"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Ancaman di Balik Meja OSIS
****
Hujan gerimis yang turun sore itu perlahan berubah menjadi lebat, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan gue di sepanjang jalan utama dekat sekolah. Dengan seragam yang mulai basah kuyup di bagian bahu, gue terus berlari menyusuri trotoar. Napas gue terengah-engah, dada gue terasa sesak bukan hanya karena kelelahan, tapi karena rasa takut yang terus mengejar dari belakang.
Gue mencoba mendatangi tempat-tempat yang biasanya menjadi markas nongkrong Saka. Warung mpok di dekat jembatan kosong, nihil. Bengkel motor milik Mas Tian di ujung jalan, kosong. Bahkan lapangan pangkalan yang biasa dipakai anak-anak IPS untuk sekadar memarkir motor pun sepi. Saka lenyap seperti ditelan bumi setelah menerobos gerbang sekolah tadi.
*Bzzzt...*
Ponsel di kantong gaun cadangan yang gue bawa di tas—yang untungnya gak ikut basah—bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari Saka, melainkan dari Risa.
> **Risa:** *Mik, lo di mana? Mending lo balik ke sekolah sekarang. Bokap nyokap lo baru aja ditelepon sama pihak sekolah gara-gara keributan tadi pagi. Dan yang lebih parah, Devan sekarang lagi ada di ruang OSIS bareng kepala sekolah.*
>
Langkah kaki gue langsung terhenti di tengah trotoar. Air hujan menetes dari ujung rambut gue, membasahi wajah. Jantung gue berdegup kencang. Orang tua gue ditelepon? Ini artinya masalahnya sudah tidak bisa diredam lagi di tingkat BK. Devan benar-benar bergerak cepat memanfaatkan situasi kaburnya Saka.
Tanpa berpikir dua kali, gue memutar balik arah langkah. Gue harus kembali ke sekolah. Gue gak bisa membiarkan Devan menyusun narasi sepihak yang bisa menghancurkan masa depan Saka, sekaligus menyeret orang tua gue ke dalam drama beracun ini.
Suasana SMA Tunas Bangsa setelah jam pulang sekolah dan di tengah guyuran hujan terasa sangat sunyi, namun menyimpan ketegangan yang pekat. Koridor gedung utama tampak lengang, hanya ada beberapa anak organisasi yang berteduh di depan mading. Gue berjalan dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan tatapan heran dari beberapa murid karena kondisi baju gue yang setengah basah.
Tujuan gue cuma satu: **Ruang Ketua OSIS**.
Gue tidak langsung ke ruang kepala sekolah karena gue tahu, otak dari semua skenario ini sedang memegang kendali di ruangannya sendiri. Begitu gue sampai di depan pintu kayu kokoh dengan papan nama 'RUANG OSIS', gue mengatur napas sejenak, lalu mendorong pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
*Cklek.*
Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, Devan sedang duduk tenang di balik meja kerjanya yang besar. Di sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Saka kini sudah tertutup plester medis putih. Pakaian seragamnya sudah diganti dengan kemeja putih cadangan yang bersih dan rapi. Di hadapannya, beberapa lembar berkas laporan pelanggaran siswa bertumpuk rapi.
Mendengar pintu terbuka dengan kasar, Devan mendongak. Ekspresi terkejutnya hanya bertahan satu detik sebelum digantikan oleh senyuman tenang khasnya yang selalu berhasil membuat gue merinding akhir-akhir ini.
"Mika? Kamu basah kuyup," kata Devan lembut, langsung bangkit dari kursinya. Dia menyambar selembar handuk kecil bersih dari lemari loker di sudut ruangan dan berjalan mendekati gue. "Kenapa nekat hujan-hujanan? Aku kan udah bilang, jangan cari Saka."
"Gak usah sok peduli, Dev," sentak gue pelan, menolak handuk yang dia ulurkan. Gue menatapnya lurus-lurus dengan mata yang masih memerah. "Kenapa lo harus telepon orang tua gue? Apa hubungannya masalah Saka sama orang tua gue, hah?!"
Devan menurunkan tangannya yang memegang handuk, meletakkannya di atas meja rapat di samping kami. Dia mengembuskan napas pendek, menatap gue dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin.
"Aku gak menelepon orang tua kamu untuk menyalahkan mereka, Mika. Aku meminta pihak sekolah memanggil mereka agar mereka tahu, anak perempuan mereka sedang berada di dalam lingkaran pertemanan yang berbahaya," jawab Devan, suaranya terdengar sangat rasional, seolah-olah dia adalah pihak yang paling objektif di sini. "Saka sudah bertindak kriminal dengan memukul aku di area sekolah. Dan dia kabur secara ugal-ugalan. Orang tua kamu berhak tahu kalau kamu sering pulang bareng cowok temperamental seperti itu."
