NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Utusan Kerajaan Langit

Debu dan asap perlahan mulai terangkat tertiup angin sore yang sejuk, membawa serta bau terbakar dan sisa-sisa energi yang menguap ke udara. Langit yang tadinya kelam, berwarna merah darah dan ungu gelap, kini perlahan berubah menjadi biru bersih yang indah, dihiasi awan-awan putih yang berarak santai seolah alam pun sedang bernapas lega setelah menahan napas terlalu lama. Di bawah sana, di sela-sela bangunan yang hancur dan jalanan yang rusak, tunas-tunas rumput hijau mulai terlihat tumbuh kembali dengan cepat, disentuh oleh sisa energi murni yang menyebar dari tubuh Raka.

Di atas puing-puing bekas Menara Raksasa yang kini rata dengan tanah, Raka Pratama berdiri tegak. Tubuhnya penuh luka, banyak bagian seragamnya robek dan bernoda darah kering, kulitnya penuh goresan dan memar, namun matanya bersinar terang dan hatinya terasa damai sepenuhnya. Di dadanya, di tempat di mana kristal Sumber Unggul itu bersemayam dan menyatu dengan setiap tetes darahnya, terasa kehangatan yang menenangkan, kehangatan yang sama persis seperti pelukan ayahnya dulu.

Di sekelilingnya, ribuan pasukan—baik anggota Garuda Security maupun Pasukan Elang Bebas—berlarian keluar dari pertahanan mereka, bersorak sorai sekuat tenaga. Suara teriakan kemenangan bergema di seluruh lembah dan kawah itu, mengguncang bukit-bukit di kejauhan. Mereka saling berpelukan, menangis bahagia, bersujud ke tanah, dan mengangkat senjata ke udara sebagai tanda kemenangan mutlak. Bagi mereka, perang sudah selesai. Lima belas tahun penderitaan, penindasan, dan ketakutan akhirnya berakhir hari ini. Sang Penguasa Aditya sudah tiada. Kota Kegelapan sudah jatuh. Dan kebebasan akhirnya menjadi milik mereka selamanya.

Namun, di tengah kegembiraan yang meluap-luap itu, Raka tidak bisa ikut tersenyum sepenuhnya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, ada rasa tidak nyaman yang samar namun terus ada, rasa dingin yang menjalar dari tulang belakang hingga ke seluruh sarafnya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap tajam ke langit yang kini seharusnya bersih, damai, dan kosong.

"Kenapa..." gumam Raka pelan, suaranya hampir tenggelam oleh sorak sorai di bawah sana. Ia mengepal tangannya di sisi tubuh, merasakan detak energi di dalam dadanya yang berdenyut kencang, seolah sedang memberi peringatan bahaya yang sangat besar. "Kenapa rasanya... belum selesai? Rasanya seperti kita baru saja menyentuh kulit luarnya saja... sementara inti masalahnya masih jauh di atas sana, masih jauh di luar jangkauan kita."

Tepat di sebelahnya, Jenderal Agus berdiri dengan napas yang masih agak terengah-engah. Lelaki tua itu baru saja memanjat tumpukan puing-puing setinggi puluhan meter itu ditemani Karin, Bara, Reza, Dedi, dan Rio. Wajah Jenderal Agus masih penuh debu dan keringat, seragam lamanya robek di beberapa tempat, tapi matanya bersinar sangat terang, penuh rasa lega, bangga, dan haru yang tak terlukiskan. Ia menatap Raka dengan pandangan seorang ayah yang melihat anaknya berhasil memenangkan pertarungan hidup-mati.

Namun, saat ia melihat ekspresi wajah Raka yang tegang, kening yang berkerut, dan tatapan mata yang tajam menembus awan di atas sana, senyum bahagia di bibir Jenderal Agus perlahan memudar. Ia segera berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang kasar dan keras di bahu Raka, merasakan ketegangan yang menjalar dari tubuh pemuda itu.

"Ada apa, Nak?" tanya Jenderal Agus pelan namun serius, matanya juga segera memindai sekeliling dengan waspada dan tajam, kebiasaan seorang prajurit sejati yang tidak pernah tidur. "Apakah ada bahaya yang tersisa? Apakah ada pasukan musuh yang masih bersembunyi? Atau... kau merasakan sesuatu yang tidak bisa kami rasakan?"

