NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Menjadi Pemegang Saham Kedua

"Perkenalkan, nama saya Hendra Wirasakti, pendiri perusahaan Wiraswasta Grup." Pria tua itu tersenyum mengulurkan tangannya dengan sopan.

la menekankan kata pendiri untuk mencoba memberi sedikit tekanan padanya.

Namun reaksi Yuda mengecewakannya.

Wajahnya tetap tenang. "Oh halo Pak Hendra, saya Yuda Kusuma, salam kenal."

Yuda membalas jabat tangannya sambil tersenyum tipis.

Meskipun sedikit terkejut dengan reaksi biasa darinya, Hendra tidak melanjutkannya lebih jauh.

Ia balas tersenyum, lalu menunjuk ke arah pintu masuk gedung.

"Kalau begitu, mari kita masuk. Kita bisa berbicara di dalam."

"Baik."

Hendra kemudian berjalan berdampingan menuntun Yuda menuju gedung utama.

Lisa mengikuti di sisi mereka bersama beberapa petinggi perusahaan.

Pemandangan itu segera menarik perhatian para pegawai yang berada di lobi.

Mereka tentu mengenal pria tua yang sedang berjalan santai di samping pemuda tersebut.

Hendra Wirasakti.

Pendiri perusahaan sekaligus salah satu tokoh penting di balik Wirasakti Grup.

Namun, siapa pemuda yang berjalan di sampingnya?

Beberapa pegawai mulai saling berbisik.

"Siapa dia?"

"Entahlah. Tapi lihat, Pak Hendra sendiri yang menyambutnya."

"Jangan-jangan pemegang saham baru yang dibicarakan tadi?"

Spekulasi kecil mulai terdengar di antara mereka.

Yuda tidak terlalu memedulikannya.

Ia hanya sesekali melihat sekeliling gedung yang cukup megah itu sambil berjalan santai.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan khusus untuk pertemuan pemegang saham.

Hendra membuka pintu dan mempersilakan Yuda masuk.

"Silakan."

"Terima kasih, Pak."

Mereka kemudian duduk berhadapan.

Lisa mengambil tempat di samping Hendra, sementara beberapa petinggi perusahaan tidak ikut masuk untuk membahas pengalihan saham.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang langsung membahas saham.

Hendra justru menuangkan air minum ke gelasnya, lalu melirik Yuda.

"Perjalananmu ke sini lancar?"

"Lancar. Hanya sedikit ramai di jalan."

"Begitu."

Hendra mengangguk pelan.

Ia kembali memperhatikan Yuda beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Sejujurnya, kami cukup terkejut ketika mengetahui pemegang saham baru perusahaan ternyata masih sangat muda."

Yuda tersenyum kecil. "Saya juga tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini."

Lisa yang sejak tadi memperhatikan Yuda akhirnya ikut berbicara.

"Karena kepemilikan 25% saham bukan sesuatu yang biasa."

Yuda mengangguk. "Benar juga."

Suasana kembali hening sesaat.

Hendra kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau begitu, mungkin sekarang kita bisa saling mengenal lebih jauh."

Yuda mengangguk tenang.

Setelah beberapa saat berbasa-basi, Hendra mulai memperkenalkan kondisi perusahaan kepada Yuda.

"Wirasakti Grup saat ini bergerak di beberapa bidang utama," jelas Hendra. "Bisnis awal kami adalah properti dan konstruksi. Seiring berkembangnya perusahaan, kami kemudian memperluas usaha ke perbankan, energi, dan teknologi."

Yuda mengangguk sambil mendengarkan. "Jadi sekarang kelima bidang itu yang menjadi fokus utama perusahaan?"

"Benar."

Hendra tersenyum tipis. "Masing-masing sudah memiliki anak perusahaan dan manajemen sendiri. Saya sendiri sudah tidak terlalu terlibat dalam operasional sehari-hari."

"Kalau begitu, yang mengurus sebagian besar operasional sekarang..."

"Putraku, Adrian."

Yuda mengangguk lagi.

Ia tidak banyak bertanya.

Baginya, penjelasan tersebut sudah cukup untuk memahami gambaran besar perusahaan yang kini menjadi salah satu aset terbesarnya.

Percakapan kemudian berlanjut pada kondisi perusahaan, perkembangan beberapa sektor, serta rencana ekspansi yang sedang dipertimbangkan.

Pembahasan itu berlangsung cukup lama.

Setelah beberapa waktu, pembahasan itu akhirnya memasuki bagian yang lebih penting—membahas kepemilikan saham dan posisi Yuda sebagai pemegang 25% saham Wirasakti Grup.

Lisa membuka dokumen yang berada di hadapannya.

"Sebagai pemegang 25% saham, secara otomatis Anda memiliki hak untuk ikut dalam beberapa keputusan penting perusahaan. Termasuk hak untuk mengusulkan atau menduduki posisi tertentu dalam struktur perusahaan."

Yuda menggeleng pelan.

"Saya tidak membutuhkan posisi."

