NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA DI MALAM HARI

Malam telah tiba.

Langit gelap membentang luas di atas ibu kota, dihiasi ribuan lentera istana yang menyala terang seperti bintang-bintang jatuh ke bumi. Cahaya keemasan memantul di dinding marmer putih, membuat seluruh kerajaan tampak megah dan hidup meski malam semakin larut.

Gerbang utama kerajaan kembali dibuka.

Para penjaga berdiri tegak di kedua sisi jalan, tombak mereka berkilau diterpa cahaya api. Suasana yang semula tenang mulai ramai oleh suara roda kereta dan langkah para pelayan.

Malam itu kerajaan mengadakan perjamuan besar.

Perayaan kemenangan perang.

Semua keluarga bangsawan hadir dengan pakaian terbaik mereka. Wanita-wanita bangsawan turun dari kereta kuda mewah dengan langkah anggun, mengenakan gaun sutra mahal dan perhiasan berkilau.

Namun di tengah suasana megah itu…

sebuah suara derap langkah memecah keramaian.

Tap… tap… tap… tap…

Suara itu semakin mendekat.

Semua mata perlahan tertuju ke arah gerbang utama.

Seekor kuda hitam memasuki halaman istana dengan langkah tenang namun gagah. Di atasnya duduk seorang wanita muda dengan punggung tegak dan tatapan tenang.

Gu Yanran.

Gaun panjang berwarna gelap yang ia kenakan berkibar mengikuti gerakan kuda. Rambut hitamnya tergerai bebas, tertiup angin malam tanpa hiasan berlebihan.

Ia tidak terlihat seperti wanita bangsawan istana.

Tidak lembut.

Tidak anggun seperti putri-putri keluarga besar lainnya.

Namun justru karena itu…

ia terlihat jauh lebih mencolok.

Seolah cahaya malam itu diam-diam berpusat padanya.

Bisikan mulai terdengar di antara kerumunan.

“Siapa dia…?”

“Tunggu… apa itu Gu Yanran?”

“Putri Panglima Gu?”

“Dia datang menunggang kuda ke pesta kerajaan?”

“Bukankah itu terlalu kasar untuk seorang wanita?”

Beberapa wanita bangsawan menutup mulut sambil berbisik pelan.

Namun sebagian pria muda justru tidak bisa mengalihkan pandangan.

Gu Yanran turun dari kudanya dengan gerakan ringan. Tangannya menepuk leher kuda hitam itu pelan sebelum menyerahkan tali kekang pada seorang pelayan yang masih terlihat gugup.

“Jaga dia baik-baik,” ucap Yanran santai.

“Y-ya, Nona Gu!”

Di belakangnya, Gu Zhengyuan berjalan mendekat sambil menghela napas panjang.

Pria paruh baya itu masih mengenakan pakaian perang berwarna hitam merah. Tubuhnya tinggi besar, auranya berat seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan.

Namun saat melihat putrinya…

tatapannya berubah jauh lebih lembut.

“Aku benar-benar tidak pernah menang balapan kuda melawanmu,” katanya sambil tertawa kecil.

Gu Yanran menoleh.

Matanya sedikit menyipit sebelum senyum tipis muncul di wajahnya.

“Itu karena Ayah sudah tua.”

Beberapa prajurit yang berjalan di belakang mereka langsung menunduk menahan tawa.

Salah satu dari mereka bahkan hampir tersedak.

“Berani sekali Nona berkata begitu pada Panglima…”

“Kalau orang lain pasti sudah dihukum.”

Gu Zhengyuan justru tertawa lebih keras.

“Dasar anak tidak sopan.”

“Tapi aku memang mulai tua.”

Yanran mengangkat alis.

“Ayah baru sadar?”

“Kau benar-benar ingin membuat ayahmu malu di depan semua orang?”

“Bukankah Ayah selalu bilang prajurit sejati harus menerima kenyataan?”

Gu Zhengyuan terdiam beberapa detik sebelum kembali tertawa.

“Baik. Kali ini Ayah kalah.”

Hubungan mereka tidak seperti ayah dan putri bangsawan pada umumnya.

Tidak penuh formalitas.

Tidak kaku.

Saat berdiri berdampingan, mereka lebih terlihat seperti dua sahabat lama yang saling memahami tanpa perlu banyak bicara.

Seolah selama mereka bersama…

dunia luar tidak terlalu penting.

Mereka mulai berjalan menaiki tangga panjang menuju aula utama istana.

Para prajurit mengikuti dari belakang dengan langkah tertib.

Sepanjang perjalanan, banyak bangsawan memberi hormat pada Gu Zhengyuan.

Bagaimanapun juga…

dialah pahlawan perang kerajaan.

Orang yang menjaga perbatasan selama bertahun-tahun.

