"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zero Hour
Rendi sudah berada di depan pintu ruangan Adrian yang terasa seperti kandang singa. Rendi melepas nafas pelan sebelum mengetuk pintu ruangan Adrian. Ia menatap map yang berada di tangannya yang sudah pasti kosong tanpa data apapun.
"Masuk.. " terdengar suara bariton yang tegas membuat siapa saja yang mendengar akan merasakan seluruh tulang akan hilang dari tubuhnya.
Dengan tangan yang gemetar Rendi kemudian membuka pintu tersebut, Rendi kembali menarik nafas pelan, lalu masuk dengan perlahan mendekati meja kerja milik Adrian.
Adrian duduk di kursi kebesarannya, membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar. Ia tidak menoleh ketika Rendi masuk.
Rendi menelan salivanya yang terasa berat masuk ke kerongkongannya, dengan mengumpulkan semua sisa keberaniannya Rendi memecah kesunyian di ruangan Adrian.
"Siang Pak Adrian" sapa Rendi dengan suara bergetar.
"Saya datang untuk menyerahkan laporan revisi sesuai arahan Pak Adrian" lanjut Rendi.
Adrian memutar kursi kebesarannya, wajahnya datar, matanya menatap tajam kearah Rendi.
"Duduk" ucap Adrian tegas.
"Baik Pak Terima kasih" ucap Rendi menarik pelan kursi dihadapan Adrian dan duduk perlahan.
"Kau telat 2 menit Rendi, dari waktu yang saya tentukan" ucap Adrian
"Mohon maaf Pak" ucap Rendi dengan pelan dan meletakkan map kosong di meja. Adrian mengangkat alis sebelahnya.
"Jelaskan alasan apa lagi yang hendak kau sampaikan? " tanya Adrian dengan suara rendah.
"Pak, sistem mengalami kendala teknis dari pusat, sehingga kami kesulitan untuk menarik data real-time pak sehingga ada selisih 200 unit barang yang siap dikirim ke Cikarang Pak" ucap Rendi lirih.
Adrian menarik senyum smriknya "Tadi kau bilang masalah cuaca, sekarang kau menyalahkan sistem, besok alasan apalagi yang mau kau sampaikan? " ucap Adrian dengan tenang tanpa luapan emosi.
"Dengar Rendi, saya memanggil kau ke sini bukan untuk mendengarkan keluhan yang tidak masuk akal, apalagi menyangkut teknologi" ucap Rendi meraih pelan map di depan Rendi.
Adrian membuka pelan map tersebut tanpa ekspresi mendapati map itu kosong.
"Kau tau, saya membayar mahal untuk sistem tersebut dan saya membayar lebih mahal lagi untuk manager yang bisa bekerja saat sistem itu mati" Suara pelan namun berhasil membuat Rendi gemetar milik Adrian semakin menambah kesan dingin di ruangan berAC tersebut, melebihi dingin batas normal yang digunakan untuk pendingin ruangan bekerja di luar batas normalnya saking telalu dingin.
"Jadi di mana barang 200 unit itu sekarang? " tanya Adrian lalu meletakkan map kosong milik Rendi dengan pelan.
"Pak, secara sistem... datanya hilang pak. Tapi tim kami di lapangan sedang memastikan secara manual. Saya mohon sedikit waktu tambahan untuk ... " ucap Rendi langsung dipotong oleh Adrian.
"Waktu adalah satu hal yang tidak bisa saya berikan secara cuma-cuma, dan kau tau itu. Klien Cikarang akan membatalkan kontrak jika dalam waktu satu jam ke depan tidak ada kejelasan. Kamu tau artinya apa bagi devisi kamu? " ucap Adrian dengan nada rendah tapi dingin.
"Saya tahu pak, tapi semua kejadian ini di luar kendali... " Rendi berusaha untuk memberikan solusi kepada Adrian dan berharap Adrian memahami keadaan yang terjadi namun sebenarnya Rendi tahu usahanya akan sia-sia.
"Di luar kendali? " ucap Adrian berdiri lalu meletakkan tangannya di meja sambil condong ke depan.
"Kau tau di luar kendali itu artinya kau tidak kompeten. Jika kamu tidak tahu di mana 200 unit barang tersebut, itu artinya kamu tidak mengusai gudangmu. Apa perlu saya carikan manager operasional dan logistik baru yang lebih kompeten dan mengenal setiap jengkal gudangnya daripada sebuah layar komputer? " ucap Adrian.
