🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Baru Dalam Tubuh Lama
Rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang adalah hal pertama yang Shen Yue rasakan saat kesadarannya perlahan kembali.
Bukan rasa sakit akibat kelelahan bekerja atau sakit kepala karena menumpuk pasien, melainkan rasa nyeri tumpul yang menjalar dari seluruh persendian, seolah-olah tubuh ini baru saja dipukuli berkali-kali dengan kayu kasar. Diiringi dengan rasa haus yang luar biasa dan bau apek yang menusuk hidung—bau debu, jamur, dan sedikit bau busuk yang samar.
Di mana aku?
Pikiran itu berputar kacau di dalam kepalanya yang terasa berat seolah dihantam palu besar. Terakhir kali ia ingat, ia sedang berada di ruang kerjanya di Rumah Sakit Jiwa Kota Pusat, jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua dini hari. Ia sedang memegang berkas tebal berwarna merah, berisi catatan kasus yang paling rumit dan menantang sepanjang kariernya sebagai dokter psikologi berusia 25 tahun. Pasien dengan gangguan identitas disosiatif tingkat lanjut, kasus yang membuatnya begadang berhari-hari.
Lalu, tanah berguncang. Langit-langit gedung bertingkat itu retak, suara teriakan orang-orang bercampur dengan bunyi runtuhan bangunan, dan sebelum ia sempat berlindung, kegelapan total menelannya.
Shen Yue mencoba membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat dan lengket, seolah ditempeli lem kering. Saat pandangannya mulai fokus, pemandangan yang terlihat membuatnya menahan napas, seolah jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Ini bukan ruangan kerjanya. Bukan pula ruang gawat darurat rumah sakit.
Di hadapannya hanya ada dinding kayu yang kusam, penuh lubang rayap, dan jaring laba-laba yang bergelantungan di sudut langit-langit rendah. Cahaya masuk samar-samar dari celah-celah jendela kayu yang retak, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Lantai tempat ia berbaring bukanlah kasur empuk dengan seprai bersih, melainkan tikar anyaman yang sudah tipis dan kasar, berbau tanah lembap.
Shen Yue duduk perlahan, menahan rasa pusing yang mendera. Ia menatap ke bawah, melihat tubuhnya sendiri, dan matanya membelalak kaget.
Tangan yang terlihat di hadapannya bukanlah tangannya.
Tangannya yang biasa—tangan yang sering menulis resep, memegang stetoskop, dan terawat dengan baik—adalah tangan yang ramping namun berisi, dengan kulit putih bersih khas wanita kota. Namun yang dilihatnya sekarang adalah sepasang tangan yang kurus, tulang-belulangnya menonjol jelas, kulitnya kasar, penuh kapalan, dan ada beberapa luka memar serta lecet yang belum kering di pergelangan tangan dan jari-jarinya. Kulitnya juga terlihat lebih gelap dan kusam, seolah sering terpapar matahari terik berjam-jam setiap harinya.
Dengan langkah gontai namun penuh rasa ingin tahu—dan sedikit waspada, sifat dasar seorang dokter yang tidak mudah panik—Shen Yue bangkit berdiri. Kakinya gemetar sedikit karena kelemahan tubuh ini, namun ia tetap berjalan menuju cermin retak yang tergantung miring di dinding dekat pintu.
Saat ia menatap pantulan dirinya di sana, napasnya tertahan di kerongkongan.
Wajah yang menatap balik bukan wajah Shen Yue.
Itu adalah wajah seorang gadis muda, berusia sekitar dua puluh tahun, dengan fitur wajah yang sangat halus dan cantik alami. Alisnya berbentuk bulan sabit, matanya berwarna cokelat pekat dan berbentuk daun persik, hidungnya kecil dan mancung, serta bibirnya berbentuk mawar yang tertutup rapat. Namun, keindahan wajah itu terhalang oleh wajah yang pucat pasi, lingkaran hitam di bawah mata, serta sorot mata yang kosong, takut, dan penuh keputusasaan. Rambut hitam panjangnya kusut dan berantakan, terikat asal-asalan di belakang kepala.
