NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: JASMINE KASMARAN

Sementara itu, di sudut lain kompleks RT 04, suasana di kediaman Jasmine justru terasa sangat kontras. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden jendela ruang tamu, menyinari lantai permadani bulu tebal yang menjadi saksi bisu insiden menegangkan malam tadi.

Jasmine sedang berdiri di dekat meja makan, mengenakan daster batik lengan pendek berwarna biru muda yang longgar. Tangannya bergerak telaten menyuapkan beberapa sendok bubur ayam instan ke mulut Nadeo, anak laki-lakinya yang sedang duduk anteng di kursi balita sambil memainkan mobil-mobilan plastik.

"Aam... pinter anak Mama. Habisin ya sayang," ujar Jasmine lembut, mengusap sisa bubur di sudut bibir anaknya menggunakan tisu.

"Mama... Ndut mana?" tanya Nadeo dengan suara cadelnya, matanya mendongak menatap sang ibu.

Jasmine sempat tertegun selama dua detik mendengar pertanyaan polos anaknya. Ingatannya langsung melesat kembali ke detik-detik mendebarkan jam setengah sembilan malam lalu. Wajah tegap Aldi yang panik, deru napasnya yang memburu, dan yang paling membuat dadanya berdesir hebat—sentuhan hangat dan lembut dari bibir pemuda itu yang menekan bibirnya secara tidak sengaja di atas permadani ini.

Seketika, rona merah muda kembali menjalar di sekitar pipi mandas Jasmine. Sebuah senyuman tipis, manis, dan penuh arti reflek terukir di sudut bibirnya tanpa bisa ia tahan. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jendela, menyembunyikan senyum-senyum sendirinya dari pandangan polos sang anak.

"Mas Aldi... Mas Aldi," gumam Jasmine sangat pelan dalam hati, menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan dengan dada yang mendadak kembali berdegup ritmis. "Bisa-bisanya badannya segede itu tapi paniknya kayak bocah ketahuan nyolong mangga."

Jasmine tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Sebagai seorang janda muda yang sudah cukup lama hidup sendiri tanpa belaian kasih sayang, insiden kecelakaan malam tadi benar-benar memberikan kejutan listrik yang luar biasa dahsyat bagi naluri kewanitaannya. Alih-alih merasa marah atau tersinggung, Jasmine justru merasa ada getaran manis yang sudah lama mati di dalam hatinya kini mendadak bersemi kembali. Terlebih lagi, sosok yang melakukan itu adalah Aldi—Ketua Karang Taruna yang selama ini diam-diam ia kagumi karena sifatnya yang bertanggung jawab, sopan, dan memiliki aura kepemimpinan yang kuat di mata warga.

Setelah menyelesaikan urusan sarapan Nadeo dan membiarkan bocah kecil itu kembali bermain di ruang tengah, Jasmine melangkah menuju teras depan. Ia bermaksud menyiram beberapa pot bunga mawar dan melati mini yang berjejer di rak kayu. Pagi ini, langkah kakinya terasa jauh lebih ringan, dan senyuman manis hampir tidak pernah lepas dari wajah cantiknya yang matang.

Sret...

Jasmine membuka pintu pagar rumahnya untuk menyapu sisa-sisa daun kering di pelataran jalan. Baru beberapa ayunan sapu lidi ia gerakkan, pandangannya tidak sengaja menangkap sosok Kenan dan Sendy yang baru saja melintas berboncengan menggunakan motor matic hitam dari arah ujung gang.

Melihat sosok Jasmine yang sedang berdiri di depan pagar, Kenan langsung memperlambat laju motornya dan berhenti tepat di tepi pembatas jalan yang baru saja dicat putih-hitam semalam.

"Selamat pagi, Bu RT!" sapa Sendy dengan suara lantang khasnya, melambaikan tangan dengan senyuman yang sengaja dibuat selebar mungkin.

"Eh, Mas Kenan, Mas Sendy. Selamat pagi. Baru mau berangkat kuliah ya?" balas Jasmine ramah, berjalan mendekat ke arah pagar dengan memegang gagang sapu lidinya.