Raka menggeleng pelan, namun matanya tidak beralih sedikit pun dari langit utara yang jauh di sana.

"Entahlah, Pak. Tapi sejak saat aku mengalahkan Aditya... sejak saat energi ini menyatu sepenuhnya denganku... mataku seolah terbuka untuk melihat hal-hal yang dulu tersembunyi. Aku bisa merasakan aliran energi di tanah, di udara, di setiap makhluk hidup. Dan sekarang... aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang sangat besar, sangat kuat, dan sangat dingin. Sesuatu yang sedang mengawasi kita. Sesuatu yang sejak tadi tidak berkedip menatap ke bawah, menatap tepat ke arahku, menatap tepat ke arah energi yang ada di dalam diriku ini."

Di samping mereka, Bara yang sejak tadi sibuk memeriksa dan menyesuaikan peralatan pemindai canggih yang ia selamatkan dari markas pusat musuh, tiba-tiba berhenti bergerak total. Tubuhnya kaku seolah berubah menjadi patung. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan kini berubah menjadi pucat pasi, darah seolah hilang sepenuhnya dari wajahnya. Tangannya gemetar hebat hingga alat pemindai kecil itu hampir terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tumpukan puing di bawah sana. Ia menatap layar kecil yang memancarkan cahaya hijau redup itu dengan mata melotot tak percaya, napasnya tersendat di tenggorokan.

"Bara? Ada apa? Bicara!" seru Karin segera melangkah maju, tangannya refleks mencengkeram gagang senjata yang masih terselip di pinggangnya, tubuhnya siap bertempur kapan saja. Ia tahu betul watak rekannya itu; Bara tidak akan pernah panik atau terkejut kecuali ia menemukan sesuatu yang di luar nalar akal sehat.

"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Bara parau, suaranya bergetar hebat seolah ia sedang menggigil kedinginan di tengah badai salju. Ia mengangkat alat itu dengan kedua tangan gemetar, menunjuk ke arah grafik dan angka-angka yang berkedip-kedip cepat di layar itu. "Data ini... pembacaan energi ini... skalanya salah. Harusnya salah. Tidak ada benda di dunia ini yang bisa memancarkan energi sebesar ini. Lihat ini... lihat angkanya. Jika Aditya yang kita kalahkan tadi ibarat sebuah gunung raksasa... maka apa yang ada di atas sana itu... ibarat seluruh benua yang melayang di udara."

Semua orang yang mendengarnya—Karin, Reza, Dedi, Rio, bahkan Jenderal Agus sendiri—seketika terdiam serentak. Udara di sekeliling mereka yang tadinya hangat dan damai seolah berubah menjadi lebih berat, lebih dingin, dan lebih sulit dihirup. Reza dan Dedi segera mengangkat senjata mereka, mengarahkannya ke langit kosong yang cerah itu, meski dalam hati mereka sadar betul bahwa peluru dan senjata buatan manusia itu sama sekali tidak ada artinya jika apa yang dikatakan Bara itu benar adanya.

"Di mana?" tanya Reza berat, matanya menyala tajam, mencari-cari sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. "Di atas mana?"

"Ketinggian dua puluh ribu meter... bergerak perlahan ke arah kita dari utara..." jawab Bara dengan suara hampir tak terdengar. "Dan sekarang... sekarang dia berhenti. Dia berhenti tepat di atas kepala kita."

Tiba-tiba, awan putih halus yang berarak santai di langit biru itu bergerak tidak wajar. Awan-awan itu terbelah ke kiri dan ke kanan dengan kecepatan tinggi, seolah didorong oleh tangan raksasa yang tak terlihat, membuka sebuah celah besar yang panjang dan lebar. Dari balik celah awan itu, bayangan hitam pekat perlahan muncul, perlahan turun perlahan namun pasti, menutupi sinar matahari sore yang hangat, mengubah suasana cerah itu menjadi gelap, suram, dan mencekam seketika.

Itu bukan awan. Itu bukan burung. Dan itu bukan benda buatan manusia mana pun yang pernah ada di sejarah peradaban mereka.

