🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baru Dan Bayangan Mengintai
Cahaya fajar yang lembut dan keemasan perlahan merayap masuk melewati celah tirai jendela, menimpa lantai marmer dingin di dalam kamar utama kediaman Xiao. Sinar matahari pagi itu bukan lagi cahaya yang tajam dan menyilaukan, melainkan cahaya lembut pembawa kehidupan, menyentuh setiap sudut ruangan yang selama ini diselimuti bayang-bayang dan kesunyian.
Shen Yue masih duduk di kursi kayu itu, tubuhnya sedikit kaku dan pegal karena tidak bergerak semalaman, namun matanya tetap terbuka, menatap lekat-lekat wajah damai di hadapannya. Genggaman tangan besar yang hangat itu masih belum terlepas, seolah itu adalah ikatan tak terlihat yang mengikat nyawa mereka berdua menjadi satu.
Semalaman ia tidak tidur. Ia menghabiskan waktunya mengamati setiap perubahan kecil pada wajah pria itu, mendengarkan irama napasnya yang kini teratur dan tenang, serta membisikkan kata-kata penenang setiap kali alisnya sedikit berkerut karena sisa mimpi buruk. Bagi Shen Yue, lelah ini bukan beban, melainkan kebahagiaan sederhana—karena untuk pertama kalinya, ia bisa memberikan kedamaian pada jiwa yang selama ini bergulat sendirian dalam badai.
Perlahan, kelopak mata Xiao Chen mulai bergerak-gerak halus. Napasnya yang panjang dan dalam berubah menjadi sedikit lebih pendek, tanda bahwa kesadarannya perlahan kembali naik ke permukaan.
Shen Yue menegakkan posisinya, menyeka sisa rasa kantuk di matanya, dan menatap dengan penuh harap.
Pertama yang terbuka adalah sepasang mata yang jernih namun masih kabur karena sisa tidur. Bukan tajamnya Xiao Yi, bukan pula cerianya Xiao Lei. Itu adalah mata yang polos, lembut, dan penuh kebingungan—tatapan asli Xiao Chen sebelum kepribadian-kepribadian itu sepenuhnya mengambil alih. Ia berkedip pelan beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang masuk, sebelum akhirnya pandangannya jatuh tepat pada wajah Shen Yue yang duduk di samping tempat tidur.
Keheningan sejenak melanda.
Kemudian, perlahan-lahan, genggaman tangannya dipererat sedikit. Bibirnya yang pucat membentuk garis lengkung tipis, senyum yang sangat sederhana namun sangat tulus, senyum yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia ini selama bertahun-tahun.
"Kau... masih ada di sini..." suaranya terdengar serak dan berat, namun penuh rasa takjub dan lega yang mendalam. "Aku pikir... saat aku bangun, kau akan hilang seperti kabut pagi..."
Shen Yue tersenyum lembut, matanya berbinar hangat menatapnya. Ia mengusap punggung tangan kasar itu dengan ibu jarinya, memberikan rasa nyaman yang tak terlukiskan.
"Aku bilang kan? Aku tidak akan pergi," jawab Shen Yue pelan namun tegas. "Dan lihatlah... matahari sudah terbit. Kau masih hidup, aku masih ada di sini, dan taman kita sudah menunggu untuk tumbuh indah. Tidak ada lagi kabut, Xiao Chen. Semuanya nyata."
Mendengar nama lengkapnya disebut begitu—bukan Xiao Yi, bukan Xiao Lei, bukan gelar Penguasa atau Iblis—mata itu berkedip lagi, dan kilatan air mata samar tampak di sudut matanya sebelum ia berkedip cepat menghilangkannya.
Namun, momen lembut itu tidak berlangsung lama. Seolah ada sakelar yang berputar di dalam kepalanya, sorot mata yang lembut itu berubah drastis. Kabur itu hilang, digantikan oleh ketajaman yang menusuk dan wibawa yang menggelegar. Garis rahangnya menegang, postur tubuhnya yang tadinya rileks kini kembali kokoh dan angkuh.
