NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Kursi Kosong di Kelas MIPA

****

Hari Selasa pagi di SMA Tunas Bangsa terasa sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Gosip tentang hubungan baruku dengan Devan, sang Ketua OSIS, telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah bagai virus yang tidak bisa dibendung. Sepanjang jalan menuju kelas, bisik-bisik dari para murid perempuan yang merasa patah hati terdengar jelas di telingaku. Ada yang menatapku penuh selidik, ada juga yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.

Aku berjalan menunduk, merapatkan jaket rajut yang kupakai untuk menutupi kalung emas putih pemberian Devan yang melingkar di leherku. Pagi ini, Devan sengaja tidak menjemputku di depan gerbang karena dia harus memimpin rapat pleno mendadak bersama para pembina OSIS. Sebuah kelonggaran singkat yang sangat kusyukuri, karena setidaknya aku bisa bernapas bebas tanpa bayang-bayang protektifnya untuk sementara waktu.

Begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas XII MIPA 2, suasana mendadak hening selama beberapa detik. Beberapa teman sekelasku langsung memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan buku pelajaran mereka.

Aku berjalan menuju meja belajarku di barisan ketiga. Namun, langkahku langsung terhenti begitu melihat meja yang biasanya kutempati bersama Risa kini sudah berubah posisi. Ransel milikku sudah diletakkan di atas meja barisan paling depan, tepat di bawah meja guru. Di sebelah kursi baruku itu, terdapat sebuah ransel hitam rapi milik Devan yang sudah bertengger manis.

Devan benar-benar membuktikan ucapannya di ruang OSIS kemarin. Dia memindahkan tempat dudukku secara sepihak agar aku tidak bisa lagi berdekatan dengan Risa.

"Mik..."

Sebuah suara lirih memanggilku dari arah belakang. Aku menoleh dan menemukan Risa sedang berdiri di dekat meja lama kami dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bersalah campur sedih.

"Ris... maafin gue," bisikku, berjalan mendekatinya dengan perasaan yang sangat hancur. "Ini semua bukan kemauan gue, gue terpaksa—"

"Gue udah tahu semuanya, Mik," potong Risa pelan, dia menarikku ke sudut kelas yang agak sepi agar percakapan kami tidak terdengar oleh anak-anak lain. "Kemarin sore setelah lo lari dari UKS, gue gak sengaja dengar obrolan Devan sama pembina BK di koridor. Devan mengancam bakal melaporkan Saka ke dinas pendidikan kalau pihak sekolah gak mengeluarkan draf pemecatan itu. Lo terpaksa menerima dia jadi pacar lo demi menyelamatkan Saka, kan?"

Air mataku hampir saja tumpah lagi mendengar ucapan Risa. Setidaknya, ada satu orang di dunia ini yang tahu kalau aku bukanlah seorang pengkhianat yang mencampakkan sahabatnya sendiri demi status pacar Ketua OSIS.

"Iya, Ris. Gue gak punya pilihan lain," rintihku, mencengkeram lengan seragam Risa kuat-kuat. "Saka bener-bener bakal hancur kalau sampai dikeluarkan dengan catatan kriminal. Gue lebih baik dibenci sama Saka seumur hidup, asalkan dia tetap bisa sekolah dan punya masa depan."

Risa mengembuskan napas panjang, merangkul pundakku untuk memberikan kekuatan. "Lo emang baik banget, Mik. Tapi lo juga bodoh. Devan itu ular. Dia sengaja memanfaatkan kebaikan lo buat mengunci lo di dalam hidupnya. Dan sekarang... lo lihat aja sendiri efek dari keputusan lo."

Risa mengarahkan dagunya ke arah jendela kelas yang menghadap langsung ke arah koridor gedung belakang—wilayah anak-anak IPS.

"Saka hari ini gak masuk sekolah, Mik," kata Risa dengan nada suara yang melunak. "Gue dengar dari anak-anak motor, sejak pulang dari parkiran kemarin sore dengan baju basah kuyup, Saka langsung mengurung diri di kamarnya. Dia bahkan gak menyentuh motor sport kesayangannya sama sekali. Kursinya di kelas IPS 3 kosong melompong hari ini."

