NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Kalau mau bertamu masuk saja, Pak. Di bawah ada ibu sama adik saya. Saya mau mandi dulu!" cetus Nadia cepat dari balik telepon.

Sebelum Arvin sempat membalas, Nadia langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

"Dasar gadis menyebalkan!" maki Arvin pelan. Ia menggelengkan kepala.

Mau tidak mau, Arvin keluar dari mobil mewahnya. Pria itu merapikan kemejanya seraya melangkah mendekati pagar. Lagipula, ia memang penasaran ingin melihat secara langsung seperti apa latar belakang keluarga calon istrinya ini.

Tok! Tok! Tok!

Arvin mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan ketukan teratur.

Tak butuh waktu lama, pintu rumah berderit terbuka. Seorang gadis muda berpakaian santai muncul dari dalam. Itu Vanya.

Saat matanya menangkap sosok pria tinggi tegap dan sangat tampan yang berdiri di depannya, Vanya seketika terpana. Matanya berbinar kagum melihat pesona Arvin.

"Cari siapa ya, Mas?" tanya Vanya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.

"Saya mencari Nadia," jawab Arvin datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

Vanya menyunggingkan senyum centil, lalu menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. "Cari Kak Nadia? Ada perlu apa ya, Mas? Aduh, Kak Nadia mah hari Minggu begini masih molor di kamar. Pemalas banget orangnya."

Belum sempat Arvin menanggapi, langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah ruang tengah.

"Siapa yang datang, Van..."

Kalimat Mayang terhenti. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok pria yang berdiri di depan pintunya.

"Loh, ini Pak Arvin, ya?" seru Mayang dengan wajah berseri-seri penuh antusias.

Vanya seketika tersentak kaget. Matanya melotot menatap ibunya dan Arvin bergantian. Jadi... pria tampan ini calon suaminya Kak Nadia?!

Arvin mengangguk pelan memberikan gestur sopan. "Selamat pagi, Bu."

"Aduh, mari masuk dulu, Pak Arvin! Duduk dulu," sambut Mayang ramah. "Biar Ibu panggilkan Nadianya ya."

Arvin melangkah masuk dan mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan gaya tenang dan dominan.

Sementara itu, di dapur, Vanya menarik lengan ibunya dengan raut wajah sangat menyesal.

"Ibu! Jadi dia pria yang mau dijodohkan sama Kak Nadia?!" bisik Vanya heboh. "Kenapa Ibu nggak kasih foto dia ke aku waktu itu?! Kalau aku tahu orangnya seganteng ini, aku juga mau, Bu!"

Mayang menepis pelan tangan putrinya. "Kamu sendiri kan yang menolak waktu itu? Katanya tidak mau sama duda anak tiga. Lagipula kamu kan sudah punya pacar, sudah sana panggil kakakmu!"

"Tapi kan beda kalau dudanya modelan begitu..." gumam Vanya cemberut.

Belum sempat Vanya melangkah, suara pintu kamar di lantai dua berdecit terbuka.

Nadia melangkah keluar. Ia tidak sempat mandi penuh, hanya membasuh wajahnya agar segar dan mengenakan piyama panjang bermotif polos. Rambutnya ditutup rapi dengan hijab instan.

Nadia menuruni anak tangga dengan santai. "Tidak usah dipanggil, Nadia sudah bangun."

Mayang melotot menatap putri sulungnya dengan wajah malu. "Nadia! Kamu ini bagaimana, sih? Ada tamu jauh-jauh datang, kok cuma cuci muka dan pakai piyama begitu? Sana mandi dulu!"

Nadia menghela napas malas. Tanpa mengindahkan omelan ibunya, ia justru mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di hadapan Arvin.

"Ada apa pagi-pagi datang menemuiku?" tanya Nadia datar.

Arvin mengamati penampilan Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh kritik.

"Apa kamu tidak bisa mandi dulu dan berganti pakaian yang layak?" tegur Arvin dingin. "Saya paling tidak suka berurusan dengan orang yang tidak bisa menjaga kebersihan dan kerapian."

Nadia memutar bola matanya cuek. "Ini hari Minggu, Pak. Buat apa mandi cepat-cepat? Biasanya kalau hari Minggu saya memang cuma di rumah saja."

Arvin menarik napas dalam-dalam, mengelus dadanya pelan. Sepertinya menghadapi wanita di depannya ini menuntut kesabaran ekstra.

Vanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk cari perhatian. Ia melangkah mendekat dengan gaya yang dibuat-buat manis.

"Aduh, Kak Nadia ini bikin malu saja, deh," ujar Vanya lembut. "Harusnya Kakak menghargai tamu yang datang. Apalagi Mas Arvin ini kan orang penting. Mana ada cewek yang ketemu calon suaminya cuma pakai piyama sama cuci muka doang? Mending Kakak mandi sekarang, deh."

Nadia hanya melirik adiknya dengan tatapan malas.

Arvin tidak menggubris celotehan Vanya sedikit pun. Pandangan matanya tetap terkunci lurus pada Nadia.

"Saya ke sini bukan untuk berdebat," potong Arvin datar. "Ganti pakaianmu sekarang. Saya ingin mengajak kamu keluar sebentar."

Nadia menaikkan sebelah alisnya. "Keluar? Mau ke mana pagi-pagi begini?"

"Tidak usah banyak tanya. Cepat ganti pakaianmu sebelum waktu saya terbuang makin banyak," balas Arvin tegas.

Mayang langsung menyenggol lengan Nadia pelan. "Nadia! Jangan membantah. Cepat masuk kamar, mandi, terus dandan yang cantik. Kasihan Pak Arvin sudah menunggu dari tadi!"

