Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Dendam Murid & Satu Ayunan Golok
"Rencana apa yang bisa kumiliki?" Lin Qian menghela napas, raut wajahnya tampak tak berdaya dan pasrah. "Untuk saat ini, aku hanya bisa menjaga sepetak tanah kecil ini dan berusaha mencari nafkah. Kalau ada rencana… mungkin kalau aku bisa menerima beberapa murid lagi, hidupku akan terasa lebih baik dan tidak sepi."
"Begitu ya…" Patriark Tianhe mengangguk pelan, meski di hatinya ada sedikit rasa kecewa. Ia bertanya dengan harapan bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang arah masa depan dari Sang Senior. Jika saja ia bisa mengerti sedikit pola pikir Lin Qian, mungkin Sekte Lingxue bisa mengambil jalan pintas menuju kejayaan.
Namun jawaban Lin Qian, meski terdengar polos, sama sekali tidak memberikan celah untuk dipahami.
Patriark Tianhe paham ,kalau Lin Qian tidak mau membuka diri, ia tidak berani memaksa bertanya lebih jauh.
Meski begitu, hari ini sudah sangat sempurna. Ia berhasil mendapatkan senjata suci yang bisa mengubah nasib sektenya.
Setelah berbasa-basi sedikit lagi, keduanya berpamitan pulang. Begitu cukup jauh meninggalkan kios itu, mereka melepaskan penahanan aura dan berubah menjadi dua aliran cahaya yang melesat cepat menuju puncak Gunung Baiyun.
Sesampainya di gerbang utama, Patriark Tianhe langsung bergegas masuk dengan langkah cepat.
"Paman Tua, tunggu aku!" seru Zhu Yun sambil berlari kecil mengejar, wajahnya berubah sangat manja. "Bisakah kau perlihatkan sekilas saja pisau suci itu padaku? Hanya mau lihat, tidak akan menyentuhnya, aku janji!"
"Apa yang menarik untuk dilihat, dasar sibuk!" bentak Patriark Tianhe.
"Ayo dong Paman, cuma sekilas saja…" Zhu Yun terus membujuk sambil membungkuk rendah.
"Hmph!" Patriark Tianhe mendengus dingin, lalu dengan enggan mengeluarkan pisau dapur itu dari kantung penyimpanannya.
Begitu pisau itu terlihat, udara di sekitar seolah menjadi dingin dan tajam. Cahaya memancar dari bilahnya hingga menyipitkan mata Zhu Yun. Dengan hati-hati ia mengulurkan tangan, berniat menyentuh pinggirannya saja.
Namun baru saja tangannya bergerak sedikit, Patriark Tianhe langsung menyimpan kembali pisau itu secepat kilat.
"Sudah... sudah, lihat kan? Sekarang aku mau bertapa seharian. Beritahu semua tetua dan anggota inti, besok kita adakan rapat besar!"
Setelah berkata begitu, Patriark Tianhe menghilang dalam sekejap.
Zhu Yun berdiri kaku dengan tangan masih terulur di udara. Ia mengerutkan hidung kesal dan meludah pelan ke arah kepergian pamannya , tapi tidak berani mengabaikan perintah itu, dan segera berlari mengumumkan pertemuan penting esok hari.
Sementara itu, di halaman belakang kios, Lin Qian berbaring santai di kursi malasnya.
"Hei, Wangcai, kemari," panggilnya sambil melambai.
Xue Yan , Serigala Iblis Pemakan Surga yang ditakuti seisi dunia ,langsung mengibaskan ekornya dengan antusias, matanya menyipit senang saat berlari mendekat. Mengelus bulu Xue Yan sudah menjadi rutinitas harian Lin Qian tanpa ia sadari.
Setelah cukup lama membelai bulu halus serigala itu, Lin Qian bangkit berdiri, melepas baju luarnya. "Sudah lama tidak bergerak, kalau begini terus tulang dan ototku bisa kaku. Saatnya berlatih tinju sedikit."
Ia meregangkan tubuh, lalu memasuki kondisi fokus penuh.
Serangkaian gerakan tinju aliran Shaolin mulai ia lakukan. Gerakannya mengalir lancar bagai air sungai — indah namun mematikan. Meski sama sekali tidak memancarkan energi kultivasi, teknik dan pergerakan tubuhnya sudah mencapai taraf kesempurnaan tertinggi. Angin kencang berhembus mengikuti setiap ayunan tangannya, menciptakan pemandangan yang megah.