Rendi menelan salivanya yang sudah terasa kering "Pak saya mohon berikan kesempatan saya sekali lagi. Saya sudah bekerja dan mengabdi di perusahaan Bramantyo Grup sudah lima tahun pak... " ucap Rendi dengan suara bergetar.
"Lima tahun pengabdian bisa dihapus oleh lima menit ketidakpastian dan ketidaksiapan serta ketidaksigapan yang kamu lakukan" ucap Adrian.
Tidak ada jawaban dari mulut Rendi, dia memilih diam lalu menundukkan wajahnya. Karirnya sekarang diambang kehancuran, bayangan wajah istri dan putri semata wayangnya berkelabat di benaknya. Jika dia dipecat semua perusahaan tidak akan menerima karyawan dari perusahaan Bramantyo Grup.
Adrian duduk kembali di kursi kebesarannya.
"Saya berikan kamu satu menit terakhir untuk memberikan satu alasan logis, mengapa saya tidak boleh mengeluarkan black Folder untukmu hari ini? " ucap Adrian membuat Rendi mengangkat kepalanya yang tertunduk menatap penuh harap kepada Adrian.
Suasana menjadi sangat hening. Rendi tertunduk, tidak mampu memberi jawaban atas pertanyaan Adrian. Ia tidak memiliki data fisik apapun. Karirnya sekarang akan berhenti di detik ke 60 selesai.
***
Gisel akhirnya tiba di ruangan operasional dan logistik, setelah berlari kencang dari pantri. Nafasnya memburu, rambutnya yang biasanya diikat rapi sekarang sudah acak-acakan.
Di belakangnya Budi menyusul dengan langkah yang dipaksakan cepat, sambil sesekali membenahi tatanan rambut yang antenanya mulai turun.
BRAKK pintu dibuka kasar oleh Gisel.
"Bang Rendi mana? " Maya dan Iwan yang mendapat pertanyaan Gisel hanya saling tatap.
"Jangan bilang bang Rendi sudah diruangan Beruang Kutub" ucap Gisel ketika mengedarkan pandangan ke ruangan tidak menemukan Rendi.
"Pak Rendi sudah ke ruangan pak Adrian Sel, lagian lu juga dari mana sih? Lama amat, sekarang baru nongol" ucap Maya
"Mukanya udah seperti orang yang siap menerima hukuman gantung Sel" timpa Iwan.
Budi masuk sambil berkaca pinggang dan menormalkan nafasnya yang terengah.
"Duh jeng Gisel, Larinya kenceng banget deh. kayak lagi dikejar penagih hutang tau gak sih. Eyke.. eyke cape banget say" ucap Budi langsung duduk di sofa menyambar botol air mineral untuk diminum dengan sekali teguk.
"Telat Sel, Rendi sudah dari tadi pergi, mungkin sudah 45 menit yang lalu dengan membawa map kosong. Percuma Sel, kalau kamu datang hanya untuk mengomel, tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula" ucap Iwan.
"Map kosong bang, maksudnya bang Rendi menghadap sama tu beruang kutub tanpa data apapun? Kalian masih waras nggak sih, itu sama halnya kalian membiarkan dia bunuh diri pelan-pelan di hadapan beruang kutub " ucap Gisel emosi.
"Sel, sistemnya error. Server tertulis Error 404, kalau seperti itu data apa yang hendak diberikan" ucap Maya.
"Nih" Gisel mengangkat buku catatan kumalnya tinggi-tinggi.
"Di dalam buku ini ada jawaban 200 unit barang milik klien Cikarang. Barangnya nggak hilang, cuma sistem kalian aja yang pingsan nggak jelas. Barang ini masuk semalam, ketika sistem lagi down" ucap Gisel dengan penuh percaya diri.
"Oo, em ji baswei, yang benar nih? " tanya Budi mendekat lalu mengambil buku kucel itu dari tangan Gisel lalu membukanya serta dibaca secara seksama oleh Budi.
"Ini benaran jeng Gisel, tulis manual?" tanya Budi
" Gak!! pake kaki, yah pake tanganlah bang Budi " ucap Gisel kesal.
"Nggak sih, otakku nggak nyampe lu bisa tulis sampe 200 barang sedetail dan selengkap ini Sel, kalau eyke sudah keriting jari tangan eyke yang gemoy dan lentik ini" ucap Budi lalu memperhatikan jemari tangan kanannya.
"Iya bang Budi, waktu semalam mati lampu tepat jam 07.00 malam, kontainer nomor 88, milik bang kumis, isinya suku cadang Cikarang semua. Karena sistem mati, datanya nggak masuk ke pusat, makanya layar kalian nol" Jelas Gisel.
