NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

“Apa Devan harus banget diundang?” David mendengus sebal saat Tara menunjukkan surat undangan pernikahan mereka yang akan dikirimkan ke alamat Toko ponsel milik Devan.

“Ya iyalah. Ayolah, Vid. Kenapa sebel gitu sih?” Tara menggenggam tangan David.

“Aku sama dia itu nggak ada masalah. Hubungan kami baik-baik aja. Jadi, apa salahnya sih ngundang Devan? Dia nggak akan mengacaukan acara kita. Percaya deh,” bujuk Tara.

David balas menggenggam tangan Tara. “Tapi dia nggak setuju kita kembali bersama.”

Tara tersenyum lembut. “Pendapat dia nggak penting. Dia nggak berhak ikut campur lagi. Dan lagi pula aku bahagia. Kita bahagia. Cuma dia aja yang nggak setuju, jadi biarin aja.”

“Tetap aja aku khawatir, Ra,” ucap David lirih. Dia merasa Devan masih mengharapkan Tara kembali. Dan David selalu merasa rendah diri, apalagi Devan lebih kaya darinya.

Tara menghela napas pelan. “Ya udah. Kita nggak undang Devan. Tapi aku nggak jamin Devan nggak dateng karena aku yakin, walaupun kita nggak mengundangnya, dia pasti tahu kapan kita nikah. Aku justru malah khawatir dia mengacau di hari penting kita nanti.”

“Ya udah deh. Kita undang dia. Tapi, jangan kamu yang nganterin undangannya ya. Pakai kurir aja.” David mengalah. Dia juga takut jika Devan datang dengan marah-marah lantaran tak diundang di hari pernikahan mantan istrinya.

Tara tersenyum dan memeluk David singkat. “Iya, Sayang.”

Keduanya kembali sibuk memeriksa satu persatu undangan yang sudah ada namanya masing-masing. Mereka memastikan semua kenalan mereka diundang. Walaupun Tara menikah untuk kedua kali, tapi dia masih ingin merayakan pernikahan lagi. Apalagi kali ini dia akan menikah atas dasar cinta. Tentu saja Tara menyambut gembira dan antusias acara yang akan diselenggarakan satu minggu lagi setelah undangan di sebar.

Haris yang berniat hendak membantu Tara dan David mengurus undangan, menghentikan langkahnya di depan pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu. Haris justru berdiri disana sambil terus menatap kedua orang yang terus tersenyum dan sesekali mengobrol mesra. Terlihat sekali keduanya saling mencintai sampai tak sadar jika Haris menatap keduanya. Haris ikut tersenyum. Kali ini, Haris yakin seratus persen, Tara pasti bahagia.

***

Devan memegang surat undangan yang ada di tangannya dengan tatapan datar. Tertera nama kedua calon mempelai di sampul surat. Walaupun Devan sudah menduga jika Tara akan menikah dengan David, tapi Devan tak menyangka jika akan secepat ini mereka melaksakan pernikahan.

Hatinya masih berdenyut nyeri. Walau waktu sudah berlalu, tapi tetap saja di sudut hatinya yang terdalam, nama Tara masih tersimpan. Wanita satu-satunya yang ada dalam hidup Devan. Memberi warna dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Disaat Devan masih terjebak dalam masa lalu mereka, Tara justru sudah melangkah jauh ke depan bersama pria lain. Pria yang juga pernah menyakiti Tara. Namun bedanya, Tara menerimanya lagi. Sedangkan Devan, ah.. Devan yakin, Tara sudah melupakannya. Tara sudah melupakan semua kenangan indah mereka.

Devan tersenyum sinis. Kesempatannya untuk mendapatkan Tara lagi, kini sudah hilang.

Devan menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Alan muncul dengan tersenyum.

“Gila. Capek banget,” gerutu Alan lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Devan yang berdiri menghadap jendela lalu melangkah ke ranjang. Dia meletakkan surat undangan pernikahan Tara dan David di atas ranjang.

Alan menoleh dan mengambil surat itu. Dahinya mengernyit. Dia lalu duduk dan menatap Devan.

“Mantan bini lo ngundang lo ke pernikahannya?” Alan membaca surat undangan itu.

Devan mengangguk lesu. Dia duduk di atas ranjang dan bersandar. “Menurut lo, gue dateng nggak?”

“Tergantung niat lo.”

“Maksudnya?”

“Kalau lo berniat ngehancurin acara mereka, mending lo nggak usah dateng. Tapi kalau buat ngucapin selamat, ya udah dateng aja.”

Devan menarik napas dalam. Dadanya sedikit sesak. Entahlah. Devan selalu tak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Dia seperti orang pasrah yang hanya mengikuti angin takdir.

“Apa lo ada niat berubah, Dev?” tanya Alan kembali berbaring menatap langit-langit kamar.