"Tapi itu karena lo yang memprovokasi dia, Devan! Lo sengaja!" suara gue meninggi, menggema di ruangan OSIS yang sepi. "Lo sengaja membiarkan diri lo dipukul di gudang belakang biar lo punya alasan kuat buat mengeluarkan dia, kan?!"
Devan melangkah maju, memotong jarak di antara kami hingga gue bisa merasakan aura dominasi yang kuat dari tubuhnya. Dia menatap gue dengan mata yang menyipit tajam.
"Provokasi atau bukan, faktanya Saka tetap melayangkan pukulan, Mika. Dia gak bisa mengontrol binatang di dalam dirinya," bisik Devan dingin. Dia berjalan kembali ke balik meja kerjanya, mengambil selembar kertas bermaterai yang terletak di atas tumpukan berkas. "Kamu lihat ini? Ini adalah draf surat rekomendasi pemecatan Saka Aditya yang sudah ditandatangani oleh tim ketertiban OSIS dan pembina BK. Tinggal selangkah lagi, kertas ini sampai ke meja Kepala Sekolah, dan Saka akan resmi ditendang dari sekolah ini."
Gue membelalakkan mata, menatap kertas di tangan Devan seolah itu adalah pisau eksekusi. "Dev... please, jangan lakuin ini. Gue mohon..." lirih gue, air mata gue kembali menggenang di pelupuk mata. Ego gue runtuh total di depan ancaman nyata Devan.
Devan menatap air mata gue. Detik itu juga, kilat dingin di matanya menguap, digantikan oleh binar kepuasan yang aneh. Dia meletakkan kembali kertas itu ke meja, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap gue dengan senyum manisnya yang manipulatif.
"Aku bisa saja merobek kertas ini dan menganggap kejadian di gudang tadi gak pernah terjadi, Mika," kata Devan lembut, nadanya terdengar seperti seorang penyelamat yang sedang memberikan pengampunan. "Aku bisa bilang ke kepala sekolah kalau luka di bibir aku ini murni karena jatuh. Pembina BK juga bisa aku lobi untuk membatalkan skorsing Saka."
Jantung gue berdegup kencang, ada secercah harapan yang muncul. "Beneran, Dev? Apa syaratnya?"
Devan menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetukkan jari telunjuknya di atas meja dengan ritme yang teratur.
"Syaratnya mudah, Mikaela. Mulai besok, aku mau kamu pindah tempat duduk di kelas. Jangan dekat-dekat Risa lagi karena dia selalu menghasut kamu untuk menjauh dari aku. Dan yang paling penting..." Devan menjeda kalimatnya, matanya mengunci gelang perak pemberian Saka yang masih melingkar di pergelangan tangan gue. "Mulai detik ini, kamu adalah pacar aku. Di depan kelas, di depan umum, dan di depan Saka. Kamu harus tunjukkan ke dia kalau kamu cuma milik aku."
Gue tertegun, tubuh gue gemetar hebat mendengar syarat gila dari Devan. Dia tidak sedang menawarkan jalan keluar, dia sedang mengunci pintu sangkar emasnya rapat-rapat untuk menjerat kebebasan gue. Di balik meja OSIS yang terhormat ini, Devan telah menjelma menjadi seorang diktator yang mematikan bagi hidup gue.
"Gimana, Mik? Pilihan ada di tangan kamu," bisik Devan sambil tersenyum sangat manis, meraih pulpen di mejanya seolah bersiap untuk menandatangani surat pemecatan Saka jika gue menolak.
Gue mengepalkan tangan kuat-kuat, menatap Devan dengan perasaan campur aduk antara benci, takut, dan terjepit di tengah dilema yang mustahil untuk gue selesaikan sendiri.
### **Pesan Penulis (Author's Note)**
> **Oh my god, Devan bener-bener definisi ular berbisa!** Di bab ini, dia benar-benar memanfaatkan posisinya di atas angin buat memeras emosi Mika. Dengan memegang surat pemecatan Saka, Devan memaksa Mika buat menjadi pacarnya dan memotong seluruh akses sosial Mika, termasuk menjauhkan Mika dari Risa! Strategi manipulasi tingkat tinggi yang bikin geregetan banget, kan?
> Kira-kira menurut kalian, Mika bakal terpaksa menerima syarat gila dari Devan demi menyelamatkan masa depan Saka, atau justru Saka bakal datang dan mengacaukan rencana Devan ini?
> Yuk, jangan lupa buat para pembaca setia **@ujang_Bonang**, langsung klik tombol **Like**, kasih **Vote** yang banyak, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan umpatan kalian buat si Ketos manipulatif ini! Dukungan kalian bakal bikin draf Bab 6 meluncur lebih cepat ! *Keep reading and stay tuned!*
>