NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Mansion mewah keluarga Desmon yang terletak di kawasan elit Holmby Hills biasanya diselimuti oleh ketenangan yang elegan.

Namun, pagi ini, ketenangan itu pecah berantakan oleh kedatangan putra tunggal mereka yang masuk ke dalam rumah laksana angin puting beliung.

Landon Desmon melangkah lebar melintasi aula utama, mengabaikan sapaan hormat dari kepala pelayan, dan langsung menuju ke arah ruang makan keluarga tempat kedua orang tuanya sedang menikmati teh pagi.

Di sana, di meja makan marmer panjang, duduk Arthur Desmon—sang kepala keluarga Desmon yang berwibawa—bersama istrinya, Eleanor Desmon.

Eleanor sedang sibuk mengoleskan selai stroberi ke atas roti panggangnya dengan gerakan yang sangat anggun, sebelum interupsi dari putranya merusak kedamaian pagi mereka.

BRAK.

Landon tidak menggebrak meja, namun ia mendudukkan dirinya di kursi dengan sentakan yang cukup keras hingga cangkir teh porselen milik Eleanor berdenting halus.

Wajah Profesor muda itu tegap, matanya berkilat penuh tekad gila yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Aku akan menikah," ucap Landon lempeng, tanpa basa-basi, tanpa pembukaan, seolah sedang mengumumkan bahwa cuaca hari ini akan cerah.

Arthur Desmon yang sedang membaca koran bisnis digital seketika menurunkan tabletnya.

Alis tebalnya bertaut rapat, menatap putra tunggalnya dengan pandangan tidak percaya. Sementara itu, Eleanor membeku di tempatnya. Pisau selai masih menggantung di udara.

Hening melanda ruang makan selama lima detik penuh.

Detik berikutnya, Eleanor meletakkan pisau selainya dengan tergesa-gesa. Ia menoleh ke arah suaminya, menatap Arthur dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, lalu dengan gerakan dramatis, ia menyentuhkan telapak tangannya ke dada bidang sang suami.

"Oh, Dad..." bisik Eleanor dengan suara yang bergetar penuh haru, menatap Arthur dengan pandangan yang sarat akan rasa syukur yang mendalam. "Putra kita... putra kita ternyata masih normal, Dad. Tuhan mendengarkan doa-doa malamku di altar."

Arthur mengembuskan napas lega yang sangat panjang, lalu menepuk punggung tangan istrinya dengan lembut. "Ya, El. Kerja keras kita membesarkannya tidak sia-sia. Dia masih menyukai manusia hidup."

Landon yang sedang berada dalam mode serius nan emosional setelah melihat AJ di mansion Valerio tadi, seketika melongo.

Rahangnya yang tegas mengatup rapat, dan dahi geniusnya berkerut dalam mendengar respons ajaib dari kedua orang tuanya.

"What?" Suara bariton Landon meninggi satu oktav. "Dad... Mommy... kalian mengira aku tidak normal selama ini, begitu?!"

Eleanor memutar bola matanya secara dramatis, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Landon dengan tatapan menilai yang sangat menyebalkan.

"Landon, Sayang... Selama ini, kau mengurung diri di laboratorium, berbicara dengan robot, memeluk mesin enkripsi, dan membaca jurnal medis seolah itu adalah kitab suci pernikahan. Mommy bahkan sempat berpikir untuk mendaftarkanmu ke seminar penyembuhan orientasi seksual karena kau tidak pernah membawa satu pun makhluk ber-gender wanita ke rumah ini!"

"Mom! Aku ini seorang ilmuwan, fokusku adalah penelitian!" bela Landon, frustrasi karena wibawanya laksana seorang genius runtuh dalam sekejap di depan ibunya yang hobi berbicara ngawur.

"Penelitian, penelitian, dengkulmu!" omel Eleanor tanpa beban, sama sekali tidak mencerminkan citra seorang wanita sosialita papan atas dari Desmon Group.

"Robot-robotmu itu tidak bisa memberikan Mommy cucu yang lucu, Landon! Mereka hanya bisa berbunyi bip-bip-bip saat Mommy ajak bicara tentang gosip Beverly Hills! Jadi, demi seluruh tas Hermes di lemariku, katakan siapa wanita malang yang sudah kehilangan akal sehatnya hingga mau menerima lamaran dari pria kaku sepertimu?"

Landon mengembuskan napas panas, mencoba menarik kembali kendali atas emosinya yang mulai terkuras. "Vexana. Vexana Valerio."

Mendengar nama itu, giliran Arthur Desmon yang menegakkan punggungnya.