Itu adalah kapal. Sebuah kapal terbang raksasa yang ukurannya begitu besar hingga menutupi seluruh pandangan langit di atas Kota Kegelapan itu. Kapal itu bentuknya memanjang dan ramping sebilah pedang, ujungnya lancip dan tajam, sementara badannya lebar dan kokoh seperti benteng berjalan. Permukaannya berkilauan indah namun mengerikan, terbuat dari logam berwarna perak kebiruan yang tidak pernah mereka kenal namanya, logam yang memantulkan cahaya namun tidak memantulkan bayangan. Kapal itu melayang diam di udara dengan tenang, tanpa suara mesin, tanpa asap pembuangan, tanpa getaran sedikit pun, seolah hukum gravitasi dan fisika sama sekali tidak berlaku padanya.

Di lambung kapal yang paling besar dan paling terlihat, terlukis sebuah lambang besar yang bersinar terang dengan cahaya keemasan yang menyilaukan mata: Seekor naga bersayap besar yang melilit sebuah matahari, mulutnya terbuka mengaum ke angkasa, simbol kekuasaan tertinggi yang kuno dan menakutkan.

Saat kapal raksasa itu berhenti melayang tepat di atas mereka, saat bayangannya menutupi seluruh wilayah bekas Kota Kegelapan itu, sebuah suara bergema. Suara itu tidak keluar dari pengeras suara, tidak berdesis atau memantul di dinding. Suara itu masuk langsung ke dalam kepala, ke dalam otak, ke dalam jiwa setiap makhluk yang ada di bawah sana, terdengar jelas, dingin, berwibawa, dan penuh kekuasaan mutlak yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa begitu kecil, begitu lemah, dan begitu tidak berdaya.

"Hai makhluk-makhluk di permukaan bumi... hai penduduk tanah rendah yang hidup di bawah awan... hai kamu, anak manusia yang berani memegang kekuatan terlarang..."

"Kami datang dari tempat yang kalian sebut Surga, tempat yang kami namakan Kerajaan Langit. Kami adalah penguasa alam semesta ini, penjaga keseimbangan, dan pemilik segala sesuatu yang ada di bawah matahari. Kami datang atas perintah Yang Mulia Raja Agung sendiri, penguasa segala dunia dan dimensi."

"Kami datang untuk menuntut apa yang menjadi hak milik kami. Kami datang untuk mengambil kembali apa yang telah kalian curi, apa yang telah kalian cemarkan dengan darah dan nafsu manusia, dan apa yang tidak akan pernah pantas dimiliki oleh makhluk rendahan sepertimu."

Di bawah sana, ribuan pasukan yang tadinya bersorak bahagia kini terdiam kaku, ketakutan, dan terpaku. Banyak dari mereka berlutut secara refleks, kepala tertunduk ke tanah karena tekanan mental yang luar biasa dari suara itu, tekanan yang membuat dada sesak dan napas hampir berhenti. Raka sendiri merasakan berat yang luar biasa menindih pundaknya, seolah ada gunung berapi yang diletakkan di atas bahunya, namun ia bertahan berdiri tegak. Ia mengangkat kepalanya setinggi-tingginya, menatap lurus ke arah kapal raksasa itu, matanya menyala biru tajam, menolak untuk takut, menolak untuk tunduk.

"Siapa kalian?" teriak Raka dengan suara lantang, berusaha melawan tekanan itu, suaranya bergema menembus keheningan yang mencekam itu. "Apa hak kalian menguasai langit dan bumi ini? Apa urusan kalian dengan kami? Kami tidak pernah mengganggu siapa pun di atas sana! Kami baru saja selesai berjuang mati-matian untuk membebaskan tanah air kami dari penindasan! Kenapa kalian datang sekarang... saat damai baru saja menyentuh kami?"

Dari bagian bawah kapal raksasa yang mengerikan itu, sebuah lubang besar terbuka perlahan. Pintu itu terbuka tanpa suara, bergerak halus dan indah, menampakkan kegelapan di dalamnya. Dari lubang itu, tidak ada pasukan yang turun, tidak ada senjata yang diarahkan, tidak ada tentara yang berbaris. Hanya satu sosok saja yang melayang turun perlahan. Sosok itu bergerak turun dengan anggun, tenang, dan elegan, seolah sedang berjalan di atas tangga yang tidak terlihat mata. Angin kencang bertiup di sekelilingnya namun tidak mengibarkan sedikit pun ujung pakaiannya.

