Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
"Pah, sudah," tahan Rayya pada aksi Rio yang kembali memberikan beberapa pukulan pada Marsel. Pria baya itu masih marah atas sikap Marsel pada Rayya.
Rayya memaksa diri nya untuk bangun dan menghentikan kemarahan Rio. Ia melakukan itu karena takut Marsel membalas dan malah melukai Rio.
Kalau saja Rio tidak pergi untuk menjenguk putri nya itu, mungkin Rio tidak akan tahu tentang peristiwa hari ini, untunglah Sella tidak ikut dengan nya, kalau tidak istri nya itu akan sangat sedih jika tahu Rayya di perlakukan buruk oleh Marsel.
"Jangan cegah Papa, Rayya. Sudah sangat lama Papa bersabar pada orang ini," kata Rio mengungkapkan amarahnya yang sudah lama menggunung.
"Pah, Rayya tidak perhitungan lagi dengan yang sudah Marsel lakukan padaku. Tapi dia hari ini sangat kejam pada Riko, Pah."
Rayya memang tidak ingin marah atau pun memaafkan Marsel, apa yang sudah pria itu lakukan hari ini memang sangat membuat Rayya terguncang dan diliputi ketakutan.
"Apa yang dia lakukan pada Riko?" tanya Rio.
"Kaki dan tangan Riko di patahkan oleh nya," ucap Rayya menatap marah pada Marsel.
Marsel mengepalkan kuat kedua tangannya, kenapa Rayya masih saja membahas pria itu, belum puaskah dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Tapi, mengingat apa yang sudah Marsel lakukan pada Rayya karena amarahnya, membuat Marsel hanya menampakkan wajah dingin, walau di dalam hatinya ingin mencekik Rayya karena masih saja menyebut-nyebut nama pria lain.
"Maaf, itu karena aku tidak terima dia menyentuh wanita ku," kata Marsel tidak bisa marah pada Rayya, kejadian sebelumnya membuat nya takut menyakiti lagi Rayyanya.
"Bukan aku yang kamu patahkan kaki dan tangan. Untuk apa meminta maaf padaku," ujar Rayya masih tidak suka melihat pria kejam itu.
Marsel menahan emosinya dalam kepalan tangan yang mengerat kuat. Apakah Rayya meminta nya agar Marsel meminta maaf pada Riko?
Marsel tertawa memikirkan hal tersebut membuat yang lain tidak tahu apa yang membuat Marsel tertawa semenyeramkan itu.
"Baiklah."
Marsel mendekati Rayya dan meraih tangan wanita itu. Ia menarik tangan Rayya dengan hentakan ringan tertahan.
"Apa Rayya akan memaafkan ku jika bajingan itu memafkan ku juga?" tanya Marsel berusaha tak marah.
Yang Ia maksud bajingan itu adalah Riko. Tapi Rayya tidak bergeming dan hanya membuang muka dari Marsel.
Marsel berdiri keluar dari ruangan Rayya di rawat.
Kebetulan Riko juga berobat di rumah sakit yang sama, tanpa banyak bicara lagi Marsel segera menuju di mana Riko berada.
Terlihat Riko sudah sudah di pasangi gips pada tangan dan kakinya yang cedera, wajah pria itu juga di penuhi memar.
"Apa yang kau lakukan di sini, belum puas membuat ku menjadi pasien rumah sakit," kata Riko menatap sinis pada Marsel.
Marsel tidak peduli dengan Riko yang tidak bersahabat, dengan wajah datar Ia menunduk pada pria itu.
"Mau apa, kau?" tanya Riko dingin tapi Marsel tidak membalas dan menatap tajam pada Riko dengan posisi tubuh yang masih menunduk.
"Maaf atas perbuatan ku padamu hari ini," kata Marsel dingin.
Ia lalu menegakkan kembali kepalanya. Tidak peduli Riko terima permintaan maafnya atau tidak, terserah padanya saja.
Di ambang pintu, ada Rio yang memperhatikan mereka. Sebelumnya Ia tidak percaya Marsel akan merendahkan diri demi mendapatkan maaf dari putrinya, Rayya. Tapi melihat apa yang pria itu lakukan, Rio merasa menjadikan Marsel suami Rayya tidak sepenuhnya salah.
Walau mereka memiliki dendam pribadi pada Marsel, namun sekarang Rayya sudah terlanjur menjadi istri Marsel.
"Anggaplah kita impas karena kau sudah berani mengganggu istri ku di kediaman ku sendiri. Jika di bawah ke ranah hukum pun kau tetap menjadi orang yang bersalah dan melanggar."
Riko terdiam mendengar penuturan Marsel, dirinya memang salah karena memaksa Rayya ikut dengan nya yang sudah berstatus menjadi istri Marsel.
"Sebagai kompensasi karena membuat mu cedera, kau akan ku beri uang seratus juta dan biaya rumah sakit menjadi urusan ku."