Nadia menghembuskan napas kasar, lalu bangkit berdiri. "Iya, iya! Sabar kenapa, sih? Ini juga mau ganti baju!" cetus Nadia seraya melangkah naik ke kamarnya.

Lima belas menit kemudian, Nadia turun kembali. Ia mengenakan gamis kasual berwarna cream yang simpel namun rapi, dipadukan dengan hijab senada dan riasan tipis.

"Sudah kan? Ayo berangkat," kata Nadia.

Arvin berdiri dan pamit pada Mayang, lalu memimpin jalan menuju mobil mewahnya.

Di dalam mobil, suasana sempat hening sebelum Arvin membuka suara.

"Soal pernikahan kita minggu depan... saya sudah memutuskan untuk mengadakan intimate wedding saja," ujar Arvin datar. "Cuma keluarga inti dan beberapa teman dekat yang datang."

Nadia menoleh. "Jadi nggak ada pesta resepsi besar, Pak?"

"Tidak ada. Saya tidak suka keramaian yang tidak perlu," jawab Arvin tegas.

Nadia menghela napas lega. "Bagus deh kalau gitu. Saya juga malas kalau harus berdiri berjam-jam cuma buat salaman sama orang yang nggak saya kenal."

Arvin melirik Nadia sekilas, lalu membawa mobilnya berhenti di depan sebuah butik perhiasan mewah.

"Ngapain kita ke sini, Pak?" tanya Nadia.

"Beli cincin," sahut Arvin singkat seraya masuk ke toko.

Staf menyambut mereka ramah dan mengeluarkan beberapa koleksi cincin mewah bertatahkan berlian mahal. Nadia melirik harganya dan seketika pusing melihat angka nol yang terlalu banyak.

"Pilih yang kamu suka," ujar Arvin datar.

Nadia mengabaikan koleksi mewah itu dan menunjuk ke sudut etalase. "Saya mau yang itu saja, Mbak."

Staf mengambilkan sepasang cincin emas polos tanpa hiasan berlian.

Arvin mengerutkan dahi. "Kamu yakin mau pilih yang biasa begitu? Saya tidak melarang kamu pilih yang berlian."

Nadia mencobanya di jari manis. "Yakin, Pak. Lagipula saya ini penjual kue. Setiap hari tangan saya berurusan sama adonan dan oven. Kalau pakai cincin berlian besar begitu, yang ada malah repot dan hilang."

Arvin menatap Nadia sejenak, lalu mengeluarkan kartu kreditnya. "Bungkus yang itu."

Setelah urusan cincin dan fitting baju pengantin selesai di butik seberang, mereka kembali ke mobil. Nadia langsung menyandarkan tubuhnya di jok dengan lemas.

"Masih lama lagi ya, Pak?" keluh Nadia sambil memegang perutnya.

"Kenapa?"

"Saya lapar, Pak. Dari pagi belum sarapan sama sekali gara-gara Bapak mendadak datang," cetus Nadia jujur.

Arvin tidak menjawab. Ia langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota dan belok memasuki kawasan pemukiman elit berpagar tinggi, lalu berhenti di depan rumah megah berarsitektur modern.

Nadia menoleh ke sekeliling dengan dahi berkerut. "Loh... kita ke mana ini, Pak? Katanya saya bilang lapar, kok malah ke sini?"

"Ini rumah saya," jawab Arvin datar. "Turun."

Nadia menggeleng keras. "Nggak mau! Saya belum siap ketemu keluarga Bapak. Lagipula penampilan saya begini, cuma pakai baju santai!"

"Kamu lapar, kan?" tegas Arvin. "Ini sudah siang, sekalian kita makan di sini. Anak-anak saya juga di dalam."

"Tetap nggak mau, Pak! Bapak aja yang makan, saya tunggu di mobil!" tolak Nadia tetap keras kepala.

Arvin menatap Nadia sebentar, lalu tanpa adu argumen lagi langsung keluar mobil dan melangkah masuk ke rumah mewahnya.

Nadia bersedekap di jok depan. "Dasar pria dingin tak punya perasaan! Dikira aku bakal mau terus ikutan turun? Ogah!"

Di dalam rumah, Damian dan Jovan sedang fokus bermain game di layar TV besar, sementara Kenzo bermain balok sendirian di teras dalam.

Mendengar langkah kaki Arvin, Kenzo mendongak. "Papa? Kok Papa cepat banget pulangnya?"

"Urusan Papa sudah selesai," jawab Arvin. Ia lalu melirik ke luar dan menyadari Nadia benar-benar masih mogok di mobil.

Arvin menghela napas pendek. "Kenzo, ikut Papa sebentar ke depan."

Mereka berdua berjalan ke pelataran rumah. Arvin membuka pintu penumpang depan mobilnya.

"Turun," perintah Arvin singkat.

"Kan saya sudah bilang nggak mau, Pak...."

Arvin langsung meraih pergelangan tangan Nadia dan menariknya keluar dari mobil tanpa bisa ditolak.

"Ihh! Mas Arvin, lepasin! Main seret aja!" protes Nadia kesal.

Namun begitu kakinya mendarat di luar, pandangan Nadia bertabrakan dengan anak kecil di samping Arvin.

"Tante Nadia?!" pekik Kenzo gembira luar biasa. Kenzo langsung melepaskan genggaman papanya dan berlari kecil memeluk pinggang Nadia. "Tante Nadia beneran datang ke rumah Kenzo?! Tante mau main sama Kenzo, ya?!"

1
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!