seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUM SEMESTA
Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menembus pekatnya kabut polusi Sektor Pusat ketika Nighthawk mendarat tanpa suara di landasan atap penthouse Keluarga Valerius. Mesin anti-gravitasi berdesis pelan sebelum mati sepenuhnya. Di dalam kabin, ketegangan yang mengikat otot mereka selama dua belas jam terakhir akhirnya mengendur, menyisakan kelelahan yang luar biasa.
Bastian melepas sabuk pengamannya dan mengusap wajahnya yang kasar oleh sisa debu pertempuran. Ia menoleh ke arah Andre yang sedang mengelap bilah hitam Nocturne dengan secarik kain sutra. Ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala sang pewaris Valerius itu sejak mereka meninggalkan Gurun Kematian, sebuah logika matematika Sistem yang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.
"Andre, ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku," ucap Bastian memecah keheningan. "Kau adalah monster, aku mengakuinya. Teknik Black Lightning milikmu melampaui segala sihir yang pernah kulihat. Tapi... Astaroth adalah entitas di atas Level 150. Jarak statistik antara Level 91 dan 150+ bukanlah sekadar angka; itu adalah jurang antar galaksi. Meskipun kau memiliki kecepatan absolut dan pedang penembus pertahanan, HP dan regenerasi mana seorang Raja Iblis seharusnya mustahil dikuras hanya dengan satu tusukan."
Marvin, yang sedang memeriksa botol-botol ramuan racunnya, ikut mendongak. Ia juga penasaran. "Benar, Kak. Waktu aku menahan racun hijaunya, aku merasa seperti sedang menahan lautan dengan selembar kertas. Jika dia benar-benar menggunakan seratus persen kekuatannya, Plague Domain-ku pasti sudah hancur dalam sedetik."
Andre berhenti mengelap pedangnya. Ia menatap kedua rekannya dengan ekspresi datar yang menyimpan kebijaksanaan dari ratusan tahun peperangan kosmik.
"Itu karena dia memang tidak menggunakan seratus persen kekuatannya," jawab Andre tenang. "Dia hanya bisa mengeluarkan paling banyak tujuh puluh persen dari total kekuatannya."
Bastian mengernyitkan dahi. "Tujuh puluh persen? Apa dia meremehkan kita?"
"Bukan meremehkan. Dia dipaksa oleh hukum alam semesta," Andre menyarungkan Nocturne, lalu menyandarkan tubuhnya. "Setiap ras di alam semesta ini memiliki planet atau dimensi asal mereka sendiri. Saat entitas tingkat puncak—seperti Sepuluh Calamity, Sepuluh Seraphim, atau Sepuluh Pilar Iblis—mencoba menginvasi planet asing, kehendak murni dari planet tersebut akan bereaksi. Itu disebut Aturan Keilahian Semesta. Sistem dunia akan menekan paksa statistik dan output mana mereka maksimal di angka tujuh puluh persen untuk melindungi keseimbangan dimensi."
"Penekanan tiga puluh persen..." gumam Marvin, matanya melebar saat otaknya yang jenius mulai menghitung skala matematika tersebut. "Untuk entitas Level 150 yang memiliki jutaan poin stat, kehilangan tiga puluh persen berarti mereka kehilangan kekuatan setara puluhan Third Job tingkat atas!"
"Tepat," Andre mengangguk. "Itulah alasan utama mengapa Astaroth dan pasukan perintisnya repot-repot membangun obelisk tulang raksasa di tengah Gurun Kematian. Obelisk itu bukan sekadar portal. Itu adalah jangkar terraforming. Mereka mencoba mengubah radius wilayah gurun itu menjadi sepotong 'Planet Iblis' buatan. Jika obelisk itu berhasil menyerap cukup mana bumi, Astaroth akan berdiri di atas domainnya sendiri dan terbebas dari Aturan Keilahian. Sayangnya baginya, kita menghancurkan pilar itu tepat sebelum ia melangkah keluar."
"Jadi, saat dia muncul, dia langsung dihantam oleh penekanan semesta secara tiba-tiba?" Bastian tertawa pelan, menyadari betapa sialnya Raja Iblis tersebut. "Ditambah efek penggandaan kekuatan dari pedang obsidianmu... pantas saja kau bisa menembus jantungnya!"
