NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Malam Kedua & Bahaya Tak Terlihat

Matahari perlahan mulai merosot ke arah barat, sinarnya yang keemasan berubah menjadi merah darah saat menembus celah-celah dedaunan raksasa, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan menyeramkan yang menari-nari di atas tanah hutan yang basah dan berlumut. Suhu udara turun drastis seiring menghilangnya cahaya, dan kabut tebal yang sama seperti kemarin mulai kembali turun, menyelimuti pepohonan dan tanah lapang dengan selimut putih yang dingin dan basah.

Raka dan Bara terus berjalan tanpa henti sepanjang hari, mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin mengecil namun arusnya tetap berbahaya. Mereka sudah menempuh jarak yang cukup jauh, melewati tebing-tebing curam, rawa-rawa dangkal, dan hutan bambu yang rapat dan tajam. Tubuh mereka penuh goresan, luka lecet, dan noda lumpur, namun langkah mereka tetap tegap dan cepat. Rasa lapar yang tadi menyerang hebat kini sudah teredam setelah mereka berhasil menangkap seekor ikan kecil di pinggir sungai dan memakannya mentah-mentah, namun rasa lelah mulai perlahan merayap masuk ke setiap sendi tulang mereka.

"Kita harus berhenti sebentar," ucap Bara pelan sambil menunjuk ke arah sebuah bukit kecil yang tertutup semak belukar rapat namun memiliki tanah yang agak kering dan tinggi. "Hari hampir gelap. Kita tidak boleh berjalan di malam hari lagi, apalagi kita sudah tahu ada orang seperti Dimas yang mengincar nyawa kita. Kita butuh tempat berteduh yang benar-benar aman, tersembunyi, dan sulit didaki musuh."

Raka mengangguk setuju. Ia menatap langit yang makin gelap, lalu melirik ke belakang, ke arah jalan yang baru saja mereka lalui. Bayangan dendam Dimas masih terasa membayangi, seolah ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari balik setiap pohon besar.

"Aku setuju. Tapi kali ini kita tidak cukup hanya bersembunyi," jawab Raka dengan nada serius. "Kita harus membuat pertahanan. Kita harus tahu kalau ada orang atau binatang yang datang mendekat sebelum mereka sempat melihat kita. Malam ini lebih berbahaya dari kemarin. Semua orang di sini sudah putus asa, sudah kelaparan, dan sudah tidak punya rasa takut lagi. Mereka akan membunuh demi sepotong daging atau sekadar untuk menghilangkan pesaing."

Mereka berdua naik ke bukit kecil itu dengan hati-hati. Di bagian atas, di balik rimbunan pohon-pohon besar yang akarnya menjulang ke atas tanah, mereka menemukan sebuah celah kecil yang terlindung dari angin dan tidak terlihat dari bawah. Tempat itu sempit, tapi cukup untuk dua orang, dan satu-satunya jalan masuk adalah dari arah depan yang terbuka lebar, memudahkan mereka mengawasi siapa pun yang datang.

Segera setelah menetapkan tempat itu sebagai markas sementara, mereka mulai bekerja cepat dan diam-diam. Bara mengumpulkan ranting-ranting kering dan duri-duri tajam yang banyak tumbuh di sekitar situ, lalu menyusunnya menjadi pagar kecil dan jebakan sederhana di jalan setapak yang naik ke bukit itu. Sementara itu, Raka mengamati sekeliling dari tempat tinggi, memastikan tidak ada bahaya yang sudah mengintai di dekat situ.

Saat senja berubah menjadi malam pekat, keheningan kembali turun menyelimuti hutan, namun kali ini keheningan itu terasa lebih berat, lebih tegang, dan lebih menakutkan. Tidak ada suara serangga yang bernyanyi seperti malam-malam biasa. Hanya ada suara angin yang berdesir pelan dan suara gemuruh samar sungai di kejauhan. Keheningan yang terlalu sunyi selalu menjadi tanda buruk di alam liar.

"Kau tidur dulu, Raka," bisik Bara sambil duduk bersila di depan celah persembunyian mereka, tangannya memegang erat sebilah tongkat panjang yang ujungnya sudah dipertajam. "Aku yang jaga giliran pertama. Mataku sudah terbiasa melihat dalam gelap. Dan... aku punya firasat buruk malam ini. Seolah ada sesuatu yang besar dan gelap sedang bergerak mendekat."

Raka tidak membantah. Ia tahu sahabatnya itu punya insting alam yang sangat tajam, insting yang jarang salah. Ia hanya mengangguk, lalu duduk bersandar di akar pohon yang keras, pisau tetap tergenggam erat di tangan kanannya, siap digunakan kapan saja dalam sekejap mata.

"Jangan sampai lengah sedetik pun, Bara," jawab Raka pelan. "Dan kalau ada apa-apa... kita berjuang bersama, sampai akhir."

Mata Raka perlahan terpejam, namun kesadarannya tetap mengambang di permukaan, tidak pernah benar-benar terlelap. Di dalam kepalanya, bayangan wajah ibunya terus berputar, menjadi api yang menjaga semangatnya tetap menyala di tengah dingin dan ketakutan ini. Ia harus bertahan. Ia harus pulang. Apa pun yang terjadi.

Waktu berlalu lambat sekali di tengah kegelapan itu. Satu jam... dua jam... hingga tengah malam lewat. Bara masih duduk diam di sana, matanya meneliti setiap bayangan, setiap gerakan daun, setiap suara gesekan tanah yang halus. Napasnya teratur, tenang, namun seluruh otot tubuhnya siap meledak beraksi kapan saja.

Tepat saat jam alam menunjuk lewat tengah malam, telinga tajam Bara menangkap suara itu.

Bukan suara binatang. Bukan suara angin. Tapi suara langkah kaki yang pelan, hati-hati, namun banyak jumlahnya. Langkah kaki yang berusaha tidak bersuara, namun berat dan tidak terlatih. Suara itu datang dari arah timur, bergerak naik perlahan menuju bukit tempat mereka bersembunyi.

Bara langsung menoleh ke belakang, menyentuh bahu Raka dengan cepat namun lembut. Raka terbangun seketika, mata terbuka lebar, siap bertempur.

"Ada yang datang..." bisik Bara hampir tanpa suara, mulutnya mendekat ke telinga Raka. "Banyak orang. Mungkin lima, mungkin enam atau tujuh. Mereka bergerak diam-diam. Mereka mau menyerang secara tiba-tiba."

Raka mengintai diam-diam dari balik celah akar pohon. Di bawah sana, di jalan setapak yang gelap, mulai terlihat bayangan-bayangan hitam yang bergerak merayap naik. Di antara bayangan itu, ada satu sosok yang lebih besar dan berjalan paling depan. Raka mengenali perawakannya yang kekar dan cara berjalannya yang sombong. Itu Dimas. Dan dia tidak datang sendirian. Dia membawa sisa kelompoknya ditambah tiga orang lagi yang pasti dia paksa atau bujuk untuk bergabung demi balas dendam.

"Lihat itu..." bisik Raka dingin, matanya menyala tajam dalam kegelapan. "Dimas membawa enam orang. Dia benar-benar tidak mau membiarkan kita hidup. Dia tahu kita cuma berdua, dia pikir dia bisa menghabisi kita dengan mudah malam ini saat kita sedang tidur."

Bara tersenyum miring, senyum yang dingin dan penuh perhitungan. Ia menunjuk ke arah susunan ranting dan duri yang ia pasang tadi, serta ke arah tanah yang lunak dan miring tepat di depan jalan masuk mereka.

"Biarkan mereka naik. Aku sudah siapkan sambutan hangat untuk mereka. Mereka pikir mereka pintar menyerang diam-diam. Tapi mereka lupa satu hal: di hutan ini, akulah rajanya. Dan mereka baru saja masuk ke wilayahku."

Kelompok Dimas semakin mendekat. Mereka bergerak merayap, tangan mereka mencengkeram pisau dan kayu-kayu tajam. Wajah mereka tersembunyi dalam kegelapan, tapi rasa dendam dan keinginan membunuh mereka terasa menebal di udara. Dimas berjalan paling depan, jantungnya berdebar kencang karena campuran rasa marah dan rasa senang. Ia sudah membayangkan bagaimana caranya ia akan memotong wajah Raka dan Bara perlahan-lahan sebagai balasan atas rasa malunya kemarin.

Saat mereka sampai di bagian bukit yang curam dan sempit, tepat di depan jebakan yang dibuat Bara, Dimas mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Ia menoleh ke kawan-kawannya yang berjumlah enam orang itu, berbisik kasar dan berang.

"Mereka ada di atas sana. Tidur, tidak sadar apa-apa. Begitu aku beri tanda, kita serbu sekaligus. Jangan ada yang lari. Jangan ada yang memberi ampun. Habisi mereka berdua, lalu kita ambil semua yang mereka punya. Ingat... siapa yang membunuh si Raka, aku beri izin mengambil apa saja yang ada di tubuhnya."