Setelah mengatakan semuanya Marsel langsung pergi dari sana. Ia berhenti saat melihat ternyata ada Rio di ambang pintu.
Puk!
Rio menepuk pundak Marsel dan berkata,
"Ku harap permintaan maaf mu ini memang sungguh-sungguh karena ingin berbaikan dengan Rayya. Akan lebih baik lagi jika kamu memang benar-benar tulus meminta maaf."
Rio tahu orang seperti apa Marsel, kekejamannya bahkan melebihi rumor yang beredar, anak itu adalah binatang buas yang bukan hanya memangsa, tapi juga meracuni. Umpama kecil itu tidak sebanding dengan kekejaman yang Marsel miliki.
Melihat Marsel menundukkan kepalanya di depan orang lain adalah sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Jadi Rio yakin Marsel memang memiliki kepedulian pada Rayya, putrinya.
"Ini hanya untuk Rayya. Aku tidak ingin bajingan itu benar-benar memaafkan," balas Marsel pada Rio, Ayah mertuanya.
Mendengar perkataan jujur Marsel, Rio hanya menghela nafas dan mengangguk saja. Lalu berlalu dari tempat itu. Marsel juga segera kembali ke ruangan di mana istrinya Rayya berada.
"Sayang, aku sudah meminta maaf pada orang itu. Rayya maafkan aku ya," kata Marsel meraih tangan Istrinya yang masih melihat dirinya dengan wajah datar.
"Jangan marah lagi, aku bahkan memberikan dia kompensasi. Lagipula itu juga salah nya, kenapa mau merebut mu dariku. Kamu itu sudah jadi istriku."
Alex masih setia berada di ruangan itu, Ia tidak heran lagi dengan sikap Marsel semenjak bertemu dengan Rayya. Nampaknya memang cuma Rayya seorang yang bisa membuat Bos Mafia itu takluk.
Tapi Alex juga kasihan pada Marsel, padahal sudah sangat berusaha sampai merendahkan diri di depan orang yang bisa di bilang musuh dalam percintaan, namun Rayya tetap tidak peduli pada Marsel.
"Memang nya kapan aku menyuruhmu untuk pergi minta maaf? Nggak pernah," ujar Rayya cuek.
Tangan Marsel mengepal dan dadanya terasa sesak menahan gejolak emosi, rahang nya mengeras mencoba menetralkan wajah agar tidak terlihat marah.
Alex yang mendengar nya bahkan di buat takut oleh nya, rasanya bulu kuduk pria itu berdiri semua sangking merinding nya, sudah pasti kali ini Marsel tidak akan memaafkan sikap Rayya yang sudah keterlaluan.
"Ya, Rayyaku memang tidak menyuruh. Aku sendiri yang berinisiatif."
Ucapan Marsel seakan baik-baik saja, tadi nada suaranya dingin dan menekan.
Wajah garang Alex rasanya ingin menganga mendengar ungkapan Bosnya. Apakah cinta memang membuat seseorang berubah. Misalnya seperti Marsel, dari yang kejam dan tidak kenal ampun jadi pemaaf dan pemurah seperti Marsel yang sekarang ini.
"Bagus lah kalau kau sadar. Tapi aku belum memaafkan atas apa yang sudah kamu lakukan padaku," kata Rayya dingin.
Marsel melihat Rayya yang terluka, semua memang salah nya dan pria itu berjanji pada diri sendiri untuk lebih mengontrol emosi lagi jika dengan Rayya. Ya, dirinya hanya bisa memaklumi Rayya seorang, yang lain tidak boleh lepas.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama marah padaku."
Alex langsung terduduk, Ia kira akan melihat Marsel yang marah tapi ternyata pria itu memang sudah benar-benar gila karena cinta. Harusnya Marsel meledak amarahnya saat jawaban Rayya masih tak bersahabat, apalagi Marsel terlihat sudah sangat berusaha sabar.
'ih kenapa malah begini sih' kesal Rayya dalam hati. Ia sejujurnya ingin memanfaatkan situasi ini agar Marsel membuangnya saja, jadi Rayya bisa terbebas dari Marsel. Tapi kenapa Marsel malah terlihat seperti semakin ingin mengikat dirinya.
"Aku malah ingin mencakarmu," gumam Rayya namun Marsel masih bisa mendengar nya, apalagi ruangan itu sangat sunyi.
Marsel hanya mengepalkan kedua tangan nya berusaha untuk tetap tidak meledak dalam amarah.
"Bos."
Alex mendekat dan menyerahkan ponselnya pada Marsel. Sepertinya Ia memperlihatkan sebuah video. Mata Marsel menajam melihat benda pipih itu. Matanya beralih menatap tajam pada Rayya yang mendadak takut melihat mata pria itu.
'Apa yang dia lihat' batin Rayya agak tegang. Kenapa Marsel terlihat marah setelah melihat handphone Alex.