"Dan yey tulis semuanya jeng? " tanya Budi memastikan
"Iya bang Budi" ucap Gisel, membuat ketiga rekannya geleng kepala.
"Mmm, iya eyke ingat sekarang tadi malam tu truk 88, dia parkir di dekat pohon mangga itu ya? " tanya Budi berbinar. "Uu, kumisnya buat eyke melting deh Sel" lanjut Budi dengan gaya kemayunya.
"Yang pasti kalian sudah diperbudak oleh teknologi, kalau error sistemnya minimal kalian buat catatan manual, agar datanya tetap ada di kalian" ucap Gisel
"Sel, Pak Adrian nggak mau liat catatan manual, apalagi baca buku kucel kayak punya kamu itu" ucap Maya.
"Pak Adrian maunya laporan resmi, Sel" lanjut Iwan.
"Laporan resmi nggak bakalan nyelamatin bang Rendi sekarang, Bang Budi sekarang bantuin saya mengetik seadanya saja" ucap Gisel lalu duduk di meja kerjanya.
"Mau ketik apa Lu, jam 12.57 menit, Nggak sempat jari cantik lu menari di keyboard" ucap Budi
"oo,, sh***tt kita nggak punya waktu untuk merapikan datanya" ucap Gisel merebut buku kucelnya dari tangan Budi.
"Saya pergi dulu ke ruangan Beruang Kutub" ucap Gisel.
Maya menahan lengan Gisel "Sel jangan nekad! Kamu kan tau tanpa janjian terlebih dahulu dengan pak Adrian, kita dilarang datang ke lantai 40" ucap Maya khawatir.
"Gak May, kita harus selamatin bang Rendi, kalau kita nggak selamatin bang Rendi, karirnya akan mati, dan semua perusahaan tidak ada yang menerima karyawan yang dipecat dari perusahaan Bramantyo Grup gara-gara tu beruang kutub" ucap Gisel
"Tapi Sel.. " Maya berusaha menahan Gisel, tapi Gisel berjalan cepat ke arah pintu.
"Bang Budi, jagain meja saya yah, kalau saya nggak balik lagi" ucap Gisel sebelum keluar dari ruangan Devisi operasional dan logistik.
Budi melambaikan tangannya dengan dramatis.
"Hati-hati say! Jangan lupa dandan dikit, biar Bos manusia kutub itu, nggak makin mual liat debu di wajah lu! Semangat Jeng Gisel" ucap Budi.
***
Di ruangan Adrian menggeser pelan sebuah map hitam yang biasa disebut black folder ke arah Rendi.
Rendi membatu menatap map yang berisi pemecatan dirinya.
"Silahkan tanda tangan Rendi. Saya tidak butuh permintaan maaf, saya butuh profesionalisme yang tidak kamu miliki hari ini" ucap Adrian tenang tetap dengan ciri khasnya tanpa ekspresi.
Rendi meraih bolpoin dengan tangan gemetar. Tepat disaat Rendi akan mendatangani Black Folder tersebut pintu dibuka paksa.
BRAKK..
Pintu jati ukuran tiga meter itu terbuka lebar, saking kerasnya Gisel membuka pintu tersebut, pintu menghantam dinding. Gisel berdiri di sana dengan nafas yang memburu, penampilan acak-acakan, wajah berdebu, bekas oli di lengan bajunya tidak dia hiraukan.
Adrian menatap tajam dan nyalang ke arah Gisel.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke ruangan saya tanpa izin dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" ucap Adrian menahan emosinya pertama kalinya ditantang oleh karyawannya.
Gisel berjalan tegap menuju meja Adrian mengabaikan tatapan mematikan sang CEO.
"Nggak ada waktu buat ketuk-ketuk pintu pak! " ucap Gisel dengan berani.
"Kalau saya ketuk dulu, keburu bapak memecat orang yang tidak bersalah" ucap Gisel lantang tanpa rasa takut menantang tatapan nyalang kepada CEO.
Rendi berdiri panik menarik lengan Gisel hendak keluar "Gisel, Kamu ngapain di sini? Ayo keluar dulu" ucap Rendi menarik pelan lengan Gisel.
"Apaan sih Bang, saya ke sini mau menyelamatkan bang Rendi dari amukan Binatang Kutub yang tidak berperasaan kayak kanebo kering" tandas Gisel tanpa rasa takut, yang diucapkan oleh Gisel terdengar jelas oleh Adrian.
Gisel berbalik dan menatap Adrian, yang saat ini sedang mengendalikan emosi tidak meledak dihadapan Gisel dan Rendi.