Mata mereka semua berbinar haus darah. Kelaparan, rasa takut, dan pengaruh Dimas telah mengubah mereka menjadi kawanan serigala yang ganas dan tidak punya akal sehat lagi.

Dimas mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat.

"SERBUUUU!" teriaknya berbisik keras, lalu ia melompat lari naik ke atas, diikuti kawanan pengikutnya yang berteriak tertahan penuh semangat membunuh.

Namun, langkah pertama mereka adalah langkah terakhir mereka yang ceroboh.

Tepat saat kaki Dimas menginjak tanah yang sudah digemburkan dan ditutup daun kering oleh Bara, tanah itu langsung amblas. Ia berteriak kaget saat kakinya terjepit di antara tumpukan kayu tajam yang tersembunyi di bawahnya, duri-duri besar menancap ke betis dan kakinya, membuatnya meringis kesakitan dan jatuh tersungkur. Di belakangnya, orang-orang yang berlarian naik dengan kecepatan penuh tidak sempat berhenti, mereka saling menabrak, saling injak, dan ikut jatuh berantakan ke lubang jebakan kecil yang penuh duri dan kayu tajam itu.

Suara rintihan kesakitan dan teriakan kaget pecah di keheningan malam. Enam orang itu berantakan di jalan setapak yang sempit, saling menghalangi, terluka, dan panik.

Darah segar mulai menetes ke tanah, bau besi yang amis dan kental langsung menyebar ke udara, terbawa angin malam yang dingin.

Dari atas bukit, Raka dan Bara berdiri tegak di pinggir tebing kecil itu, keduanya tidak bergerak turun, hanya berdiri diam menatap kawanan yang sedang panik itu dengan tenang dan dingin.

"Kalian mencari kami?" seru Raka dengan suara lantang dan jelas, suaranya bergema di antara pepohonan gelap. "Kalian mau datang membunuh kami saat tidur? Itu cara yang sangat pengecut, Dimas."

Dimas yang sedang kesakitan dan marah luar biasa berusaha bangkit, wajahnya berubah merah padam menahan amarah dan rasa malu. Darah mengalir deras dari kakinya yang terluka parah.

"Kau... kau pengecut! Kau berani main curang!" teriak Dimas geram, matanya melotot penuh kebencian ke arah Raka. "Keluarlah! Turun dan lawan aku satu lawan satu seperti laki-laki! Jangan sembunyi di balik jebakan anak kecil!"

Raka tertawa pelan, tawa yang dingin dan merendahkan.

"Curang? Dimas... lihat sekelilingmu. Ini hutan. Ini medan perang. Di sini tidak ada aturan main adil. Yang ada hanya bertahan hidup atau mati. Kau sendiri yang bilang kemarin: yang kuat mengambil milik yang lemah. Kau sendiri yang bilang kau mau membunuh kami saat tidur. Sekarang kau marah karena kau yang jatuh ke dalam perangkapmu sendiri?"

Raka mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya tajam menembus kegelapan.

"Dan ingat satu hal lagi... aku tidak menyebut ini curang. Aku menyebutnya strategi. Sesuatu yang tidak pernah kau punya, karena kau hanya punya otot dan nafsu serakah."

Saat Dimas hendak membalas dengan makian lain, tiba-tiba Bara menyentuh lengan Raka dengan keras, matanya melebar menatap ke arah kegelapan yang lebih dalam di bawah sana, ke arah semak belukar di sisi kanan mereka. Wajah Bara pucat pasi, napasnya tercekat.

"Raka... diam..." bisik Bara dengan suara bergetar, kali ini bukan karena takut pada manusia, tapi karena rasa ngeri yang luar biasa. "Bau darah... terlalu banyak bau darah yang keluar dari mereka... dan baunya itu... sudah memanggil sesuatu yang lain."

Raka langsung diam. Ia menciumnya juga. Bau darah yang kental itu tidak hanya mengundang bahaya, tapi juga memanggil pemangsa terbesar di hutan ini.

Dan tidak lama kemudian, mereka mendengarnya.

Suara itu bukan suara langkah kaki. Bukan suara auman. Tapi suara gesekan berat dan panjang, suara sisik yang bergesekan dengan tanah dan bebatuan, suara napas yang berat dan berdesis panjang, terdengar mendekat dari arah sungai di bawah sana. Suara itu begitu besar, begitu berat, hingga tanah di bawah kaki mereka terasa sedikit bergetar setiap kali makhluk itu bergerak.

Dimas dan anak buahnya yang sedang berteriak dan merintih kesakitan tiba-tiba diam serentak. Mereka juga mendengarnya. Mereka juga merasakan getaran itu. Dan mereka juga mencium bau kematian yang lebih tua dan lebih mengerikan daripada sekadar manusia.