Sorot mata sang ayah berubah menjadi sangat serius. "Putri tunggal Maximilian Valerio? Gadis yang kau tangisi beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan itu?"

"Ya, Dad," jawab Landon, suaranya melunak namun penuh penekanan. "Dia kembali. Dan ada rahasia besar yang disembunyikan keluarga Valerio dari kita selama ini. Rahasia yang membuatku harus segera meresmikan hubungan kami."

Landon mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang cepat. "Aku akan pergi melamarnya nanti malam ke mansion Valerio. Aku butuh kalian berdua ikut bersamaku untuk menuntut hak kita."

Eleanor yang mendengar kata 'nanti malam' seketika menggebrak meja makan dengan telapak tangannya sendiri.

BRAK!!!!!

"Kenapa harus menunggu nanti malam?!" Pekik Eleanor dengan suara melengking, dipenuhi oleh ekspresi ketidakpuasan yang luar biasa.

Ia langsung berdiri dari kursinya, menunjuk hidung Landon dengan sendok teh yang ia sambar sembarangan.

"Landon Desmon, kau ini genius di kampus tapi kenapa urusan asmara otakmu seperti udang?! Menunggu sampai malam berarti memberikan waktu dua belas jam bagi Valerio yang licik itu untuk menyembunyikan putrinya lagi ke ujung dunia! Siang ini! Siang ini kita pergi!"

Eleanor membalikkan badannya menghadap Arthur dengan gerakan secepat kilat.

"Dad! Berhenti membaca berita saham sialan itu! Cepat hubungi asistenmu, suruh mereka menyiapkan Persiapan lamaran paling mahal di California sekarang juga!!"

Arthur yang biasanya tenang dan berwibawa laksana singa bisnis, mendadak terlihat panik di bawah komando istrinya yang sedang dalam mode berapi-api.

"Tapi El, ini masih jam Sepuluh pagi. Butuh waktu untuk menyiapkan perhiasan mewah—"

"Tidak ada kata tapi, Arthur Desmon!" Potong Eleanor galak, tangannya berkacak pinggang. "Jika kita tidak berangkat siang ini, dan gadis Valerio itu berubah pikiran karena melihat kegilaan putra kaku kita ini, aku bersumpah akan menyumbangkan seluruh koleksi mobil sportmu ke panti asuhan! Dad, persiapkan semuanya sekarang!"

Arthur langsung meneguk sisa tehnya dengan tergesa-gesa, lalu berdiri dari kursi makan. "Baik, baik. Aku akan menelepon sekretaris utama sekarang." Sang kepala keluarga itu melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah cepat, menyisakan Landon dan ibunya yang masih berdiri bertolak pinggang.

Landon hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pening. Ia ingin tertawa sekaligus takjub melihat bagaimana ibunya merespons kabar pernikahannya.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Landon merasa sangat bersyukur. Kegilaan dan sifat ngawur ibunya justru menjadi bahan bakar terbaik yang ia butuhkan pagi ini untuk meruntuhkan keangkuhan gerbang Bel-Air milik keluarga Valerio beberapa jam lagi.

...***...

Tepat jam dua siang, matahari Los Angeles sedang terik-teriknya saat iring-iringan kendaraan hitam mewah milik keluarga Desmon membelah jalanan aspal menuju kawasan Bel-Air.

Tidak tanggung-tanggung, Eleanor Desmon benar-benar melaksanakan ancamannya. Alih-alih datang secara diam-diam dan elegan seperti layaknya pertemuan bisnis, ia justru memimpin konvoi yang terdiri dari lima mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat laksana rombongan menteri negara.

Di dalam mobil utama, Landon duduk di kursi belakang bersama ibunya. Pria itu sudah mengenakan setelan jas formal rancangan desainer Italia berwarna biru dongker yang dipadukan dengan kemeja putih bersih tanpa dasi, menampilkan kesan maskulin yang berwibawa namun tetap modern.

Di sampingnya, Eleanor tampil luar biasa mencolok dengan gaun sutra berwarna marun, lengkap dengan kacamata hitam besar dan perhiasan berlian yang berkilau di bawah sinar matahari.

"Mom, bisakah kau berhenti memeriksa kotak perhiasan itu? Ini sudah kali kesepuluh kau membukanya sejak kita keluar dari gerbang rumah," tegur Landon dengan suara baritonnya yang tenang namun terselip rasa jengah.

Eleanor menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Landon dengan pandangan meremehkan dari balik lensa gelap. "Landon, diamlah. Kau tidak tahu apa-apa tentang seni merendahkan harga diri menggunakan kilauan berlian. Maximilian Valerio itu orang yang sangat sombong. Jika kita datang hanya membawa modal tampang kaku-mu yang membosankan itu, dia pasti akan melemparkanmu ke kandang Singanya!"

