Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
POV Adrian
"Gak usah kepo lo! Gue pacarnya! Ini urusan hubungan kita berdua, jadi mendingan lo yang gak tahu apa-apa gak usah ikut campur! Pergi lo dari sini sebelum lo yang gue bikin babak belur!”
Kata pacar yang keluar dari mulut pria mabuk itu mendadak menghantam dadaku dengan rasa tidak nyaman yang asing. Ada denyut kekecewaan yang samar, yang langsung membuat dahiku berkerut dalam.
Gadis sekonyol, seberani, dan sekeren dia saat membela diri di ruanganku beberapa hari lalu... ternyata punya selera pria yang sangat buruk. Bagaimana bisa dia menyerahkan hatinya pada makhluk sekelas berandalan jalanan ini?
"Zaman sekarang gak ada yang namanya bantuan gratisan! Cowok kayak dia mana mau repot-repot belain lo tengah malam begini kalau gak ada maunya? Palingan dia juga cuma mau manfaatin tubuh lo doang!”
PLAK!
Tanganku bergerak lebih cepat daripada logikaku sendiri. Suara hantaman telapak tanganku yang mengenai pipi pria itu terdengar begitu nyaring di kesunyian malam. Tubuh ringkihnya langsung terjerembab ke aspal jalanan.
Napas memburu, tanganku yang baru saja mendaratkan tamparan terasa panas. Rasa kecewa yang tadi sempat lewat langsung berubah menjadi amarah yang membakar ubun-ubun. Aku tidak pernah sekasar ini pada orang lain, tapi mulut kotor bajingan ini benar-benar sudah kelewatan. Dia tidak hanya merendahkan Aruna, tapi dia juga menghina niat murniku yang hanya ingin menolong karyawanku yang sedang ketakutan.
"Jaga mulut kotor kamu," suaraku terdengar sangat rendah dan dingin, menahan gejolak emosi yang ingin menghajar pria itu lebih dari sekadar tamparan.
Aku melangkah maju, menjulang di depan tubuhnya yang gemetar di aspal. "Saya paling tidak suka ada orang yang merendahkan harga diri seorang wanita di depan muka saya. Dan satu hal lagi... Saya tidak butuh alasan apa pun untuk menghancurkan bajingan seperti kamu."
Pria itu langsung ciut. Setelah melontarkan ancaman murahan yang sama sekali tidak membuatku berkedip, dia langsung lari seribu langkah masuk ke dalam gang.
Begitu dia hilang, suara tangisan di belakang punggungku kembali pecah. Aku menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungku yang masih dipompa amarah. Aku membalikkan badan, berniat melepaskan jas hitamku untuk menutupi tubuh Aruna yang terekspos malam ini.
Namun, begitu aku merentangkan tangan di depannya—
Grep.
Tubuh mungil itu justru menghambur ke dalam dekapanku. Dia memeluk pinggangku dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya yang basah oleh air mata tepat di dadaku.
Seketika, seluruh otot tubuhku membeku. Napasku tertahan di tenggorokan.
Aroma air mata, ketakutan, dan wangi sampo murahan miliknya langsung memenuhi indra penciumanku. Kedua tanganku yang masih memegang jas tertahan kaku di udara. Dadaku bergemuruh hebat, bukan lagi karena sisa amarah pada pacarnya tadi, melainkan karena kepolosan dan kebodohan gadis ini yang dengan mudahnya memeluk seseorang di pinggir jalan raya.
Ada rasa posesif yang mendadak egois muncul di kepalaku saat merasakan pelukannya yang begitu erat. Sialan, batinku mengumpat. Bagaimana bisa aku merasa sekecewa ini hanya karena tahu dia sudah punya pacar?
Aku memegang bahunya untuk melepaskan pelukannya kemudian menyampirkan jas hitamku di bahunya. Melihat aruna yang masih ketakutan dengan tubuh mungilnya yang masih gemetar, aku memegang jemarinya yang dingin dan mengantarkan sampai depan rumahnya.
Setelah memastikan Aruna masuk dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, aku berjalan kembali menyusuri gang sempit itu menuju mobil. Suasana malam terasa semakin dingin tanpa jas yang biasa melekat di tubuhku, tapi pikiranku jauh lebih riuh daripada angin malam.
Aku masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan bersandar sejenak di setir. Saat melirik ke arah cermin, mataku tertambat pada bagian dada kemeja putihku.
Kainnya tampak basah dan sedikit kusut. Di sanalah tempat Aruna menumpahkan air matanya tadi saat memelukku erat-erat. Aku menyentuh bagian yang basah itu dengan ujung jari. Samar-samar, aroma sampo murahannya yang manis masih tertinggal di sana, bercampur dengan sisa wangi parfumku sendiri.
“Dasar cengeng,” gumamku.
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai mengacaukan logikaku. Aku menginjak pedal gas, membelah jalanan kota yang sudah sepi untuk pulang ke rumah.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah besar keluarga Wiratama, aku mengira suasana akan sunyi senyap karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, dugaanku salah. Di ruang tengah, mamaku—Ratih masih duduk santai di sofa sambil membaca majalah ditemani secangkir teh hangat.