Xue Yan duduk di samping dengan mata terbelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka takjub.
Begitu Lin Qian mengambil kuda-kuda, seluruh ruang di sekitarnya dipenuhi oleh Niat Bela Diri yang murni dan dahsyat. Gerakannya tampak sederhana — hanya pukulan dan tendangan biasa — namun mengandung makna yang sangat dalam dan tak terlukiskan.
Tanpa sadar, Xue Yan merasa mendapat pencerahan besar. Wawasannya terbuka, dan secara tak terduga tingkat kekuatannya langsung meningkat satu tingkat.
Namun semakin lama ia menonton, semakin pusing kepalanya. Tekanan dari Niat Bela Diri itu makin lama makin berat, hampir saja meremukkan jiwanya. Xue Yan buru-buru memejamkan mata dan menunduk, sadar bahwa pemandangan ini bukanlah sesuatu yang sanggup ia nikmati sesuka hati.
Setelah menyelesaikan satu rangkaian penuh, Lin Qian mengusap keringat di dahinya dengan puas. "Hah… segar sekali."
Ia menoleh ke Xue Yan dan tersenyum, mengelus kepala serigala itu. "Bagaimana? Tuanmu hebat bukan?"
"Guk! Guk!" Xue Yan menggonggong dua kali lemah, kakinya gemetar lemas.
"Pintar sekali kau ini," Lin Qian tertawa, lalu meneguk air dari cangkir. "Karena rasanya masih enak dan aku masih bersemangat, kita lanjutkan satu set lagi ya!"
Wajah Xue Yan langsung berubah pucat.
"Senior… kau harus lihat dulu apakah aku ini mampu menanganinya atau tidak! " Batin Xue Yan.
Teknik tadi saja hampir membuatnya hancur berkeping-keping. Sekarang yang ini auranya jauh lebih mengerikan. Xue Yan bahkan tidak berani mengangkat kepala atau melirik sedikit pun. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar badai ini cepat berlalu.
Setelah mandi dan kembali berbaring santai, Lin Qian memutar-mutar Mutiara Api pemberian Patriark Tianhe di tangannya.
"Memang benar, bentuknya bagus sekali, indah seperti karya seni," gumamnya.
Matanya menatap dedaunan yang mulai berguguran di tanah. Musim gugur telah tiba. Di dunia ini musim gugur saja sudah terasa sangat dingin, apalagi nanti saat musim dingin di mana salju bisa menutupi bumi bermeter-meter tebalnya.
Buat manusia biasa sepertiku, kalau tidak ada penghangat, bisa mati kedinginan.
Matanya kembali tertuju pada Mutiara Api yang panas di tangannya.
"Nah… kalau nanti cuaca makin dingin, aku taruh benda ini di samping tempat tidur. Otomatis hangat seharian sepanjang malam! Bersih, tidak berasap, dan paling penting — hemat biaya beli arang!"
Lin Qian tersenyum puas pada dirinya sendiri karena ide cemerlang itu.
Ia meregangkan badan, lalu berjalan menuju ruang depan kios. Di sana, Han Yu duduk termenung di ambang pintu, pandangannya lekat pada sosok-sosok yang sesekali melintas di kejauhan — para kultivator yang melayang bebas di langit.
Anak ini… sepertinya hatinya masih tertuju pada jalan kultivasi, Lin Qian menghela napas pelan.
Mendengar langkah kaki, Han Yu langsung tersentak dan bangkit berdiri dengan hormat. "Salam, Guru."
Lin Qian mengangguk, berjalan mendekat dengan tangan di punggung, lalu menatap langit jauh di ufuk barat.
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu di hatimu," kata Lin Qian perlahan.
Han Yu tertegun, kaget namun diam saja.
Lin Qian tersenyum tipis, menyuruh anak itu duduk kembali. Meski daun berguguran dan udara makin dingin, suasana di depan kios itu tetap tenang.
"Kau mungkin ragu dan tidak mau cerita," lanjut Lin Qian. "Tapi apa pun itu, sebagai gurumu, aku tidak akan pernah menghalangi jalanmu. Sekte Lingxue membuka penerimaan murid baru setiap se tahun sekali. Kalau kau memang berniat, kau boleh coba keberuntunganmu setiap kali pendaftaran dibuka."
Han Yu menggertakkan gigi, bibirnya bergetar, tapi ia tetap diam.