Jawaban itu membuat Lisa sedikit mengangkat alis.

"Anda yakin?"

"Yakin."

Yuda menyandarkan tubuhnya dengan santai.

"Saya membeli saham ini bukan untuk ikut mengurus perusahaan."

Hendra yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya bertanya, "Lalu apa tujuanmu membeli saham sebesar itu?"

Yuda terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Untuk pengalaman."

Lisa mengernyit tipis.

"Pengalaman?"

Yuda mengangguk.

"Saya ingin melihat bagaimana perusahaan sebesar ini berkembang. Saya juga merasa Wirasakti Grup masih memiliki banyak potensi yang belum dimanfaatkan."

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Selama perusahaan berjalan dengan baik, saya tidak akan ikut campur dalam pengambilan keputusan. Kalian sudah memiliki orang-orang yang berpengalaman untuk mengurusnya."

Tatapan Hendra berubah sedikit lebih serius. "Jika suatu saat perusahaan membutuhkan tambahan modal untuk melakukan ekspansi?"

"Kalau memang rencananya layak, saya bisa membantu." Jawaban Yuda terdengar sederhana.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat Hendra dan Lisa saling melirik.

Pemegang saham 25% yang tidak meminta jabatan, tidak berniat mencampuri manajemen, bahkan bersedia menyediakan modal tambahan.

Sikap seperti itu cukup sulit mereka pahami.

Lisa kemudian bertanya, "Jadi, Anda hanya ingin menjadi pemegang saham?"

"Untuk sekarang, iya."

Yuda tersenyum tipis.

"Saya hanya ingin melihat sejauh mana perusahaan ini bisa berkembang."

Hendra terdiam beberapa saat.

Entah kenapa, jawaban itu membuat rasa penasarannya terhadap pemuda di depannya justru semakin besar.

Kemudian, pembahasan mengenai pengalihan saham dilanjutkan secara singkat.

Beberapa dokumen dan ketentuan kepemilikan diperiksa bersama.

Yuda memastikan kembali bahwa dirinya tidak memiliki tuntutan khusus terhadap manajemen maupun posisi di dalam perusahaan.

Setelah semua hal penting disepakati dan ditandatangani, proses pengalihan 25% saham tersebut akhirnya dianggap selesai dari sisi perusahaan.

Tidak ada pembahasan panjang mengenai hal-hal teknis.

Bagi Yuda, semuanya cukup sederhana.

Ia sudah membeli saham tersebut, dan sekarang ia hanya ingin melihat bagaimana perusahaan itu berkembang memberikan dirinya uang hasil pendapatan tahunan itu.

Dengan kata lain, yang dia inginkan hanya berbaring dan penghasilan mengalir otomatis ke rekeningnya tanpa pusing mikirin proyek dll.

Waktu pun berlalu, tanpa disadari, obrolan mereka berlangsung selama 1 jam lebih.

Setelah semua pembahasan dinyatakan selesai, Yuda berpamitan.

Hendra, Lisa dan petinggi perusahaan mengantarnya pergi.

Ketika melihat kepergian Yuda yang mengendarai motor beat perlahan menghilang.

Mereka semua kembali masuk ke ruangan masing-masing.

Di ruang CEO.

Hendra duduk di kursi CEO, dan Lisa disebelahnya berdiri seperti seorang sekretaris.

Ruangan itu hening sejenak.

Lalu Hendra menghela nafas, tangannya bertumpu pada meja.

Wajahnya terlihat mengkerut memikirkan pertemuan perdana dengan Yuda.

"Lisa, bagaimana menurutmu?" tanya Hendra dengan suara rendah.

Lisa yang berdiri di samping meja terdiam sejenak.

Ia kembali mengingat pertemuan mereka tadi.

"Dia... sulit dibaca."

Hendra mengangkat alis. "Selain itu?"

"Dia terlalu tenang."

Lisa berjalan perlahan menuju sofa di dekat meja kerja, lalu duduk.

"Sejujurnya, aku awalnya mengira dia akan datang dengan sikap arogan atau meriah. Bagaimanapun, dia masih sangat muda, tetapi sudah memiliki 25% saham perusahaan kita."

Hendra mengangguk pelan mendengarkan penilaian cucunya.

"Namun ternyata dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang ingin menunjukkan kekuasaannya."

"Dan cara dia kesini juga unik, pakai setelan jas Armani, jam tangannya ku lihat tadi merk Patek Philippe, untuk harga pasti tidak murah. namun dia malah pakai beat." Tambahnya ketika memikirkan kembali kedatangan Yuda.

Kesan awal Lisa terhadap Yuda perlahan berubah.

Kewaspadaan yang sebelumnya ia rasakan justru berganti menjadi rasa geli melihat tingkah pemuda itu.

Entah kenapa, muncul pula sedikit rasa penasaran untuk mengenalnya lebih jauh.

Sejak kecil, Lisa sudah terbiasa hidup di lingkungan orang-orang kaya.