Xiao Yi telah kembali mengambil kendali, meski kali ini, sisa kelembutan dari tidur yang damai itu masih tertinggal samar-samar di sudut hatinya.
Ia bangkit duduk perlahan, selimut tebal meluncur turun ke pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan lengan kekarnya yang tertutup bekas luka lama—jejak pertempuran, jejak rasa sakit, dan bukti perjuangan hidupnya. Ia tidak melepaskan tangan Shen Yue, malah menarik tangan gadis itu lebih dekat ke arahnya, menatap tajam tepat ke manik mata jernih itu.
"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Xiao Yi, suaranya rendah namun terdengar sedikit serak. Matanya meneliti wajah lelah dan kantuk yang terlihat jelas di wajah Shen Yue. Sebuah kilatan emosi yang sulit diartikan melintas di matanya—campuran rasa marah karena gadis itu menyiksa dirinya sendiri, dan rasa haru yang mendalam.
"Aku tidak butuh tidur kalau itu berarti kau bisa tidur tenang," jawab Shen Yue santai, mengangkat bahu sedikit seolah itu hal yang biasa. "Lagipula, ada hal yang lebih penting daripada tidur."
Xiao Yi mengerutkan keningnya dalam. Ia mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka menjadi sangat dekat hingga Shen Yue bisa merasakan hembusan napas hangatnya.
"Kau ini benar-benar..." gumam Xiao Yi pelan, tidak menyelesaikan kalimatnya. Alih-alih melanjutkan, ia justru menghela napas panjang, lalu tanpa peringatan ia menarik lengan Shen Yue sedikit lagi, membuat tubuh mungil itu terhuyung ke depan dan jatuh ke dalam pelukan kokohnya.
Xiao Yi memeluknya erat, sangat erat namun tidak menyakitkan. Dagu bertumpu lembut di atas kepala Shen Yue, menghirup aroma bunga dan kehangatan khas gadis itu yang kini telah menjadi candu baginya.
"Kau membuatku lemah, Yue," bisik Xiao Yi di sela rambutnya, suaranya rendah dan berat. "Kau membuatku lupa cara menjadi iblis yang kejam. Kau membuatku takut kehilangan sesuatu lebih dari rasa takutku pada kematian sendiri. Dan aku benci sekaligus menyukai perasaan ini."
Shen Yue membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu, membiarkan rasa aman dan hangat itu menyelimuti dirinya. Ia memeluk pinggang kokoh itu balik dengan lembut, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur itu.
"Kau tidak perlu menjadi iblis lagi, Xiao Yi. Cukup menjadi dirimu sendiri. Dan aku akan menyukai semua bagian dari dirimu," jawab Shen Yue tenang.
Belum sempat Xiao Yi menjawab, suara ketukan pintu yang halus namun tegas terdengar memecah keheningan pagi itu.
"Tuan Muda... Nona Su," suara A-Ming terdengar dari luar, rendah namun penuh kewaspadaan. "Maaf mengganggu. Ada kabar penting yang harus disampaikan secepatnya. Dan... ada tamu yang datang pagi-pagi sekali. Tamu yang tidak diundang."
Xiao Yi melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap bertengger di bahu Shen Yue seolah menegaskan kepemilikan. Wajahnya yang tadinya lembut seketika berubah dingin dan tajam. Aura penguasanya kembali terpancar kuat, mengisi ruangan itu seketika.
"Masuk," perintah Xiao Yi singkat dan tegas.
Pintu terbuka perlahan. A-Ming melangkah masuk dengan wajah serius, tangannya menggenggam secarik surat tertutup lilin. Ia berjalan mendekat, menunduk hormat, lalu menyerahkan surat itu kepada tuannya.
"Utusan dari Istana Kekaisaran baru saja pergi. Mereka meninggalkan surat ini," lapor A-Ming dengan nada rendah. Ia melirik sekilas ke arah Shen Yue sebelum melanjutkan. "Dan yang menunggu di gerbang depan... adalah Pangeran Keempat, Tuan Mu Ran. Ia datang dengan rombongan pengawal istana, membawa pesan dari Kaisar, dan... sepertinya ia tidak berniat pergi sebelum bertemu dengan Anda secara langsung."