Mendengar kabar tentang Saka membuat dadaku terasa seperti dihantam oleh batu besar. Gambaran wajah kecewa dan terluka Saka di bawah guyuran hujan kemarin sore kembali berputar di otakku. Aku telah mematahkan hatinya dengan cara yang paling kejam. Aku telah membunuh binar kehidupan di mata elangnya yang biasanya selalu menatapku penuh perlindungan.

*Cklek.*

Pintu kelas kembali terbuka, dan sosok Devan melangkah masuk dengan penuh wibawa. Seragamnya putih bersih, senyuman ramahnya kembali terpasang sempurna di wajahnya, seolah-olah kejadian berdarah di gudang tua dan pemerasan emosional di ruang OSIS kemarin hanyalah halusinasi belaka.

Mata Devan langsung menyapu seluruh sudut kelas, dan dalam sekejap, pandangannya mengunci keberadaanku yang sedang berdiri berdekatan dengan Risa. Senyum ramah di wajahnya mendadak sedikit menipis, digantikan oleh kilat tidak suka yang samar.

Dia berjalan menghampiri kami, lalu dengan santai merangkul pinggangku di depan seluruh anak kelas. "Pagi, sayang. Kamu udah datang? Kok gak nungguin aku di depan lobi tadi?" tanya Devan dengan suara yang sengaja diperkeras agar bisa didengar oleh semua orang.

Tubuhku refleks menegang, namun aku tidak berani memberontak karena aku tahu betul konsekuensinya. Aku melirik Risa yang kini sedang menatap Devan dengan pandangan penuh rasa muak dan ngeri.

"Aku... aku langsung ke kelas karena takut telat, Dev," jawabku berbohong, mencoba melepaskan rangkulannya secara halus dengan alasan mau mengambil buku di tas.

Devan melepaskan rangkulannya, lalu beralih menatap Risa dengan senyuman formalitasnya yang mematikan. "Risa, mulai hari ini Mika duduk bareng aku di depan ya. Sebagai Ketua OSIS dan pacarnya, aku mau memastikan nilai-nilai Mika tetap stabil semester ini. Kamu gak keberatan, kan?"

Risa mengepalkan tangannya di balik saku rok, namun dia tahu dia tidak punya power untuk melawan sang diktator sekolah ini. "Gak kok, Dev. Terserah kalian aja," jawab Risa ketus, lalu berbalik pergi meninggalkan kami menuju bangku barunya di pojok belakang.

"Yuk, duduk di depan, sayang. Sebentar lagi bel masuk berbunyi," kata Devan lembut, menuntun pergelangan tanganku menuju meja barisan paling depan.

Aku duduk di kursi baru itu dengan hati yang terasa sekosong ruang hampa. Aku melirik ke samping, ke arah kursi kosong di gedung seberang tempat Saka biasanya bolos dan melambaikan tangannya jahil ke arah kelasku dari kejauhan. Kursi itu kini kosong, sama seperti hatiku yang kini telah terjerat sepenuhnya di bawah pengawasan ketat sang Ketua OSIS posesif di sebelahku. Perang psikologis ini baru saja dimulai, dan aku harus bertahan di dalam kurungan ini entah sampai kapan.

**Pesan Penulis (Author's Note)**

> **Duh, bener-bener kerasa banget ya kurungan tak kasat matanya Devan!** Di bab ini, Devan resmi mengklaim posisinya di sebelah Mika dengan memindahkan bangku duduknya ke barisan paling depan. Hubungan Mika dan Risa juga mulai dibatasi secara halus oleh Devan dengan dalih 'menjaga nilai akademik'.

> Di sisi lain, hati gue bener-bener ambyar pas tahu kabar tentang Saka yang mengurung diri di kamar dan membiarkan kursinya di kelas IPS kosong melompong. Rasa dikhianati oleh orang yang paling dicintai itu emang sakitnya gak main-main, guys!

> Menurut kalian, apakah Saka bakal terus-terusan mengurung diri, atau dia bakal bangkit dan melakukan perlawanan yang lebih ugal-ugalan lagi di bab selanjutnya?

> Jangan lupa buat semua pembaca setia **@ujang_Bonang**, langsung klik tombol **Like**, kasih **Vote** yang banyak, dan tulis di kolom **Komentar**: Siapa nih yang mau ikutan demo buat mindahin bangkunya Mika balik ke belakang? Dukung terus novel **RED FLAG** ya! Sampai jumpa di Bab 8 ! *Keep reading and stay tuned!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!