"Sel, ayo keluar dulu" bujuk Rendi kembali memegang lengan Gisel.
"Apaan sih bang, saya ke sini mau membantu bang Rendi, jadi bang Rendi diam, biar saya yang bicara dengan manusia robot muka kanebo kering menyerupai beruang kutub itu" ucao Gisel tepat dihadapan Adrian.
Gisel meraih black folder yang akan ditandatangani oleh Rendi, dan melepas nafas lega.
"Baguslah belum bang Rendi tanda tangan" senyumnya riang, lalu merobek kertas pemecatan atas nama Rendi.
Adrian hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya untuk pertama kalinya, merasa tertantang dengan Perempuan dihadapannya, dan berusaha tenang, ingin tahu tindakan selanjutnya oleh Gisel.
"Sel. kau" ucap Rendi tertahan. Belum sempat Rendi berkata kembali Gisel menggebrak meja Adrian dengan kuat, membuat Rendi dan Hadi asisten Rendi merasa nafas mereka terhenti sesaat.
"Nih, baca dengan cermat pak Adrian, kalau memang bapak masih punya hati dan menghargai kerja manusia, dan memastikan mata bapak dalam kondisi normal, bukan cuma angka di layar yang diutamakan" ucap Gisel memberikan buku kucelnya kepada Adrian dan menunjuk layar laptop milik Adrian.
Melihat Adrian yang tidak mau menyentuh buku kucelnya, Gisel menarik tangan Adrian dan membuka catatan buku kucelnya yang berisi halaman berisi coretan pulpen biru yang rapi.
"Ini apa? " tanya Adrian
"Katanya lulusan luar negeri di Universitas terkenal, masa dengan benda ini nggak tau namanya" Ucap Gisel berhasil membuat Adrian melotot sempurna dan berusaha bersikap tenang.
"Ini tu Bu-Ku.. Be u, BU.. Ka U, KU.. " Gisel mengeja pelan "di baca BUKU" ucap Gisel berhasil membuat Rendi dan Hadi ingin tertawa, namun seketika mereka terdiam mendapat tatapan tajam dari sang CEO yang merasa sudah ditelanjangi habis-habisan oleh Gisel.
Seakan tahu pikiran Adrian kembali Gisel berkicau dengan nada menusuk telinga Adrian.
"Kenapa Jijik melihat buku ini, kotor berdebu, nggak ada waktu pak untuk berfikir seperti itu, Asal bapak tau ya, walaupun buku itu butut, kucel, jelek dan tidak karuan, di buku itu ada nyawa perusahaan bapak hari ini" ucap Gisel
"Lihat dan baca pak, truk nomor 88! Jam 2.15 dini hari barang itu masuk. Saya sendiri yang hitung manual di bawah hujan karena sistem bapak yang harganya miliar rupiah tiba-tiba mati total. 200 unit suku cadang Cikarang ada di gudang C, dibawah terpal biru, barangnya tidak hilang pak, yang hilang itu fungsi otak orang-orang IT bapak! " Gisel menjelaskan isi buku kucelnya.
Adrian terdiam, ia mulai membaca dengan seksama catatan yang ditulis oleh Gisel, sangat detail dan lengkap isi catatan itu beserta nomor truk dan nama sopirnya bang kumis. Adrian kagum dengan kerja Gisel yang mencatat secara manual 200 unit tertera dengan sangat jelas mengalahkan laporan staf analisis devisi operasional dan logistik.
Suasana makin mencengkam ketika Adrian masih dengan teliti membaca lembar demi lembar tulisan tangan Gisel. Setelah selesai membacanya Adrian meletakkan buku Gisel di meja dan belum mengeluarkan pernyataan apapun. Ingin memuji Gisel tapi gengsinya mengalahkan segalanya, egonya terlalu tinggi untuk mengakui kinerja Gisle yang luar biasa.
"Kenapa diam pak? " tanya Gisel kembali emosi mendapati Adrian yang diam saja. Apa bapak masih ingin memecat Bang Rendi? Pecat saya saja pak karena itu bukan kesalahan Bang Rendi. Saya belum sempat input semua barang itu, karena sistem down dari semalam sampai dengan saat ini" ucap Gisel
"Bagi saya yang penting barang aman, dan sudah saya catat semuanya barulah saya input jika sistemnya sudah ok lagi, daripada saya menunggu ketidakpastian kelemotan sistem bapak yang nggak jelas" ucap Gisel seperti petasan.
