IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Vas yang Menjadi Alasan
Tujuh hari tersisa sebelum hari jadi pernikahan Brooklyn dan Liam, namun suasana di penthouse mewah itu semakin jauh dari kata harmonis. Sejak insiden fitnah di tangga beberapa hari lalu, Brooklyn semakin membatasi diri, berusaha sebisa mungkin menghindari segala bentuk interaksi dengan Helena yang jelas-jelas memiliki niat tersembunyi untuk menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang mungkin masih tersisa antara dirinya dan Liam.
Namun rupanya, menjaga jarak saja tidak cukup untuk melindunginya dari rencana licik yang telah disusun Helena dengan begitu rapi.
Sore itu, Brooklyn sedang berada di ruang baca, tenggelam dalam buku yang ia baca untuk mengalihkan pikirannya dari kekacauan yang terus mendera rumah tangganya. Sementara itu, tanpa sepengetahuannya, Helena diam-diam memasuki ruang keluarga yang menampilkan sebuah vas kristal antik berukir indah—vas peninggalan mendiang ibu Liam yang telah lama menjadi salah satu barang paling berharga dan bersejarah dalam keluarga Whitmore.
Vas itu selalu diletakkan dengan hati-hati di atas rak kayu mahoni khusus, dijaga dengan begitu teliti oleh seluruh anggota keluarga karena nilai sentimentalnya yang begitu besar. Liam sendiri sering menceritakan bagaimana ibunya selalu merawat vas tersebut dengan penuh kasih sayang semasa hidupnya, menjadikan benda itu sebagai salah satu kenangan paling berharga yang tersisa setelah kepergian sang ibu bertahun-tahun lalu.
Dengan gerakan yang begitu tenang dan terencana, Helena melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang menyaksikan tindakannya, sebelum akhirnya dengan sengaja mendorong vas kristal itu hingga terjatuh dari rak kayu tersebut. Vas itu jatuh ke lantai marmer dengan suara benturan yang keras, pecah berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kristal yang berserakan di seluruh penjuru ruangan.
Helena tersenyum tipis penuh kepuasan menyaksikan kehancuran itu, sebelum dengan cepat mengatur ekspresi wajahnya menjadi tampak terkejut dan ketakutan. Ia segera berteriak keras, memanggil Liam yang kebetulan sedang berada di kamarnya.
"Liam! Liam, cepat kemari!" jeritnya dengan nada panik yang dibuat sedemikian meyakinkan.
Liam yang mendengar teriakan itu segera bergegas turun dari kamarnya, jantungnya berdebar khawatir mendengar nada suara Helena yang begitu ketakutan. Ketika ia sampai di ruang keluarga, matanya langsung terbelalak melihat pecahan vas kristal peninggalan ibunya yang berserakan di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Liam dengan suara bergetar, wajahnya pucat menyaksikan kehancuran benda yang begitu berharga baginya.
"Aku... aku melihat Brooklyn yang menjatuhkannya," ucap Helena dengan suara gemetar yang dibuat-buat, air mata bahkan mulai menggenang di sudut matanya untuk menambah kesan dramatis. "Aku mencoba menghentikannya, tapi dia sudah terlanjur menjatuhkan vas itu sebelum aku sempat mencegahnya."
Bersamaan dengan itu, Brooklyn yang mendengar keributan di lantai bawah bergegas turun untuk memeriksa keadaan, tidak menyangka bahwa ia baru saja dijadikan tersangka utama atas kehancuran benda yang bahkan tidak pernah ia sentuh sama sekali.
"Ada apa ini?" tanya Brooklyn bingung, matanya terbelalak melihat pecahan vas kristal yang berserakan di lantai.
Liam berbalik menghadap Brooklyn dengan wajah yang dipenuhi amarah dan kesedihan yang begitu mendalam, matanya memerah menahan emosi yang meluap-luap. "Bagaimana bisa kau menghancurkan vas ini, Brooklyn?! Kau tahu betapa berharganya benda ini bagiku!"
"Aku tidak menyentuh vas itu sama sekali!" bantah Brooklyn cepat, ketakutan mulai menjalar dalam dirinya menyaksikan amarah Liam yang begitu besar. "Aku bahkan baru saja turun dari ruang baca! Aku tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini!"
"Jangan berbohong!" bentak Liam, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Helena melihatmu sendiri dengan matanya! Kenapa kau terus menyangkal kesalahanmu?"