Lin Qian pun tak berkata lagi. Ia berniat masuk ke dapur.
"Guru…"
Tiba-tiba Han Yu memanggil. Lin Qian berbalik perlahan, menatap wajah muridnya yang kering terkena angin musim gugur, matanya mulai memerah.
"Aku punya dendam," suara Han Yu bergetar namun tegas. "Aku punya dendam yang sangat besar!"
Air mata mulai menggenang. Ia menggenggam erat pedang pemberian Lin Qian hingga buku jarinya memutih.
"Musuhku… sangat kuat. Kuat sekali sampai aku hampir tidak bisa bernapas memikirkannya. Kekuatan mereka setingkat Tetua Sekte… setingkat Ketua Sekte… atau bahkan mungkin setingkat Patriark Agung Sekte Lingxue!"
Lin Qian menegang. Telapak tangannya mengepal tak sadar.
"Satu-satunya jalan bagiku adalah berkultivasi," lanjut Han Yu dengan mata berapi-api. "Hanya dengan begitu aku punya kesempatan membalaskan semuanya."
Hening yang panjang menyelimuti mereka.
Lin Qian menatap anak itu lama sekali, lalu perlahan mengangguk. Ia berbalik memunggungi muridnya, dan matanya pun ikut memerah.
Hatinya terasa sesak — penuh rasa getir dan marah. Ia marah pada kerasnya dunia ini, di mana anak sekecil itu sudah memikul beban yang begitu berat. Ia marah pada dirinya sendiri yang hanya manusia biasa, tak berdaya membantu muridnya menapaki jalan yang ia rindukan. Dan ia marah pada ketidakadilan langit — karena Han Yu sama sekali tidak memiliki bakat kultivasi, sehingga jalan yang ia pilih itu sama saja dengan jalan buntu.
Tetua, Ketua Sekte, Patriark… itu adalah sosok yang berada di ketinggian tak terjangkau. Bagi manusia biasa, nama mereka saja hanya legenda.
Keesokan harinya, di Aula Utama Sekte Lingxue.
Patriark Tianhe duduk di kursi utama dengan wajah berseri-seri, bercampur sedikit rasa malu.
Sejak pulang kemarin, ia mengurung diri bertapa dan berlatih seharian penuh. Pisau dapur suci itu sungguh luar biasa , kekuatan bertarungnya langsung melonjak satu tingkat. Namun Niat Bela Diri yang tersimpan di dalamnya terlalu dalam dan dahsyat. Ia belum bisa mengendalikannya dengan luwes.
Tadi saat berlatih, hanya satu ayunan santai saja…
Ia tak sengaja membelah kediaman Tetua Ketiga menjadi dua bagian rata dengan tanah.
Bahkan Yu Wujie, murid kesayangan Tetua Ketiga yang sedang berada di dalam, hampir saja tewas tersambar sisa tenaga pisau itu.
"Ehem… ehem…" Patriark Tianhe berdeham melihat wajah pucat Tetua Ketiga dan Yu Wujie yang berantakan. "Baru saja dapat senjata pusaka, masih belum terbiasa menggunakannya. Kecelakaan kecil saja, jangan dipikirkan."
"Adalah kehormatan bagi sekte kita bahwa Leluhur mendapatkan senjata sehebat itu… kehancuran ini hanyalah hal sepele, tidak perlu disebut-sebut," jawab Tetua Ketiga dengan sopan — meski dalam hatinya ribuan kata makian berkecamuk.
Istana itu mahal biaya pembangunannya, dan di dalamnya tersimpan harta kekayaan yang ia kumpulkan bertahun-tahun dengan segala cara. Sekali ayunan pisau… semuanya rata dengan tanah.
Dan Yu Wujie? Keadaannya jauh lebih buruk.
Wajah ganteng yang biasa ia jaga kini pucat pasi, berdebu, dan terlihat seperti mayat hidup. Yang paling memalukan — saat ditarik keluar dari puing-puing reruntuhan, dampak hembusan angin dari pisau itu begitu dahsyat hingga pakaian dalamnya ikut hancur lebur tak bersisa.
Kini, di seluruh Sekte Lingxue, di mana pun ia lewat, semua orang berbisik-bisik membicarakan hal yang tidak ingin ia dengar seumur hidupnya.
Reputasinya hancur lebur lebih parah daripada istana itu sendiri.