NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 14 : Garpu Rumput dan Sumpah di Bawah Langit

Pak Tua Wu tersenyum puas, duduk tegak menunggu momen Lin Qian terperangah tak berdaya.

Namun alih-alih terkejut atau takjub, Lin Qian hanya membolak-balik Garpu Suci Tujuh Gigi itu dengan wajah datar. Dia mengamatinya sejenak—memperhatikan ukiran-ukiran aneh di gagangnya, menekan ujung giginya dengan ibu jari—lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan bunyi *tak* yang ringan.

"Ujung-ujung gigimu ini... sudah rusak parah ya," katanya pelan sambil menggeleng kecil. "Bentuknya juga tidak rapi. Sudah tidak nyaman dipakai lagi."

Pak Tua Wu membeku.

Kekaguman yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Bahkan lebih parah—pusaka kesayangannya malah dicemooh dan dianggap rongsokan. Lelaki tua itu tersentak hingga nyaris melompat berdiri.

*Barang Tingkat Suci... dianggap sampah begitu saja?!*

Kalau saja dia tidak sadar sepenuhnya bahwa dirinya tak mampu mengukur kedalaman kekuatan Lin Qian, mungkin tangannya sudah bergerak sejak tadi. Ini bukan sekadar penghinaan biasa. Untuk mendapatkan garpu itu, dia telah menghabiskan seluruh harta seumur hidup dan hampir meregang nyawa berkali-kali di ujung pedang orang lain.

Melihat wajah Pak Tua Wu yang memerah padam, Lin Qian sempat bingung sejenak.

*Oh.* Baru kemudian dia mengerti. Dunia ini memang dunia kultivasi, tapi sebagian besar penduduknya tetaplah rakyat biasa. Alat kerja adalah nyawa mereka. Bagi seorang kakek tua yang hidup sederhana, dibilang alatnya rusak dan jelek tentu saja menyakitkan hati.

"Jangan marah dulu," kata Lin Qian sambil melambaikan tangan. "Tunggu sebentar."

Pak Tua Wu tetap menatapnya tajam, matanya berkilat menahan amarah. Namun Lin Qian sudah bangkit dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh.

*Bagus... bagus sekali,* geram Pak Tua Wu dalam hati. *Kau berani meremehkan Garpu Suci Tujuh Gigi sampai sejauh itu. Baiklah—mari kita lihat barang apa yang bisa kau keluarkan yang setara dengan pusakaku!*

Tak lama kemudian, Lin Qian kembali muncul. Di tangannya tergenggam sebuah garpu yang berkilau—besi ditempa rapi, tajam, dan kokoh, tanpa satu pun noda karat.

"Garpu yang kau bawa itu sudah patah dan rusak parah," kata Lin Qian santai sambil berjalan mendekat. "Mendingan dibuang saja. Aku buatkan yang baru."

Kalau tadi amarah Pak Tua Wu sudah tinggi, kalimat itu membuatnya hampir meledak. *Pusaka Tingkat Suci... disuruh dibuang?!*

Dia hendak berdiri dan menuntut penjelasan, tapi langkah kakinya terhenti kaku di tempat.

Di tangan Lin Qian, tergenggam sebuah **Garpu Suci Tujuh Gigi yang sempurna**. Bukan yang berkarat dan rusak seperti miliknya—melainkan yang asli, murni, dan memancarkan aura keagungan yang tenang namun menghimpit. Benda Tingkat Suci yang utuh seratus persen. Aura sucinya yang terpendam bahkan membuat udara di sekitarnya terasa sedikit lebih berat, lebih khidmat.

Napas panjang berat keluar dari mulut Pak Tua Wu.

*Ternyata... dia tidak meremehkan barangku sembarangan.* Sekarang semuanya masuk akal. Rasa marah yang tadi meluap seketika lenyap tak berbekas, digantikan rasa takjub yang mendalam.

"Siapa... siapakah sebenarnya dirimu?" Pak Tua Wu bertanya terbata-bata.

"Menurutmu aku ini siapa?" jawab Lin Qian santai sambil memutar bola mata. Dia mengira orang tua ini kambuh lagi khayalan remajanya.

"Nah, ambillah ini." Lin Qian menyodorkan garpu baru itu sambil tersenyum ramah. "Ku buat lebih kokoh dan tajam dari sebelumnya. Dijamin enak dipakai mencangkul."

Pak Tua Wu diam sejenak. Namun begitu makna kalimat itu benar-benar masuk ke dalam benaknya—kepalanya seperti disambar petir. Dia berdiri dengan gerakan kaku, menatap Lin Qian tak percaya.

"U-untukku?"

"Cuma kepala garpu rumput kok, apa sih masalahnya?"

*Cuma kepala garpu rumput.* Kalimat itu membuat Pak Tua Wu hampir terguling dari bangkunya. Harta karun yang diperebutkan ribuan kekuatan besar, barang yang bisa membuat raja-raja berperang—di mulut orang ini hanya sekadar kepala garpu rumput biasa saja.