Sosok itu mendarat di tanah, tepat di depan tumpukan puing-puing menara, berjarak seratus meter dari Raka dan kawan-kawannya. Saat kakinya menyentuh tanah yang rusak itu, rumput-rumput liar di sekelilingnya seolah layu seketika, tertindih oleh aura kekuatan yang begitu murni dan begitu kuat.

Ia tampak seperti manusia, namun jauh lebih indah, jauh lebih sempurna, dan jauh lebih mengerikan dari manusia mana pun yang pernah dilihat Raka seumur hidupnya. Tingginya sekitar dua meter, tubuhnya tegap dan kekar namun ramping dan lentik. Ia mengenakan baju zirah lengkap yang berkilauan perak murni, dihiasi ukiran-ukiran rumit dan garis-garis emas yang berdenyut cahaya berirama. Di punggungnya terpasang sepasang sayap besar yang terbuat dari energi murni berwarna putih keemasan, sayap itu bergerak pelan dan tenang meski ia sudah berpijak kokoh di tanah.

Wajahnya tampan, mulus, tanpa cela sedikit pun, namun sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun. Dingin, datar, dan angkuh. Matanya berwarna keemasan murni, tidak memiliki bagian putih atau hitam seperti mata manusia biasa, melainkan hanya cairan emas cair yang berkilauan hidup, menatap Raka dengan pandangan yang sama persis seperti manusia menatap seekor semut yang baru saja berani menggigit kaki mereka. Di pinggang kirinya tergantung sebilah pedang panjang yang sarungnya saja sudah memancarkan aura tajam yang mengerikan, aura yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya berdiri tegak karena merasakan bahaya maut yang nyata.

Ia adalah Komandan Elara, panglima tertinggi Pasukan Pengawas Wilayah Bumi, utusan resmi dan pemegang kuasa penuh dari Kerajaan Langit.

Elara mengangkat tangan kanannya perlahan, gerakannya santai dan sepele, seolah sedang mengusir debu di ujung bajunya. Namun seketika itu juga, seluruh pasukan Garuda dan Elang Bebas yang ada di sana—ribuan orang itu sekaligus—merasakan tubuh mereka terasa berat tak tertahankan. Semua orang berlutut tak berdaya ke tanah, senjata-senjata terlepas dari tangan, napas menjadi pendek dan sulit, mulut terasa terkunci rapat dan tidak bisa mengeluarkan suara. Tekanan itu begitu dahsyat hingga beton dan tanah di bawah kaki mereka retak-retak dan amblas ke dalam karena beratnya tekanan udara itu.

Hanya Raka, Jenderal Agus, Karin, Reza, Dedi, Bara, dan Rio yang masih mampu berdiri tegak, meski dengan susah payah, keringat dingin membasahi seluruh tubuh mereka, otot-otot mereka menegang habis-habisan menahan beban yang luar biasa itu.

"Hanya segini saja kekuatan penduduk tanah?" ucap Elara, suaranya renyah namun tajam, terdengar biasa di telinga namun membawa tekanan dahsyat yang membuat udara bergetar. Ia menggeleng pelan, ekspresi kecewa terlihat samar di wajah dinginnya. "Padahal laporan yang kami terima mengatakan ada makhluk di sini yang mampu mengalahkan alat kami, Aditya. Kami kira kalian punya sesuatu yang istimewa, sesuatu yang patut kami perhitungkan. Ternyata... kalian hanyalah sekumpulan semut yang beruntung, yang kebetulan bisa menginjak kepala siput yang bodoh."

Raka menggertakkan giginya keras-keras, berjuang melawan tekanan yang menindihnya itu. Cahaya biru perlahan namun pasti menyala kembali di seluruh tubuhnya, menyebar keluar, menolak kekuatan tekanan itu, dan menciptakan ruang aman yang luas di sekelilingnya dan kawan-kawannya. Begitu selubung cahaya itu menyentuh tubuh para pasukan yang berlutut, beban berat itu lenyap seketika, membuat mereka bisa kembali berdiri, bisa kembali bernapas lega, dan kembali mengangkat kepala dengan berani.

"Aditya itu jahat! Dia penjahat! Dia pembunuh!" seru Raka dengan suara parau namun penuh kemarahan yang membara, suaranya bergema menantang makhluk di depannya itu. "Dia menindas kami selama lima belas tahun! Dia membunuh ribuan orang tak bersalah! Dia menghancurkan tanah kami, keluarga kami, dan masa depan kami! Dan kalian... kalian yang mengaku penguasa adil, kalian yang mengaku penjaga alam semesta... kalian diam saja saat kami menderita? Kalian diam saja saat kami ditindas? Kalian baru turun tangan sekarang... tepat setelah kami sendiri yang berdarah-darah membereskan kekacauan yang kalian buat sendiri?"

