NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Panggilan Darurat Sang Matriark

BAB 24: Panggilan Darurat Sang Matriark

​Suasana hangat sisa sarapan pagi itu mendadak lenyap tanpa bekas saat sebuah nada dering khusus bergaung nyaring dari ponsel Adrian yang tergeletak di atas meja kaca. Ponsel itu bergetar hebat, menampilkan nama yang seketika membuat garis rahang sang profesor mengeras kaku.

​Ibu.

​Kiara yang sedang mengelap meja konter langsung menghentikan gerakannya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan ekspresi wajah Adrian. Pria yang beberapa menit lalu baru saja menggoda dan menciumnya dengan begitu manja, kini bertransformasi kembali menjadi sosok pria sedingin es dengan tatapan mata elang yang menggelap.

​Adrian tidak langsung mengangkat telepon itu. Ia membiarkannya berdering hingga beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan seluruh tameng emosinya sebelum menggeser layar hijau. Ia menempelkan ponsel itu di telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​"Adrian Alkatiri. Pulang ke mansion sekarang juga. Ibu tidak menerima alasan sibuk atau urusan kampus," suara wanita paruh baya di seberang telepon terdengar begitu otoriter, dingin, dan memotong udara tanpa celah untuk bernegosiasi. "Clarissa sudah menceritakan semuanya. Ibu tunggu dalam waktu tiga puluh menit, atau Ibu sendiri yang akan mengirim orang untuk menjemput mahasiswi pembantu risetmu itu."

​Pip.

​Sambungan telepon diputus sepihak oleh Miranda Alkatiri. Adrian menurunkan ponselnya perlahan, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ancaman ibunya bukanlah gertakan kosong. Jika Miranda sudah menyebut nama Kiara, itu artinya radar mata-mata keluarga Alkatiri sudah mulai mengarah ke apartemen ini.

​Kiara berjalan mendekati Adrian, ketangguhan batinnya terusik melihat kegelisahan yang coba disembunyikan oleh suaminya. "Ibumu... menyuruhmu pulang?" tanya Kiara pelan, mencoba menebak situasi.

​Adrian tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuh tegapnya, menatap Kiara dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kabut frustrasi dan proteksi yang teramat pekat. Langkah kakinya memangkas jarak, dan dalam satu gerakan cepat, Adrian menangkup wajah pucat Kiara dengan kedua tangan besarnya yang hangat.

​"Aku harus pergi ke rumah utama sekarang, Kiara," bisik Adrian, suara baritonnya terdengar begitu berat, serak, dan memendam kepanikan terselubung. "Ibuku sudah tahu kejadian kemarin. Aku harus membereskan kekacauan ini sendirian."

​"Aku bisa ikut dengannya, Adrian. Aku bukan wanita lemah yang harus selalu bersembunyi di balik punggungmu," balas Kiara tegas. Sifat tangguhnya berontak. Ia tidak suka dijadikan alasan di balik keretakan hubungan Adrian dan keluarganya.

​"Tidak! Kamu tetap di sini, Kiara!" potong Adrian dengan nada suara yang meninggi, sebuah perintah mutlak dari seorang alpha male yang tidak ingin barang berharganya disentuh bahaya.

​Adrian memajukan wajahnya, langsung membungkam bibir ranum Kiara dengan sebuah ciuman yang luar biasa brutal, intens, namun sarat akan rasa takut kehilangan yang teramat sangat. Ciuman itu terasa begitu panas, menyalurkan letupan birahi yang bercampur dengan rasa frustrasi batin yang mendalam. Adrian melumat bibir Kiara seolah ini adalah ciuman terakhir mereka, menuntut balasan yang sama kuatnya dari gadis itu.

​"Mphhh... Adrian..." Kiara melenguh pelan di sela ciuman mereka, tangannya mencengkeram erat kemeja abu-abu Adrian, menyerah pada dominasi panas sang profesor yang selalu berhasil melumpuhkan logikanya.

​Adrian menjauhkan bibirnya perlahan, napasnya memburu kasar di depan wajah Kiara. Ia menyatukan kening mereka, menatap lekat-lekat manik mata Kiara. "Tunggu aku di apartemen ini dan jangan pernah matikan lampu kamar utama malam ini, Sayang. Apapun yang dikatakan ibuku di sana... kamu harus ingat, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang memegang kendali penuh atas raga dan birahiku. Jangan pernah ragukan itu," bisik Adrian nakal namun posesif, memberikan satu kecupan terakhir di kening Kiara sebelum berbalik cepat dan melangkah keluar dari apartemen, meninggalkan Kiara dalam kesunyian yang mencekam bersama bom waktu konflik yang siap meledak kapan saja.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!