Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. TINJU BAWAH TANAH
'Kinara... namanya Kinara. Dia ternyata bukan Kinanti,' batinnya lesu.
Logikanya kembali berputar liar; jika wanita di depannya adalah Kinara, lalu siapa "pasien" misterius di kamarnya malam itu? Siapa Kinan yang ia obati?
Rahsya menyentak kepalanya kuat-kuat, seolah ingin membuang jauh bayangan Kinara yang baru saja menghancurkan ekspektasi asmaranya. Ia sadar, meratapi nasib di tengah hiruk-pipuk ini adalah kesia-siaan. Fokusnya kini beralih sepenuhnya pada misi awal: mencari Amel.
Dengan gerakan kasar, ia berbalik, memacu langkahnya berlari menyisir sela-sela stan permainan yang pengap. Napasnya mulai memburu, jaket kulitnya terasa kian berat saat ia berlari zigzag menghindari kerumunan pengunjung pasar malam. Ia memeriksa setiap sudut, dari wahana bianglala yang berputar lamban hingga stan ketangkasan menembak botol, namun sosok jaket hoodie hitam Amel tak kunjung tertangkap oleh matanya.
Langkah Rahsya terhenti di depan sebuah kedai minuman kecil. Pelipisnya sudah banjir keringat. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak demi membasahi tenggorokan yang terasa kering kerontang.
"Jus mangga satu, Bu," ucap Rahsya cepat sembari menyeka keringat dengan punggung tangan.
Sembari menunggu sang penjual mengupas buah, Rahsya mencondongkan tubuh ke depan meja kayu kedai. Matanya menatap tajam sang ibu penjual.
"Maaf, Bu. Apa Ibu sempat lihat gadis pakai hoodie hitam? Tingginya sebatas dada saya, kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang dikuncir kuda?" tanya Rahsya, memberikan deskripsi mendetail dengan nada mendesak.
Ibu penjual itu menghentikan aktivitasnya sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk dagu sembari menerawang. Di desa sekecil ini, gadis dengan kulit terawat ala orang kota tentu sangat mencolok. Tak butuh waktu lama, wajah si Ibu mendadak berubah serius.
"Oh, gadis yang itu... tadi saya lihat dia berjalan ke arah sana, Kang," ucap si Ibu sambil menunjuk ke arah sudut lapangan yang remang-remang, berbatasan langsung dengan pagar pembatas hutan jati.
"Dia pergi bareng geng motor, Kang."
Tangan Rahsya yang sedang merogoh dompet mendadak kaku. "Geng motor?" ia mengulang dengan nada rendah yang berbahaya.
"Kira-kira Ibu kenal siapa mereka?"
Ibu itu mengangguk cepat sembari menyodorkan cup plastik berisi jus mangga. "Ya kenal, Kang. Mereka itu Regan sama komplotannya. Tukang onar, sering bikin rusuh dan tawuran. Saya saranin Akang jangan cari masalah sama mereka, ngeri," bisiknya lirih, matanya melirik waspada ke sekeliling lapangan.
"Tadi saya kasihan lihat si Neng-nya kayak dipaksa, tapi saya enggak berani menolong."
Rahsya menyambar cup jus mangganya dengan gerakan kasar, bahkan mengabaikan rasa haus yang tadinya mencekik batinnya. Kalimat ibu penjual itu barusan bertindak seperti siraman bensin pada api amarahnya yang mulai menyala.
"Geng motor? Tukang onar?" desisnya.
Rahang Rahsya mengeras hingga garis wajahnya tampak semakin tajam dan mengintimidasi.
"Terima kasih, Bu," ucap Rahsya singkat sebelum akhirnya melesat pergi, meninggalkan ibu penjual yang menatapnya dengan cemas. Ia tidak lagi memedulikan tatapan gadis-gadis remaja yang masih mencoba mengejarnya.
Langkah kakinya lebar dan penuh penekanan, membelah kerumunan pengunjung menuju arah yang ditunjuk ibu tadi—area remang-remang di balik stan Rumah Hantu yang berbatasan langsung dengan pagar pembatas hutan jati.
Sambil berlari kecil, Rahsya merogoh ponselnya, menyalakan fitur senter paling terang. Cahaya putih itu menyapu kegelapan, menari-nari di antara batang pohon jati yang menjulang tinggi. Insting medisnya mendadak mati, berganti menjadi insting petarung.
Pikirannya melayang pada Amel—gadis berisik yang menyebalkan itu kini sedang dalam bahaya nyata, dan semua itu terjadi secara tidak langsung karena ia telah mengusirnya tadi sore.
Srekk... srekk...
Suara gesekan dedaunan kering dan tawa parau terdengar dari kejauhan di balik kegelapan hutan. Rahsya mematikan senter ponselnya sejenak, menajamkan pendengarannya di tengah kesunyian malam yang mencekam.
"Jangan galak-galak begitu dong, Sayang. Kita cuma mau main sebentar," suara berat Regan terdengar sangat menjijikkan di telinga Rahsya.
"LEPASIN ENGGAK! KAK RAHSYAAA! TOLONG!"
Pekikan Amel menyusul seketika. Suaranya sudah terdengar parau, menandakan bahwa gadis itu sudah berteriak berkali-kali hingga kehabisan tenaga.
Rahsya mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia muncul dari balik kegelapan hutan jati dengan tatapan sedingin es, berdiri tegak di hadapan empat pemuda yang sedang mengerumuni Amel di bawah pohon jati besar.
Cahaya remang-remang dari pasar malam di kejauhan menciptakan siluet yang membuat proporsi tubuh Rahsya tampak jauh lebih besar dan mengerikan dari biasanya.
"Lepaskan dia," ucap Rahsya rendah. Suaranya terdengar sangat tenang, namun mengandung ancaman yang mematikan.