Kenan mengangguk sopan, mematikan mesin motornya sejenak. "Iya, Bu RT. Ini baru mau ngejar kelas pagi sekalian mau ngetik bab terakhir tugas kelompok."

Jasmine mengedarkan pandangannya ke arah jok belakang motor Sendy yang tampak kosong, lalu mengernyitkan alisnya tipis. Ada sedikit rasa kecewa dan penasaran yang menyelinap di dalam hatinya saat tidak melihat sosok pemuda bertubuh bongsor yang biasanya selalu berada di antara mereka berdua. "Loh... Mas Aldi-nya mana? Kok gak kelihatan bareng? Biasanya kan kalian bertiga selalu satu paket kayak tiga serangkai."

Mendengar pertanyaan sensitif dari Bu RT, Sendy langsung menyenggol siku Kenan, menahan tawa geli yang sudah naik sampai ke tenggorokannya.

Kenan berdeham pelan, mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat profesional dan tidak memancing kecurigaan. "Itu, Bu RT... Aldi hari ini absen gak bisa ikut kuliah dulu. Anaknya tumbang dari tadi subuh."

Jantung Jasmine mendadak mencos mendengar kata 'tumbang'. Senyuman di wajahnya seketika surut, digantikan oleh raut wajah cemas yang sangat kentara. "Tumbang? Maksudnya gimana, Mas Kenan? Mas Aldi sakit?"

"Iya, Bu RT. Panasnya tinggi banget, demam parah sampai gak bisa bangun dari tempat tidur," jawab Sendy ikut menimpali dengan nada yang sengaja dibuat agak dramatis. "Kayaknya efek kelelahan kerja bakti ngecat jalanan semalaman, ditambah... katanya kepalanya pening banget gara-gara mikirin 'tugas penting' yang dia anter semalam, Bu."

Kata 'tugas penting' yang ditekankan oleh Sendy langsung membuat Jasmine paham arah pembicaraan tersebut. Semburat merah kembali muncul di telinga Jasmine. Ia tahu betul, demam tinggi yang dialami Aldi pasti bukan sekadar karena faktor kelelahan fisik, melainkan karena guncangan mental dan rasa bersalah yang luar biasa akibat insiden ciuman tidak sengaja di atas permadaninya semalam.

"Ya ampun... sampai demam begitu," gumam Jasmine pelan, kedua tangannya meremas gagang sapu dengan perasaan yang campur aduk antara gemas, kasihan, dan ingin tertawa. "Sudah diperiksain ke dokter belum, Mas?"

"Tadi baru dikompres sama dikasih obat warung sama Ibunya, Bu," jawab Kenan. "Ya sudah kalau begitu, Bu RT. Kami pamit duluan ya, takut gerbang kampus keburu ditutup sama satpam."

"Oh, iya, iya. Hati-hati di jalan ya, Mas Kenan, Mas Sendy. Terima kasih informasinya," ucap Jasmine melambaikan tangan, menatap kepergian motor kedua pemuda itu hingga hilang di belokan gang.

Setelah motor Kenan dan Sendy tidak lagi terlihat, Jasmine berdiri termenung di depan pagarnya selama beberapa saat. Angin pagi berembus pelan, memainkan ujung dasternya. Pikiran Jasmine kini sepenuhnya terbang menuju kamar tidur rumah Aldi. Bayangan pemuda kekar itu yang sedang mengerang kesakitan di bawah selimut tebal karena memikirkan dirinya membuat hati Jasmine mendadak dipenuhi oleh rasa hangat yang menggelitik.

Ia kembali tersenyum sendiri, kali ini senyumannya terlihat sangat lembut dan penuh kasih sayang dewasa. Jasmine membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam rumah dengan rencana baru yang sudah tersusun matang di dalam kepalanya untuk siang nanti.

"Dasar cowok polos," bisik Jasmine manja pada diri sendiri sembari menutup pintu rumahnya rapat-rapat. "Baru ditempel sedikit aja udah langsung demam tinggi begitu. Gimana kalau nanti beneran sah?"

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!