NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Mengintai Episentrum

Menjejakkan sol sepatu di atas dahan baja ini bukan perkara mudah. Tumpuannya licin akibat sisa embun berkarat.

Berayun ringan. Wan Chen menarik lututnya ke atas, melontarkan tubuhnya melewati rongga kanopi metalik. Ia merayap tanpa memicu getaran. Sesekali tangannya mencengkeram dahan rapuh di sisi untuk menjaga keseimbangan. Gesekan jaket taktisnya tertelan deru angin mati.

Ledakan memekakkan telinga pecah di depan sana. Kali ini jaraknya kelewat dekat.

Kilatan cahaya merobek kerapatan daun besi. Udara seketika berubah haluan. Bukan sekadar hawa panas dari amunisi plasma yang singgah. Ada tekanan pekat yang merambat paksa lewat celah oksigen tipis di area ini.

Aura dari monster penjaga tingkat tinggi.

Napas Wan Chen tersendat sepersekian detik. Rongga dadanya seolah dihantam balok beton tak kasatmata. Ia memegang dada kirinya refleks.

Bagi hunter kelas bawah, aura sedekat ini adalah vonis mutlak. Pembuluh darah di mata bisa pecah saat itu juga. Gendang telinga robek mengeluarkan darah segar. Pingsan di tempat adalah skenario paling beruntung yang bisa terjadi.

Namun Wan Chen hanya menghela napas panjang. Udara berdebu kembali ditarik masuk ke paru-parunya yang kelelahan.

'Selalu saja menyusahkan,' batinnya pasrah.

Ia mengusap peluh dingin di pelipisnya perlahan. Ritme jantungnya yang sempat kacau dan memompa darah terlalu cepat kini mulai kembali stabil. Otot-otot lehernya mengendur.

Dunia ini punya aturan main yang sangat sepihak. Kekuatan supranatural dari sistem dikenal sebagai Gift. Mayoritas orang tolol di distrik atas sibuk mengejar Gift destruktif. Membakar, membekukan ruang, menghancurkan materi. Semuanya serba mencolok.

Wan Chen tidak peduli dengan pameran sirkus semacam itu. Gift bawaan miliknya sebelum benda parasit bernama Sistem bersarang di tubuhnya sangatlah sederhana. Sesuatu yang ia sebut Hard-Resilient.

Bukan kebal senjata. Bukan pula imortalitas. Ia hanya memiliki ambang daya tahan fisik yang tidak wajar. Luka fatal yang seharusnya membunuh orang normal karena syok trauma, baginya hanya terasa seperti demam berdarah yang sangat menyiksa.

Fisiknya selalu menolak menyerah duluan. Tekanan mental digilas habis oleh rasionalitas praktis yang dingin.

Makanya ia masih berdiri tegak sekarang. Makanya ia berani bertengger di wilayah ring satu episentrum ini tanpa pengawal.

Dahan keras di bawah sepatunya bergetar hebat.

Menggeser titik berat tubuh, ia merapat pelan ke batang utama. Membuka sedikit celah pandang menembus sela daun besi di bawah sana. Matanya memindai keadaan sekitar.

Tebing kecil berlapis semak tajam menjadi pijakannya sekarang. Sudut buta yang sangat sempurna untuk menonton tanpa perlu membeli tiket.

Di bawah sana, pesta bunuh diri sedang berlangsung seru.

"Tahan formasi sisi kiri! Jangan biarkan dia berbalik mengarah padaku!"

Teriakan serak itu memecah dengung logam di udara. Pemimpin skuadron elit yang tadinya melenggang sombong itu kini memberi komando sambil memberondongkan senapan elektromagnetik secara membabi buta.

Lima orang bodoh. Formasi standar akademi. Dua menahan garis depan dengan perisai energi portabel. Tiga lainnya memuntahkan proyektil dari jarak aman di belakang.

Target yang mereka kepung bukan hewan sembarangan.

Beruang Besi Mutan. Tingginya setara bangunan apartemen dua lantai jika sedang berdiri dengan dua kaki belakang. Bulunya bukan lagi helaian rambut organik, melainkan plat baja tebal yang saling mengunci satu sama lain.

Monster itu mengaum marah. Lengkingan suaranya membuat udara di sekitar arena beriak seperti air yang ditimpuk batu.

Satu ayunan cakar raksasanya menghantam telak perisai energi di garis depan.

Retak. Perisai biru menyala itu hancur berantakan menjadi kepingan cahaya.

Hunter pemegang perisai terpental belasan meter ke belakang. Tubuhnya menabrak batang pohon baja hingga punggungnya melengkung tidak wajar. Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat renyah.

Wan Chen menonton adegan itu tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. Matanya tetap datar.

'Benar-benar elit,' batinnya menilai cepat. 'Menahan momentum murni beruang seberat tiga ton dengan perisai statis. Mereka pikir ini cuma simulasi harian.'

Sisa kelompok pemburu itu mulai kehilangan akal. Tembakan laser biru berdesingan liar ke segala arah. Menghantam karapas monster itu bertubi-tubi tapi tidak memberikan penetrasi berarti. Peluru semahal itu hanya meninggalkan noda hangus sekilas di atas plat bajanya.

