NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Pesta di atas air mata

Dua minggu setelah palu hakim memutus tali pernikahan mereka, dua dunia yang bertolak belakang tercipta di bawah langit ibu kota yang sama.

Di satu sisi, dunia dipenuhi oleh gemerlap kemewahan dan tawa kemenangan, sementara di sisi lain, dunia berjalan dengan begitu sunyi dan sarat akan perjuangan untuk menyambung hidup.

Di Grand Ballroom dari salah satu hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta disulap menjadi taman bunga tiruan yang luar biasa megah. Aroma wewangian mawar putih dan melati segar menguar mahal, berbaur dengan alunan musik klasik dari kelompok orkestra mini di sudut ruangan.

Ratusan lampu kristal gantung memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul di atas gaun-gaun mewah para sosialita dan setelan jas para pengusaha papan atas yang hadir.

Bram Baskoro menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah bersama Vera. Hanya dalam waktu singkat, pria itu berhasil menghapus jejak lima tahun keberadaan Larissa di dalam hidupnya.

Di atas pelaminan yang didekorasi bak istana Eropa, Bram berdiri mengenakan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama. Senyum kepuasan yang sarat akan kesombongan tak pernah lepas dari wajahnya.

Di sampingnya, Vera tampil memukau dengan gaun pengantin putih menjuntai bertabur payet kristal swarovski. Leher jenjangnya dihiasi oleh kalung berlian baru yang jauh lebih mahal daripada kalung delapan puluh lima juta yang dulu sempat diributkan oleh Larissa.

Di bawah pelaminan, Ibu Maya berjalan mondar-mandir dengan wajah yang tampak sangat semringah. Senyumnya mengembang lebar hingga ke telinga, memamerkan deretan perhiasan emas dan zamrud yang melekat di tubuhnya.

Setiap kali ada kolega bisnis mendiang suaminya atau teman-teman sosialitanya yang datang menghampiri, Ibu Maya dengan suara lantang akan langsung memamerkan Vera.

"Oh, Jeng Sarah! Terima kasih sudah datang," sapa Ibu Maya, tertawa renyah sembari memegang kipas bulu mahalnya.

"Akhirnya... impianku terwujud memiliki menantu idaman yang sempurna. Cantik, pintar mengurus bisnis, dan yang paling penting... dia sangat subur! Dokter pribadiku sudah memeriksa kesehatannya secara menyeluruh. Rahimnya sangat sehat, tidak seperti yang sebelumnya. Sebentar lagi, keluarga Baskoro pasti akan mendapatkan penerus yang sah dan jenius!"

Vera yang mendengar ucapan mertuanya dari atas pelaminan hanya tersenyum manis penuh keanggunan, sedikit menundukkan kepalanya seolah dia adalah wanita paling terhormat di dunia.

Di dalam benaknya, dia telah berhasil naik takhta, menduduki posisi Nyonya Besar Baskoro yang selama ini dia incar dengan segala cara kelicikannya.

Para tamu bertepuk tangan, melayangkan pujian bertubi-tubi yang semakin memanjakan ego Bram dan keangkuhan Ibu Maya. Mereka merayakan kebahagiaan di atas puing-puing kehancuran hidup seorang wanita yang telah mereka buang ke jalanan.

Sementara itu, di bagian lain kota Jakarta, pemandangan yang menyakitkan sedang terjadi.

Di bawah terik matahari siang yang membakar kulit, Larissa berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan di kawasan Tomang. Keringat bercucuran membasahi pelipis dan lehernya, membuat blus katun terasa lengket di tubuh.

Tangan kanannya memegang sebuah map plastik bening yang berisi tumpukan surat lamaran kerja, riwayat hidup, dan salinan ijazah sarjananya yang sudah agak lecek di bagian ujung.

Dia terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer demi menghemat ongkos transportasi. Sisa uang di dompetnya sudah sangat menipis, dan dia harus memutar otak agar uang yang ada cukup untuk membeli makan dan membayar sewa kos bulan depan.

