari kolong meja. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia memegang sebuah benda kecil di tangannya. Ia mengedipkan matanya, memasang wajah paling polos dan bingung di dunia.
"Mbak Sylvia, kok teriak-teriak?" tanya Karin, lalu menoleh ke arah Arlan dengan wajah bersalah. "Kak Arlan, maaf ya. Tadi aku lihat ada koin emas jatuh dari langit-langit. Aku takut keinjek Mbak Sylvia, jadi aku nunduk buat ambil. Eh, tapi kok Mbak Sylvia malah mandi anggur? Mbak Sylvia haus ya?"
Karin membuka telapak tangannya. Di sana, tergeletak sebuah koin logam berwarna kuning mengkilap.
Sylvia terbelalak, melihat koin itu. "Itu... itu koin cokelat! Bukan koin emas!"
"Koin cokelat juga uang, Mbak!" protes Karin, memeluk koin itu. "Kalau nggak aku ambil, nanti diinjek, terus pecah, terus jadi bubuk cokelat. Nanti semutnya datang, terus semutnya ngikutin Mbak Sylvia pulang. Bahaya, lho!"
Sylvia tidak bisa lagi berkata-kata. Ia menangis frustrasi, menyeret suaminya yang terus-menerus meminta maaf, dan berlari keluar dari restoran.
Ruangan kembali hening. Para pelayan buru-buru datang untuk membersihkan meja.
Arlan menatap Karin, lalu menatap koin di tangan istrinya. Ia perlahan duduk kembali, mengulurkan tangannya. "Berikan padaku."
Karin menyerahkan koin itu. Arlan memeriksanya. Itu adalah koin lima ratus rupiah bergambar bunga melati yang kebetulan mengkilap karena terkena pantulan lampu.
"Koin lima ratus rupiah, Karin," ucap Arlan pelan, suaranya terdengar sangat amused. "Kau melihatnya dari jarak dua meter dalam waktu kurang dari satu detik, dan kau memutuskan untuk menyelamatkan koin itu dengan menjatuhkan dirimu ke lantai, tepat sebelum anggur itu mengenai wajahmu."
Karin menelan ludah, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Gawat. Dia membongkar logikaku. Aku ketahuan pura-pura bodoh!
"I-iya, Kak," jawab Karin, suaranya sedikit bergetar. "Tapi kalau aku nggak nunduk, koinnya keinjek. Terus bajuku kena anggur. Jadi koin itu penyelamat bajuku, kan? Logikanya masuk, Kak!"
Arlan menatap wajah istrinya yang berusaha terlihat sebodoh mungkin, tapi pipinya yang memerah dan matanya yang berkilat menunjukkan sebaliknya. Pria itu tidak membantah. Ia hanya memasukkan koin lima ratus rupiah itu ke dalam saku jas mahalnya, lalu menggenggam tangan Karin di atas meja.
"Logikamu selalu masuk, Nyonya Dirgantara," bisik Arlan, jempolnya mengusap punggung tangan Karin. "Dan refleksmu... sangat menyelamatkan. Terima kasih sudah tidak membiarkan bajumu kotor. Aku tidak suka melihatmu memakai baju yang bernoda."
Jantung Karin berdetak begitu kencang hingga ia yakin Arlan bisa merasakannya melalui genggaman tangan mereka.
Sistem, aku butuh reboot. CEO dingin ini tidak hanya protektif, dia juga mulai merayuku secara terbuka! Di novel, dia baru mau pegang tangan istri aslinya di bab empat puluh! Kita baru di bab delapan belas!
"Nggak apa-apa, Kak," balas Karin, mencoba terdengar santai meski napasnya memburu. "Tapi janji ya, habis ini kita makan bakso. Aku butuh kuah panas buat nenangin jantungku yang tadi kaget lihat Mbak Sylvia mandi anggur."
Arlan tersenyum, senyum yang tulus dan sangat tampan. "Baik. Setelah ini, kita makan bakso. Terserah kau mau tambah berapa piring."
Karin tersenyum balik, tapi di dalam hatinya, ia sedang berteriak. Aku pasti mati. Aku pasti mati karena jatuh cinta pada karakter fiksi yang aslinya ditakdirkan untuk menceraikan istri idiotnya!
lanjut kn thor💪