Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sementara itu, di kota lain. Suasana sore di depan toko bunga lama milik Sahira terlihat jauh berbeda dibanding biasanya.
Rolling door toko tertutup rapat. Papan kecil bertuliskan dijual tergantung di depan kaca toko yang kini kosong tanpa rangkaian bunga segar seperti dulu. Tak ada lagi aroma mawar atau suara tawa Lina dan Rani yang biasa terdengar dari dalam. Tempat itu benar-benar sepi.
Sebuah motor berhenti kasar tepat di depan toko.
Aldo turun lebih dulu sambil melepas helmnya dengan wajah kesal. Di belakangnya, Diana ikut turun sambil membawa tas besar di tangannya.
“Kok tutup?” Kening Diana langsung berkerut saat melihat keadaan toko tersebut. Aldo berjalan cepat mendekati pintu lalu mencoba menarik rolling door itu kasar.
Brak!
Namun tetap terkunci.
“Anjir…” umpatnya kesal. “Itu cewek kabur apa gimana sih?”
Diana langsung melotot saat melihat tulisan dijual di kaca depan toko.
“Dijual?” Wajah wanita itu langsung berubah merah karena marah.
“Nggak mungkin!” Tangannya memukul kaca toko beberapa kali.
“Sahira!”
Namun tentu saja tidak ada jawaban. Tetangga toko sebelah yang mendengar keributan itu akhirnya keluar dan menatap mereka malas.
“Cari Sahira ya?”
Diana langsung menoleh cepat. “Iya! Dia ke mana?”
Pria paruh baya itu mengangkat bahu santai.
“Nggak tahu pasti. Tapi beberapa hari lalu dia pindahan.”
Wajah Diana langsung berubah.v“Pindah?”
“Iya.” Pria itu menunjuk tulisan dijual di kaca toko. “Tokonya juga udah dijual.”
“Apa?!” Aldo langsung menendang pot bunga kosong di dekat pintu hingga jatuh berantakan.
“Berani banget dia kabur!”
Diana semakin emosi. “Kurang ajar!” teriaknya. “Dia pikir bisa lepas dari aku gitu aja?!” Wanita itu kembali memukul rolling door toko dengan kasar hingga menarik perhatian orang-orang sekitar.
“Aku belum selesai sama dia!” Tatapan Diana dipenuhi kemarahan dan kebencian.
Selama ini, Sahira selalu menjadi tempat mereka meminta uang. Tetapi, sekarang perempuan itu justru menghilang begitu saja.
“Aldo!” bentak Diana kesal. “Cari tahu dia pindah ke mana!”
Aldo mengusap wajahnya kasar sambil mengumpat pelan. “Pasti gara-gara Revano lagi.” Tatapan pria itu berubah penuh dendam.
“Kalau gue ketemu mereka…” rahangnya mengeras, “gue nggak bakal tinggal diam.”
Sementara angin sore bertiup melewati toko bunga kosong itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sahira akhirnya mulai menjauh dari semua luka yang selama ini menghancurkannya.
Diana masih mengomel kesal di depan toko bunga yang sudah kosong itu, sementara Aldo berdiri sambil menendang pot kecil di dekat trotoar dengan wajah penuh amarah.
“Kurang ajar banget dia…” gerutu Aldo. “Kabur gitu aja.”
Tepat saat keduanya hendak pergi, sebuah mobil putih mewah berhenti perlahan di depan toko. Baik Diana maupun Aldo langsung menoleh bersamaan.
Pintu mobil terbuka.
Seorang wanita cantik turun dengan dress elegan dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Diana langsung mengenalinya.
“Lho…” wanita itu membelalak. “Bukannya itu Clara?”
Aldo ikut menatap kagum.
Clara memang cukup terkenal di kota mereka. Wajahnya sering muncul di majalah dan iklan karena profesinya sebagai model sekaligus sosialita dari keluarga kaya.
Clara menutup pintu mobilnya perlahan lalu berjalan mendekati mereka dengan senyum tipis yang terlihat ramah.
“Sore,"
Diana langsung berubah lebih sopan. “Nona Clara?”
Clara mengangguk kecil sebelum melirik toko bunga kosong di belakang mereka. “Kalian nyari Sahira?”
Tatapan Diana langsung berubah tajam. “Kamu tahu dia di mana?”
Clara tersenyum kecil. “Tahu,"
Aldo langsung maju cepat. “Di mana dia sekarang?”
“Bali.”
Jawaban itu membuat keduanya langsung terdiam beberapa detik.
“Bali?” ulang Diana tidak percaya.
Clara mengangguk santai. “Tapi alamat pastinya aku nggak tahu.”
Tatapannya beralih pada Aldo. “Tapi kalau kalian mau nyari…” wanita itu tersenyum tipis, “coba tanya ke beberapa toko bunga di sana.”
“Kok Nona Clara tahu?” tanya Aldo curiga.
Clara melepas kacamata hitamnya perlahan.
“Karena aku juga kenal dia.”
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi tatapan matanya menyimpan sesuatu yang dingin.
Aldo mengangguk pelan.
“Tenang aja,” ucapnya sambil menyeringai kecil. “Gue pasti nemuin dia.”
Mendengar itu, senyum Clara perlahan melebar tipis.
“Bagus.”
Beberapa detik suasana menjadi hening sebelum Clara kembali berbicara,
“Aku sebenarnya mau ngajak kerja sama.”
Diana dan Aldo langsung saling berpandangan bingung.
“Kerja sama?”
Clara mengangguk, tatapan wanita itu berubah serius.
“Aku mau Sahira menjauh dari Saga.” Nama itu langsung membuat Aldo mengernyit.
“Saga Mahendra?”
“Iya.” Clara melipat kedua tangannya di depan dada.
“Dan kalau kalian bisa bikin Sahira pergi jauh dari hidup Saga…” bibirnya tersenyum tipis, “aku bakal kasih kalian uang dalam jumlah besar.”
Mata Diana langsung berbinar. “Besar gimana?”
Clara tertawa kecil. “Cukup buat kalian hidup nyaman.”
Aldo dan Diana langsung saling melirik cepat. Keserakahan perlahan terlihat jelas di wajah keduanya.
Sementara, Clara memandang toko bunga kosong itu dengan tatapan dingin. Ia tidak peduli bagaimana caranya.bYang penting satu hal Sahira tidak boleh kembali bersama Saga.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.