Elara mengerutkan kening sedikit, untuk pertama kalinya menunjukkan reaksi selain rasa acuh tak acuh. Ia melangkah maju selangkah, dan setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya bergetar pelan seolah ada gempa kecil. Ia menatap Raka lekat-lekat, mata emasnya meneliti setiap inci tubuh pemuda itu, meneliti cahaya biru yang memancar dari dadanya.

"Kau berani sekali bicara seperti itu pada kami, anak kecil," jawab Elara dingin dan tajam. "Kau bicara seolah-olah kalian ini penting, seolah-olah nasib kalian itu masalah besar bagi alam semesta. Dengarkan baik-baik penjelasanku ini, agar kau tidak mati dalam keadaan bodoh dan tidak tahu apa-apa."

"Aditya hanyalah bawahan rendahan kami. Dia adalah agen yang kami kirim ke bumi ini ratusan tahun yang lalu, diberkahi kekuatan dan pengetahuan kami, diberi tugas yang sangat sederhana: menjaga Sumber Unggul, mengumpulkan energi alam, menstabilkan wilayah ini, dan memastikan tidak ada makhluk bumi yang sembarangan menyentuh atau menggunakannya."

Elara mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Raka dengan ujung jari yang putih bersih namun mematikan.

"Dia gagal. Dia gagal besar. Dia serakah. Dia tidak puas hanya menjadi penjaga. Dia ingin mengambil kekuatan itu untuk dirinya sendiri. Dia ingin menjadi dewa di tanah rendah ini. Dia melanggar hukum tertinggi Kerajaan Langit. Dia penjahat, ya. Tapi ingat satu hal: dia penjahat kami. Dia milik kami. Dan bukan hak kalian untuk menghakimi atau membunuhnya. Hak menghakimi adalah milik kami saja."

Elara tersenyum tipis, senyum yang mengerikan dan penuh penghinaan.

"Dan yang lebih buruk lagi... kalian, makhluk-makhluk rendahan ini, tidak hanya berani melawan agen kami. Kalian tidak hanya berani membunuh wakil kami. Kalian melakukan dosa yang jauh lebih besar lagi: kalian berani menyentuh Sumber Unggul. Kalian berani menggunakannya. Dan yang paling tak termaafkan... kalian berani menyatukan inti energi itu ke dalam darah dan tulang manusia sepertimu."

Elara menunjuk tepat ke dada Raka, ke tempat di mana kristal itu bersinar lembut di balik seragam.

"Energi itu bukan milikmu. Bukan milik bumi. Dan bukan milik siapa pun yang lahir dari tanah dan debu. Sumber Unggul adalah harta pusaka Kerajaan Langit. Energi itu diciptakan oleh leluhur kami ribuan tahun yang lalu untuk mengatur keseimbangan seluruh alam semesta. Kami menurunkannya ke bumi ini hanya sebagai tempat penyimpanan sementara, karena bumi ini dianggap sunyi, jauh, dan tidak berpenghuni makhluk cerdas yang berbahaya."

"Kalian... kalian hanyalah makhluk yang tumbuh liar di sekitar gudang penyimpanan kami. Dan sekarang... karena kalian sudah berani mengambil barang milik kami, karena kalian sudah mencemarkan kemurniannya dengan darah, nafsu, dan perasaan manusia yang kotor itu... maka tugas kami datang ke sini ada dua hal saja."

Elara mengangkat dua jari tangannya ke udara, gerakan yang pelan namun penuh ancaman maut.

"Pertama: Ambil kembali inti energi itu dari tubuhmu, dengan cara apa pun yang diperlukan. Tidak peduli apakah itu harus merobek tubuhmu, menghancurkan jiwamu, atau menyiksamu sampai mati. Energi itu harus kembali ke tangan kami dalam keadaan utuh."

Ia menurunkan satu jari, menyisakan satu jari yang mengarah tajam ke wajah Raka.