Hari ini dia sudah mendatangi lima perusahaan yang berbeda untuk memasukkan lamaran pekerjaan. Namun, kenyataan hidup setelah perceraian ternyata jauh lebih kejam daripada yang dia bayangkan.

Di kantor perusahaan kelima, seorang staf HRD wanita paruh baya menatap lembar riwayat hidup Larissa dengan kerutan dalam di dahi.

"Ibu Larissa, di sini tertulis Anda lulusan sarjana manajemen bisnis, tapi rekam jejak pekerjaan Anda kosong selama lima tahun terakhir?" tanya staf tersebut dengan nada skeptis.

Larissa memaksakan sebuah senyuman ramah, meski lututnya sudah terasa lemas karena berjalan kaki sejak pagi. "Benar, Ibu. Selama lima tahun ini saya fokus menjadi ibu rumah tangga atas permintaan mantan suami saya. Namun, saya siap belajar kembali dengan cepat dan bekerja keras untuk posisi staf administrasi ini."

Staf HRD itu menghela napas pendek, lalu menggeser kembali map lamaran Larissa ke tengah meja. "Maaf sekali, Ibu Larissa. Perusahaan kami membutuhkan tenaga kerja yang fresh graduated atau yang memiliki pengalaman kerja kontinu dalam dua tahun terakhir."

"Dunia bisnis sudah berubah cepat dalam lima tahun ini. Jeda waktu yang terlalu lama sebagai ibu rumah tangga membuat kami ragu dengan kapabilitas Anda. Kami akan mengabari Anda jika ada keajaiban, tapi untuk saat ini, kami belum bisa menerima Anda."

Kalimat penolakan yang halus namun mematikan itu menjadi kalimat kelima yang Larissa dengar hari ini. Dia keluar dari gedung kantor tersebut dengan bahu yang merosot lesu.

Larissa berdiri di bawah halte bus yang panas, menatap kertas lowongan kerja di tangannya yang kini diberi tanda silang dengan pulpen hitam. Dunia seolah menutup seluruh pintunya bagi seorang wanita yang telah mengorbankan karier mudanya demi pernikahan yang berujung pengkhianatan.

Malam harinya, di dalam kamar kosnya yang sempit dan berhawa pengap, Larissa duduk meluruskan kakinya di atas kasur.

Larissa membuka aplikasi Instagram, dia tidak bermaksud mencari tahu tentang Bram, namun algoritma media sosial dan lingkaran pertemanannya yang lama seolah memaksa kebenaran itu hadir di depan matanya.

Di bagian lini masa, muncul beberapa unggahan dari Mita dan Siska, teman-teman kuliahnya dulu yang ternyata juga diundang ke pesta pernikahan Bram karena relasi bisnis orang tua mereka.

Larissa menyentuh layar ponselnya, membuka cerita Instagram milik Mita.

Seketika, layar digital itu menampilkan rekaman video pendek suasana Grand Ballroom yang megah.

Di dalam video tersebut, Bram dan Vera sedang berdansa dengan sangat mesra di tengah ruangan, dihujani oleh potongan kertas emas yang berkilauan dari atas langit-langit.

Di video selanjutnya, tampak Ibu Maya sedang tertawa lepas sembari merangkul pundak Vera di depan kamera, lengkap dengan teks yang ditulis Mita:

“Happy Wedding Bram & Vera! Semoga cepat dapat momongan ya! Pesta yang luar biasa megah!”

Deg.

Dada Larissa seketika terasa sangat sesak, seolah-olah seluruh oksigen di dalam kamar kosnya telah disedot keluar. Rasa perih kembali menghantam jantungnya. Matanya memanas, dan setitik air mata hampir saja meluncur jatuh membasahi pipinya.

