Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Dua Inti Kekuatan
Langit yang tadinya kelabu kini terbelah menjadi dua. Di satu sisi, cahaya keemasan yang memancar dari kapal induk makin terang, menyebar luas hingga menutupi separuh cakrawala. Di sisi lain, dari dalam kubah pertahanan, cahaya biru keperakan yang berasal dari Sumber Unggul ikut meluas, seolah menolak terdesak oleh kekuatan yang datang dari atas.
Dua energi raksasa itu tidak langsung bertabrakan. Mereka hanya berdiri saling berhadapan, berdenyut dengan irama yang sama persis, seolah dua jantung yang dipisahkan oleh jarak dan waktu tapi tetap terhubung tak terpisahkan. Semua makhluk yang ada di situ bisa merasakan getaran aneh itu—bukan getaran yang menyakitkan, melainkan getaran yang masuk sampai ke tulang sumsum, seolah mengingatkan mereka pada asal mula segala sesuatu.
Di dalam kapal induk, Penatua Zorvath meletakkan tangannya tepat di atas wadah kristal tempat Jantung Langit disimpan. Cahaya keemasan itu merambat naik ke sekujur tubuhnya, membuat jubah putihnya bersinar terang dan matanya memancarkan cahaya yang sama. Ia merasakan aliran tenaga yang selama ini terasa terbatas, kini meluap bebas memenuhi seluruh ruang di dalam tubuhnya.
“Rasakanlah, manusia bumi,” ucapnya dengan suara yang kini bergema dari segala arah, bukan hanya dari pengeras suara. “Ini adalah kekuatan yang sama yang membentuk bintang, yang menggerakkan galaksi, dan yang menciptakan hukum alam semesta. Kalian hanya memegang separuhnya, tapi kami memegang pasangannya. Tidak ada cara bagi kalian untuk menang.”
Di bawah sana, Raka masih melayang diam di tengah kubah. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan aliran energi di dalam dirinya yang makin bergejolak. Ia menyadari sesuatu yang baru—selama ini ia hanya menganggap Sumber Unggul sebagai sumber tenaga untuk bertarung, tapi sekarang ia mulai mengerti: ini bukan sekadar kekuatan, ini adalah keseimbangan. Satu tidak bisa ada tanpa yang lain. Kalau salah satu terlalu kuat, semuanya akan hancur.
“Kek,” panggil Raka pelan, matanya tetap terpejam. “Mereka benar. Dua ini saling terikat. Kalau kita serang sembarangan, bisa-bisa ledakannya justru menghanguskan bumi ini sendiri.”
Kakek Aran mengangguk setuju, wajahnya makin serius.
“Kau benar. Dulu dalam catatan sejarah, saat keduanya hampir bentur ribuan tahun lalu, gunung-gunung runtuh, lautan bergeser, dan iklim bumi berubah drastis selama ratusan tahun. Kita tidak bisa bertarung dengan cara biasa lagi. Kita tidak hanya harus lebih kuat, tapi juga harus lebih bijak. Kalau tidak, kita menang pun nanti tidak ada tempat untuk kita tinggali.”
Sementara itu, di barisan pasukan, suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi sorak semangat atau teriakan perang. Semua orang merasa tertekan oleh kehadiran dua kekuatan raksasa itu, seolah mereka hanyalah debu halus yang terjebak di tengah badai yang tak terbayangkan. Bahkan para prajurit yang paling berani sekalipun kini hanya bisa menatap ke atas dengan mulut terkatup rapat.
Karin berdiri di samping Jenderal Agus, tangannya mencengkeram gagang senjata erat-erat.
“Jenderal… kita bisa berbuat apa dalam pertarungan sebesar ini? Senjata kita terasa seperti mainan saja kalau dibandingkan dengan apa yang mereka miliki.”
Jenderal Agus menghela napas panjang, matanya tetap menatap Raka yang bersinar terang di tengah.
“Kita tetap punya peran, Nak. Lihat saja—kedua kekuatan itu besar sekali, tapi mereka butuh penyalur. Kalau Raka kehabisan tenaga, atau kalau para Penjaga lelah, kekuatan itu akan terlepas kendali dan justru membahayakan kita sendiri. Tugas kita bukan mengalahkan mereka secara langsung, tapi menjaga agar aliran tenaga ini tetap stabil, dan melindungi Raka dari gangguan apa pun yang datang.”
Belum sempat percakapan mereka selesai, udara di atas kubah tiba-tiba terbelah. Dari tengah pusaran cahaya keemasan, muncul tiga sosok yang kini terlihat jauh lebih gagah dan berkilau dibanding sebelumnya. Itu adalah ketiga Panglima Wilayah tadi, tapi sekarang baju zirah mereka berubah menjadi emas murni, dan luka-luka yang mereka derita tadi sudah hilang seolah tidak pernah ada. Mereka terbang turun perlahan, melayang tepat di depan kubah pertahanan, memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat seperti timah.
“Kalian pikir dengan menyatukan tenaga saja sudah cukup?” teriak Panglima besar itu, suaranya kini lebih berat dan berwibawa. “Dengan kekuatan Jantung Langit, kami tidak lagi merasa lelah, tidak lagi merasa sakit, dan kekuatan kami bertambah berkali-kali lipat. Rasakan perbedaan yang sesungguhnya!”