Landon mengembuskan napas berat, memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela mobil.

Pikirannya tidak lagi berada di dalam mobil ini; pikirannya sudah terbang mendahului menuju sosok anak kecil bernama AJ dan Vexana.

Konvoi mobil Desmon akhirnya tiba di depan gerbang besi raksasa kedaiaman Valerio—tempat yang sama yang beberapa jam lalu Vexana masuki dengan kemeja kebesaran milik Landon.

Para penjaga gerbang Valerio yang melihat kedatangan lima mobil Rolls-Royce dengan plat nomor eksklusif Desmon Group seketika langsung siaga.

Mereka tidak berani bertindak sembarangan karena mengenali lambang keluarga yang tertera di badan mobil. Komandan penjaga segera berlari mendekati jendela mobil utama yang perlahan diturunkan oleh sopir.

Eleanor menurunkan kacamata hitamnya sepenuhnya, lalu menjulurkan kepalanya sedikit keluar jendela. "Buka gerbangnya, anak muda. Katakan pada tuanmu, Maximilian, bahwa malaikat pencabut nyawanya... maksudku, calon besannya sudah tiba untuk menjemput menantu."

Penjaga itu melongo, menatap Eleanor laksana wanita itu adalah alien dari luar angkasa. Namun, sebelum ia sempat memprotes atau meminta konfirmasi melalui walkie-talkie, Arthur Desmon yang berada di mobil kedua di belakang mereka memberikan klakson panjang yang berwibawa namun menuntut.

Ketakutan akan pecahnya perang korporasi antara dua raksasa bisnis di siang bolong membuat komandan penjaga tidak punya pilihan lain.

Dengan tangan yang gemetar, ia menekan tombol otomatis untuk membuka gerbang besi raksasa itu lebar-lebar.

Brummmm...

Iring-iringan mobil Desmon melaju mulus menyusuri jalan setapak, memutari air mancur marmer, dan berhenti dengan presisi sempurna tepat di depan undakan tangga marmer teras utama mansion Valerio.

Pintu-pintu mobil terbuka secara bersamaan. Beberapa pengawal berbadan tegap dengan setelan jas hitam turun terlebih dahulu, memegang kotak-kotak hantaran beludru berwarna merah tua yang ukurannya sangat besar dan terlihat sangat berat.

Landon turun dari mobil, mengancingkan satu kancing jasnya dengan gerakan yang sangat elegan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap laksana model papan atas seketika mendominasi atmosfer teras mansion yang megah itu.

Di sampingnya, Eleanor keluar dengan gaya anggun, diikuti oleh Arthur Desmon yang berjalan di belakang mereka dengan ekspresi tenang namun mematikan khas seorang taipan bisnis senior.

Belum sempat pengawal Desmon mengetuk pintu kayu jati raksasa mansion, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu dari dalam.

Maximilian Valerio berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan rumahannya.

Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sangat mengeras, sepasang matanya yang tajam menatap tajam ke arah rombongan Desmon yang berani mengusik kedamaian rumahnya di siang hari bolong.

Di belakangnya, berdiri beberapa pengawal internal Valerio yang tampak bersiaga dengan tangan yang berada di balik jas mereka.

"Tuan Arthur Desmon... Nyonya Eleanor..." Suara Maximilian keluar dengan nada rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang tersembunyi.

"Mau apa kalian membawa sirkus berjalan ini ke dalam kediamanku? Jika ini urusan bisnis, kantorku berada di distrik finansial, bukan di sini."

Eleanor maju satu langkah di depan suaminya, menampilkan senyuman paling lebar dan paling palsu yang pernah ia miliki. Ia melepaskan kacamata hitamnya dengan sentakan dramatis.

"Oh, Tuan Maximilian... jangan berpura-pura kaku seperti itu di depan calon besanmu," ucap Eleanor dengan nada suara yang sengaja dilembutkan namun terdengar sangat mengejek di telinga Maximilian.

"Kami datang ke sini bukan untuk membicarakan saham atau akuisisi perusahaan sialanmu itu. Kami datang ke sini di bawah terik matahari yang indah ini... untuk melamar putri tunggalmu, Vexana Valerio, untuk putra tunggal kami."

Eleanor menunjuk Landon dengan ibu jarinya tanpa menoleh.

"Dan oh... sekalian kami ingin menjemput cucu laki-laki kami, Austin Jaxon Valerio, untuk pulang ke rumah aslinya. Jadi, singkirkan wajah singamu itu dari hadapan kami tuan Max, dan biarkan kami masuk!"

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!