NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

POV ADRIAN

Suara pintu ruanganku yang terbuka tanpa ketukan sudah cukup menjadi bukti siapa pelakunya. Di kantor ini, hanya ada satu orang yang tidak punya urusan dengan sopan santun di ruang direksi.

Gavin melangkah masuk, melempar beberapa bundel laporan operasional ke atas meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati mejaku dengan tangan tenggelam di saku celana.

"Aruna ada di luar," ujar Gavin tanpa basa-basi. "Lagi beresin barang-barangnya."

Aku tidak mengalihkan pandangan dari layar laptop. Jemariku masih sibuk mengetik balasan untuk investor Singapura yang menuntut revisi kontrak malam ini juga.

"hem," aku hanya berdeham pendek, menanggapi kalimat Gavin seolah itu bukan hal yang penting. Padahal, sekelebat bayangan gadis itu dengan mata sembabnya di minimarket malam itu sempat melintas di kepalaku.

Gavin mendengus, tahu betul tabiat gengsiku. Dia mencondongkan badannya ke depan mejaku, menatapku dengan senyum miring yang menyebalkan. "Surat pemandatannya sudah beres dibikin HRD tadi pagi. Bocahnya sempat syok, tapi ya mau bagaimana lagi? Lo yang nunjuk langsung."

"Dia punya potensi," sahutku datar, akhirnya bersuara. "Catatan fisik rapatnya waktu hari pertama sangat mendetail. Saya butuh orang yang teliti, bukan sekretaris yang bisanya kecentilan dan berani memalsukan tanda tangan seperti Ariana."

"Iya, terserah lo apa alasannya," Gavin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah kalah berdebat dengan keras kepalaku. Dia melirik jam tangan pintarnya, lalu menepuk pundakku agak keras. "Tapi yang jelas, gue lepas tangan sekarang. Tugas gue beresin kekosongan kursi sekretaris lo udah selesai. Jadi, malam ini gue gak akan bantuin lo lembur lagi. Gue mau pulang, kasur di rumah udah manggil."

Aku mendongak, menatap sahabatku itu dengan dahi berkerut. "Gavin, revisi kontrak ini—"

"Kerjain sendiri," potong Gavin cepat sambil berbalik arah menuju pintu. "Gue udah mau mati rasa begadang tiga hari berturut-turut gara-gara ulah si Ariana. Selamat menikmati malam jumat di kantor, Bos Besar."

Blam.

Pintu tertutup rapat. Sialan. Gavin benar-benar meninggalkanku sendirian.

Aku memijat pangkal hidungku yang terasa ngilu. Angka-angka di layar laptop mulai terlihat berbayang. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, lalu bergeser ke pukul sepuluh, hingga akhirnya melewati tengah malam.

Keheningan lantai direksi malam itu benar-benar mencekam. Hanya ada suara pendingin ruangan dan ketikan keyboard-ku yang menggema. Berkali-kali aku harus membaca ulang satu paragraf kontrak yang sama karena fokusku sudah buyar total.

Kemeja biru tua yang kukenakan rasanya makin mencekik leher. Aku melepas kancing paling atas, menggulung lengan kemejaku kasar sampai ke siku, dan mengacak rambutku frustasi saat menemukan ada selisih angka lagi pada laporan keuangan kuartal pertama.

Gavin benar-benar keparat, batinku, merutuki sahabatku yang mungkin sekarang sedang mendengkur nyaman di rumahnya.

Mataku terasa sangat berat, seperti ada beban berton-ton yang memaksa kelopak mataku untuk terpejam. Berniat untuk mengistirahatkan mata hanya selama lima menit, aku menyandarkan punggungku ke kursi eksekutif, melipat kedua tangan di dada, dan membiarkan kepalaku terkulai.

Namun, rasa lelah yang teramat sangat ternyata langsung merenggut kesadaranku sepenuhnya. Aku ketiduran di kantor, dalam kondisi berantakan, di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan kertas sialan.

Besok paginya Aruna tiba. Sepertinya dia mengintip karena pintunya terbuka sedikit. Melihatnya aku langsung menyuruhnya untuk membuatkan kopi. Begitu tiba, aku langsung menyesap kopinya.

