NovelToon NovelToon
CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Takut

Iring-iringan mobil mewah itu perlahan melintasi gerbang raksasa yang dikawal ketat. Arshy menempelkan hidung mungilnya ke kaca jendela, matanya berbinar takjub menatap halaman luas yang berpendar di bawah cahaya lampu taman yang remang-remang.

"Waaaah! Bunda, lihat! Lumah aki-aki ini becal kali, kenapa ndak dijadikan lapangan bola caja ya?" celoteh Arshy polos.

"Sst, Arshy Sayang. Mulai sekarang panggil Opa Aron ya, bukan aki-aki," tegur Elena lembut, meski batinnya tengah bergejolak memikirkan instruksi dari Bianca.

"Galong? Napa namana milip tempat ail, Bunda?"

Plak!

Arsen menepuk jidat melihat kepolosan adiknya yang tidak ada takut-takutnya pada Kakek buyut mereka.

Kendaraan berhenti tepat di hadapan pilar-pilar megah yang menjulang. Opa Aron turun lebih dulu, langkahnya tetap tegap dan berwibawa meski bertumpu pada tongkat kayu. Ia bergeming di kaki tangga, menanti kehadiran kedua cicitnya.

"Bawa mereka ke kamar lantai dua. Dan kau, Bi Ina, ikut aku ke ruang kerja. Banyak hal yang harus kau pertanggungjawabkan mengenai rahasia yang kau pendam selama enam tahun ini," titah Opa Aron tanpa menoleh.

Pukul sembilan malam.

Elena kini terduduk lesu di tepi ranjang. Kamar itu masih semewah dulu, nyaris tak ada yang berubah, namun baginya ruangan itu terasa bak penjara yang menyesakkan jiwa. Arshy telah terlelap setelah puas bermain air di bathtub, sementara Arsen tampak sibuk dengan laptop di pangkuannya di sudut ruangan.

"Bunda," panggil Arsen lirih.

"Iya, Sayang? Kenapa belum tidur?"

Arsen menutup perangkatnya, lalu menatap ibunya dengan sorot mata yang terlampau dewasa bagi anak seusianya. "Bibi ingin Bunda mendekati Paman bernama Adrian Winston itu, kan?"

Elena tersentak. "Arsen... kamu menguping pembicaraan di mobil?"

"Arsen bukan cuma dengar, Bunda. Arsen juga tahu kalau Paman itu mantan suami Bibi," sahut Arsen sembari beranjak mendekati ibunya.

“Dari mana kamu mengetahui hal itu, Sayang?” tanya Elena saat Arsen duduk di sisinya.

“Dari Arshy, Bunda.” Tatapan Arsen beralih pada adiknya yang tengah mendekap guling dengan lelap. “Arsen juga sudah tahu... kalau dia… Ayah kami.”

Kalimat itu seketika membuat Elena tertunduk membisu.

"Bunda jangan takut. Jika Paman itu berniat jahat pada Bunda, Arsen yang akan buat hancur seluruh sistem perusahaannya dalam semalam,” hibur si sulung kecil sembari menggenggam jemari ibunya.

Elena merengkuh Arsen dalam pelukan erat, air matanya nyaris pecah. "Maafkan Bunda karena tidak pernah jujur padamu. Bunda hanya ingin kalian tetap aman, Nak. Hanya itu.”

“Iya, Bunda. Arsen tahu. Terima kasih sudah melindungi kami. Arsen sayang Bunda,” ungkap bocah itu membalas dekapan hangat sang ibu.

***

Kriek!

Pintu jati yang berat itu tertutup dengan dentuman rendah yang sarat akan intimidasi. Opa Aron duduk di kursi kebesarannya, mengintimidasi Bi Ina yang berdiri menunduk di tengah ruangan. Atmosfer terasa mencekam, hanya denting jam dinding kuno yang memecah kesunyian.

"Enam tahun, Ina. Enam tahun kau menyembunyikan mereka dariku di lubang tikus itu," ucap Opa Aron dengan nada rendah namun tajam.

"Ampun, Tuan Besar... saya hanya menjalankan amanah Non Elena. Mereka sangat takut pada Tuan," bisik Bi Ina dengan suara parau.

Opa Aron menggebrak meja, membuat Bi Ina terlonjak. "Takut padaku?! Lalu mengapa mereka tidak takut hidup dalam kemiskinan?! Sekarang katakan... apa benar kedua anak itu adalah darah daging Adrian Winston?"

Bi Ina memejamkan mata rapat-rapat. "Benar... mereka adalah anak Tuan Adrian, Tuan Besar," jawab Bi Ina jujur, air mata mulai membasahi pipinya yang keriput.

Opa Aron terdiam. Sorot matanya yang tajam sempat goyah sejenak. "Jadi benar... Elena nekat mencuri benih pria itu?” gumamnya, tak menyangka cucunya melahirkan keturunan dari musuh bebuyutannya. Bahkan terlahir kembar.

"Namun ada satu hal yang harus Tuan ketahui. Selama enam tahun ini, Non Bianca sama sekali tidak tahu identitas ayah mereka."

Alis Opa Aron terangkat tinggi. "Maksudmu? Bianca tidak tahu?"

"Tidak, Tuan. Non Elena sangat mengkhawatirkan reaksi kakaknya. Non Bianca hanya tahu mereka adalah hasil dari... 'transaksi' Non Elena dengan pria asing yang identitasnya dirahasiakan. Jika Non Bianca tahu kebenarannya, saya khawatir mereka akan saling bermusuhan."