Namun tepat sebelum air mata itu jatuh, Larissa memejamkan matanya dengan rapat. Dia mengepalkan tangan kirinya hingga kuku-kukunya memutih, menahan desakan emosi lemah itu dengan sekuat tenaga.

“Jangan menangis, Larissa. Jangan pernah menangis lagi untuk para iblis itu,” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya terdengar bergetar namun sarat akan penekanan yang dingin.

Dia membuka matanya kembali, binar layu dan kesedihan di matanya seketika lenyap, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin.

Dengan gerakan yang lambat namun penuh dengan emosi yang membara, Larissa meraih lembaran kertas lowongan kerja yang ditolak siang tadi dari atas lantai.

Sret! Sret!

Dia merobek kertas-kertas lamaran yang gagal itu menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah plastik di sudut kamar. Dia menolak untuk menyerah pada keadaan.

Kegagalan hari ini bukanlah akhir, melainkan bahan bakar yang akan terus mengobarkan api dendam di dalam dadanya. Jika dunia menutup pintunya, maka dia yang akan mendobrak pintu itu dengan tangannya sendiri.

Larissa mengembuskan napas panjang, lalu beralih menumpahkan isi dompet kecilnya ke atas kasur untuk menghitung sisa uang yang dia miliki. Beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribu dan sepuluh ribu rupiah berserakan.

Setelah dihitung, jumlahnya tidak lebih dari tiga ratus lima puluh ribu rupiah, jumlah yang sangat mengenaskan untuk bertahan hidup di kota besar selama sisa bulan ini.

Larissa menatap tumpukan uang kecil itu dengan senyum getir. “Tiga ratus lima puluh ribu...” batinnya miris.

Bzzzt! Bzzzt!

Tiba-tiba ponsel bergetar pendek, menandakan sebuah pesan teks masuk. Larissa meraih ponsel tersebut, mengernyitkan dahi saat melihat bahwa pesan itu dikirim oleh sebuah nomor baru yang tidak dikenal dan tidak tersimpan di dalam daftar kontaknya.

Dia menyentuh pesan tersebut untuk membukanya. Detik berikutnya, sebuah foto beresolusi tinggi terunduh dan terpampang jelas di layar ponselnya.

Napas Larissa seketika tercekat di tenggorokan.

Foto itu menampilkan suasana kamar tidur utama di rumah yang ia tempati sebelum bercerai, kamar yang selama lima tahun ini dia rawat dan bersihkan setiap hari.

Tapi kondisi kamar di dalam foto itu kini telah berubah total. Ranjang lama telah dibuang, digantikan oleh ranjang berdesain minimalis modern yang sangat mewah dengan seprai sutra berwarna merah marun yang seksi.

Dinding kamar yang dulu dicat dengan warna pastel lembut kesukaannya, kini telah dirombak total menjadi warna abu-abu gelap yang elegan dengan hiasan lampu LED tersembunyi.

Di tengah-tengah ranjang baru itu, diletakkan sebuah papan akrilik kecil bertuliskan huruf kaligrafi emas yang sangat mencolok: Welcome Home, King and Queen Baskoro.

Larissa meremas tepian ponselnya dengan erat hingga persendian tangannya memutih.

Belum sempat rasa syoknya reda, sebuah baris teks pesan tertulis muncul di bawah foto tersebut, dikirim oleh si pemilik nomor yang tak lain dan tak bukan adalah Vera.

“Terima kasih sudah merawat rumah ini untukku selama lima tahun dengan sangat bersih, Mantan Istri. Sekarang, kamar ini sudah memiliki ratu baru yang sesungguhnya dan akan memberikan penerus sejati untuk Mas Bram. Selamat menikmati malammu di luar sana.”

Larissa terpaku di atas kasurnya, menatap baris kalimat keji itu dengan pandangan mata yang mendadak membeku. Di seberang sana, Vera sengaja mengirimkan pesan teror ini di malam pernikahannya untuk memastikan bahwa Larissa benar-benar terkena mental.

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!