"Kedua: Hancurkan wilayah ini, musnahkan semua kehidupan di sini, dan hapus jejak keberadaan kalian selamanya dari sejarah alam semesta. Ini adalah hukuman mati bagi kalian semua... karena berani menyentuh apa yang bukan hak kalian, dan berani mengangkat senjata melawan perwakilan Kerajaan Langit."

Suara dingin dan kaku itu bergema berulang-ulang di kepala setiap orang yang mendengarnya, menimbulkan rasa putus asa yang mendalam. Mereka baru saja memenangkan pertempuran berat melawan Aditya, mereka baru saja merasakan secercah harapan dan damai, dan sekarang... datang makhluk yang jauh lebih kuat, jauh lebih kejam, dan jauh lebih sombong, yang menganggap mereka tidak lebih dari semut atau serangga yang bisa dibunuh kapan saja.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Raka justru tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang penuh kemarahan yang dingin, dan senyum yang penuh tekad baja yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh apa pun. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan seketika itu juga, selubung cahaya biru di sekelilingnya melebar, menjadi lebih terang, lebih kokoh, dan lebih panas semangatnya. Cahaya itu naik tinggi ke udara, membentuk pilar raksasa yang bersaing dengan ketinggian kapal raksasa di atas sana, menerangi seluruh wilayah itu dengan cahaya kebenaran yang murni.

"Jadi begitu ceritanya ya..." ucap Raka perlahan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar berat dan penuh makna, seolah ia sedang mengucapkan sumpah abadi. "Ternyata kejahatan Aditya itu cuma mainan anak-anak jika dibandingkan dengan kejahatan kalian. Kalian menganggap kami barang simpanan? Kalian menganggap bumi ini gudang barang? Kalian menganggap diri kalian tuan dan kami budak yang tidak berhak punya kehendak sendiri?"

Raka melangkah maju selangkah, berhadapan muka tepat di depan Komandan Elara, menatap mata emas itu mata ke mata tanpa rasa takut sedikit pun.

"Dengar baik-baik, utusan langit! Dengar baik-baik dan ingat sampai kapan pun, sampai ke dalam kubur, sampai ke generasi penerus kalian nanti!"

Suara Raka bergema lebih keras, lebih dahsyat, dan lebih berwibawa daripada suara Elara tadi. Suara itu didengar oleh semua orang, didengar oleh setiap sudut kota, dan didengar hingga masuk ke dalam dinding logam kapal raksasa yang melayang di atas sana.

"Selama ini kami berpikir bahwa langit itu adil. Kami berpikir bahwa ada kekuatan di atas sana yang menjaga kebaikan, yang melihat penderitaan kami, yang akan turun membantu saat kami susah. Kami salah besar! Ternyata kalian sama saja! Kalian sama jahatnya, sama serakahnya, dan sama sombongnya seperti Aditya! Bedanya cuma satu: kalian duduk di tempat yang lebih tinggi saja!"

"Kalian mau ambil energi ini? Kalian mau ambil apa yang kalian bilang milik kalian? Silakan coba ambil! Tapi ingat satu hal yang tidak akan pernah hilang dari ingatan kalian seumur hidup kalian!"

Raka menunjuk ke arah kapal raksasa besar yang menutupi matahari itu, suaranya menggelegar penuh semangat Garuda yang legendaris.

"Di tanah ini, di bumi ini, di tempat kami lahir dan tumbuh besar... ada kami! Ada Pasukan Garuda! Ada mereka yang tidak akan pernah tunduk pada penindasan, tidak akan pernah takut pada kekuatan sembarangan, dan tidak akan pernah diam saja saat hak hidup dan kebebasan kami dirampas!"

"Kalian datang ke sini mengira kami ini semut yang bisa diinjak sembarangan? Kalian datang mengira ini akan jadi perjalanan singkat dan mudah? Kalian salah besar! Sama persis seperti Aditya salah besar lima belas tahun lalu! Dan kesalahan kalian ini... akan menjadi kesalahan terakhir yang pernah kalian buat dalam sejarah hidup kalian!"

Elara terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresi wajah dingin dan angkuhnya berubah total. Ada kerutan kening yang dalam, ada kilatan kaget yang nyata di matanya, dan ada rasa tidak percaya yang membayangi wajah tampannya. Ia tidak mengira makhluk dari permukaan tanah yang ia anggap rendah, bodoh, dan lemah ini punya keberanian sebesar ini, punya semangat sekuat ini, dan punya kekuatan yang mampu menolak tekanan mutlak dari Kerajaan Langit.