Ia tumbuh di tengah keluarga pemilik perusahaan besar dan berteman dengan anak-anak dari keluarga berada.

Ia sudah sering melihat bagaimana generasi kedua dari keluarga kaya menjalani kehidupan mereka.

Namun, Yuda berbeda.

Untuk pertama kalinya, Lisa bertemu dengan seseorang yang membuat pemahamannya tentang anak orang kaya terasa tidak lagi sesederhana yang ia kira.

Seorang pemuda yang memiliki 25% saham Wirasakti Grup, tetapi datang ke perusahaan menggunakan Honda Beat.

Membeli saham senilai puluhan triliun, tetapi sama sekali tidak terlihat seperti orang yang ingin menunjukkan kekayaannya.

Dan yang paling aneh...

Ia justru mengatakan tidak membutuhkan posisi apa pun.

Lisa tanpa sadar tersenyum kecil. 'Orang macam apa sebenarnya dia?'

"Benar."

Lisa menyandarkan tubuhnya.

"Dia bahkan tidak meminta posisi apa pun. Tidak meminta ikut mengurus perusahaan. Tidak juga mencoba mencari tahu terlalu banyak mengenai keputusan internal."

Hendra mengetukkan jarinya perlahan di atas meja.

"Itulah yang membuatku semakin penasaran."

Lisa menoleh.

"Kakek juga merasa begitu?"

Hendra mengangguk.

"Selama pertemuan tadi, aku beberapa kali mencoba membicarakan bagaimana dia bisa mendapatkan saham itu."

Lisa langsung memahami maksudnya. "Kakek ingin tahu tentang sahabat Kakek?"

"Ya."

Hendra menghela napas. "Namun setiap kali pembicaraan mulai mengarah ke sana, anak itu selalu memberikan jawaban yang samar."

Lisa tersenyum tipis.

"Dia memang terlihat seperti sengaja menghindarinya."

"Entah sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama."

Hendra menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku tidak mendapatkan apa pun."

Beberapa detik mereka terdiam.

Lisa kemudian berkata, "Tapi setidaknya dari pertemuan tadi, aku tidak melihat adanya niat buruk."

Hendra mengangguk.

"Aku juga tidak."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Justru sebaliknya. Dia terlihat benar-benar tidak tertarik dengan urusan perusahaan."

"Padahal dia memiliki 25% saham dan menjadi pemegang saham kedua."

"Itulah yang aneh."

Hendra menghela napas lagi.

"Dia membeli saham senilai puluhan triliun, lalu mengatakan hanya ingin melihat perusahaan berkembang dan mendapatkan hasilnya."

Lisa terkekeh kecil. "Kalau dipikir-pikir, memang sederhana sekali."

Hendra tersenyum tipis. "Ya. Terlalu sederhana."

Ia menatap pintu ruangan yang baru saja dilewati Yuda beberapa waktu lalu.

"Dan tetap saja aku tidak bisa menghilangkan satu pertanyaan."

Lisa sudah tahu apa yang akan dikatakan kakeknya. "Kenapa sahabat Kakek memilih Yuda?"

Hendra mengangguk pelan. "Selama puluhan tahun, aku mengenalnya. Aku tahu bagaimana dia mengambil keputusan."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Dia bukan orang yang akan menyerahkan 25% saham Wirasakti Grup kepada seseorang hanya karena alasan sederhana."

Lisa ikut terdiam. "Jadi menurut Kakek..."

Hendra menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang.

"Tapi yang pasti, latar belakang anak itu tidak sesederhana yang terlihat."

Lisa menatap kakeknya.

Hendra kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Dan aku yakin ada alasan lain di balik keputusan sahabatku menjual saham itu kepada Yuda, bukannya kepada kita."

Ia menghela napas pelan. "Sayangnya, kita belum tahu apa alasannya."

Lisa mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"

Hendra terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Untuk sekarang, biarkan saja."

Ia menatap Lisa dengan tenang.

"Selama keberadaan Yuda tidak memengaruhi jalannya perusahaan dan dia benar-benar menepati perkataannya untuk tidak ikut campur dalam pengelolaan perusahaan, kita tidak perlu mempermasalahkannya."

Hendra kemudian tersenyum tipis.

"Pada akhirnya, waktu yang akan menunjukkan siapa sebenarnya anak itu."

"Dan.....Yuda tidak memberi kita jawaban. Sahabatku juga tidak menjelaskan apa pun."

Hendra tersenyum tipis, tetapi rasa penasarannya masih terlihat jelas.

"Sepertinya untuk sementara, kita hanya bisa melihat apa yang akan dilakukan anak itu selanjutnya."

Lisa mengangguk.

"Kalau begitu, kita tunggu saja."

"Benar."

Hendra kembali menatap meja di hadapannya.

"Namun aku punya firasat..."

Ia berhenti sebentar.

"Pemuda itu mungkin jauh lebih menarik daripada yang terlihat."

Menurutnya, karakter Yuda sangatlah langka, dan dia sendiri pun baru pertama kali menghadapi orang sepertinya.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!