Dari balik kegelapan pekat di bawah sana, muncul sepasang mata besar berwarna hijau menyala, bersinar redup namun tajam, menatap ke arah mereka yang sedang berantakan di jalan setapak. Di belakang mata itu, muncul kepala raksasa yang panjang, ditutupi sisik keras berwarna hitam pekat yang berkilau basah, dan diikuti tubuh raksasa yang panjangnya puluhan meter, meluncur perlahan namun pasti naik ke atas bukit, mendekati sumber bau darah yang segar itu.

Ular raksasa. Makhluk purba raksasa yang menjadi penguasa sejati hutan ini, makhluk yang tidak pernah mereka bayangkan ada di dunia nyata.

Suara desisan panjang dan mengerikan terdengar, memecah keheningan malam. Dimas dan anak buahnya membeku di tempat, mulut mereka terbuka namun tidak ada suara yang keluar, ketakutan mutlak yang melumpuhkan seluruh tubuh dan akal sehat mereka. Pisau di tangan mereka jatuh ke tanah tanpa suara.

"Ular... itu... itu ular raksasa..." gumam salah satu anak buah Dimas dengan suara nyaris hilang, matanya melotot tak percaya.

Dimas, yang tadi begitu berani dan penuh dendam, kini wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan rasa takut yang paling purba meremukkan keberaniannya menjadi debu. Ia ingin bergerak, ia ingin lari, tapi kakinya yang terluka dan rasa takut membuatnya terpaku di tempat.

Makhluk raksasa itu bergerak makin dekat. Kepalanya yang besar terangkat tinggi, memandang rendah kumpulan manusia kecil yang sedang gemetar ketakutan itu. Lidahnya yang panjang dan bercabang dua menjulur keluar, mencium bau mangsa yang berdarah dan tak berdaya itu.

Di atas bukit, Raka dan Bara menonton adegan itu dengan napas tertahan. Bara menggenggam tangan Raka erat-erat, matanya tidak lepas dari makhluk raksasa itu.

"Jangan bergerak... jangan bersuara sedikit pun..." bisik Bara bergetar. "Itu bukan binatang biasa. Itu legenda hutan ini. Makhluk yang tidak tersentuh waktu. Dia tidak peduli pada kita di atas sana, karena kita tidak berdarah dan kita diam. Tapi mereka..."

Bara menunjuk ke arah Dimas dan kelompoknya yang sedang gemetar.

"...mereka sudah menandai diri mereka sendiri dengan darah dan suara. Mereka adalah mangsa yang sudah terbungkus rapi."

Dimas akhirnya menemukan suaranya, teriakan histeris yang memecah malam.

"JANGAN! JANGAN DEKATI AKU! LARI! KITA LARI!" teriaknya histeris, berusaha merangkak mundur, berusaha lari menjauh, tapi tubuhnya berat dan kakinya hancur.

Namun sudah terlambat.

Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu, kepala ular raksasa itu melesat ke depan. Teriakan kaget yang memilukan terdengar, lalu berhenti seketika saat mulut besar penuh gigi tajam itu menelan salah satu pengikut Dimas utuh dalam satu gigitan. Tubuh manusia itu hilang di balik rahangnya yang kuat, tenggelam ke dalam leher panjangnya yang berotot.

Kekacauan mutlak terjadi. Sisa orang-orang itu berteriak, berdesakan, saling injak, berusaha lari ke segala arah, tapi mereka terjebak di jalan setapak sempit itu. Darah semakin banyak tumpah, semakin mengundang rasa lapar makhluk purba itu.

Satu per satu, teriakan-teriakan itu terdengar, lalu terputus dengan cepat. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada ampun. Hanya hukum alam yang paling kejam dan mutlak: pemangsa dan mangsa.

Dimas, sang pemimpin yang penuh dendam dan kebencian itu, akhirnya menjadi yang terakhir. Ia berlutut di tanah, menangis, memohon, memanggil Tuhan, memanggil kawan-kawannya yang sudah mati, tapi tidak ada yang mendengar. Mata hijau besar itu menatapnya tepat di depan wajahnya, dan untuk terakhir kalinya, Dimas melihat bukan wajah musuhnya Raka, melainkan wajah kematian yang sesungguhnya.

"AMPUN! AMPUN AKU!" teriaknya terakhir kali.

Lalu, kegelapan menelannya.

Suara rontakan terakhir terdengar, lalu hening.

Hening yang mutlak, berat, dan mengerikan.