Ia mengangkat satu tangannya, dan seketika terbentuklah tombak energi keemasan yang panjangnya sampai ratusan meter. Saat ia mengayunkannya, gelombang kejut yang tercipta saja sudah cukup membuat kubah pertahanan berguncang hebat.
“Serangan ini baru permulaan!” serunya lagi. “Kami bisa melakukannya berulang kali tanpa henti! Kalian yang terbatas tenaganya, berapa lama lagi bisa bertahan?”
Raka membuka matanya perlahan. Cahaya biru di matanya makin terang, tapi kali ini ia tidak terlihat marah atau tergesa-gesa. Ia justru terlihat lebih tenang, lebih mantap.
“Kalian memang lebih kuat sekarang,” jawab Raka, suaranya terdengar jelas sampai ke telinga ketiga Panglima itu. “Tapi kekuatan yang tidak punya tujuan yang benar, hanya akan menjadi beban bagi pemiliknya sendiri. Kalau Jantung Langit itu memang seagung yang kalian banggakan, mengapa ia hanya dipakai untuk menindas dan menghancurkan? Itu bukan kekuatan penciptaan, tapi hanya kekuatan perusak semata.”
Mendengar ucapan itu, ketiga Panglima terkejut sejenak. Mereka tidak pernah mendengar ada yang berani menilai kekuatan suci mereka dengan cara seperti itu.
“Berani sekali mulutmu!” bentak Panglima wanita berambut perak, lalu ia langsung melesat maju dengan kecepatan kilat, membawa pedang keemasan yang siap membelah apa saja yang dilewatinya.
Raka tidak mundur. Ia hanya mengangkat telapak tangannya, dan cahaya biru langsung menyembur keluar membentuk perisai raksasa. Saat pedang keemasan itu menghantamnya, terjadilah benturan yang tidak menimbulkan ledakan besar seperti biasanya, melainkan hanya suara berdengung panjang yang menusuk telinga. Kedua energi itu saling menekan, saling mendorong, tapi tidak ada yang mengalahkan satu sama lain.
Mereka terkejut melihat hal itu. Serangan yang seharusnya bisa membelah gunung, kini hanya bisa berhenti di depan perisai biru itu.
“Ini tidak mungkin…” gumam Panglima wanita itu, matanya melotot tak percaya. “Dengan kekuatan Jantung Langit, seharusnya seranganku bisa menembus apa saja!”
“Karena kalian hanya menggunakannya untuk memaksakan kehendak,” jawab Raka tenang. “Sedangkan aku menggunakannya untuk melindungi. Kekuatan untuk melindungi selalu punya batas yang tak terlihat, tapi tak pernah runtuh. Kekuatan untuk menghancurkan selalu punya batas yang terlihat, dan cepat atau lambat akan habis.”
Di atas sana, Penatua Zorvath melihat kejadian itu dengan wajah makin gelap. Ia menyadari bahwa pertarungan ini tidak bisa dimenangkan hanya dengan mengandalkan jumlah tenaga semata. Ada sesuatu yang lebih dalam yang membuat keseimbangan ini tetap terjaga.
“Kalau begini terus, kita hanya akan saling menguras tenaga sampai tidak ada yang menang,” gumamnya pelan. “Kalau begitu, aku harus mengubah cara mainnya. Aku harus memutuskan hubungan antara dia dan sumber kekuatannya, atau memaksanya memakai tenaga berlebih sampai tubuhnya sendiri hancur.”
Ia mengangkat kedua tangannya, dan mulai mengatur aliran energi Jantung Langit dengan cara yang berbeda. Cahaya keemasan itu tidak lagi menyebar luas, tapi mulai berkumpul menjadi banyak benang-benang halus yang tak terlihat mata, lalu menyebar turun ke segala arah, mencoba menyusup masuk ke dalam kubah pertahanan.
“Waspada!” teriak Kakek Aran seketika. “Mereka tidak menyerang dari luar lagi, tapi mencoba masuk ke dalam aliran energi kita. Jangan biarkan tenaga asing itu bercampur!”
Raka langsung merasakan ada sesuatu yang berusaha menyelinap masuk ke dalam dirinya, mencoba mengacaukan ritme denyutan Sumber Unggul. Ia mengerutkan kening, memusatkan seluruh perhatiannya, dan mulai belajar membedakan mana tenaga yang menjadi bagian dari dirinya, dan mana yang hanya tamu tak diundang.
Pertarungan kini berubah wujud. Tidak lagi hanya soal kekuatan fisik atau serangan dahsyat, tapi menjadi pertarungan ketajaman pikiran, ketenangan hati, dan penguasaan akan hakikat dari dua sumber kekuatan terbesar yang ada di alam semesta ini.
Dan Raka mulai sadar—ini bukan lagi soal memenangkan perang melawan musuh semata. Ini adalah ujian untuk memahami siapa dirinya sebenarnya, dan apa tugas sesungguhnya yang dibebankan kepadanya sejak ia menerima Sumber Unggul itu.