"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Sisi Lain Sang Profesor
BAB 8: Sisi Lain Sang Profesor
Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana apartemen begitu sunyi dan dingin, menyisakan suara sayup-sayup angin malam yang menerpa dinding kaca luar. Kiara terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa sangat kering. Dengan langkah gontai dan mata yang masih setengah terpejam, ia keluar dari kamar tidurnya menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Namun, saat melewati koridor tengah, langkah kaki Kiara terhenti. Ia melihat seberkas cahaya lampu yang memancar dari celah bawah pintu ruang kerja Adrian.
Dia belum tidur? batin Kiara heran.
Didorong oleh rasa penasaran, Kiara melangkah mendekat. Pintu kayu jati itu rupanya tidak tertutup rapat, menyisakan sedikit celah selebar dua jari. Kiara mengintip ke dalam. Di sana, di balik meja kerja marmer yang besar, Profesor Adrian masih duduk tegap. Kacamata bacanya bertengger di hidung, dan kemeja abu-abunya sudah kusut dengan lengan yang digulung sembarangan.
Namun, tidak ada aura dingin atau kejam yang biasa pria itu tunjukkan di kampus. Malam ini, Adrian tampak begitu lelah. Kedua tangannya memijat pelipisnya dengan frustrasi, lalu beralih mengusap wajahnya dengan kasar. Di atas mejanya, selain tumpukan diktat kuliah, berserakan beberapa dokumen tebal dengan logo perusahaan besar milik keluarganya, lengkap dengan selembar foto seorang wanita elegan bergaun formal pilihan ibunya.
Adrian mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat, sarat akan tekanan dan beban mental yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesempurnaannya.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang berdenyut aneh di dalam dada Kiara. Rasa kesal dan jengkel yang ia rasakan sejak siang tadi mendadak menguap, digantikan oleh rasa iba yang asing. Kiara menyadari, di balik kekuasaan, ketampanan, dan sifat tengilnya yang menyebalkan, Adrian tetaplah seorang manusia biasa yang sedang dikejar-kejar oleh tuntutan perjodohan bisnis keluarganya. Kontrak pernikahan rahasia ini bukan sekadar permainan mesum bagi Adrian, melainkan cara pria itu mempertahankan sisa kebebasan hidupnya.
Kiara berbalik arah menuju dapur. Alih-alih hanya mengambil air minum untuk dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menyeduh secangkir kopi hitam hangat dengan sedikit gula—takaran yang sempat ia pelajari dari catatan asisten Adrian di kampus.
Beberapa menit kemudian, Kiara kembali ke depan pintu ruang kerja dengan nampan kecil di tangannya. Ia mengetuk pintu perlahan menggunakan sikunya.
"Masuk," terdengar suara Adrian, terdengar sedikit serak dan lelah.
Kiara mendorong pintu dengan kakinya, lalu melangkah masuk. Adrian mendongak, sedikit terkejut melihat sosok istri kontraknya sudah berdiri di dalam ruangannya pada jam dua pagi dengan jubah tidur satin yang longgar.
"Bapak... maksudku, kamu belum tidur?" tanya Kiara agak canggung sembari meletakkan cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis itu di sisi meja yang kosong, sengaja menjauhkannya dari dokumen keluarga Adrian. "Aku membuatkanmu kopi. Kudengar kamu suka kopi hitam yang tidak terlalu manis."
Adrian menatap cangkir kopi itu, lalu beralih menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kiara. Tatapan elangnya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini melunak, memancarkan binar kehangatan yang membuat jantung Kiara berdegup pelan.
"Kemari, Kiara," lirih Adrian, suaranya terdengar begitu dalam dan serak, memendam rasa lelah yang teramat sangat.
Kiara sempat ragu. "Kopi ini harus diminum selagi panas—"
Sebelum Kiara menyelesaikan kalimatnya, Adrian meraih pergelangan tangan Kiara. Tanpa banyak bicara, pria itu menarik Kiara dengan lembut namun tegas. Tarikan itu membuat Kiara kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya ia terduduk di lantai berkarpet bulu yang empuk, tepat di antara kedua paha kokoh Adrian yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Adrian, apa-apaan—"
Adrian langsung menundukkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling bahu Kiara dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa berat di atas dada Kiara. Pria itu memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kiara yang harum dan menenangkan, seolah-olah Kiara adalah satu-satunya tempat perlindungan yang ia miliki di dunia ini.
Kiara tersentak kaku. Posisi ini teramat sangat intim. Dada bidang Adrian menempel lekat pada punggungnya, dan helai rambut Adrian yang berantakan menggelitik leher jenjang Kiara. Kiara bisa merasakan hembusan napas Adrian yang teratur dan hangat menembus kaus tipis yang ia kenakan.
"Biarkan seperti ini sebentar, Kiara. Kepalaku mau pecah," bisik Adrian lirih, terdengar begitu pasrah dan rapuh di telinga Kiara.
Mendengar nada suara yang tidak biasa itu, hati Kiara melunak sepenuhnya. Rasa kemanusiaannya mengalahkan ego defensifnya. Perlahan, Kiara mengangkat kedua tangannya, memegang kepala Adrian dengan lembut, lalu jari-jarinya mulai bergerak memijat pelipis dan kulit kepala pria itu dengan gerakan yang konstan dan menenangkan.
"Tekanan dari ibumu sangat berat ya?" tanya Kiara pelan, menyuarakan isi hatinya dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
Adrian menggerakkan kepalanya sedikit, menikmati pijatan jemari Kiara yang terasa begitu nyaman. "Mereka tidak pernah peduli apa yang kuinginkan, Kiara. Baginya, aku hanya bidak catur untuk memperluas bisnis keluarga. Hanya di apartemen ini... dan hanya saat bersamamu, aku merasa bisa bernapas bebas."
Perkataan jujur yang keluar dari bibir Adrian membuat dada Kiara berdesir hebat. Ada rasa haru sekaligus debaran aneh yang kian menguat. Di tengah momen syahdu penuh emosi batin itu, Kiara merasa jarak di antara mereka berdua perlahan terkikis, bukan karena kontrak, melainkan karena ikatan emosional yang mulai tumbuh.
Namun, dasar Adrian. Sifat tengil dan nakalnya tidak bisa hilang begitu saja, bahkan di saat ia sedang lelah.
Merasa suasana sudah mulai tenang, tangan besar Adrian yang awalnya hanya memeluk pinggang Kiara, perlahan mulai bergerak nakal. Jemari hangat pria itu menyusup masuk ke balik keliman jubah tidur dan kaus tidur tipis Kiara, langsung bersentuhan dengan kulit punggung Kiara yang mulus dan hangat.
Sreeet.
Sentuhan kulit-ke-kulit yang mendadak itu seketika membuat Kiara meremang hebat. Gerakan memijatnya terhenti. "Adrian... tanganku... tangannmu jangan masuk ke dalam baju," protes Kiara dengan suara yang mendadak berubah serak, menahan sensasi menggelitik yang menjalar ke perutnya.
Adrian justru terkekeh pelan di atas dada Kiara, sebuah kekehan seksi yang terdengar sangat tengil. Ibu jarinya mulai bergerak memutar, mengusap kulit punggung Kiara dengan ritme yang lambat namun sangat intim, sengaja membuat Kiara salah tingkah.
"Aku sedang mengambil energiku kembali, Sayang," bisik Adrian nakal, napas hangatnya sengaja diembuskan ke arah dada Kiara yang terekspos karena kerah jubah tidurnya yang agak melonggar. "Pijatanmu sangat enak, tapi sentuhan kulitmu jauh lebih efektif untuk menghilangkan stresku."
"Kamu ini... katanya lelah, tapi tetap saja mesum!" kesal Kiara dengan wajah yang sudah memerah padam seperti kepiting rebus, mencoba menarik tangan Adrian keluar namun pria itu justru memperdalam usapannya hingga naik ke arah belikat.
"Aku hanya mesum padamu, Mahasiswaku," goda Adrian lagi, mendongakkan kepalanya sedikit untuk mencuri sebuah kecupan basah yang kilat di dagu Kiara, sebelum kembali menyandarkan kepalanya dengan nyaman, membiarkan tangan nakalnya tetap berada di dalam baju Kiara sepanjang sisa malam itu, menikmati kehangatan tubuh satu-satunya wanita yang berhasil mengacaukan isi kepalanya