Su Xinyi...
Sebuah nama melintas begitu saja di benaknya, disusul oleh aliran ingatan yang bukan miliknya, yang masuk deras dan menyakitkan ke dalam kepala Shen Yue, seolah dua kepingan teka-teki yang berbeda ukuran dipaksa menyatu.
Dari potongan-potongan ingatan itu, Shen Yue dengan cepat mengumpulkan fakta.
Pemilik tubuh ini bernama Su Xinyi. Gadis berusia dua puluh tahun, yatim piatu sejak usia sepuluh tahun setelah kedua orang tuanya meninggal dunia karena "kecelakaan". Ia mewarisi sebuah toko bunga kecil di pinggir jalan utama kota ini. Namun, hidupnya sama sekali tidak bahagia. Ia tinggal bersama keluarga saudara ayahnya, Paman Lin De dan Bibi Wang Cui, serta putri mereka, Lin Hongmei.
Dan keluarga itu... adalah neraka baginya.
Pasangan suami istri itu serakah, pemalas, dan kejam. Mereka mengambil seluruh keuntungan dari toko bunga yang dikelola Xinyi sendiri, memaksanya bangun sebelum matahari terbit dan baru diizinkan tidur saat malam larut, sementara mereka bersantai di rumah, makan enak, dan memanjakan putri mereka yang manja dan sombong, Lin Hongmei. Xinyi diperlakukan tidak lebih baik dari pembantu rendahan, sering tidak diberi makan, dipukuli, dimaki, dan dihina sebagai anak pembawa sial.
Bahkan kemarin sore, Xinyi dipukuli oleh Bibi Wang hanya karena ia menjual satu ikat bunga mawar untuk membeli sedikit obat penurun demam karena tubuhnya terasa panas dingin. Bibi Wang marah besar karena merasa uang itu adalah hak miliknya, bukan milik Xinyi.
Dan malam itu, Su Xinyi yang sudah lelah, sakit, dan putus asa, berbaring di kamar pengap ini sambil berdoa agar ia mati saja, hingga akhirnya napasnya berhenti perlahan... dan saat itulah jiwa Shen Yue masuk menggantikannya.
Shen Yue menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Rasa bingung dan kaget perlahan digantikan oleh ketenangan dingin dan analisis tajam, sifat yang sudah tertanam kuat dalam dirinya selama bertahun-tahun menjadi dokter psikologi.
Jadi, ini namanya perpindahan jiwa. Transmigrasi. Hal yang sering ia baca di novel-novel fiksi, namun kini terjadi padanya.
Ia tidak tahu mengapa, dan ia belum tahu caranya kembali. Namun, satu hal yang pasti: Shen Yue bukanlah Su Xinyi.
Gadis malang ini mungkin lemah, penurut, dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh orang lain. Tapi Shen Yue? Dokter psikologi yang tegas, cerdas, berani, dan tidak pernah membiarkan siapa pun menindasnya, baik pasien, atasan, maupun orang asing? Itu adalah hal yang mustahil.
"Baiklah, Su Xinyi," bisik Shen Yue pelan, suaranya sedikit parau namun tegas, matanya menatap tajam ke pantulan dirinya di cermin retak itu, seolah berbicara pada jiwa gadis itu yang telah pergi. "Karena nasib mempertemukan kita, dan karena sekarang aku menempati tubuhmu... tenanglah. Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injakmu lagi. Hutang yang kau punya, penderitaan yang kau terima... aku akan menagihnya kembali satu per satu. Berlipat ganda."
Belum sempat ia membalikkan badan, suara teriakan melengking dan kasar terdengar dari luar kamar, disusul bunyi pintu yang ditendang keras hingga berdebam.
KRAK!