Nama Mu Ran disebutkan, dan udara di ruangan itu seketika menjadi lebih berat.
Xiao Yi merobek segel lilin itu dengan kasar, matanya melirik cepat isi tulisan di dalamnya. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di keningnya, dan semakin dingin aura yang dipancarkannya.
"Kaisar tua... mulai tidak sabar," desis Xiao Yi pelan, suaranya penuh kebencian dan penghinaan. Ia meremas kertas itu hingga kusat di tangannya. "Dia mendengar kabar bahwa aku menemukan sesuatu yang berharga. Dia mendengar bahwa ada perubahan di kediaman ini. Dan sekarang, dia mengirim anjing kesayangannya, Mu Ran, untuk memata-matai, atau mungkin untuk mengambil apa yang dianggapnya miliknya."
Xiao Yi menoleh menatap Shen Yue dengan pandangan yang dalam dan penuh peringatan.
"Mu Ran adalah musuh lama, Yue. Pria itu pintar, licik, dan memiliki senyum yang manis namun beracun. Dia tidak seperti keluarga bodohmu yang kemarin datang. Dia berbahaya. Dia bermain di dalam terang, di bawah nama baik istana, tapi hatinya lebih gelap dan lebih rakus daripada siapa pun di kota ini. Dan sekarang... dia ada di sini. Dan dia pasti sudah mendengar tentangmu."
Shen Yue mendengarkan dengan tenang. Ia tidak terlihat takut, hanya serius dan waspada. Ia mengerti betul bahwa kehadirannya di sisi Xiao Chen tidak hanya membawa kebahagiaan, tapi juga mengubah keseimbangan kekuasaan yang sudah rapuh ini. Ia bukan lagi gadis biasa yang bisa disembunyikan di sudut toko bunga. Ia adalah kekuatan baru, dan semua mata kini tertuju padanya.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Shen Yue pelan, menatap lurus ke manik mata hitam itu. "Kau akan mengusirnya? Atau kau akan menyambutnya?"
Xiao Yi tersenyum miring, senyum yang mengerikan namun juga penuh tantangan. Ia bangkit berdiri dari tempat tidur, tubuh tingginya menjulang gagah, menutupi cahaya jendela sejenak. Ia berjalan ke arah lemari pakaian, sementara pelayan yang sudah menunggu di sudut ruangan dengan sigap membawakan jubah baru berwarna hitam pekat dengan sulaman benang emas berbentuk naga di ujung lengan.
"Aku akan menyambutnya," jawab Xiao Yi dingin, sambil mengenakan pakaiannya dengan gerakan anggun namun berwibawa. Ia berbalik menghadap Shen Yue yang masih duduk di tepi tempat tidur. "Aku akan menyambutnya dengan segala kemegahan dan kekuasaan yang aku miliki. Aku akan membuatnya sadar bahwa wilayah ini adalah milikku, dan tidak ada siapa pun yang bisa mengaturku, apalagi mengambil apa yang menjadi milikku."
Ia berjalan mendekat lagi, berjongkok sedikit di depan Shen Yue, menatap mata gadis itu dengan pandangan yang dalam dan tegas.
"Dan kau, Yue... kau akan berdiri di sampingku. Di sisi kananku. Di tempat yang paling terang dan paling tinggi. Kau bukan lagi gadis penjual bunga yang tidak dikenal. Mulai saat ini, kau adalah nyawa, kekuatan, dan masa depanku. Dan aku ingin semua orang tahu itu. Termasuk Mu Ran. Aku ingin dia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang membuatku berubah, apa yang membuatku kuat, dan apa yang akan dia dapatkan jika berani menyentuh sehelai rambutmu saja."
Kalimat itu penuh dengan dominasi dan kepemilikan mutlak, namun di baliknya tersimpan rasa percaya yang begitu besar.
