Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
5 tahun kemudian.
Carisa tidak pernah gugup menghadapi klien baru. Sudah bertahun-tahun ia bekerja sebagai konsultan interior, masuk ke ruangan asing, berbicara dengan orang yang tidak ia kenal, menawarkan visi tentang ruang yang belum ada. Itu bagian dari pekerjaannya. Dan ia selalu bisa melakukannya dengan tenang, dengan senyum yang tepat, dengan kepala yang jernih.
Tapi pagi ini, saat lift di gedung Pratama Property terbuka dan ia melangkah masuk ke lobi lantai dua belas, seperti ada sesuatu yang tidak beres.
Mungkin karena gedungnya terlalu dingin. Mungkin karena ia kurang tidur semalam. Mungkin karena parfumnya ia memakai terlalu banyak tadi pagi, sampai aromanya mengikutinya seperti bayang-bayang.
Carisa merapikan pakaiannya. Mengecek ponsel, jadwal meeting pukul sepuluh, masih lima menit lagi. Ia melangkah ke meja resepsionis, menyebutkan namanya, lalu duduk di kursi tunggu yang menghadap ke deretan pintu kaca di ujung ruangan.
Tangannya memegang map proposal dengan rapi. Dadanya tidak serapi itu.
Ini hanya proyek biasa, ia mengingatkan dirinya sendiri. Klien seperti biasa. Kantor baru seperti biasa.
Lalu pintu kaca di ujung ruangan terbuka. Dan seketika dunia Carisa seolah berhenti sejenak.
Ia mengenalinya bukan dari wajahnya dulu, tapi dari cara ia berjalan. Langkah yang sama. Tenang, tidak terburu-buru, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia pergi. Bahu yang sama. Tinggi yang sama. Dan ketika lelaki itu mengangkat wajahnya.
Reynanda Pratama.
Sudah lima tahun. Lima tahun ia tidak melihat wajah itu. Lima tahun ia mengira sudah cukup jauh meninggalkan semua yang pernah ada, dan ternyata satu detik cukup untuk meruntuhkan semuanya.
Carisa tidak bergerak. Nanda juga tidak, setelah menyadari kehadiran carisa dan mata mereka bertemu pandang.
Mereka berdiri, Carisa di kursi tunggu yang baru saja ia tinggalkan, Nanda di tengah lobi dengan map di tangannya dan seluruh ruangan seolah ikut menahan napas.
Resepsionis mengetik sesuatu di komputernya. Telepon di meja berbunyi lalu berhenti. Seseorang di sudut ruangan tertawa pelan dengan rekan kerjanya.
Semua itu terasa sangat jauh. Yang terasa dekat hanya satu hal, aroma parfum Carisa yang terbawa angin AC, pelan, ke arah Nanda. Dan Carisa melihat persis ketika lelaki itu menyadarinya, bukan dari matanya, tapi dari bahu yang sedikit menegang, dari tangan yang mencengkeram map lebih erat.
Ia ingat. Nanda juga ingat. Tentu saja ingat. Aroma itu tidak pernah berubah.
Nanda yang melangkah lebih dulu. Pelan, terkontrol, seperti seseorang yang sudah melatih dirinya bertahun-tahun untuk tidak menunjukkan apa yang ia rasakan. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Carisa.
Jarak yang sopan. Jarak orang asing.
"Carisa Anindya?" suaranya datar. Profesional. Seperti ia sedang menyapa klien yang baru pertama kali ia temui.
Carisa butuh dua detik untuk menemukan suaranya.
"Reynanda Pratama." Nama itu keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan di tempat yang salah.
Sudut bibir Nanda bergerak tipis. Tapi bukan senyum. Carisa tidak tahu apa namanya.
"Silakan masuk." Ia mengangguk ke arah pintu kaca di belakangnya. "Ruang meeting sudah siap."
Carisa berdiri. Merapikan pakaiannya untuk kedua kalinya, gerakan kecil yang tidak perlu, tapi ia butuhkan untuk meyakinkan tangannya agar berhenti gemetar.
Ia melangkah mengikuti Reynanda. Melewati pintu kaca. Melewati lorong yang panjang dan terang. Melewati foto-foto proyek properti yang terpajang rapi di dinding, gedung-gedung tinggi, perumahan mewah, nama Reynanda Pratama tercetak di sudut setiap bingkai.
Ia membangun semua ini?, pikir Carisa. Dalam lima tahun, ia membangun semua ini?
Dan ia tidak pernah menghubunginya satu kali pun.
Nanda membuka pintu ruang meeting. Mempersilakan Carisa masuk dengan gerakan tangan yang sopan, terlalu sopan, terlalu terlatih, lalu menutup pintu di belakang mereka.
Ruangan itu sunyi. Mereka duduk berhadapan di meja panjang yang terlalu besar untuk dua orang. Carisa membuka map proposalnya. Nanda membuka laptopnya. Dua orang dewasa yang profesional, yang kebetulan pernah saling mencintai, yang kebetulan pernah berbagi ranjang yang sama, yang kebetulan menyimpan masa lalu yang tidak pernah selesai dikubur.
"Jadi," Reynanda memulai, matanya pada layar laptopnya, "kamu yang ditugaskan untuk proyek ini?"
"Iya." Carisa meletakkan proposal di meja. "Ada masalah?"
Reynanda mengangkat matanya. Menatap Carisa untuk pertama kalinya secara langsung sejak mereka masuk ke ruangan ini.
Dan untuk sepersekian detik, hanya sepersekian detik,q bara kecil itu terlihat. Di balik tatapan yang teduh, di balik sikap yang terkontrol, di balik semua yang sudah ia bangun selama lima tahun. lenyap.
"Tidak ada." Ia kembali menatap layarnya. "Mari kita mulai."
Carisa menarik napas pelan. Tidak ada masalah. Tentu saja. Mereka sekarang adalah orang dewasa. Mereka profesional. Mereka sudah menikah dengan orang lain dan masa lalu adalah masa lalu dan semua itu sudah selesai.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak