NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Langkah Menuju Kenyamanan

Bilah logam itu kembali bersih. Tidak ada sisa noda merah menempel.

Wan Chen mengusap pisau taktisnya ke permukaan beton berdebu untuk kesekian kalinya. Jari telunjuknya yang kasar memeriksa ketajaman ujung baja tersebut. Masih layak pakai.

Sistem di dalam otaknya sudah mengunci rapat inti kristal ganda miliknya. Sepenuhnya aman dari intaian mata serakah pengerat sektor.

Berjongkok perlahan, ia meraup segenggam debu puing. Tanah kotor itu diusapkan merata ke bagian depan jaket bututnya. Mengotori kainnya secara sengaja untuk menutupi sisa percikan darah hitam yang menolak mengering.

'Tampil terlalu bersih sehabis berburu sama saja pasang papan target di punggung,' keluhnya dalam hati. Pemukiman kumuh Sektor Luar tidak mengenal batasan privasi.

Bau uang sedikit saja bisa memancing rombongan preman kelas teri atau hunter kelaparan.

Ia menghela napas panjang. Kakinya perlahan melangkah mundur, menjauh dari empat onggok daging mutan yang mulai dihinggapi lalat pemakan bangkai.

Urusan di lokasi ini sudah selesai.

Pasar loak di perbatasan distrik kumuh selalu bau pesing. Udara sore berbaur dengan asap sisa pembakaran sampah sintetis.

Kali ini ia sengaja mengabaikan rute kedai Paman Zhao yang biasa ia singgahi. Pria tua itu terlalu banyak omong. Terlalu sering bertanya asal-usul barang.

Langkah kakinya membelok tajam ke gang sempit yang dipenuhi tenda terpal bolong. Berhenti tepat di depan meja kayu lapuk yang memajang suku cadang senjata bekas.

Itu kios perlengkapan Tuo Lao.

"Ada barang?" tegur pria botak di balik meja itu. Suaranya serak parah. Sebatang rokok lintingan menempel pasrah di sudut bibirnya yang kering.

Wan Chen tidak langsung merespons. Matanya menyapu cepat ke sekeliling lorong sempit. Sepi. Hanya ada suara deru kipas penyaring udara rusak dari atap gedung sebelah.

Tangan kirinya merogoh saku celana kargo pura-pura mencari sesuatu, padahal otaknya sedang memanggil perintah akses dimensi. Tiga buah kristal keruh meluncur mulus ke dalam kepalan tangannya.

Ketukan pelan terdengar saat ia meletakkan tiga Core standar itu di atas meja kayu.

"Kau mau terima ini?" tanya Wan Chen lugas.

Tuo Lao menaikkan sebelah alisnya. Mata tuanya yang kusam langsung menganalisis barang dagangan tersebut. Abu rokok jatuh mengenai kerah bajunya.

"Standar," gumam Tuo Lao datar. "Kualitas biasa. Pendarannya lumayan stabil untuk ukuran rongsokan perbatasan."

"Angkanya." Wan Chen malas berbasa-basi. 'Cepat selesaikan transaksinya,' batinnya lelah.

Pria botak itu mendengus pelan. Tangannya menarik tuas laci kasir yang berderit nyaring beradu dengan logam karatan.

"Paketan. Seribu lima ratus kredit tunai," tawar penjaga kios itu. Terdengar pelit, tapi angka itu masih masuk akal untuk standar pasar gelap.

"Dua ribu. Kau tahu barang ini utuh, tidak ada retakan sedikit pun di selaput intinya," bantah Wan Chen tenang. Nada suaranya tidak menunjukkan kepanikan. Murni hitung-hitungan dagang.

Tuo Lao menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Mencari celah keraguan atau keputusasaan dari postur tubuh pelanggannya. Nihil.

Tubuh Wan Chen kaku menyerupai tiang lampu jalanan yang mati total.

"Seribu delapan ratus. Harga mati," pungkas Tuo Lao. Ia melemparkan segepok uang kertas lecek berlapis plastik tipis ke atas meja.

Mata Wan Chen menatap tumpukan kertas kotor itu sekilas. Ia menyapunya dengan satu sapuan tangan cepat. Uang itu masuk ke dalam saku.

Dalam sepersekian detik, lembaran kredit itu ditelan habis oleh Penyimpanan Dimensional. Lenyap tanpa jejak beban fisik.

"Urusan selesai," pamit Wan Chen. Tubuhnya berputar meninggalkan tenda bau tersebut.

Tuo Lao hanya menggaruk dagunya yang gatal sambil menghembuskan asap tebal. Menatap punggung pemuda kurus itu menjauh ditelan keramaian pasar.

Lumpur kehitaman menciprat mengenai ujung sepatunya yang sudah aus. Jalanan pemukiman kumuh ini memang tidak pernah benar-benar kering.

Bau limbah buangan limbah cair menusuk langsung ke pangkal hidung.

Namun anehnya, udara beracun ini tidak lagi terasa mencekik lehernya.

Wan Chen berjalan stabil membelah keramaian lautan manusia. Orang-orang berwajah tirus menatapnya dari balik gubuk reyot bermaterial seng karatan. Tatapan putus asa yang biasa ia kenal.

Biasanya, ia akan menundukkan pandangan. Berusaha membaur menjadi bayangan jalanan agar tidak dicegat oleh kelompok pemalak area barat.

Tapi hari ini posturnya tegak. Jari-jarinya di dalam saku celana mengelus kekosongan yang terasa sangat aman.

Margin kekayaannya sudah melampaui batas kewajaran berkat fungsi duplikasi yang bersarang di kepalanya. Kapital cair aman di ruang tak kasatmata. Aset kristal unggulan masih utuh menanti waktu yang pas untuk ditukar.

'Gubuk reyot, jatah air keruh berlumut, antrean bubur dari sisa tepung sintetis,' batinnya merinci daftar rutinitasnya selama ini. Bibirnya menyunggingkan senyum masam.

Semuanya tiba-tiba terlihat seperti lelucon basi.

Pemukiman kumuh ini bukan lagi penjara yang menguncinya. Tempat ini sekadar halte persinggahan hancur yang masa sewanya sudah tamat. Titik awal yang sangat layak untuk ditendang dari memori.

Ia melewati persimpangan gang yang seharusnya mengarah ke kamar sewaannya. Sama sekali tidak ada keraguan saat kakinya melangkah lurus melewatinya.

Tidak ada satu pun barang berharga yang tertinggal di lubang tikus bau itu. Pakaiannya melekat di badan. Hartanya bersarang di dimensi lain.

Tujuannya kini bergeser tajam ke arah utara. Mengarah lurus pada tembok beton raksasa yang menjulang membelah langit kota buatan.

Gerbang perbatasan.

Lampu sorot kuning menyapu aspal jalan yang perlahan berubah mulus tanpa retakan. Di depannya, Gerbang Sektor Tiga berdiri pongah menantang logika kelas bawah.

Batas fisik mutlak antara Zona Aman yang steril dan neraka pemukiman luar. Tempat berkumpulnya para elite berduit dan udara disinfektan.

Wan Chen menghentikan langkahnya tepat sepuluh meter dari pos penjagaan. Jaket bututnya yang berlumur debu terlihat sangat merusak pemandangan estetika gerbang tersebut.

Dua orang penjaga berseragam zirah polimer hitam langsung menyilangkan senapan laras panjang mereka ke depan dada. Menutup akses masuk secara agresif.

"Berhenti di sana, Gembel," bentak salah satu penjaga dari balik helm pelindungnya. Nada suaranya memancarkan arogansi yang mendarah daging.

Penjaga kedua mengambil satu langkah maju. Ujung laras senapannya diturunkan sejajar dengan perut Wan Chen.

"Kau buta arah atau memang cari mati?" tegurnya kasar. "Ini akses masuk Distrik Atas. Bukan tempat antre donasi baju bekas. Putar balik sana."

Otot wajah Wan Chen sama sekali tidak berkedut. Ancaman proyektil kaliber besar di depan perutnya tidak lebih mengerikan dari rahang monster mutan tadi siang.

Ia hanya berdiri. Menatap lurus ke arah kaca visor sang penjaga.

"Berapa tol masuk harian untuk non-residen?" tanyanya datar. Suaranya terdengar bosan. Murni keluhan orang yang ingin segera tidur.

Dua penjaga itu saling melirik selama tiga detik penuh. Penjaga pertama lantas tertawa meremehkan, suara tawanya terdistorsi alat komunikasi helm.

"Tiga ratus kredit tunai," jawab penjaga pertama sinis. "Kau mau bayar pakai sisa umurmu?"

'Biaya perampokan legal,' rutuk Wan Chen dalam hati.

Otak pragmatisnya langsung memotong saldo dari hasil transaksi Tuo Lao barusan. Tiga ratus dari seribu delapan ratus. Sisa likuiditasnya masih sangat sehat.

Tangan kanannya perlahan merogoh saku jaket bagian dalam.

"Jangan macam-macam! Tarik pelan-pelan tanganmu!" bentak penjaga kedua mulai tegang. Jari telunjuknya sudah menekan pelatuk senapan setengah jalan.

"Tenang. Aku tidak bawa peledak rakitan," balas Wan Chen lelah.

Tangannya keluar dari saku dengan gerakan sangat santai. Tiga lembar uang kertas pecahan seratus kredit terlipat rapi dijepit di antara jari telunjuk dan tengahnya.

Bersih. Baru. Kondisi fisiknya sangat kontras dengan pergelangan tangannya yang kotor oleh debu aspal.

Ia mengulurkan lembaran tunai itu menembus celah di antara dua laras senapan. Mematung menunggu tanpa protes.

"Buka gerbang besinya."

Kedua penjaga itu terdiam kaku. Helm mereka menunduk menatap lembaran kredit resmi tersebut seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Penjaga kedua menurunkan moncong senapannya pelan-pelan.

Uang tunai cair berbicara lebih keras dari aturan konyol mana pun.

Penjaga pertama merampas uang itu dengan kasar, mengecek keaslian hologramnya sebentar. Tangannya yang berlapis sarung tangan taktis kemudian menekan panel kode di pilar dinding beton.

Suara hidrolik mesin berdesis memekakkan telinga.

Engsel baja setebal setengah meter itu bergeser lambat. Terbuka membelah jalan raya, memperlihatkan lorong transisi bercahaya putih neon.

Hembusan angin sejuk beraroma parfum buatan langsung menampar wajah kotor Wan Chen. Udara kota yang bisa dibeli dengan uang.

Langkahnya kembali berayun. Tenang. Melintasi garis batas aspal menuju sisi kehidupan yang sama sekali baru.

Deru mesin hidrolik kembali memutar roda gigi raksasa di belakangnya. Menutup celah pandangan perlahan-lahan. Memutus total jeritan samar dan bau busuk Sektor Luar dari punggungnya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!