Shen Yue mengangguk perlahan, matanya berbinar tekad yang sama kuatnya. Ia mengulurkan tangan, merapikan kerah jubah Xiao Yi yang baru saja dipakai.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada mereka," jawab Shen Yue lembut namun mantap. "Bahwa bunga yang dulu mereka injak-injak, kini tumbuh penuh duri dan mekar lebih indah dari apa pun yang pernah mereka miliki."
Xiao Yi tersenyum puas, lalu bangkit berdiri tegak kembali. Ia memberi isyarat tangan ke arah pelayan di luar pintu.
"Siapkan ruang tamu utama. Siapkan jamuan terbaik. Dan panggil penata rias terbaik untuk Nona Su," perintah Xiao Yi dengan suara menggelegar. Matanya berkilat tajam penuh semangat berperang. "Hari ini, kita akan memberi pelajaran pada anjing istana itu. Dan hari ini, kita akan mulai menulis sejarah baru... sejarah di mana tidak ada yang berani lagi meremehkan Kediaman Xiao, dan tidak ada yang berani menyakiti orang yang kucintai."
Tak lama kemudian, Shen Yue berdiri di depan cermin besar di sudut ruangan. Dengan bantuan pelayan, ia kini mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih dengan hiasan benang perak yang halus, sederhana namun memancarkan kemewahan dan keanggunan yang luar biasa. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi dengan beberapa jepitan sederhana berukiran bunga mawar, memperlihatkan leher jenjang dan wajah tenang yang bersinar alami.
Ia tidak memakai perhiasan berlebihan, karena kecantikannya dan aura ketenangannya sudah cukup untuk membuat segala permata terlihat pucat di sebelahnya.
Saat ia berbalik, Xiao Yi berdiri di sana menunggunya. Pria itu terpaku sejenak, napasnya tertahan melihat pemandangan di hadapannya. Di matanya, Shen Yue saat ini bukan hanya cantik, tapi suci, kuat, dan berkilau seperti bintang paling terang di langit malam.
"Indah..." gumam Xiao Yi pelan, satu kata yang keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ia sadari.
Ia berjalan mendekat, mengulurkan lengannya untuk dikaitkan dengan lengan Shen Yue.
"Ayo, Nona Su. Tamu kita sudah menunggu terlalu lama," ucap Xiao Yi dengan nada lembut yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, lalu berubah menjadi nada dingin dan berwibawa saat berbicara kepada A-Ming di sebelahnya. "A-Ming, pastikan semua penjaga berada di posisi masing-masing. Jangan ada celah sedikit pun. Dan awasi setiap gerak-gerik Pangeran itu. Satu gerakan mencurigakan... dan kau tahu apa yang harus dilakukan."
"Siap, Tuan Muda!" jawab A-Ming tegas, lalu melangkah mendahului membuka jalan.
Bersama-sama, mereka berjalan keluar kamar, menyusuri lorong-lorong panjang kediaman itu menuju ruang tamu utama. Langkah mereka selaras, aura mereka menyatu—satu dingin dan mengancam, satu lagi tenang dan menyejukkan.
Di luar sana, di gerbang megah itu, bayangan bahaya dan intrik politik sudah menunggu. Pangeran Mu Ran, pria yang konon cerdas, berkuasa, dan licik, sedang bersiap untuk menguji kekuatan musuh bebuyutannya. Namun yang tidak diketahui siapa pun... hari ini, Xiao Chen tidak datang sendirian. Ia datang membawa kekuatan yang tidak pernah dimiliki siapa pun sebelumnya: kekuatan hati, kekuatan cinta, dan kekuatan penyembuhan.
Dan di taman belakang sana, di balik jendela-jendela tinggi itu, bibit-bibit bunga yang baru ditanam itu berdiri tegak, menyerap sinar matahari pagi, tumbuh semakin kuat, seolah menjadi saksi bisu bahwa di tempat yang dulunya mati dan dingin ini... kehidupan baru kini sedang bermekaran dengan gagah berani.
Pertemuan yang akan mengubah jalannya sejarah kota ini pun akan segera dimulai.