Devan melirik Alan. “Kenapa? Lo udah bosen sama gue dan mau pergi?”

“Kalau lo mau berubah, gue bakal pergi. Gue nggak akan maksa lo, Dev. Kita udah jalan terlalu jauh. Dan dari dulu sampai sekarang, gue ngrasa kalau lo tuh bimbang antara berhenti atau tetap kayak gini. Apa lagi setelah lo cerai dari Tara. Gue ngrasain perubahan itu, Dev. Makanya gue tanya, apa lo ada niat buat berubah?”

Devan terdiam. Dia sendiri juga bingung. Di satu sisi, ingin berubah, tapi di sisi lain, terkadang dia sudah terlanjur nyaman di zona tak normal ini.

“Dev…”

“Apa lo mau berubah?” Devan menatap balik.

Alan menggeleng. “Untuk saat ini, nggak. Gue masih nyaman dengan hidup kayak gini. Nggak ada suara cewek berisik. Nggak ada rengekan berlebihan, dan yang jelas nggak ditanyain kapan lo mau nikahin gue. Jujur, cewek itu ribet banget. Baru jalan satu dua bulan, udah posessive, ngajakin nikah.”

Devan tersenyum lirih. “Tapi Tara beda, Lan. Dia nggak pernah ngrengek minta apa-apa. Dia nggak banyak nuntut. Dia cuma nuntut satu hal yang belum bisa gue kasih sampai kami cerai.”

Alan tertawa pelan. “Lo kayak orang yang baru jatuh cinta sama cewek. Tapi sayang banget, lo sia-siain cewek seperti Tara. Gue yakin dia satu dari seribu wanita yang mau berhubungan sama cowok belok kayak kita.”

Devan ikut tertawa. Tertawa perih. “Dan cowok belok kayak kita, nggak pantes bersanding sama cewek sebaik dan sesempurna Tara.”

Alan mengangguk. Setuju dengan pendapat Devan. Tara terlalu sempurna untuk Devan yang tak normal.

“Gue rasa, kita nggak usah berhubungan sama cewek manapun selagi kita masih bareng kayak gini. Jangan sampai ada Tara selanjutnya lagi. Gue nggak tega sumpah. Gue masih ingat banget gimana ekspresi Tara saat mergokin kita di atas ranjang berdua. Dan sejak saat itu, gue nggak mau bawa-bawa cewek ke dalam hidup gue. Setidaknya sampai gue siap berubah normal.”

Devan mengangguk setuju. “Gue juga nggak tahu sampai kapan kita kayak gini. Gue belum ada niat berubah. Walau jalan kita salah, tapi gue nggak bisa lepas. Gue nyaman dengan semua ini.”

Alan beranjak duduk dan menoleh. “Tapi, jangan sampai lo khianatin gue. Lo tahu aturan dalam hubungan ini. Lo bisa selingkuh sama siapapun, asalkan itu cewek. Bukan sesama cowok,” ancam Alan menatap tajam.

Devan mengangguk, mengerti. Dalam hubungan sejenis, rasa cemburunya memang melebihi hubungan normal. Tak jarang bisa melakukan hal nekat. Dan Devan masih sayang nyawa. Dia belum tahu bagaimana jika Alan marah. Tapi, Alan jelas bukan Haris, yang dia kenal begitu sangat. Alan bisa jadi orang berbahaya jika ada yang mengusiknya. Dan Devan tahu diri untuk tak membuat masalah yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Setelah Alan berpamitan untuk membeli makanan mereka berdua, Devan kembali meraih surat undangan pernikahan Tara dan David. Ia hanya menatap satu nama yang tertera di sana.

Antara Rinelda.

Perempuan yang bukan hanya sekedar mantan istri. Tapi perempuan yang membuatnya nyaman. Satu-satunya perempuan yang mau bersamanya walau ia punya kelainan orientasi seksual yang menyimpang.

Matanya menggelap. Tatapannya tajam tertuju pada nama lengkap Tara.

Ia memang sudah melepas Tara. Tapi ia belum bisa melanjutkan hidup seperti Tara. Ia tak terima Tara bahagia sementara dia masih terpuruk, diam-diam mengenang kebersamaan mereka untuk kembali berpura-pura sudah melupakannya.

Nyatanya, Devan tak akan pernah lupa. Tidak bisa. Apalagi dengan David.

Devan menyeringai sembari meremas surat undangan itu. Tatapannya tajam saat sebuah rencana tersusun rapi untuk menggagalkan pernikahan mereka.

Bersambung…

Hai, maaf banget ya. Baru upload. Ada masalah tadi pas buka file dokumennya. Lemott banget dan baru bisa kebuka sekarang.

Ditunggu like dan komentarnya ya. Salam, yesstory.

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!