"Jangan lengah," nada suara Andre seketika berubah berat, menghapus senyum di wajah Bastian. "Setiap ras tahu tentang Aturan Keilahian ini. Selama belasan tahun, para iblis dan malaikat telah mengembangkan ribuan purwarupa artefak dan ritual untuk memanipulasi hukum tersebut. Air Mata Seraphim yang kita hancurkan di Benua Utara adalah salah satu alat para malaikat untuk menetralisir penekanan itu secara perlahan. Jika Arthur, sang Hakim Suci, terus membiarkan relik-relik semacam itu tertanam di Bumi, suatu hari nanti para Seraphim akan turun dengan kekuatan penuh seratus persen. Dan saat itu terjadi, bahkan sepuluh National Protection yang bersatu pun tidak akan sanggup menahan mereka."
Andre berdiri, menatap gemerlap Sektor Pusat dari balik kaca jendela. Kota metropolis ini tampak begitu damai, sama sekali tidak menyadari konspirasi kosmik yang sedang mencengkeram leher mereka.
"Kita harus memutus rantai pasokan Arthur," perintah Andre. "Arthur memonopoli Asosiasi Pusat dari markas besarnya di Eden, tetapi operasi lapangannya—distribusi artefak, pendanaan militer, dan penelitian relik lintas dimensi—semuanya dikendalikan dari pasar gelap. Dan di Sektor Pusat, penguasa pasar gelap itu adalah anjing-anjing peliharaannya."
"Titan dan Phoenix," tebak Bastian langsung, insting bisnis konglomeratnya langsung menghubungkan titik-titik tersebut. "Goliath dan Seraphina. Mereka baru saja menyerahkan hak Nightmare Dungeon kepada kita, tapi kekuatan finansial utama mereka berasal dari Rumah Pelelangan Bawah Tanah di Sektor 4. Jika kita ingin melumpuhkan logistik Arthur di kota ini, kita harus menghancurkan brankas uang mereka."
"Malam ini, Rishing Guild akan mulai berbelanja," ucap Andre dingin. "Siapkan dirimu, Bastian. Kita akan menghadiri sebuah pelelangan."
Sektor 4 pada tengah malam adalah surga bagi para kaum elite yang mencari hiburan di luar hukum. Di balik fasad sebuah kasino mewah berlapis emas, tersembunyi lorong bawah tanah yang mengarah ke Abyssal Auction House—pusat perputaran uang kotor terbesar di seluruh benua.
Malam itu, pengamanan diperketat hingga tiga lapis. Penjaga bersenjata laras panjang magis dan para petarung kelas Second Job berjejer di setiap koridor. Di depan pintu utama pelelangan yang terbuat dari perunggu solid, berdiri sosok raksasa yang sudah tidak asing lagi. Brutus, Wakil Ketua Guild Titan, mengenakan zirah lengkap dan memegang kapak perangnya. Pria botak itu masih menyimpan trauma setelah dibuat pingsan oleh aura Andre beberapa waktu lalu di lobi Asosiasi, namun Goliath memerintahkannya untuk menjaga pelelangan malam ini dengan nyawanya.
"Pastikan tidak ada satu ekor lalat pun yang masuk tanpa undangan emas!" bentak Brutus kepada para bawahannya. "Barang yang dilelang malam ini adalah artefak prototipe titipan dari Benua Tengah. Jika sampai hilang, Ketua Goliath akan menguliti kita hidup-hidup!"
Belum genap lima menit Brutus berteriak, lampu lorong bawah tanah itu mendadak berkedip. Suara musik klasik yang mengalun dari dalam ruang lelang seketika teredam oleh desisan statis.
Dari ujung lorong yang gelap, terdengar suara langkah kaki yang teratur. Dua sosok perlahan muncul dari balik bayangan. Bastian berjalan dengan santai, mengenakan setelan jas mewah berwarna merah marun yang dijahit dari sutra monster laba-laba tingkat tinggi. Di sebelahnya, Andre melangkah tanpa suara, mengenakan kemeja hitam pekat, tangannya masuk ke dalam saku celana.