"Berani..." bisik Elara pelan, suaranya bergetar sedikit karena kaget. "Kau benar-benar berani. Keberanian yang bodoh, sia-sia, dan tidak ada gunanya. Tapi... aku harus akui, aku tertarik. Setidaknya kau berbeda dari Aditya. Dia berambisi demi kekuasaan. Kau berjuang demi sesuatu yang kau sebut kebenaran dan harga diri. Nyala apimu murni... dan itu membuatku sedikit menghormatimu sebelum aku menghancurkanmu."

Elara perlahan menyambar gagang pedangnya yang tergantung di pinggang. Gerakannya begitu lambat, begitu halus, namun begitu berbahaya hingga membuat seluruh udara di sekelilingnya berubah menjadi tajam dan mematikan, seolah ribuan pisau kecil melayang di udara. Saat bilah pedang itu terhunus keluar seperempat saja, cahaya emas yang menyilaukan mata memancar keluar, panasnya membakar tanah dan puing-puing di sekitarnya menjadi debu halus seketika.

"Baiklah, Raka Pratama. Aku tidak akan menghancurkanmu dengan senjata kapal raksasa di atas sana. Aku tidak akan membombardirmu dari jauh sampai hancur lebur. Itu terlalu mudah, terlalu hina, dan tidak pantas bagi keberanian yang kau tunjukkan ini."

Elara mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, ujung pedang yang tajam itu mengarah tepat ke dada Raka, ke arah cahaya biru yang bersinar terang itu. Aura emas yang dahsyat meletus dari tubuhnya, menciptakan badai angin yang menerbangkan debu dan batu-batu kecil ke segala arah.

"Aku akan turun tangan sendiri. Aku akan membuktikan padamu, padamu dan semua makhluk bumi yang ada di sini... bahwa antara manusia tanah dan makhluk langit... ada perbedaan yang seluas langit dan bumi, perbedaan yang tidak akan pernah bisa kalian jangkau walau ribuan tahun kalian berusaha."

Elara tersenyum dingin, senyum seorang pemenang yang sudah yakin mutlak akan kemenangannya.

"Kita mulai dari sini. Di tanah ini. Di depan pasukanmu sendiri. Aku akan buat kau berlutut. Aku akan buat kau menangis memohon ampun. Aku akan buat kau menyerahkan energi itu dengan tanganmu sendiri karena kau sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit. Dan aku akan buat kau mengerti arti ketakutan, arti kekuasaan, dan arti perbedaan tingkatan makhluk yang sesungguhnya."

Raka memberi isyarat tangan ke belakang, menyuruh Karin, Reza, Dedi, dan semua pasukan mundur menjauh ke tempat yang aman. Ia melangkah maju sendirian, berdiri tegak dan kokoh di hadapan makhluk dari langit itu. Ia tidak membawa senjata apa pun di tangannya, tidak ada pisau, tidak ada senapan, tidak ada tameng. Yang ia miliki hanyalah kekuatan Sumber Unggul yang mengalir deras di darahnya, keberanian yang ada di hatinya, dan sumpah setianya pada nama besar Garuda.

"Silakan," jawab Raka singkat, padat, dan penuh tantangan, matanya menyala biru tajam bersaing cahaya emas pedang Elara. "Dan aku akan buat kau mengerti satu hal lagi, Komandan Langit... Bahwa di bumi ini, kami punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh siapa pun di langit sana: kekuatan cinta, kekuatan persahabatan, kekuatan pengorbanan, dan kekuatan untuk bertarung sampai titik darah penghabisan demi apa yang kami percaya benar."

Angin kencang bertiup di antara mereka, mengibarkan seragam kedua belah pihak. Di atas sana, kapal raksasa itu diam dan sunyi, menjadi saksi sejarah pertemuan dua dunia yang berbeda. Di bawah sana, ribuan pasukan menahan napas, hati mereka berdebar kencang antara harap dan cemas.

Pertarungan antara Bumi dan Langit... antara Kebenaran dan Kekuasaan Mutlak... antara Semut dan Dewa... akhirnya dimulai. Dan ini baru permulaan dari perjalanan panjang yang akan mengubah sejarah seluruh alam semesta selamanya.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!