“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Panggung Sandiwara dan Sorot Lampu yang Menyiksa
Di dalam penthouse Hotel Ritz-Carlton malam itu, kamar rias terasa layaknya ruang eksekusi bagi Alika. Dua penata rias profesional tampak sibuk menyempurnakan penampilannya. Gaun malam haute couture berwarna sapphire blue membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuh yang selalu dibanggakan Narendra di hadapan rekan bisnisnya.
Meski terlihat memukau, gaun itu justru membebani Alika layaknya baju besi yang teramat berat. Kain satinnya yang tebal seolah menghimpit dada, membuat setiap tarikan napas terasa pendek dan menyesakkan. Di balik kemewahan itu, ia diam-diam mengenakan korset penahan postur demi menyangga tulang punggungnya yang mulai terasa kaku dan ngilu sejak sore tadi.
Sepasang sepatu berhak dua belas sentimeter sudah menunggu di sudut ruangan. Hanya dengan menatap ujungnya yang runcing, sendi pergelangan kaki Alika seakan sudah menjerit memprotes rasa sakit yang akan datang.
"Nyonya Pradipta, tatanan rambut Anda sudah selesai," ujar sang penata rambut sambil menyemprotkan hairspray. Penata rambut itu bekerja dengan sangat hati-hati, tanpa menyadari bahwa sanggul elegan yang ia susun sebagian besar ditopang oleh hairpiece untuk menutupi kerontokan parah pada kulit kepala Alika.
"Terima kasih," jawab Alika pendek. Ia mengambil sebotol kecil obat pereda nyeri dosis tinggi dari dalam clutch bag-nya dan langsung menelannya tanpa air saat para penata rias lengah. Ia sadar obat itu berisiko merusak lambungnya kembali, namun ia butuh penawar instan agar tetap bisa berdiri tegak malam ini.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Narendra yang tampil gagah dalam balutan tuksedo bespoke hitam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar sempurna. Auranya begitu mendominasi, seolah menuntut perhatian mutlak dari siapa pun di sana. Tatapannya memindai sang istri dari ujung kepala hingga kaki, lalu sebuah senyum kepuasan yang dingin terukir di bibirnya. Alika tampak sempurna di matanya; tanpa cela, tanpa pucat, dan tanpa kelemahan.
"Waktunya turun," ujar Narendra sambil menyodorkan lengannya.
Alika menyambut lengan itu dan melangkah keluar. Begitu mereka memasuki ballroom utama, rentetan cahaya blitz dari kamera jurnalis langsung menyambar. Kilatan putih yang datang bertubi-tubi itu membuat pandangan Alika mulai berkunang-kunang.
"Tersenyum, Alika. Kamera sedang menyorot kita," bisik Narendra tepat di telinganya. Tangannya melingkar di pinggang sang istri—sebuah gestur yang terlihat manis dan protektif bagi publik, namun Alika merasakannya sebagai cengkeraman yang begitu kuat hingga jemari Narendra terasa menekan tulang rusuknya.
Di dalam ballroom yang disulap bak istana bernuansa emas dan biru, ratusan tamu VIP mulai dari menteri, duta besar, hingga konglomerat papan atas telah berkumpul. Selama dua jam pertama, Alika dipaksa berdiri dan berkeliling menyapa tamu. Ia terus mengulas senyum palsu meski lututnya kian terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
Efek obat pereda nyeri yang ia minum mulai memudar, dan keringat dingin mulai merembes pelan di tengkuknya. Tiba-tiba, suara denting gelas dari atas panggung menghentikan riuh rendah percakapan. Pembawa acara mengumumkan sesi yang paling dinanti: penyerahan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Artha Group.
"Tahun ini, sebagai wujud komitmen pada sektor kesehatan nasional, Artha Group menyumbangkan dana hibah sebesar sepuluh miliar rupiah untuk riset imunologi dan fasilitas rawat inap," suara Narendra menggema di seluruh ruangan saat ia memberikan pidato sambutan, sementara Alika berdiri anggun di belakangnya.