Pintu kamar kayu itu terbuka paksa. Berdiri di sana seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dengan wajah yang keras dan mata yang berkilat serakah. Itu adalah Bibi Wang Cui. Di belakangnya, terlihat bayangan pria kurus bermuka licik, Paman Lin De, dan di sisi lain, berdiri seorang gadis muda berwajah cantik namun bermulut tajam dan tatapan sinis, Lin Hongmei.
"Itu dia anak pembawa sial itu! Masih saja berbaring?!" Bibi Wang berteriak keras, suara cemprengnya memecah keheningan ruangan. Ia melangkah masuk dengan kasar, menunjuk ke arah Shen Yue dengan jari telunjuk yang gemetar karena marah. "Pikir kau bisa berpura-pura sakit agar tidak bekerja hah?! Kemarin kau berani-beraninya mengambil uang hasil penjualan tanpa izin kami! Siapa yang memberimu hak, hah?!"
Di belakangnya, Lin Hongmei tertawa mencemooh. "Ibu, jangan buang waktu bicara sama dia. Dasar anak yatim tidak tahu diri. Sebaiknya kami serahkan saja dia ke Tuan Zhang dari rumah bordil itu. Katanya dia masih menawar harga. Dengan wajah cantiknya itu, pasti dia akan laku mahal, dan kita bisa dapat uang banyak."
Mendengar ucapan itu, Paman Lin De yang diam saja sejak tadi, mengangguk setuju dengan wajah serakah. "Benar juga kata Hongmei. Dia cuma membebani kita. Sudah besar, makan kami, tidur di rumah kami, tapi malah mencuri uang. Lebih baik dijual saja, selesai masalah."
Ingatan dari Xinyi kembali berputar di kepala Shen Yue. Rencana itu memang sudah ada. Keluarga jahat ini berniat menjual Su Xinyi diam-diam, menukarnya dengan sejumlah koin emas demi kepuasan diri mereka sendiri.
Di hadapan ketiga orang yang mengerikan ini, Su Xinyi yang asli pasti sudah gemetar ketakutan, menangis, dan memohon belas kasihan. Tapi kini, yang berdiri di hadapan mereka adalah Shen Yue.
Alih-alih mundur atau menunduk takut, Shen Yue justru mengangkat dagunya perlahan. Ia menatap lurus ke arah Bibi Wang dengan pandangan yang begitu tenang, begitu dingin, dan begitu tajam, seolah sedang menilai sekumpulan pasien yang mengalami gangguan kepribadian dan narsisme parah. Tatapan itu begitu kuat hingga membuat langkah Bibi Wang yang hendak mencengkeram bahunya terhenti di udara.
Ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu. Aura yang dulu lemah dan takut, kini berubah menjadi sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang.
Shen Yue tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang biasa ia gunakan saat menghadapi orang yang berusaha memanipulasinya.
"Siapa yang memberi hak Anda untuk membuka pintu kamarku dengan cara kasar, Bibi?"
Suaranya tidak keras, tidak berteriak, tapi berat, tegas, dan penuh wibawa. Suara itu seolah menampar wajah ketiga orang di depannya.
Bibi Wang ternganga, matanya melotot tidak percaya. "Kau... kau berani bicara nada seperti apa padaku?!"
"Saya bicara sesuai apa yang pantas Anda terima," jawab Shen Yue santai. Ia melangkah maju satu langkah, membuat Bibi Wang secara refleks mundur selangkah karena terkejut. "Mengenai uang yang saya gunakan kemarin... itu adalah uang hasil keringat saya sendiri. Toko bunga itu adalah warisan dari orang tua kandung saya, tertulis jelas nama saya di atas surat tanah dan surat kepemilikan. Bukan nama Anda, bukan nama Paman, dan tentu saja bukan nama putri Anda yang manja itu."
Shen Yue melirik sekilas ke arah Lin Hongmei yang wajahnya sudah memerah karena marah mendengar kata "manja".