"Tentu saja... aku tidak akan memberikannya cuma-cuma lho," tambah Lin Qian tiba-tiba. Dia memang ingin membantu kakek tua yang tampangnya aneh tapi ramah ini. Tapi soal uang, dia sendiri pas-pasan. Seperti peribahasa di kampungnya dulu—*bodhisattva tanah liat menyeberangi sungai, susah payah menjaga dirinya sendiri.*

Pak Tua Wu mengangguk paham, hatinya mulai cemas. Apa yang akan diminta sosok besar ini?

"Kita kan sudah lama berteman," kata Lin Qian sambil tersenyum ramah. "Jadi aku takkan pasang harga pasarannya yang selangit itu. Kuberikan diskon... lima puluh persen. Setengah harga saja."

Tubuh Pak Tua Wu bergetar hebat kembali. *Diskon lima puluh persen untuk benda Tingkat Suci.* Kalau kabar ini menyebar ke dunia persilatan, para tetua dari sekte-sekte besar pun pasti akan saling injak berebutan.

Namun di balik rasa takjub itu, kepahitan perlahan naik ke permukaan. Wajahnya menjadi muram.

Bahkan setengah harga pun... dia tetap tidak mampu membelinya. Air mata hampir menetes dari sudut mata tuanya.

"Ada apa, Pak Tua Wu? Uangnya kurang ya?"

Pak Tua Wu mengangguk berat, wajahnya merah padam.

"Hah..." Lin Qian menghela napas panjang. Ternyata orang tua ini bahkan lebih miskin dari dugaannya. Melihat helaan napas itu, hati Pak Tua Wu makin gugup.

"Tu... Tuan Lin... bagaimana kalau begini saja? Aku masih punya satu urusan berat yang belum selesai di dunia persilatan. Begitu urusan itu kelar, aku bersedia mengabdi seumur hidup, menganggap mu sebagai guruku, dan mengikuti mu ke mana saja. Bagaimana...?"

Lin Qian terkejut sampai nyengir. *Lagi-lagi khayalan remajanya kambuh.* Lagipula, apa gunanya orang tua renta ini ikut-ikutan? Cuma nambah beban makan saja.

Melihat keraguan di wajah Lin Qian, hati Pak Tua Wu makin tenggelam dalam kekecewaan.

"Baiklah," tiba-tiba Lin Qian bersuara lagi. "Gini saja. Kau ambil dulu garpunya. Uangnya kumpulkan pelan-pelan. Nanti kalau sudah cukup, baru bayar. Bagaimana?"

Kalimat itu bagaikan suara surga bagi Pak Tua Wu.

Wajahnya seketika bersinar terang, penuh rasa syukur yang meluap-luap. Tanpa sadar, matanya berkaca-kaca.

"Tuan Lin..." suaranya berat menahan haru. "Kebaikan ini akan kusimpan di dalam hati sampai mati."

Dia bangkit berdiri. Lalu dengan gerakan yang khidmat dan penuh bobot—gerakan seorang petapa tua yang sudah mengembara puluhan tahun di dunia persilatan—dia membungkuk sangat dalam hingga punggungnya sejajar dengan tanah.

"Mungkin engkau tidak akan pernah membutuhkanku selamanya. Tapi aku, Wu Yonghong, bersumpah di sini—"

Suaranya mengeras, berat, dan sarat makna.

"Sekali Tuan Lin memanggil, meski harus melewati api dan air, meski harus mengorbankan nyawa raga ini, aku takkan mundur selangkah pun!"

Begitu kata-kata itu terucap habis, langit di atas Kota Yunzhou yang tadinya mendung bergerak aneh. Awan-awan bergeser dengan cepat ke tepi cakrawala. Dua kilatan petir menyambar tinggi ke angkasa tanpa suara guntur—seolah langit dan bumi sendiri menyaksikan janji itu.

Di dalam batin Wu Yonghong, sebuah Perjanjian Surgawi terbentuk dengan sendirinya. Sumpah sakti yang tak bisa ditarik kembali. Jika dilanggar, kehancuran jiwa dan raga adalah hukumannya yang pasti.

Lin Qian menatap kilatan petir itu dengan bingung, lalu melirik ke arah Pak Tua Wu yang masih membungkuk.

*Cuaca memang lagi tidak menentu akhir-akhir ini.*

Dia mengangguk santai. "Oke, oke. Sudah, jangan membungkuk terus. Mau lanjut main catur tidak?"

Di bawah atap rumah sederhana itu, tanpa Lin Qian sadari, persahabatan biasa yang dibangun di atas papan catur dan secangkir teh dingin—telah berubah menjadi ikatan seumur hidup yang terpatri di bawah saksi langit.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
Hadi Hadi
up up up 💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha terimakasih Thor selalu update.. sehat2 selalu 👍😀
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!