"Untuk itu, kami mengundang perwakilan utama dari mitra strategis kami... Rumah Sakit Medika Utama."
Jantung Alika seolah berhenti berdetak saat nama rumah sakit itu disebut. Ia menoleh ke arah tangga panggung dan melihat seorang pria dengan setelan jas charcoal grey melangkah naik. Pria itu tersenyum ramah, memancarkan karisma yang tenang dan profesional. Ia adalah dr. Raditya.
Mata Narendra yang semula penuh senyum seketika berkilat gelap saat mengenali siapa yang diutus pihak rumah sakit. Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia kembali memasang topeng profesionalnya.
Raditya berjalan menuju tengah panggung. Tatapannya sempat beradu dengan mata Alika selama sepersekian detik. Meski hanya sekejap, insting medis Raditya yang tajam segera menangkap kejanggalan. Di balik riasan tebal itu, ia bisa melihat ketegangan di otot leher Alika dan bagaimana wanita itu bertumpu pada satu kaki untuk menyamarkan beban nyeri.
"Terima kasih atas kepercayaan Artha Group," ucap Raditya saat menerima plakat dari Narendra.
Saat keduanya berjabat tangan di depan puluhan kamera, Narendra mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Raditya. "Saya harap dana ini digunakan dengan benar, Dokter. Dan pastikan para dokter di rumah sakit Anda fokus mengurus pasien, bukan mencampuri urusan pribadi pasien tersebut," desisnya penuh ancaman.
Raditya tidak gentar sedikit pun. Ia membalas jabat tangan itu dengan tekanan yang sama kuatnya, menatap lurus ke dalam mata Narendra yang dipenuhi kecemburuan. "Tugas seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa, Pak Narendra. Terkadang, ancaman terbesar bagi pasien justru bukan berasal dari dalam tubuhnya, melainkan dari lingkungan terdekatnya."
Kalimat itu bagaikan bensin yang menyiram bara api ego Narendra. Begitu sesi foto berakhir, Narendra langsung mencengkeram lengan Alika dengan kasar dan menyeretnya menuju lorong staf yang sepi dan remang-remang.
"Mas... sakit!" ringis Alika, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman suaminya yang sekeras besi.
Narendra mendorong Alika ke dinding lorong dan mengungkungnya hingga tak ada jalan keluar. Napasnya memburu dengan mata yang memerah karena amarah. "Jadi ini alasanmu diam-diam memesan taksi ke rumah sakit tempo hari?" desisnya tajam. "Untuk mengatur pertemuan dengan dokter rendahan itu? Kamu pikir aku bodoh, Alika?!"
"Apa maksudmu, Mas? Dia perwakilan rumah sakit, aku bahkan tidak tahu dia akan datang malam ini!" Alika membela diri dengan tubuh gemetar, bukan hanya karena takut, melainkan karena rasa nyeri di kakinya yang kini benar-benar tak tertahankan.
"Jangan berbohong!" bentak Narendra tertahan. Ia mencengkeram rahang Alika, memaksa wanita itu menatap matanya. "Ingat, Alika, kamu adalah milikku. Aturan open marriage kita bukan tiket bagimu untuk mempermalukanku di depan publik. Sekali lagi aku melihatmu berhubungan dengan dokter itu... akan kuhancurkan kariernya sampai dia tidak bisa memegang pisau bedah lagi!"
Tekanan emosional dari bentakan itu, ditambah kelelahan fisik yang ekstrem, akhirnya memicu ledakan pada sistem imun Alika. Peradangan hebat menyerang seketika. Pandangan Alika mulai menggelap dan telinganya berdenging keras. Cengkeraman di rahangnya tidak lagi terasa sakit karena rasa mati rasa mulai menjalar ke seluruh tubuh.
"Mas..." bisik Alika dengan suara yang nyaris hilang.
Sebelum Narendra sempat melanjutkan ancamannya, mata Alika terpejam rapat. Tubuhnya luruh tanpa tenaga, jatuh tak sadarkan diri tepat di pelukan suaminya yang masih dikuasai amarah buta.