Ular raksasa itu, setelah memakan habis seluruh kelompok Dimas, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi sekali lagi, menoleh ke arah atas bukit, ke arah tempat Raka dan Bara bersembunyi. Pasangan mata hijau itu menatap tajam ke arah mereka, seolah tahu ada manusia lain di sana. Jantung Raka berhenti berdetak sejenak. Ia merasa matanya bertatapan langsung dengan makhluk itu.

Namun, karena tidak ada bau darah baru dan tidak ada suara yang mengundang, makhluk raksasa itu perlahan memutar badannya yang besar dan berat, meluncur kembali ke dalam kegelapan, kembali ke sarangnya di kedalaman hutan yang tidak diketahui manusia, meninggalkan jejak sisik basah dan bau amis yang menyengat.

Raka dan Bara tetap diam, tidak bergerak sedikit pun, tidak bernapas sepenuhnya, sampai suara gesekan tubuh raksasa itu hilang sama sekali ditelan suara sungai.

Lama sekali mereka diam di sana, tertegun, kaku, dan penuh rasa ngeri yang mendalam. Di bawah sana, di jalan setapak itu, tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada mayat. Tidak ada sisa pakaian. Tidak ada darah yang terlihat. Semuanya bersih dimakan habis, seolah tujuh nyawa manusia itu tidak pernah ada di dunia ini.

Hanya ada pisau-pisau yang tergeletak di tanah, dan kenangan mengerikan tentang apa yang baru saja mereka saksikan.

Raka menghela napas panjang, napas yang gemetar dan berat. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. Ia menatap Bara, dan ia melihat ketakutan yang sama besarnya di mata sahabatnya itu.

"Dimas... dan semua orang itu..." gumam Raka parau. "Mereka datang mau membunuh kita... tapi mereka malah memberi makan monster itu. Dan kita... kita hanya diam saja dan menontonnya mati."

Bara mengangguk pelan, matanya masih menatap kosong ke arah kegelapan di bawah sana.

"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, Raka. Kalau kita turun, kita juga akan mati. Kita hanya dua orang. Dan makhluk itu... itu bukan sesuatu yang bisa dilawan manusia dengan pisau kecil. Tadi... itu adalah pertemuan dengan kematian yang sebenarnya."

Bara menoleh, menatap Raka dengan pandangan yang makin keras dan dingin.

"Tapi lihatlah pelajaran ini. Dimas mati bukan hanya karena dia serakah, bukan hanya karena dia jahat, tapi karena dia buta. Dia begitu sibuk memikirkan cara menyakiti orang lain, sampai dia lupa bahwa ada bahaya yang jauh lebih besar dan mengerikan yang mengintai nyawanya sendiri. Dia mati karena dia tidak waspada."

Raka meremas gagang pisaunya kuat-kuat, rasa ngeri perlahan berubah menjadi rasa hormat yang dingin pada alam ini, dan rasa tekad yang makin membara.

"Malam kedua ini hampir selesai," ucap Raka pelan namun tegas. "Besok pagi, saat matahari terbit, adalah batas waktu kita. Kita harus sampai di gerbang utama sebelum matahari tenggelam. Kita tidak punya waktu lagi. Dan kita tidak boleh lagi lengah sedetik pun. Bahaya tidak hanya datang dari manusia atau binatang biasa... tapi dari hal-hal yang bahkan tidak bisa kita bayangkan."

Ia menatap ke arah timur, ke tempat di mana cahaya pagi akan mulai muncul beberapa jam lagi.

"Besok... kita akan keluar dari hutan ini. Hidup-hidup. Dan kita akan menjadi satu-satunya saksi hidup tentang apa yang terjadi di sini malam ini."

Malam itu adalah malam terpanjang, tergelap, dan paling mengerikan dalam hidup mereka. Namun, malam itu juga menjadi batu loncatan terakhir yang mengubah mereka dari sekadar calon prajurit menjadi manusia yang telah melihat wajah kematian dan selamat untuk menceritakannya.

Dan di kejauhan, di balik pepohonan raksasa itu, bayangan-bayangan lain masih menunggu. Masih ada bahaya lain, masih ada ujian lain, dan masih ada rahasia besar yang tersembunyi di balik ujian bertahan hidup ini.

Karena Raka dan Bara belum tahu... bahwa semua yang mereka alami di sini, semua bahaya dan kengerian ini, bukan sekadar ujian acak. Melainkan bagian dari rencana besar yang jauh lebih gelap, jauh lebih kejam, dan jauh lebih berbahaya yang disusun oleh para penguasa di balik layar Garuda Security.

Dan perjalanan mereka baru saja sampai di babak penentuan terakhir.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!