"Pak, bapak kenapa nggak ngomong sih, benar-benar ya, bapak tu ibarat beruang kutub yang tidak punya perasaan" ucap Gisel kesal karena Adrian diam saja tidak menanggapinya
"Sel, udah cukup" ucap Rendi pelan memenangkan Gisel, sebenarnya Rendi bersyukur karena Gisel membantunya, tapi kembali lagi ke Adrian si pemberi kebijakan. Khawatir Gisel bernasib sama dengannya.
Adrian melepas nafas dengan pelan dan menarik ID Card yang dipakai oleh Gisel.
"Gisel Amara, Staf ahli Gudang Operasional dan Logistik" ucap Adrian membaca ID Card milik Gisel dengan nada pelan penuh penekanan, sempat membuat Gisel menelan salivanya dengan pelan.
"Kamu tahu sanksi atau hukuman bagi staf yang menghina pimpinan perusahaan di ruang kerja pribadinya? " tanya Adrian dengan nada lembut tapi mengintimidasi.
"Tahu" Tanya Gisel menantang. "Dipecahkan! " Gisel semakin memperjelas ucapan Adrian.
"Silahkan pak kalau bapak mau pecat saya, nggak masalah, saya juga sudah cape punya Bos layaknya robot dan mukanya sama persis dengan kanebo kering" ucap Gisel tanpa rasa takut.
Adrian tersenyum tipis hampir tak terlihat. Adrian kemudian duduk kembali di kursi kebesarannya, sementara Hadi masih setia menemani di sisi Adrian.
"Ok, masalah 200 unit Cikarang saya anggap selesai. Dan karena black folder kamu Rendi telah dirobek oleh Gisel, maka silahkan kamu keluar" ucap Adrian tenang.
"Cik, sok cool" ucap Gisel pelan, namun bisa didengar oleh Adrian, namun Adrian kembali tersenyum tipis tak terlihat oleh kasat mata.
"Kamu ngapain di situ Ren, keluar sana, sebelum saya menyuruh Hadi membuat kembali black folder baru untukmu" ucap Adrian
"Baaa..iikkk pak, Te.. rima kasih, per.. misi pak" ucap Rendi lalu berbalik, sebelum pergi ia berbisik kepada Gisel.
"Kamu nekad banget Sel" ucapnya pelan.
"It's Ok asalkan bang Rendi aman" ucap Gisel lalu mengisyaratkan Rendi pergi.
Adrian mengisyaratkan kepada Hadi untuk meninggalkan dia bersama Gisel. Hadi yang paham pergi lalu menutup pintu.
Kini tersisa Adrian dan Gisel di ruangan bersuhu 16 derajat tersebut. Gisel mengambil buku kucelnya dari meja kerja Adrian dan berbalik.
"Siapa yang menyuruhmu pergi Gisel" ucap Adrian membuat Gisel menghentikan langkanya. "Urusan kita belum selesai" ucap Adrian.
Gisel berbalik "Saya tahu pak, saya dipecatkan, jadi urusan selesai" ucap Gisel namun Adrian menarik senyum smriknya.
"Silahkan kamu keluar dari staf gudang, dan menjadi sekertaris pribadi saya" ucap Adrian membuat Gisel membelalakkan matanya.
"Haah?! Sekertaris pak? Saya tidak cocok menjadi sekertaris bos robot plus kanebo kering ngalahin beruang kutub dan mengurung diri di ruangan minus ini" ucap Gisel tanpa Filter, namun tidak membuat Adrian marah dengan ucapan Gisel.
Adrian berdiri dan mendekati Gisel "Saya butuh orang yang tahu tentang seluk beluk perusahaan saya terutama bagian logistik, dan berani bicara jujur meskipun cara bicaranya seperti petasan banting. Mulai besok bersihkan debu di bajumu. Dan mulailah bekerja di sini" Ucap Adrian dengan tenang.
Gisel mendumel kesal "Dasar Bos Sinting.. Egois.. Kulkas 1000 pintu.. Robot.. Kanebo Kering.. Beruang Kutub" ucap Gisel lalu berbalik tanpa mengindahkan permintaan Adrian untuk menjadikannya sekertaris. Saking kesal Gisel kembali membanting pintu ruangan Adrian.
Adrian tidak marah ketika Gisel mengumpat nya tepat dihadapannya.
"Mmm Menarik... " ucap Adrian tersenyum, kemudian melepas nafas dengan pelan.
Adrian meraih ponselnya lalu menghubungi asisten pribadinya.
"Hadi, saya butuh informasi tentang Gisel Amara, secepatnya"
"Baik Pak segera" ucap Hadi.
To Be Continue