NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Kilas Balik di Antara Berkas

Kesibukan di lobi utama gedung Artha Group seolah menjadi pemandangan biasa, tetapi atmosfer di divisi Hubungan Masyarakat terasa jauh lebih mencekam pagi ini. Di balik pintu kaca ruangannya, Alika duduk tegak menghadap layar komputer. Meja kerjanya dipenuhi tumpukan berkas proposal dari investor asing yang berjejer rapi, bersaing dengan botol air mineral dan dua butir obat penambah darah yang diberikan Murni tadi pagi.

Meskipun pulasan makeup tebal berhasil menyamarkan semburat merah di pipi dan pucat di kulitnya, Alika tidak bisa membohongi tubuhnya sendiri. Setiap kali jemarinya menari di atas papan ketik, rasa nyeri yang menusuk terasa hingga ke buku-buku jarinya.

"Bu Alika, ini draft rilis media untuk kunjungan delegasi siang nanti," ujar Murni yang masuk dengan langkah tergesa sembari meletakkan sebuah map perak. Matanya menatap cemas ke arah tangan Alika yang sedikit gemetar saat meraih map tersebut. "Ibu... kalau memang masih lemas, biar Murni saja yang mendampingi Tuan Besar dan para investor nanti."

Alika menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum profesional. "Tidak perlu, Murni. Mas Narendra sudah menegaskan tadi pagi kalau divisi Humas harus kupimpin langsung hari ini. Kita tidak boleh terlihat ada celah di depan investor."

Ucapan Narendra agar dirinya "jangan terlihat penyakitan" masih terngiang di kepala Alika bak alarm yang tak kunjung berhenti. Bagi Narendra, Alika bukan sekadar istri, melainkan aset representatif yang harus selalu tampil sempurna tanpa cela.

Tepat pukul sebelas siang, rombongan direksi dan investor asing memasuki lantai divisi Humas. Narendra berjalan di barisan paling depan, tampak penuh karisma dalam balutan setelan jas wol hitam yang memancarkan kekuasaan. Di sampingnya, beberapa ekspatriat paruh baya tampak manggut-manggut menyimak penjelasannya.

Alika melangkah maju menyambut rombongan itu dengan postur tubuh tegak, seolah-olah ia tidak baru saja menghabiskan waktu lima belas menit di kamar mandi hanya untuk memijat lututnya yang kaku.

"Selamat siang, hadirin sekalian. Selamat datang di divisi Hubungan Masyarakat Artha Group," sapa Alika dalam bahasa Inggris yang fasih dengan artikulasi yang terjaga.

Narendra melirik istrinya sekilas, menelusuri penampilan Alika dari ujung rambut hingga ujung kaki. Begitu melihat Alika tampil segar dengan lipstik merah menyala dan senyum merekah, kilat kepuasan yang egois melintas di mata sang CEO. Dalam benaknya, asumsi semalam terbukti benar: Alika memang hanya kelelahan dan sengaja melebih-lebihkan rasa sakitnya kemarin demi mencari perhatian.

"Nyonya Pradipta memiliki tim yang sangat solid dalam menjaga citra korporasi kami di Asia Tenggara," puji Narendra kepada investor di sebelahnya, secara implisit mengklaim kesempurnaan Alika sebagai bagian dari miliknya.

Namun, presentasi yang awalnya berjalan lancar itu mendadak berubah menjadi siksaan bagi Alika. Ketika ia harus berdiri selama hampir empat puluh menit menjelaskan papan infografis di lorong utama, sendi lututnya mulai terasa panas membara. Keringat dingin mulai merembes di tengkuk, mengancam akan melunturkan bedak tebal yang membentengi wajahnya. Pandangan Alika sempat mengabur selama beberapa detik.

Secara refleks, ia berpegangan pada pinggiran meja display di dekatnya untuk menjaga keseimbangan agar tidak tersungkur.

Narendra yang memiliki insting tajam menangkap gerakan kecil itu. Dahinya mengernyit samar. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di dadanya saat melihat cara Alika bertumpu, namun ego dan gengsinya di hadapan para investor membuat pria itu memilih untuk abai. Narendra mengalihkan arah pembicaraan, membiarkan Alika berjuang sendirian menahan rasa sakit di tengah ruangan yang dingin itu.