Aku melirik cangkir di tanganku, lalu kembali menatap gadis yang berdiri di depan mejaku dengan wajah tanpa dosa.

Manis. Luar biasa manis.

Sebagai orang yang tidak bisa memulai hari tanpa kafein murni, sesapan pertama kopi buatan Aruna tadi benar-benar kejutan yang merusak sistem sarafku. Cairan hitam itu rasanya lebih mirip air tebu beraroma kopi ketimbang asupan energi. Memang salahku sendiri yang tidak bilang dari awal kalau aku hanya minum kopi hitam pekat tanpa gula, tapi reaksi gadis ini jauh di luar ekspektasiku.

Dia mulai salah tingkah. Jemarinya meremas ujung kemeja, matanya mengerjap polos saat bertanya, "Ada... ada apa ya, Pak? Kopinya kurang panas atau terlalu panas, ya?"

Aku menahan kedutan di sudut bibirku agar tidak lolos menjadi senyuman. Demi Tuhan, wajah kebingungannya itu sangat menghibur. Rasa penat, kantuk, dan stres akibat begadang semalaman suntuk mengurus kontrak mendadak menguap begitu saja.

Setelah sekian lama, akhirnya pagi ini aku bisa melihatnya lagi dari dekat emosinya yang transparan dengan puas.

"Kopinya kemanisan," ujarku datar, menyembunyikan rasa geli di balik topeng wajahku yang biasa. Aku meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. "Tapi tidak apa-apa. Untuk hari ini, saya maafkan."

Aruna tampak menghembuskan napas lega, bahunya yang tadinya tegang langsung turun.

"Daripada kamu berdiri bodoh di sana, sekarang bawa tumpukan map di ujung meja itu dan kerjakan," perintahku sambil menunjuk tumpukan dokumen setinggi dokumen skripsi yang belum sempat ku sentuh sejak semalam. "Bantu saya selesaikan kerjaan yang tertunda."

Begitu Aruna membawa map-map itu dan duduk di sofa ruanganku, barulah terlihat nyata betapa menumpuknya tugas sekretaris yang kutinggalkan. Ariana benar-benar menyisakan kekacauan besar sebelum dipecat.

Karena ini hari pertama resminya dan latar belakangnya yang hanya lulusan SMA, Aruna jelas kelabakan. Dia duduk di sofa dengan dokumen terbuka di pangkuannya, keningnya berkerut dalam, dan penanya diketuk-ketuk ke dagu.

"Pak Adrian... ini maksudnya termin pembayaran 30 hari setelah invoice diterima, atau setelah barang sampai di pelabuhan?" tanyanya, mendongak menatapku.

"Setelah dokumen bill of lading ditandatangani," jawabku tanpa beralih dari laptop.

Baru dua menit hening, suaranya terdengar lagi. "Kalau yang ini, Pak? Kenapa nominal pajaknya tidak pakai persentase yang standar?"

"Itu pakai tarif preferensi khusus, Aruna. Lihat lampiran ketiga."

Dia banyak bertanya karena memang banyak hal yang belum dia mengerti. Namun, anehnya, aku sama sekali tidak merasa terganggu. Aku merasa senang mendengar suaranya terlebih dia berani dan bersikap santai. Biasanya, aku akan langsung menyemprot siapa saja yang mengajukan pertanyaan tidak bermutu di jam kerja. Tapi melihat Aruna, aku justru menikmati setiap detik suaranya yang memenuhi ruangan ini.

Apalagi kalau dia sudah mulai kewalahan. Dari balik layar laptop, aku diam-diam memperhatikan bagaimana bibirnya mengerucut tipis, lalu dia mulai berkomat-kamit, menggerutu sangat pelan pada dirinya sendiri.

"Istilah apa lagi ini... Lo-gis-tik... kenapa bahasanya ribet banget sih, ya ampun... Bos Sableng sengaja banget ini mah nyiksa aku..." samar-samar aku mendengar gerutuan kecilnya dari arah sofa.

Aku menyandarkan punggung ke kursi, pura-pura memeriksa ponsel padahal sepasang mataku fokus memperhatikan ekspresi kesalnya yang menggemaskan. Mendengar dia menggerutu jujur seperti itu entah kenapa jauh lebih menyenangkan daripada mendengar laporan formal dari manajer manapun di kantor ini.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!