"Helena berbohong, Liam!" jerit Brooklyn, air mata mulai menggenang di matanya karena ketidakadilan yang begitu jelas terjadi lagi untuk kesekian kalinya. "Aku bahkan tidak pernah mendekati ruangan ini sejak pagi tadi! Kenapa kau terus mempercayai kebohongannya dibandingkan kejujuranku?!"
Kesombongan dan amarah Liam yang telah lama tersulut oleh berbagai kejadian sebelumnya kini benar-benar mencapai puncaknya. Ia melangkah cepat mendekati Brooklyn, matanya dipenuhi kegelapan yang mengerikan, jauh melampaui amarah-amarah sebelumnya yang pernah ia tunjukkan.
"Vas ini adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari ibuku!" bentaknya, suaranya bergetar oleh kesedihan dan amarah yang bercampur aduk. "Dan kau dengan seenaknya menghancurkannya begitu saja?!"
Tanpa peringatan lebih lanjut, kaki Liam terangkat dan mendarat keras di betis Brooklyn, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai dengan rasa sakit yang luar biasa menjalar dari titik hantaman tersebut. Brooklyn menjerit kesakitan, tangannya refleks memegangi bagian tubuhnya yang baru saja terkena tendangan itu.
"Liam, hentikan!" jerit Brooklyn, namun amarah yang telah menguasai Liam membuatnya tidak lagi bisa berpikir jernih.
Liam kembali mendekat, tangannya terkepal dan mendarat di lengan Brooklyn, membuat wanita itu kembali meringis kesakitan sambil mencoba melindungi dirinya sendiri dari serangan yang terus berdatangan. Setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya terasa seperti manifestasi dari seluruh amarah dan kekecewaan yang telah lama terpendam dalam diri Liam, meski sasaran kemarahan itu sama sekali tidak bersalah atas kejadian yang sesungguhnya terjadi.
"Kau tidak pernah menghargai apa pun yang berharga bagiku!" bentak Liam, tangannya kembali terangkat untuk memukul Brooklyn yang kini meringkuk di lantai mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangan. "Kau selalu saja membuat kekacauan di rumah ini!"
Brooklyn hanya bisa menahan setiap pukulan dan tendangan yang mendarat di tubuhnya, terlalu terkejut dan kesakitan untuk bisa membela diri dengan lebih efektif. Air matanya mengalir deras, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang begitu menyiksa, melainkan karena ketidakadilan yang begitu kejam terus menimpa dirinya tanpa henti.
Di sudut ruangan, tersembunyi dari pandangan langsung Liam yang sedang dikuasai amarah, Helena berdiri diam menyaksikan kekerasan yang sedang terjadi di hadapannya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang penuh kepuasan, matanya berkilat licik menyaksikan penderitaan yang sedang dialami Brooklyn—penderitaan yang sepenuhnya merupakan hasil dari kebohongan yang telah ia rencanakan dengan begitu rapi.
Sempurna, batin Helena dalam hati, kepuasan mengalir dalam dirinya menyaksikan bagaimana rencananya berjalan begitu mulus. Semakin cepat wanita ini menghilang dari kehidupan Liam, semakin cepat aku bisa mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya bagi Brooklyn, amarah Liam akhirnya mulai mereda, meski napasnya masih memburu dan matanya masih dipenuhi kemarahan yang belum sepenuhnya hilang. Ia menatap Brooklyn yang meringkuk di lantai dengan tubuh gemetar dan wajah basah oleh air mata, namun tidak ada secercah pun penyesalan yang terlihat di matanya.
"Bersihkan kekacauan ini," ucapnya dingin, sebelum berbalik untuk memeriksa keadaan Helena yang masih berpura-pura terguncang di sudut ruangan. "Dan jangan pernah lagi menyentuh barang-barang berharga di rumah ini."
Liam melangkah mendekati Helena, memeluknya dengan lembut untuk menenangkannya, sebuah kontras yang begitu menyakitkan dibandingkan perlakuan kasar yang baru saja ia berikan kepada Brooklyn yang masih terduduk kesakitan di lantai yang dipenuhi pecahan kristal.
Brooklyn duduk sendirian setelah keduanya meninggalkan ruangan, tubuhnya terasa sakit di berbagai bagian akibat pukulan dan tendangan yang baru saja ia terima, namun luka yang jauh lebih dalam justru terasa di hatinya—luka dari ketidakadilan yang begitu jelas terjadi, luka dari kebohongan yang begitu licik dirancang, dan luka dari kesadaran bahwa Liam telah sepenuhnya kehilangan kepercayaan terhadap dirinya, tergantikan sepenuhnya oleh kepercayaan buta terhadap wanita yang sesungguhnya adalah dalang dari segala penderitaannya.