Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Lelang yang Heboh dan Kekayaan yang Tak Disangka
Hari lelang akhirnya tiba. Mu Chen berangkat menuju Paviliun Lelang Emas — tempat paling bergengsi di ibu kota kerajaan. Ia mengenakan jubah sekte yang rapi, tapi tetap membawa keranjang kecil berisi bekal makanan dan air minum seperti biasa. Bersamanya ada Tetua Qingyun sebagai pendamping resmi.
Sampai di depan paviliun, Mu Chen tertegun melihat betapa megahnya bangunan itu. Di depan gerbang sudah berjajar banyak kereta mewah dan pengawal bersenjata — jelas terlihat bahwa para peserta adalah orang-orang berkedudukan tinggi.
________________________________________
Mereka masuk ke ruang pendaftaran. Di sana, seorang pria paruh baya berpakaian sangat rapi sedang memeriksa daftar dengan teliti. Ia adalah Tuan Hao — manajer dan ketua pelaksana lelang ini, yang terkenal sangat teliti dan berpengalaman.
"Selamat datang. Untuk keperluan apa anda mendaftar?" tanya Tuan Hao sopan namun tegas.
Tetua Qingyun menjawab: "Kami mewakili Sekte Angin Hijau, dan ini adalah pembuat barang yang akan dilelang hari ini — Tuan Mu Chen."
Mendengar itu, mata Tuan Hao sedikit melebar. Ia menatap Mu Chen dari atas ke bawah — terlihat muda, sederhana, dan tidak ada aura kesombongan sedikit pun.
"Inikah orang yang membuat pil ajaib yang bisa mengembalikan keremajaan? Penampilannya sungguh tidak terduga," pikirnya dalam hati.
Setelah memeriksa dokumen, Tuan Hao tersenyum ramah: "Baiklah. Sebagai pembuat barang langka, anda berhak mendapatkan hak istimewa VVIP — bisa duduk di ruangan khusus, mendapatkan laporan langsung, dan tidak dikenakan biaya administrasi apa pun."
Mu Chen matanya berbinar mendengar kata "tidak dikenakan biaya": "Baguslah! Terima kasih. Kalau begitu saya duduk di ruang khusus saja ya."
________________________________________
Persaingan yang Sengit
Pintu ruang lelang utama dibuka. Ruangan itu luas dan mewah, dipenuhi meja-meja khusus. Di bagian depan terlihat panggung tempat barang akan dipajang.
Setelah barang-barang biasa dilelang, akhirnya tibalah giliran yang paling dinanti. Pembawa acara mengumumkan dengan suara lantang:
"Barang nomor 15 dan 16 — Pil Cahaya Abadi dan Pil Nada Kehidupan! Dibuat dengan bahan langka dan cara khusus, memiliki khasiat memperlambat penuaan, mengembalikan keremajaan, serta memperkuat tubuh! Jumlah sangat terbatas — 20 butir Pil Cahaya Abadi dan 10 butir Pil Nada Kehidupan!"
Seketika suasana menjadi riuh. Banyak orang mulai bersiap mengangkat papan nomor mereka.
"Pil Cahaya Abadi — harga awal 1.000 keping emas!"
Segera suara penawaran bergema:
✅ "1.500 keping emas!"
✅ "2.000!"
✅ "3.000!"
✅ "5.000!"
Harga terus melonjak tanpa henti. Bahkan mencapai 10.000 keping emas per butirnya — nilai yang setara dengan harga sebuah rumah mewah lengkap dengan tanahnya!
Begitu giliran Pil Nada Kehidupan, persaingan bahkan lebih sengit. Banyak tokoh tua yang ingin memulihkan kekuatan dan tenaga mereka bersaing ketat. Akhirnya, harga satu butirnya mencapai 15.000 keping emas!
________________________________________
Tuan Hao yang Semakin Penasaran
Di ruang khusus VVIP, Mu Chen duduk santai sambil sesekali memakan buah dari keranjangnya. Ia tidak terlihat terkejut sedikit pun meski harga terus naik.
Tuan Hao yang datang mengantar minuman melihat sikapnya itu dan semakin penasaran. Ia memberanikan diri bertanya:
"Tuan Mu Chen, apakah anda tidak terkejut melihat harga yang mencapai setinggi itu? Bahkan barang-barang pusaka kuno jarang mencapai nilai seperti ini."
Mu Chen menelan makanannya, lalu menjawab polos: "Terkejut juga sedikit. Saya kira paling-paling cuma beberapa ratus keping emas saja. Tapi tidak apa-apa, selama mereka mau membayar dan bahannya cukup, itu bagus kan?"
Tuan Hao tersenyum tipis: "Tidak hanya itu. Yang paling menakjubkan adalah khasiatnya yang nyata. Kami sudah menguji salah satu pilnya — kemurniannya mencapai lebih dari 95%, jauh melampaui standar tertinggi yang pernah ada. Bahkan kami tidak bisa menemukan cara pembuatannya."
Mu Chen menggaruk kepalanya: "Ah, saya hanya membuatnya seperti saat memasak. Bahan bagus, api yang pas, dimasak sampai matang — selesai saja. Tidak ada rahasia khusus kok."
Mendengar jawaban yang sederhana itu, Tuan Hao semakin kagum. Ia menyadari bahwa orang di depannya ini memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang hakikat segala sesuatu, meski diungkapkan dengan cara yang paling sederhana.
________________________________________
Menghitung Hasil dan Kekayaan
Setelah lelang selesai, mereka pergi ke ruang administrasi untuk menghitung hasilnya.
Tuan Hao menghitung dengan teliti sambil membaca catatannya:
✅ 20 butir Pil Cahaya Abadi — rata-rata terjual 12.000 keping emas \= 240.000 keping emas
✅ 10 butir Pil Nada Kehidupan — rata-rata terjual 16.500 keping emas \= 165.000 keping emas
✅ Total keseluruhan: 405.000 keping emas
Setelah dikurangi biaya operasional dan bagian yang disumbangkan untuk amal serta perpustakaan sekte, sisa hak milik Mu Chen adalah: 121.500 keping emas — jumlah yang cukup untuk hidup mewah selama beberapa generasi, bahkan bisa membeli puluhan lahan kebun terluas sekaligus!
Saat melihat angka itu, Mu Chen membuka matanya sedikit lebar — ini jumlah yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Segitu banyak ya?" gumamnya pelan.
Tetua Qingyun tertawa lebar: "Ini baru lelang pertama! Kalau diadakan lagi bulan depan, hasilnya pasti tidak akan jauh berbeda. Kau sekarang bisa dianggap sebagai salah satu orang terkaya di wilayah ini!"
________________________________________
Tuan Hao kemudian menyerahkan sebuah kartu emas yang diukir indah:
"Tuan Mu Chen, sebagai tanda terima kasih dan kehormatan, paviliun kami memberikan ini — Kartu Emas VVIP Tetap. Dengan kartu ini, anda bisa bebas masuk ke semua fasilitas kami, mendapatkan diskon khusus, dan menjadi tamu kehormatan setiap ada acara besar. Dan tentu saja, hasil lelang selanjutnya akan selalu kami beritahu anda terlebih dahulu."
Mu Chen menerima kartu itu dengan antusias: "Wah, bagus juga! Kalau begitu nanti saya bisa datang kapan saja kalau butuh apa-apa ya?"
"Benar sekali," jawab Tuan Hao tersenyum.
________________________________________
Dalam perjalanan pulang, Mu Chen membawa tas kecil berisi surat perintah pembayaran dan kartu emasnya — ia tidak mau membawa emas batangan dalam jumlah banyak karena "terlalu berat dan merepotkan".
Tetua Qingyun menertawakannya: "Kau sekarang sudah kaya raya, tapi tetap saja berperilaku seperti biasa. Apakah kau sudah memikirkan apa yang akan dilakukan dengan uang sebanyak ini?"
Mu Chen berpikir sejenak, lalu menjawab dengan antusias:
"Tentu saja! Pertama, saya akan membeli lahan kebun yang sangat luas — sebesar sepuluh kali kebun saya sekarang. Kedua, saya akan membeli semua jenis benih obat dan sayuran langka. Ketiga, saya akan membangun dapur besar dan membeli peralatan memasak terbaik. Keempat... sisanya disimpan saja untuk membeli bahan makanan segar setiap hari dan dibagikan ke teman-teman kalau mereka butuh!"
Mendengar jawaban itu, Tetua Qingyun hanya bisa menggeleng sambil tertawa — meski sudah memiliki kekayaan yang luar biasa, keinginan Mu Chen tetaplah hal-hal sederhana yang ia sukai 😄
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Kekayaan ini hanya benda sementara. Tapi selama kau tetap memiliki hati yang sederhana dan tidak berubah, ini justru akan menjadi sarana yang baik untuk terus berkembang dan membantu orang lain."
Mu Chen hanya tersenyum dalam hati:
"Benar juga. Uang itu berguna kalau dipakai untuk hal yang disukai. Kalau hanya disimpan saja dan tidak dipakai, sama saja seperti batu biasa. Yang penting saya masih punya waktu untuk berlatih, berkebun, dan memasak — itu sudah cukup!"