Sore harinya, setelah rombongan investor pergi dan jam kantor usai, Alika tidak langsung pulang. Ia duduk di dalam taksi daring yang dipesannya secara diam-diam. Tujuannya bukan ke rumah mereka di Menteng, melainkan kembali ke Rumah Sakit Medika Utama.

Sesuai saran dr. Raditya kemarin, ia sadar tidak bisa lagi mengabaikan kondisi tubuhnya. Rasa sakit ini terlalu janggal jika hanya dianggap sebagai anemia biasa.

Di dalam ruang konsultasi yang jauh lebih tenang dibanding suasana UGD kemarin, dr. Raditya menyambut Alika dengan tatapan hangat namun penuh selidik. Dokter muda itu langsung menyadari lapisan makeup tebal yang dipakai Alika.

"Anda langsung bekerja setelah pingsan kemarin, Ibu Alika?" tanya Raditya. Suaranya terdengar lembut, namun ada nada teguran yang tersirat.

Alika menghela napas panjang, bahunya merosot seketika—menanggalkan topeng ketegaran yang ia kenakan seharian di kantor. "Tuntutan pekerjaan, Dokter. Saya tidak punya banyak pilihan."

Raditya terdiam sejenak, lalu meminta izin untuk memeriksa pergelangan tangan Alika. Dengan sangat hati-hati, jemari dokter itu memeriksa sendi-sendi Alika dan menekan beberapa titik perlahan. Sentuhan Raditya sangat kontras dengan Narendra. Jika Narendra selalu menyentuh Alika dengan penuh kepemilikan dan ketergesaan, Raditya menyentuhnya dengan rasa hormat dan empati seorang penyembuh.

"Ada pembengkakan samar di sini," ujar Raditya tenang. Ia kemudian menatap wajah Alika. "Boleh saya meminta Anda menghapus sedikit bedak di area pipi? Saya perlu melihat kulit Anda di bawah cahaya lampu ini."

Alika sempat ragu, namun akhirnya ia mengambil tisu basah dari tasnya dan mengusap pipi kanannya hingga bersih. Begitu lapisan foundation itu hilang, bercak kemerahan yang menyerupai sayap kupu-kupu yang samar itu kembali terlihat.

Mata Raditya sedikit menegang melihat ruam tersebut. Sebagai dokter yang mulai mendalami kasus-kasus imunologi, sebuah kecurigaan besar mulai terbentuk di kepalanya. Namun, ia tahu tidak boleh gegabah menyebutkan nama penyakit itu tanpa bukti otentik, terutama kepada pasien yang tampak memiliki tekanan mental sebesar Alika. Dalam dunia medis, salah mendiagnosis di awal bisa berakibat fatal, dan ia membutuhkan hasil laboratorium yang lebih spesifik.

"Kecurigaan awal saya, ada peradangan sistemik yang sedang terjadi di tubuh Anda, bukan sekadar kelelahan biasa," kata Raditya dengan nada seobjektif mungkin agar Alika tidak panik. "Kita harus melakukan panel tes darah yang lebih lengkap. Ini draf rujukan laboratoriumnya. Ada beberapa parameter spesifik yang harus kita periksa."

Alika menerima kertas rujukan itu dengan tangan gemetar. "Apakah... ini sesuatu yang berbahaya, Dok?"

Raditya menatap mata Alika yang sarat akan kelelahan batin. "Kita tidak akan tahu pasti sampai hasil lab ini keluar dua minggu lagi, Ibu Alika. Tapi saya berjanji akan membantu Anda mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Untuk saat ini, tolong... kurangi beban pikiran Anda."

Saat Alika melangkah keluar dari ruang praktik sembari membawa kertas rujukan rahasia itu, ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Narendra masuk.

"Malam ini saya ada jamuan makan malam dengan kolega dari Singapura di Hotel Mulia. Jangan tunggu saya. Pastikan besok pagi laporan humas sudah ada di meja saya pukul delapan."

Alika menatap layar ponselnya dengan pandangan datar. Di saat seorang dokter asing baru saja memperingatkannya tentang bahaya yang mengintai di dalam tubuhnya, suaminya justru mengirimkan daftar tugas dan pemberitahuan absennya yang kesekian kali.

Alika melipat kertas rujukan dari dr. Raditya kecil-kecil, menyembunyikannya di bagian paling dalam dompet. Misteri medis di tubuhnya baru saja dimulai, dan Alika memilih untuk menyimpannya rapat-rapat sebagai rahasia terbesarnya dari Narendra.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!