Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Carisa tiba di kantor sedikit lebih pagi dari biasanya. Lift baru saja terbuka ketika ia keluar, langkahnya masih pelan, seperti belum sepenuhnya masuk ke ritme hari kerja.
Ruang kantor sudah hidup. Beberapa orang duduk di meja masing-masing, suara keyboard terdengar bersahut-sahutan, sesekali diselingi obrolan ringan yang tidak benar-benar penting.
“Pagi, Carisa.”
Ia menoleh. Seorang wanita muda berdiri di dekat meja pantry, segelas kopi di tangannya.
“Pagi, Lusy” jawab Carisa singkat.
Lusy memperhatikannya sebentar. “Kamu kelihatan capek.”
Carisa hanya mengangguk kecil. “Kurang tidur.”
“Brief klien Pak Reynanda sudah masuk tadi malam,” lanjut Lusy, nada suaranya kembali ke urusan kerja. “Minta revisi di area lounge sama ruang meeting.”
Carisa langsung berhenti di mejanya. Tasnya belum sempat ia letakkan dengan rapi. “Revisi apa?”
“Katanya terlalu formal. Dia mau lebih ‘hangat’, tapi tetap kelihatan profesional.” Lusy mengangkat bahu. “Agak nanggung sih.”
Carisa menarik kursinya. Laptop dibuka, file proyek langsung ia cari tanpa banyak jeda. “Materialnya diubah atau cuma layout?”
“Dua-duanya kemungkinan. Dia juga mention pencahayaan.”
Carisa menghela napas pendek. “Oke. Kita lihat dulu.”
Belum sempat ia membuka file sepenuhnya, Rini muncul dari belakang, membawa beberapa lembar print out.
“Ini aku sudah cetak revisi kemarin,” katanya, meletakkan kertas itu di meja Carisa. “Tapi kayaknya harus dirombak lagi.”
Carisa melihat sekilas. Garis-garis layout yang semalam terasa cukup kini terlihat kaku di matanya sendiri.
“Iya, ini terlalu kaku,” gumamnya pelan. “Kalau dia mau lebih hangat, kita harus main di tekstur sama warna. Jangan terlalu banyak garis lurus.”
Arga mendekat, ikut melihat. “Kayu?”
“Bisa. Tapi jangan full. Kombinasi aja,” jawab Carisa. “Dan lampunya jangan putih semua. Kita kasih sedikit warm light di beberapa titik.”
Rini mengangguk. “Area lounge-nya jadi lebih santai ya?”
“Iya, tapi tetap rapi,” sahut Carisa. “Jangan sampai kelihatan kayak kafe.”
Suasana di sekitar mereka tetap berjalan seperti biasa. Telepon berdering di meja lain, seseorang tertawa kecil, lalu kembali diam.
Beberapa menit kemudian, suara langkah yang lebih tegas terdengar dari arah lorong. Obrolan kecil di beberapa sudut langsung mereda, tidak sepenuhnya hilang, tapi cukup untuk memberi ruang.
Bu Direktur muncul.
Setelan kerjanya rapi seperti biasa. Tatapannya langsung menyapu ruangan sebelum berhenti sebentar ke arah Carisa dan timnya.
“Sudah lihat revisinya?” tanyanya tanpa basa-basi.
Carisa berdiri, refleks. “Sudah, Bu. Kami lagi breakdown.”
Bu Direktur mendekat, meletakkan map di meja Carisa. “Klien mau suasana yang lebih hidup. Bukan dingin seperti sebelumnya.”
Carisa membuka map itu. “Kami rencana ubah di material sama pencahayaan, Bu. Lounge dibuat lebih ringan, tapi meeting room tetap dijaga formalnya.”
Bu Direktur mengangguk pelan. “Jangan sampai terlalu santai. Ini kantor, bukan ruang publik.”
“Iya, Bu.”
“Dan satu lagi,” lanjutnya, nada suaranya sedikit lebih rendah. “Sirkulasi orang harus diperjelas. Kemarin terlalu sempit di jalur utama.”
Carisa mencatat cepat di pikirannya. “Kami revisi layout-nya, Bu.”
Bu Direktur menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada yang aneh secara jelas, tapi cukup membuat Carisa menahan napas tanpa sadar.
“Deadline tetap hari Jumat,” katanya akhirnya.
“Siap, Bu”
Bu Direktur mengangguk singkat, lalu berbalik, berjalan ke ruangannya tanpa menunggu jawaban lain.
Begitu pintu ruang direktur tertutup, suasana kembali seperti semula. Suara keyboard, kursi yang digeser, dan napas yang dilepas perlahan.
Lusy bersandar di meja. “Jumat? Cepat banget.”
Carisa sudah kembali duduk. Matanya ke layar, jari-jarinya mulai bergerak membuka file desain.
“Kita kejar,” katanya singkat.
Rini menarik kursi di sampingnya. “Aku bantu di alternatif layout?”
“Iya. Coba buka area lounge dulu. Kita longgarkan jalurnya.”
Lusy mengangguk. “Aku handle lighting.”
Carisa tidak menjawab. Fokusnya sudah kembali penuh ke layar. Garis-garis baru mulai terbentuk, perlahan menggantikan yang lama.
Di tengah semua itu, semuanya terlihat normal. Seperti hari kerja biasa. Seperti tidak ada apa-apa di luar pekerjaan.
Beberapa menit berlalu. Suara keyboard kembali memenuhi ruangan, ritme kerja mulai terbentuk lagi.
Carisa masih fokus di layar saat langkah sepatu itu kembali terdengar. Lebih terarah kali ini.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Bu Direktur berhenti di samping mejanya.
“Carisa.”
Jari Carisa terhenti sesaat di atas keyboard. Ia mendongak. “Iya, Bu?”
“Pak Reynanda minta revisi dibahas langsung,” katanya singkat. “Kamu ke kantornya sekarang.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa pilihan.
Carisa tidak langsung menjawab.
Napasnya tertahan sepersekian detik, cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit sesak sebelum akhirnya ia tarik pelan.
“Bu…” suaranya tetap dijaga, datar. “Kalau bisa, kirim orang lain saja.”
Lusy yang berdiri di dekat situ langsung menoleh. Rini juga berhenti menulis.
Bu Direktur mengernyit tipis. “Kenapa?”
Carisa mengalihkan pandangannya sebentar ke layar, lalu kembali. “Saya bisa handle revisinya dari sini. Nanti dikirim, atau dibahas lewat online saja.”
Bu Direktur menatapnya lebih lama kali ini. Bukan marah, tapi jelas tidak puas.
“Dia minta kamu langsung,” ujarnya. “Bukan tim. Kamu.”
Ada jeda.
Carisa menelan pelan. “Kalau memang harus, mungkin Lusy atau Rini bisa mewakili...”
“Tidak,” potong Bu Direktur tegas. “Kamu yang pegang proyek ini dari awal.”
Suasana di sekitar mereka kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.
Carisa terdiam. Beberapa detik.
Lalu ia mengangguk kecil.
“Baik, Bu.”
Bu Direktur tidak menambahkan apa-apa lagi. Ia hanya menatap sekilas, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Begitu langkahnya menjauh, Lusy mendekat sedikit. “Kamu tidak apa-apa?”
Carisa sudah kembali menatap layar, tapi tangannya tidak bergerak.
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
Namun beberapa detik kemudian, ia menutup laptopnya perlahan.
Mengambil tas. Dan berdiri. Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju lift, dengan langkah yang kali ini terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak