NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Terakhir ke Pintu Itu

Langkah kaki Kinan terasa begitu berat, seolah semen cor tak kasat mata mengikat erat kedua pergelangan kakinya. Di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin dan berbau menyengat zat antiseptik ini, ia merasa baru saja menyerahkan separuh dari jiwanya. Kalimat lirih yang keluar dari bibir Imelda beberapa menit lalu masih terngiang jelas, bergaung di kepala dan menghantam dadanya bertubi-tubi hingga menyisakan rasa sesak yang tak berkesudahan.

“Tolong lupakan Neya, Kinan... Tante sudah tidak sanggup melihat Neya terus disakiti oleh keluargamu.”

Kinan menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang dingin, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar hebat. Delapan tahun. Bukan waktu yang singkat untuk menganyam sebuah kisah yang mereka rajut dengan susah payah sejak masih mengenakan seragam putih-biru. Mereka telah melewati badai penolakan yang begitu kejam dari keluarga Kinan—orang-orang gila hormat yang merasa darah biru mereka akan tercoreng jika bersanding dengan gadis biasa seperti Neya.

Namun hari ini, di depan kamar rawat itu, pertahanan Kinan benar-benar runtuh. Bukan karena ia lelah berjuang, melainkan karena ia sadar bahwa mencintai Neya di titik tertinggi berarti ia harus rela berjalan mundur. Ia harus membiarkan gadis itu hidup dan bahagia, meskipun itu artinya ia harus terhapus total dari ingatan baru Neya yang terbangun dalam kondisi amnesia.

Dengan tatapan yang berangsur kosong dan dada yang bergemuruh menahan tangis, Kinan kembali memaksakan kakinya untuk melangkah menuju pintu keluar. Ia terus berjalan menjauh, tanpa pernah menoleh lagi ke belakang. Ia tidak akan pernah tahu bahwa di dalam kamar rawat yang sunyi itu, bersamaan dengan langkah kakinya yang menjauh, sebutir air mata hangat perlahan luruh dan mengalir di pipi pucat Neya yang masih terpejam erat.

Kinan mencengkeram kemudi dengan sangat erat. Mobilnya melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, seakan ia tidak peduli lagi jika kematian sedang mengintainya di tikungan depan. Dunianya baru saja runtuh, dan separuh jiwanya tertinggal di bangsal rumah sakit. Kini, ia sedang menuju tempat di mana orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya tinggal. Tempat yang disebut rumah, namun terasa seperti neraka berlapis emas hanya karena alasan perbedaan kasta.

Mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah kediaman megah yang berdiri angkuh. Beberapa pelayan langsung menyambutnya dengan sapaan hangat begitu Kinan melangkah melewati pintu besar. Namun, tak satu pun suara mereka yang mampu menembus rungu Kinan. Padahal biasanya, Kinan adalah sosok pemuda yang paling ramah dan selalu melempar senyum pada para pekerja di rumah itu. Hari ini, ia berjalan seperti raga tanpa nyawa.

"Akhirnya kamu pulang, Kinan," sebuah suara yang sangat familier menyapa.

Casandra berdiri di dekat tangga dengan senyuman manis yang tampak sempurna. Senyuman seorang pemenang yang tahu bahwa sang putra akhirnya telah menyerah dan tunduk pada kuasanya.

"Mama ingin bicara, Kinan," sela Casandra. Nada suaranya lembut, namun sarat akan ketegasan yang tak boleh dibantah.

Langkah Kinan terhenti. Ia berbalik, menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan sorot mata penuh luka dan amarah yang bergejolak. "Apa lagi yang ingin Mama bicarakan? Bukankah sekarang Mama sudah puas melihat Neya terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit?"

Napas Kinan memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak. "Aku tahu semua itu perbuatan orang-orang suruhan Mama. Dan sekarang, Mama tidak perlu repot-repot melakukan apa pun lagi. Aku sudah selesai. Aku tidak lagi berhubungan dengan Neya." Kinan menjeda kalimatnya, menatap lekat manik mata ibunya dengan ancaman paling serius yang pernah ia lontarkan. "Tapi ingat satu hal, Ma. Jika Mama masih berani menyentuh atau melakukan sesuatu pada Neya... maka di hari itu juga, Mama akan kehilangan putra bungsu Mama ini untuk selama-lamanya."