"Baru pulang, Adrian?" mama Ratih menoleh, meletakkan majalahnya saat melihatku berjalan melewati ruang tengah.
"Iya, Ma. Tadi ada sedikit urusan di jalan setelah dari kantor," jawabku pelan sambil melangkah mendekat untuk mencium tangan mama.
mama Ratih menghembuskan napas panjang, menatapku dengan pandangan menyelidik yang sudah sangat kuhafal ujungnya. "Kerja terus... Lembur terus... Kamu ini CEO, Adrian, bukan buruh pabrik yang harus lembur tiap malam demi uang lemburan. Kapan kamu mau meluangkan waktu buat cari pacar kalau hidup kamu cuma habis di meja kerja?"
Aku sudah siap mengabaikan omelan rutin itu dan berpamitan untuk naik ke lantai atas, tetapi langkahku terhenti saat suara Ibu kembali terdengar, kali ini dengan nada penuh selidik.
"Loh? Jas kamu mana?" mama berdiri, berjalan mendekatiku sambil memicingkan mata. "Tadi pagi mama lihat kamu berangkat pakai setelan lengkap dengan jas hitam desainer yang baru itu kan? Kok pulangnya cuma pakai kemeja begini? Mana kemejanya kusut dan basah begitu lagi di bagian dada. Kamu habis dari mana?"
Jantungku sempat berdesir halus. Wajah cemberut Aruna dan wajah rapuhnya yang menangis ketakutan tadi mendadak melintas bergantian di kepalaku.
"Jasnya kotor, ma. Ketinggalan di kantor," jawabku berbohong, mencoba memasang ekspresi sedatar mungkin agar mama Ratih tidak mencium ada yang tidak beres. "Kemeja ini juga cuma kena tumpahan air minum tadi pas di mobil."
Mama menaikkan satu alisnya, jelas tidak langsung percaya dengan alasan yang kubuat sekilas itu. "Ketinggalan di kantor atau ketinggalan di tempat lain? Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari mama, ya?"
"Tidak ada, Ma. Adrian naik ke atas dulu, mau langsung mandi dan istirahat," potongku cepat sebelum interogasi makin melebar ke mana-mana.
Aku buru-buru melangkah menaiki anak tangga menuju kamarku. Begitu pintu kamar tertutup rapat, aku menghembuskan napas lega yang tertahan sejak tadi. Aku melepas kemeja putihku yang kusut, melemparnya ke keranjang pakaian kotor, dan langsung masuk ke kamar mandi.
Di bawah guyuran air pancuran yang dingin, aku kembali terdiam. Besok pagi di kantor, gadis kuncir kuda itu pasti akan datang ke ruanganku untuk mengembalikan jas hitamku. Membayangkan bagaimana canggungnya wajah Aruna besok setelah insiden malam ini, sudut bibirku tanpa sadar kembali terangkat tipis.
Malam ini benar-benar melelahkan, tapi entah kenapa, aku mulai tidak sabar menunggu hari esok tiba.
Pagi harinya di kantor, suasana hatiku sudah terasa gerah sejak awal. Aku duduk di balik meja kerja, menatap berkas laporan keuangan yang baru saja diletakkan oleh Ariana.
"Ariana, tolong bacakan agenda saya hari ini," perintahku tanpa mendongak, tetap fokus pada lembaran di depanku.
Ariana sengaja melangkah lebih dekat ke meja. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil memamerkan senyuman yang menurutnya menawan.
"Hari ini jadwal Pak Adrian padat banget loh... Jam sepuluh ada meeting sama divisi pemasaran, terus jam satu siang ada makan siang kolegial," ucapnya dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu dan manja. Dia mengedipkan matanya perlahan. "Tapi kalau Pak Adrian capek, biar aku yang atur ulang jadwalnya... biar kita bisa istirahat berdua aja di ruangan."
Mendengar nada suara dan kalimat tidak profesional itu, kesabaranku langsung habis. Aku meletakkan pulpenku dengan ketukan yang keras di atas meja, lalu mendongak menatapnya. Tatapanku berubah menjadi sangat dingin dan menusuk, membuat senyuman genit di wajah Ariana langsung membeku.
Aku muak. Mengingat bagaimana rapuhnya Aruna semalam karena berjuang mempertahankan kehormatannya dari bajingan, melihat Ariana yang di sini justru sengaja menjual kecentilan murahan demi memikat atasan membuat rasa jengkelku meningkat berkali-kali lipat.
"Ariana," panggilku, suaranya begitu rendah hingga atmosfer ruangan mendadak mencekam. "Kamu di sini digaji sebagai asisten untuk bekerja, bukan untuk menjadi penghibur saya. Jaga sikap dan intonasi bicara kamu kalau masih mau bertahan di lantai ini sampai akhir bulan."
Wajah Ariana langsung pucat pasi. Dia menelan ludah dengan susah payah, buru-buru menegakkan badannya kembali. "M-maaf, Pak Adrian. Saya tidak bermaksud—"