Opa Aron bersandar, memutar-mutar tongkat peraknya perlahan. Sebuah seringai penuh intrik terukir di wajah tuanya yang renta.

"Jadi Bianca mengira mereka anak orang asing, sementara ia berencana memanfaatkan Elena untuk membalas dendam pada Adrian?" Opa Aron terkekeh sinis. "Menarik. Sangat menarik. Bianca sedang bermain api, tanpa sadar ia tengah membawa dua anak itu pada Ayah mereka."

Opa Aron menatap Bi Ina dengan tajam. “Jangan katakan apapun pada Bianca. Biarkan dia dengan rencana konyolnya. Aku ingin melihat sejauh mana drama ini akan berjalan.”

Bi Ina mengangguk patuh.

***

Hiks…hiks…

Isak tangis pilu terdengar dari kamar Mama Astrid. Sejak kembali dari kantor polisi, ia belum menyentuh makanan. Kinan semakin diliputi kecemasan karena ibunya terus meracaukan sebuah nama.

Arshy? Siapa dia?

TOK! TOK! TOK!

Ketukan itu membuyarkan konsentrasi Adrian yang tengah menanti laporan dari Willy. "Masuk!" titahnya dingin.

“Kak Adrian, Mama masih mogok makan. Mama terus memanggil Arshy! Siapa sebenarnya anak itu, Kak? Apa dia yang menculik Mama di taman?” cecar Kinan tak sabar.

Adrian menghela napas panjang. “Mama tidak diculik, Nan. Cerita Ayah itu tidak sepenuhnya benar,” jelasnya sembari menutup laptop.

“Lalu siapa Arshy?”

“Aku belum bisa memastikan, tapi anak itu memiliki ikatan dengan Bianca.”

“Bianca? Mantan istrimu?” Kinan bergumam, jemarinya menyentuh dagu.

“Apa mungkin selama ini Bianca mengandung anakmu, Kak?”

Adrian mendengus remeh. “Mustahil.”

“Kenapa tidak? Tiga tahun kalian menikah, bisa saja dia hamil sebelum kau menceraikannya,” ucap Kinan bersikeras.

BRAK!

Adrian memukul meja dengan geram. “Selama tiga tahun pernikahan itu, aku tidak pernah menyentuh Bianca, Kinan! Jadi mustahil dia hamil anakku.”

Kinan ternganga, kehilangan kata-kata menghadapi fakta pahit di balik pernikahan kakaknya.

“Setiap kali aku menuntut hakku, dia selalu berdalih datang bulan atau berpura-pura sakit. Dia bahkan tidak pernah membiarkanku menciumnya,” desis Adrian dengan tangan mengepal kuat. Teringat tatapan Bianca yang jijik padanya.

Kinan memperhatikan perawakan kakaknya yang sekarang, lalu teringat rupa Adrian di masa lalu. “Yah, kalau aku jadi Bianca dulu, aku juga mungkin enggan tidur dengan 'anak gajah'. Siapa tahu aku mati terhimpit tubuh tambunmu itu, Kak,” sindir Kinan telak.

“KINAN!” bentak Adrian emosi.

“Maaf, Kak,” lirih Kinan gentar, namun ia segera mendekat dan merangkul lengan kokoh kakaknya. “Jika anak itu bisa mengobati kesedihan Mama, tolong bawa dia ke sini, Kak. Aku rasa dia bisa menjadi obat bagi Mama.”

Adrian menepis tangan adiknya dengan kasar. “Membawa anak itu ke sini? Jangan harap! Itu sama saja aku mengibarkan bendera putih di hadapan musuhku.”

Kinan memutar bola mata jengah. “Kak, dia hanya anak kecil. Mengapa harus dimusuhi? Aku tahu kau membenci Bianca, tapi anak itu tak berdosa. Jangan libatkan dia dalam dendam masa lalumu.”

“Pokoknya aku tidak sudi pencuri itu menginjakkan kaki di rumah ini. Dia sudah merampokku 100 juta, dan aku tidak mau hartaku semakin terkuras!” pungkas Adrian keras kepala.

Kinan mendengus kesal. 

Bicara dengan Kak Adrian benar-benar seperti bicara dengan tembok. Baiklah, kalau dia tidak mau, biar aku sendiri yang menjemputnya. Dasar pelit! Kehilangan 100 juta saja sudah seperti kehilangan seluruh kekayaan!

Atau… dia takut pada anak itu? Ihh.. aku makin penasaran!

— 🌹

1
Dew666
💎💎💎💎
Lisa Halik
🤣🤣🤣🤣arshy
Raisha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tia
bab ini bikin perut kaku ngakak 🤣🤣🤣🤣
Lisa Halik
bodoh sekali bianca..😄arshy kamu kok ada ada saja
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 goooddd
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 pait dong
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
ayah bulat 😂😂😂😂😂 semoga Adrian dengar 😂😂😂😂😂
A R
telolll dongg 🤣🤣
Budi Rahayu
alchy aku padamu ... aku cuka .... aku cuka .... 🫶💖😘
Budi Rahayu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
mukanya mirip pas Adrian masih gendut 🤭 tp imut 😘
PengGeng EN SifHa
Ni anak bener² kebanyakan MAKAN MERCON DEHHHHH🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Rian Moontero
mampiiirrr😍
tia
bilang saja kalo cemburu,,gk usah ngomong mengada Ngada adrian 🤣
mimief
bodo amet..kata elena🤣
mimief
bukan dr kc ijo a
chi...dari tanah sengketa🤣🤣
suryanti1989
ceritanya lucu,bagus dan luar biasa,i like it
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!