"Dan mengenai rencana Anda menjual saya ke rumah bordil..." Shen Yue melanjutkan, suaranya menurun satu oktaf, menjadi dingin dan mengancam. Ia menatap tajam ke arah Paman Lin De yang paling diam namun paling licik. "Apakah Anda lupa? Di kota ini ada hukum. Ada pejabat daerah, ada hakim, dan ada pasukan penjaga kota. Jika saya hilang atau dijual ke tempat semacam itu... menurut Anda, apa yang akan terjadi pada kalian saat kebenaran terungkap? Pengkhianatan terhadap anggota keluarga, perdagangan manusia, dan penipuan hak warisan... hukuman untuk itu adalah cambuk seratus kali dan diasingkan ke tambang batu sampai mati. Apakah Anda siap untuk itu, Paman?"
Paman Lin De menelan ludah. Wajah pucatnya kini semakin pucat. Ia tahu apa yang dikatakan gadis itu benar. Selama ini mereka bisa menindas Xinyi karena gadis itu diam saja dan takut bicara pada siapa pun. Tapi sekarang... gadis ini berubah menjadi orang lain. Cerdas, berani, dan tahu hukum.
"Kau... kau gila! Kau sudah gila!" seru Bibi Wang, meski suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba memukul pipi Shen Yue dengan punggung tangannya. "Berani kau mengancam kami?!"
Namun, sebelum tangan kasar itu menyentuh kulitnya, Shen Yue dengan gerakan cepat dan terlatih—teknik pertahanan diri yang ia pelajari di dunia modern—menangkap pergelangan tangan Bibi Wang. Ia memutarnya sedikit, menekan tepat di titik saraf yang membuat rasa sakit menjalar tajam hingga ke bahu.
"Ahhh! Sakit! Lepaskan!" Bibi Wang meringis kesakitan, wajahnya memerah menahan ngilu.
"Saya sudah bilang, jangan coba-coba kasar," bisik Shen Yue tepat di telinganya, nada bicaranya lembut namun mengerikan. "Dari hari ini, aturan di sini berubah. Kalau kalian mau tinggal di rumah ini dan makan dari hasil toko bunga ini... ikuti aturanku. Kalau tidak... silakan keluar dan cari makan sendiri. Saya tidak keberatan mengusir kalian keluar."
Shen Yue melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Bibi Wang terhuyung mundur ke pelukan suaminya.
Suasana menjadi hening seketika. Paman Lin De, Bibi Wang, dan Lin Hongmei hanya bisa menatap Shen Yue dengan rasa takut yang bercampur bingung. Gadis yang selama ini mereka injak-injak, kini berdiri tegak di depan mereka dengan aura penguasa.
Shen Yue merapikan lengan bajunya yang kusam, lalu berjalan melewati ketiga orang itu menuju pintu keluar.
"Sekarang, minggir. Saya mau ke toko bunga. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Saat ia melangkah keluar dari rumah tua itu, menuju halaman kecil tempat toko bunga berdiri, matahari pagi menyapa wajahnya. Udara segar masuk ke paru-parunya. Di dalam hatinya, Shen Yue tahu bahwa hidupnya yang baru dan penuh tantangan baru saja dimulai.
Di dunia asing ini, di negeri bernama Alam Shenglong ini, ia bukan lagi sekadar dokter psikologi. Ia adalah pemilik jiwa baru yang tidak akan tunduk pada siapa pun.
Dan jauh di sudut kota itu, di balik tembok tinggi dan pagar besi berliku, di kediaman termegah yang penuh dengan aura dingin dan kekuasaan, seorang pria tinggi berwajah tampan namun mengerikan sedang duduk diam di kursi utama. Matanya yang tajam dan gelap menatap kosong ke luar jendela, seolah bisa melihat jauh hingga ke toko bunga kecil itu.
Ia merasakan ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang menarik, sesuatu yang berbeda.
Pria itu tersenyum miring, senyum yang mengerikan namun juga penuh rasa ingin tahu.
"Jiwa yang menarik..." gumamnya pelan, suaranya berat dan rendah. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu, Nona Bunga."
Dan takdir mereka, mulai hari ini, terikat erat oleh kelopak bunga yang indah namun penuh duri tajam.