Tanpa menunggu jawaban, Kinan berbalik dan melangkah lebar menuju kamarnya, meninggalkan Casandra yang membatu di tempat. Namun, keterkejutan wanita itu tidak bertahan lama. Sedetik kemudian, seulas senyum kepuasan kembali terbit di wajah angkuhnya. Baginya, ancaman Kinan tidak berarti apa-apa, yang terpenting mangsanya telah menjauh.

Begitu sampai di kamar, Kinan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia melangkah menuju sudut ruangan, menggeser karpet tebal, dan membuka sebuah pintu kecil yang tersembunyi di bawah lantai kamarnya. Itu adalah ruang rahasia yang ia bangun sendiri dengan susah payah. Tempat satu-satunya di rumah ini yang aman dari jangkauan tangan dingin ibunya. Karena Kinan tahu, jika ia berani memajang satu saja barang tentang Neya di atas kamarnya, barang itu pasti sudah lenyap dibakar.

Kinan menuruni tangga kayu yang remang, menyalakan lampu kuning temaram, dan seketika sekelilingnya dipenuhi oleh Neya. Di dinding ruangan itu, berjejer rapi foto-foto kebersamaan mereka sejak mengenakan seragam SMP, tiket-tiket bioskop yang warnanya mulai pudar, hingga jepit rambut cadangan milik Neya yang tertinggal.

Kinan menyusuri setiap sudut memori itu dengan jemari yang gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan ibunya, kini luruh tak terbendung di dalam ruang bawah tanah yang sunyi itu.

"Ini semua akan abadi di sini, Neya... meski mungkin, aku bukan lagi alasan di balik bahagiamu nanti," bisik Kinan lirih, memeluk salah satu cetakan foto di dadanya seerat mungkin.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras dari arah kamar di atas seketika memecah kesunyian. Kinan terperanjat. Dengan cepat, ia menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan. Ia harus mengubur kembali kerapuhannya dalam-dalam. Dengan gerakan tak sabar, Kinan menaiki tangga kayu, menutup pintu rahasia di bawah lantai, lalu menggeser karpet tebalnya hingga kembali ke posisi semula. Tak boleh ada satu orang pun di rumah ini yang tahu tempat perlindungan terakhirnya.

Kinan melangkah mendekati pintu kamar, lalu membukanya dengan wajah yang sudah berubah sedingin es.

Di balik pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal yang sangat rapi. Gurat wajahnya tegas, memancarkan aura wibawa yang kaku dan angkuh—ayahnya. Pria itu menatap Kinan tanpa ada sedikit pun kehangatan layaknya seorang ayah yang baru menyambut anaknya pulang dari rumah sakit.

Kabar dari mamamu ternyata benar. Kamu akhirnya melepaskan gadis jelata itu," ucap sang ayah tanpa basa-basi. Suaranya berat, terdengar begitu santai seolah delapan tahun perjuangan Kinan hanyalah sebuah lelucon tak berarti.

Kinan mengepalkan tangannya di balik pintu hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang nyaris membakar kesadarannya.

"Baguslah," lanjut ayahnya, sama sekali tidak peduli dengan sorot mata Kinan yang menyala. "Mulai besok, seluruh fokusmu harus beralih ke perusahaan. Papa sudah menyiapkan makan malam dan pertemuan dengan putri rekan bisnis Papa dari keluarga Mahendra. Jangan buat malu nama besar keluarga kita lagi dengan bertingkah kekanak-kanakan, Kinan."

Mendengar nama keluarga lain disebut di saat Neya bahkan belum membuka mata di rumah sakit, rasanya seperti ada pisau yang mengiris tepat di jantung Kinan. Alih-alih membantah atau berteriak murka seperti yang biasa ia lakukan dulu, Kinan justru mengembuskan napas panjang. Ia menatap ayahnya dengan pandangan yang teramat kosong, pandangan dari seseorang yang sudah tidak memiliki apa pun lagi untuk dipertahankan.

"Semua yang Papa dan Mama mau sudah terwujud," bisik Kinan dengan suara serak yang nyaris habis. "Jadi, tolong keluar dari kamar saya."

Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Kinan menarik gagang pintu dan menutupnya rapat, menguncinya dari dalam.

Kinan menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang tertutup, perlahan merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Di rumah megah ini, di tengah gelimang harta dan kehormatan darah biru yang diagung-agungkan orang tuanya, Kinan tahu... mulai malam ini, ia telah resmi menjadi seorang tawanan di rumahnya sendiri.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!