Brutus membelalakkan matanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mengenali pemuda berbaju hitam itu. Insting hewani di dalam tubuhnya menjerit, memaksanya untuk berbalik dan lari, namun kakinya kaku membeku ke lantai marmer.
"B-berhenti di sana!" teriak salah satu penjaga Titan yang belum tahu siapa yang mereka hadapi, mengangkat senapan magisnya. "Tunjukkan undangan kalian!"
Bastian tersenyum miring. Ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jari. "Absolute Provocation: Vanguard's Presence."
Gelombang aura emas yang sangat padat meledak dari tubuh Bastian. Tidak seperti provokasi untuk monster yang memicu amarah, provokasi ini dimodifikasi untuk memicu tekanan mental yang luar biasa. Dua puluh penjaga elit Guild Titan seketika jatuh berlutut, memegangi dada mereka yang sesak napas seolah baru saja ditimpa beban seberat baja. Senapan-senapan magis jatuh berdenting ke lantai.
Hanya Brutus yang masih berdiri berkat pertahanan stat Third Job miliknya, namun ia gemetar tak terkendali.
"T-Tuan Muda Valerius..." gagap Brutus, matanya menatap liar ke arah Andre yang sama sekali tidak berekspresi. "Pelelangan ini adalah area netral yang dilindungi oleh hukum Asosiasi... Apa mau kalian?"
Bastian berjalan mendekati Brutus, merapikan kerah jasnya. "Kami tidak datang untuk membuat keributan, Brutus. Kami hanya dua warga sipil yang taat hukum yang ingin ikut berpartisipasi dalam pelelangan barang antik. Buka pintunya."
"Kalian tidak punya undangan emas! Aku tidak bisa—"
ZRRAAAK!
Sebuah kilatan petir hitam menyambar dari udara kosong, mengukir garis hangus di lantai marmer tepat satu milimeter di depan ujung sepatu bot baja Brutus. Tidak ada suara guntur, hanya hawa panas mematikan yang melelehkan batu tersebut dalam sekejap.
Andre menggeser pandangannya perlahan ke arah sang wakil ketua Titan. Matanya memancarkan kegelapan absolut.
"Kau punya dua pilihan, Brutus," suara Andre mengalun pelan namun menggema di lorong sempit itu bagaikan vonis eksekusi. "Kau membukakan pintu itu dengan tanganmu, atau aku akan membukanya menggunakan kepalamu."
Wajah Brutus pucat pasi. Harga dirinya sebagai veteran tempur hancur lebur di hadapan eksistensi yang berada di dimensi kekuatan yang sama sekali berbeda. Dengan tangan gemetar hebat, ia berbalik, memasukkan kode sihir ke panel pintu perunggu, dan mendorongnya terbuka.
Riuh rendah suara kaum elite yang sedang menawar barang seketika menyambut mereka. Ruangan lelang itu sangat megah, diterangi lampu gantung kristal dan dipenuhi oleh ratusan konglomerat, ketua guild bayangan, dan politisi kotor. Di atas panggung, seorang juru lelang sedang mempresentasikan sebuah kotak kaca yang berisi pecahan artefak perak yang memancarkan pendaran cahaya suci.
Bastian melangkah masuk terlebih dahulu, merentangkan kedua tangannya dengan gaya teatrikal.
"Selamat malam, para pencuri dan pembohong!" seru Bastian, suaranya yang dilapisi mana bergema ke seluruh penjuru ruangan, menghentikan acara lelang secara instan. Semua mata menoleh ke arahnya. "Mohon maaf atas keterlambatan kami. Rishing Guild ingin ikut menawar barang tersebut. Dan penawaran kami adalah... nyawa kalian semua."
Di belakang Bastian, Andre melangkah masuk. Lampu-lampu kristal di dalam ruangan lelang itu mendadak redup, merespons efek Devour Light dari pedang yang masih tersarung di pinggangnya. Udara di dalam ruangan itu membeku. Konspirasi bawah tanah yang dibangun Arthur selama sepuluh tahun di Sektor Pusat, malam ini akan diruntuhkan hingga rata dengan tanah.