"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Isak tangis Vexana tidak lagi terdengar seperti amarah, melainkan jeritan keputusasaan yang telah mengendap bertahun-tahun di dasar jiwanya.
Bahunya yang rapuh di balik kemeja hitam kebesaran milik Landon terguncang hebat. Di dalam dekapan hangat pria itu, seluruh keteguhan dan dinding es yang dibangun Vexana runtuh total. Ia lelah berpura-pura kuat, lelah memikul rahasia yang menggerogoti kewarasannya setiap hari.
Landon tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut Vexana, mengecap rasa bersalah yang teramat sangat yang kini memenuhi rongga dadanya.
"Katakan padaku, Bee... kumohon," bisik Landon, suaranya parau, matanya ikut memanas. "Kenapa dia tidak memanggilmu Mommy? Di mana anak kita?"
Vexana menarik napas pendek yang patah-patah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Sambil menyandarkan kepalanya yang pening pada dada bidang Landon—mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang—Vexana akhirnya luluh. Kebenaran yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh keluarga Valerio perlahan mengalir dari bibirnya.
"Namanya... Austin Jaxon Valerio," ucap Vexana dengan suara yang teramat lirih, namun nama itu terdengar laksana guntur di telinga Landon.
"Aku memanggilnya AJ. Dia... dia tidak tahu kalau aku adalah ibu kandungnya, Don. Dia sama sekali tidak tahu."
Landon mengernyitkan dahi tajam, mencengkeram bahu Vexana agar bisa menatap wajah wanita itu.
"Bagaimana mungkin dia tidak tahu? Kau ibunya, Vexa! Mengapa kau membiarkan dia tidak mengenali ibunya sendiri?"
Vexana menatap Landon dengan sepasang mata bulatnya yang basah, pancaran luka di sana begitu pekat hingga membuat Landon sesak napas.
"Karena dia lahir saat aku masih koma, Landon. Aku... aku mengalami koma selama dua tahun penuh setelah kecelakaan itu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Landon Desmon. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seperti ditarik paksa keluar.
Otak geniusnya yang biasa bekerja dalam hitungan milidetik mendadak mengalami blank total.
Kata-kata Vexana bergaung di kepalanya, menghancurkan seluruh asumsi dan informasi yang ia miliki selama enam tahun terakhir.
"Jadi..." Landon terbata, suaranya bergetar hebat, rahangnya mengeras menahan syok yang luar biasa. "Kau... kau tidak pergi ke Eropa setelah kecelakaan itu? Kau tidak meninggalkanku karena membenciku? Kau tidak kemana-mana? Dan... kau koma? Dua tahun?!"
Vexana hanya mengangguk pelan, air matanya kembali meluncur melewati pipinya yang pucat.
"Oh, shittttttttt!!!" Landon memaki dengan keras, meraup wajahnya dengan kedua tangan yang bergetar hebat.
Rasa frustrasi dan kemarahan pada dirinya sendiri meledak di dalam dada. "Aku melewatkan semuanya... Bagaimana mungkin aku tidak tahu kau koma selama itu, Bee?! Oh Tuhan... seberapa brengseknya aku sebagai seorang pria?!"
Seluruh tubuh Landon mendadak lemas. Lututnya seolah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Di atas kasur mewah itu, Landon menurunkan tubuhnya secara perlahan hingga ia berada di posisi bersujud di depan Vexana.
Pria genius bergelar dosen muda yang selalu dipuja karena martabat dan kepintarannya, kini menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh kasur, tepat di hadapan kaki Vexana yang terbungkus celana training kebesaran.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Vexana Valerio..." Raung Landon, suaranya teredam oleh kasur, bahunya naik turun didera tangis yang pecah secara gila.
"Demi Tuhan, aku tidak tahu... Aku benar-benar tidak tahu kau harus melewati garis antara hidup dan mati bersama anak kita sendirian! Dan AJ... Demi Tuhan, aku akan menghukum diriku sendiri seumur hidupku! Aku melewatkan semuanya, Vexa..."
Landon mendongak, menatap Vexana dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata penyesalan yang teramat dalam.
"Aku melewatkan masa mengidammu... aku tidak ada di sana untuk memijat kakimu saat kau kelelahan menahan berat tubuhnya. Aku melewatkan seluruh masa kehamilanmu, dan aku tidak ada di sampingmu untuk menggenggam tanganmu saat kau berjuang melahirkan putraku di dalam kondisi koma... Oh Tuhan, dosa apa yang sudah kuperbuat?!"
Vexana menatap pria yang sedang bersujud di depannya dengan tatapan yang hancur.
Melihat kehancuran Landon yang begitu tulus perlahan mengikis sisa-sisa amarahnya, meninggalkan rasa senasib sebagai dua orang yang sama-sama ditipu oleh takdir yang kejam.
"Bukan cuma itu, Don..." Suara Vexana kembali memecah keheningan, terdengar begitu hambar namun menyayat hati.
"Dia memanggilku 'Kakak', Don. AJ memanggilku kakak perempuan selama ini. Dia mengira aku adalah kakaknya, bukan ibunya."
Landon terpaku, dadanya berdenyut sangat perih mendengar kenyataan itu. "Kenapa... kenapa bisa seperti itu?"
Vexana tersenyum getir, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Saat aku terbangun dari koma dua tahun kemudian, bayiku sudah berusia dua tahun. Dia sudah bisa berjalan dan berbicara sedikit. Dan selama dua tahun itu, Daddy mendidik semua orang di mansion untuk mengatakan bahwa AJ adalah adikku yang masih disembunyikan dari publik. Jadi, saat aku membuka mata, semua orang memperkenalkannya sebagai adik laki-lakiku. AJ tumbuh besar dengan keyakinan bahwa Daddy Maximilian adalah ayahnya, dan aku adalah kakaknya."
Vexana menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi, mengingat betapa bodohnya dirinya selama ini.
"Aku bahkan baru tahu beberapa hari terakhir ini, Don! Selama empat tahun setelah aku bangun dari koma, aku hidup berdampingan dengannya tanpa tahu bahwa aku adalah seorang ibu! Aku baru tahu beberapa hari yang lalu, bahwa aku bukan kakaknya... aku adalah wanita yang melahirkannya!"
Landon bangkit dari posisi sujudnya, langsung merengkuh tubuh Vexana ke dalam pelukannya lagi, mendekap wanita itu seolah takut Vexana akan menghilang jika ia melepaskan cengkeramannya. Ia bisa merasakan betapa hancurnya mental Vexana yang harus menerima kenyataan seberat itu secara tiba-tiba.
"Dan kau tahu yang lebih gila lagi?" Bisik Vexana di dalam dekapan Landon, suaranya bergetar hebat antara tawa frustrasi dan tangis.
"Aku bahkan tertipu oleh umurku sendiri selama empat tahun ini, Don. Aku mengira umurku sekarang adalah dua puluh empat tahun... Koma dua tahun itu... aku pikir aku hanya pingsan beberapa hari saja di rumah sakit setelah kecelakaan. Aku tidak tahu bahwa ada waktu dua tahun yang dicuri dariku secara paksa!"
Landon memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir membasahi pundak kemeja hitam yang dikenakan Vexana.
Konspirasi Maximilian Valerio benar-benar di luar batas kemanusiaan. Pria tua itu tidak hanya memisahkan dirinya dan Vexana, tetapi juga mencuri identitas, usia, dan hak keibuan dari putrinya sendiri.
"Maafkan aku, Bee... maafkan aku," Landon terus membisikkan kata maaf itu laksana mantra di telinga Vexana.
"Aku bersumpah, demi sisa napas yang kumiliki, aku akan mengembalikan semua yang telah dicuri darimu. Aku akan mengambil kembali hakmu sebagai ibu dari AJ, dan aku akan membuat putra kita tahu bahwa aku adalah ayahnya. Kita akan melewati neraka ini bersama-sama, Vexa. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan di dalam kegelapan sendirian lagi."
Di dalam kamar yang perlahan diterangi oleh matahari pagi yang meninggi, dua jiwa yang sempat terpisah oleh waktu dan kebohongan itu saling mendekap erat, menangisi takdir mereka yang penuh dengan luka, namun kini memiliki satu arah tujuan yang sama: menjemput Austin Jaxon Valerio, jagoan kecil mereka yang terperangkap di dalam kebohongan besar.