Namun dibandingkan tatapan hormat pada sang panglima…

lebih banyak mata tertuju pada Gu Yanran.

Karena ia berbeda.

Sangat berbeda.

Sejak kecil, Gu Yanran dibesarkan di medan perang.

Ia tumbuh mendengar suara pedang, bukan alunan musik.

Ia belajar menunggang kuda sebelum belajar merias diri.

Tidak ada ibu yang mengajarinya menjadi wanita bangsawan yang lembut.

Dunia yang ia kenal…

hanya tentang bertahan hidup.

Dan anehnya…

baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang…

hal itu tidak pernah berubah.

Gu Zhengyuan tiba-tiba melirik putrinya.

“Yanran.”

“Hm?”

“Kau tahu… para bangsawan itu pasti sedang membicarakanmu sekarang.”

“Biarkan saja.”

“Mereka bilang kau tidak pantas menjadi wanita bangsawan.”

Yanran terkekeh pelan.

“Aku juga tidak pernah ingin menjadi salah satunya.”

Gu Zhengyuan tersenyum tipis.

“Itulah yang membuatmu berbeda.”

Langkah mereka melambat sesaat.

Tatapan Gu Zhengyuan tertuju lurus ke depan, namun sorot matanya perlahan berubah lebih dalam.

“Yanran…”

“Ya?”

“Kau sudah besar.”

Suara itu terdengar pelan.

Namun di balik kalimat sederhana itu…

tersimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.

Gu Yanran menatap ayahnya beberapa saat.

Ia tahu.

Ayahnya takut.

Takut suatu hari ia tidak bisa lagi melindunginya.

Takut dunia yang keras itu akan kembali merebut sesuatu darinya.

Yanran menghela napas kecil.

“Sudah lah, Yah.”

“Jangan memikirkan hal yang belum terjadi.”

Gu Zhengyuan tersenyum samar.

“Kadang Ayah lupa… kau jauh lebih tenang dibanding usiamu.”

“Mungkin karena Ayah terlalu sering membawaku ke medan perang.”

“Haha… itu salahku rupanya?”

“Tentu saja.”

“Ayah menyesal?”

Yanran terdiam sesaat.

Lalu perlahan menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau aku dibesarkan di istana seperti wanita lain…”

“mungkin aku sudah menangis hanya karena angin malam terlalu dingin.”

Gu Zhengyuan tertawa kecil mendengar itu.

Namun tak lama kemudian wajahnya kembali serius.

“Yanran.”

“Hm?”

“Jika suatu hari nanti Ayah tidak ada…”

Belum selesai ia bicara, Yanran langsung memotong.

“Ayah akan panjang umur.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa dipastikan.”

“Kalau begitu jangan dibicarakan.”

Gu Zhengyuan menatap putrinya lama.

Lalu akhirnya mengangguk pelan.

“Baik.”

“Sekarang waktunya kita menikmati kemenangan kita.”

Mereka akhirnya tiba di depan tangga utama aula kerajaan.

Musik mulai terdengar dari dalam.

Cahaya lentera menari di lantai batu putih.

Namun tepat saat Gu Yanran melangkah naik…

ia berhenti.

Entah kenapa.

Seolah ada sesuatu yang menarik pandangannya.

Perlahan ia mengangkat kepala.

Dan di atas sana…

di antara para bangsawan yang berdiri di balkon aula…

seseorang sedang menatapnya.

Mo Chen.

Pria itu mengenakan jubah hitam dengan bordir emas tipis. Wajahnya tenang, namun matanya tajam seperti mampu melihat sesuatu jauh lebih dalam dibanding orang lain.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi.

Sejenak.

Namun terasa begitu panjang.

Mo Chen menyipitkan mata pelan.

Ada sesuatu yang aneh.

Sangat aneh.

Dadanya terasa sesak tanpa alasan.

“…Sepertinya aku pernah melihat adegan ini.”

gumamnya pelan.

Di bawah tangga, Gu Yanran juga terdiam.

Perasaan asing muncul di dalam dirinya.

Tidak jelas.

Namun terasa nyata.

Seolah mereka pernah berdiri seperti ini sebelumnya.

Di tempat lain.

Di waktu lain.

“…Aneh…” bisiknya lirih.

Di sekitar mereka dunia tetap berjalan.

Musik terus dimainkan.

Para bangsawan tetap berbicara dan tertawa.

Pelayan berlalu-lalang membawa minuman.

Namun bagi mereka berdua…

momen itu tertinggal.

Seperti serpihan ingatan yang seharusnya tidak ada.

Dan tanpa mereka sadari…

pertemuan malam itu bukanlah kebetulan.

Melainkan awal dari dua takdir yang perlahan mulai saling bertabrakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!