Regan, Rehan, dan dua temannya serentak menoleh. Mereka menyeringai meremehkan saat melihat seorang pria dengan kaus oversize dan jaket kulit yang tampak "terlalu rapi" untuk ukuran orang yang mengajak berkelahi di tengah hutan.
"Wah, pahlawan kesiangan datang nih. Siapa lo? Kakaknya?" tantang Regan sambil tetap mencekal pergelangan tangan Amel dengan kasar.
"Saya dokternya," jawab Rahsya sambil melangkah maju satu demi satu.
Matanya tidak lepas dari manik mata Regan. "Dan saya menyarankan kalian untuk pergi sekarang juga, sebelum saya harus membedah bagian tubuh kalian yang sekiranya masih berfungsi."
Dua rekan Regan, Irham dan Eza, bergerak serentak akibat tersinggung. Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, mereka melayangkan tinju mentah ke arah wajah Rahsya.
Namun, mereka tidak tahu bahwa Rahsya bukan sekadar dokter yang hanya berkutat dengan stetoskop; tubuhnya menyimpan memori otot dari tahun-tahun yang pernah ia habiskan di ring tinju bawah tanah bersama sahabat-sahabatnya dulu.
Dengan gerakan yang sangat efisien, Rahsya merunduk rendah, membiarkan kepalan tangan lawan hanya membelah udara kosong. Ia menangkap pergelangan tangan Irham, memutarnya dengan sentakan tajam hingga terdengar bunyi krek halus, lalu mendaratkan tendangan front kick tepat di ulu hati pria itu.
Belum sempat Eza bereaksi melihat temannya tumbang, Rahsya sudah berputar cepat. Ia memelintir lengan Eza ke belakang punggung hingga pria itu memekik kesakitan, sebelum akhirnya sebuah tendangan susulan mendarat telak di punggungnya, membuat Eza tersungkur mencium tanah yang lembap.
"Lo pegangin dia! Jangan sampai lolos!" teriak Regan pada adiknya.
Suaranya parau karena perpaduan antara amarah dan pengaruh alkohol.
"Siap, Bos!" sahut Rehan sigap.
Ia menarik paksa lengan Amel, mengunci kedua tangan gadis itu di balik punggungnya hingga Amel meringis kesakitan.
"Maju lo sini!" tantang Regan emosi.
Matanya merah, menatap nanar kedua temannya yang kini terkapar mengenaskan di atas tumpukan daun jati kering.
Rahsya menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang jarang ia perlihatkan di balik jas putih dokternya. Ia melihat Regan berjalan sempoyongan dengan napas memburu ke arahnya.
"Jangan banyak bicara. Kalau kamu memang punya nyali, silakan maju. Saya tunggu," tantang Rahsya dingin. Tangannya tetap berada di saku jaket, seolah Regan sama sekali bukan ancaman yang berarti baginya.
Regan merangsek maju dengan membabi buta. Rentetan pukulan dilayangkan secara kacau ke arah wajah Rahsya. Namun, dengan ketenangan seorang ahli bedah yang sedang memotong jaringan, Rahsya hanya melakukan
gerakan-gerakan kecil ke kiri dan ke kanan.
Tinju Regan hanya lewat beberapa milimeter dari kulit wajahnya. Rahsya terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat meremehkan sekaligus mematikan di tengah kesunyian hutan.
"Ayo, lebih cepat lagi. Pukul saya. Katanya kalian geng motor yang ditakuti?" ucap Rahsya memprovokasi, matanya berkilat mengejek.
"Sialan!" geram Regan. Ia mencoba melayangkan hook kanan yang keras, namun langkahnya yang goyah membuat arah serangannya terbaca dengan sangat mudah.
Dalam kondisi sadar sepenuhnya, mungkin Regan bisa memberikan sedikit perlawanan. Namun, pengaruh alkohol malam ini membuatnya tidak lebih dari sekadar samsak hidup bagi Rahsya.
Rahsya menangkap kepalan tangan Regan yang gemetar, meremasnya kuat-kuat hingga Regan mengerang.
"Gerakanmu lambat sekali. Apa alkohol sudah merusak sistem saraf motorikmu?" bisik Rahsya tepat di depan wajah lawan yang kini mendadak memucat.
Dengan satu sentakan kuat, Rahsya mendorong tubuh Regan hingga kehilangan keseimbangan, lalu tanpa ampun mendaratkan tendangan keras tepat di tulang kering pria itu.
"Arghhh!"
Regan melengking kesakitan sebelum akhirnya jatuh berdebam, memeluk kakinya yang terasa remuk.
Rehan, yang sejak tadi menonton jalannya perkelahian dengan lutut gemetar, langsung didera kepanikan luar biasa. Melihat kakak dan teman-temannya terkapar tak berdaya dalam waktu singkat, ia segera melepaskan cengkeramannya pada Amel dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke tanah.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Rehan berbalik dan lari terbirit-birit, hilang ditelan kerumunan pasar malam, meninggalkan kawan-kawannya yang mengerang kesakitan di bawah bayangan pohon jati.
"Cih, pengecut," Rahsya mendengus sinis.
Matanya menatap tajam punggung Rehan yang menjauh sebelum akhirnya ia berpaling.
Ia melangkah menghampiri Amel. Seketika, aura petarung yang mengerikan tadi menguap tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi wajah 'setelan awal' Rahsya: datar, dingin, dan tampak sangat tidak bersahabat.
"Hei, bangun!" ucap Rahsya ketus.
Ia berdiri menjulang di hadapan Amel tanpa ada niat sedikit pun untuk mengulurkan tangan membantu.
"Kenapa sih, kamu selalu bisa cari cara buat bikin saya susah? Merepotkan saja kerjaannya."