"Tembak sendinya! Incar celah sendi bahunya cepat!" Teriak si pemimpin lagi. Tangannya gemetar parah saat mencoba memuat ulang sel energi ke dalam ruang senjatanya.

Mendengar itu, Wan Chen mendengus sinis.

Itu bukan strategi yang salah secara tertulis. Memang begitu teorinya di buku panduan militer. Tapi teori usang dari akademi pusat jarang bisa dipakai mentah-mentah di episentrum liar. Beruang mutan itu tidak akan diam berpose menunggu sendinya ditembak dengan manis.

Beruang Besi itu kembali menerjang maju. Menghancurkan pilar pohon yang menghalanginya seolah sedang melibas ilalang kering. Tanah berbatu bergetar hebat setiap kali tapak besarnya mendarat.

Namun, fokus Wan Chen mulai beralih rute.

Ia tidak tertarik menebak siapa yang akan mati lebih dulu di arena itu. Pandangannya sengaja melompati titik pertumpahan darah tersebut. Menelusuri terus ke belakang hingga ke titik asal amukan sang monster.

Di sudut tergelap dari tebing cekung tempat beruang itu bersarang. Terlindung sempurna dari lintasan peluru nyasar yang membabi buta.

Ada tumpukan tulang belulang raksasa di sana. Kering. Memfosil dan dipenuhi debu.

Dan tepat di tengah tumpukan sisa kematian itu, sesuatu tumbuh dan menyala.

Pendarannya merah pekat. Sangat gelap namun terasa hidup. Benda itu memancarkan aura yang bertolak belakang dengan bau karat yang mendominasi udara. Aromanya murni. Hangat.

Sebuah tanaman tunggal berukuran kecil. Kelopaknya menyerupai jalinan pembuluh darah yang berdenyut pelan mengikuti ritme napas kehidupan.

Napas Wan Chen nyaris berhenti di kerongkongannya.

Itu dia barangnya.

Bunga Darah.

Ekstrak vitalitas murni tingkat tinggi yang entah bagaimana lahir dari anomali ekosistem terburuk di planet ini. Benda kecil yang harganya di pasar gelap distrik atas bisa dipakai untuk membeli satu blok apartemen mewah secara tunai.

Tapi bagi orang sepertinya, nilai kelopak itu jauh lebih personal dari sekadar tumpukan angka di rekening.

Sistem parasit di kepalanya punya satu celah menyebalkan. Ada bottleneck stamina yang membatasi kapasitas tempurnya. Batasan itu tak bisa ditembus hanya dengan berburu monster atau latihan fisik. Sistem tersebut menuntut asupan energi biologis tingkat dewa untuk dipaksa naik ke fase berikutnya.

Bunga Darah adalah kunci retasan tersebut. Loophole absolut yang ia cari setengah mati berminggu-minggu ini.

"Satu kelopak saja," gumam Wan Chen sangat pelan. Suaranya menyatu sempurna dengan hembusan angin di sela dahan. "Itu sudah cukup untuk membongkar batasan sialan ini."

Di bawah sana, jeritan panjang kembali memecah fokus.

Satu hunter elit baru saja kehilangan sebelah lengannya dari bahu ke bawah. Beruang itu merobeknya seolah sedang mencabut wortel dari tanah. Formasi mahal mereka hancur lebur tanpa sisa. Kepanikan total merayap naik menelan habis arogansi peralatan canggih mereka.

"Mundur! Lempar granat stasis! Kita mundur sekarang juga!"

Instruksi itu sudah kelewat basi. Monster raksasa itu terlanjur naik darah. Cakar besarnya menyapu tanah. Ia sama sekali tidak berniat membiarkan satu pun serangga penyusup ini keluar dari batas teritorialnya dalam keadaan utuh.

Melihat kekacauan yang semakin parah, Wan Chen menyandarkan punggungnya perlahan ke batang pohon di belakangnya. Ia menyamankan posisi duduknya di atas dahan keras tersebut tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Melipat kedua lengan di dada, ia mengawasi dengan saksama. Sebuah senyum dingin tercetak tipis di sudut bibirnya. Sepasang mata menatap lurus ke arah pembantaian yang sedang berlangsung di bawah.

Ini adalah rantai makanan yang paling wajar. Yang kuat merobek yang lemah. Yang kaya membuang nyawanya secara cuma-cuma demi sekadar gengsi kelas atas.

'Silakan,' batin Wan Chen santai, otaknya mulai menghitung estimasi waktu. 'Lanjutkan saja. Saling bunuhlah kalian sampai benar-benar kehabisan napas.'

Ia hanya perlu diam di sini. Menunggu siapa yang akan tersungkur menjadi bangkai terakhir di atas tanah merah itu. Menunggu dengan sangat sabar hingga sang pemenang tidak lagi punya sisa tenaga, bahkan untuk sekadar mengangkat cakar atau menekan pelatuk senjata.

Baru setelah itu, ia akan turun tangan mengambil kuncinya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!