NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, suasana terasa haru dan penuh emosi. Dinda masih sesenggukan menahan tangis, kepalanya bersandar dingin di kaca jendela. Ia menceritakan semua kejadian dengan gamblang kepada Amira. Mulai dari cara Nayla memojokkannya, tamparan Liana, hingga tuduhan mencuri cincin yang tidak pernah ia lakukan.

 "...Mereka semua percaya sama Nayla, Tan. Padahal Dinda sudah bilang berkali-kali Dinda tidak ambil. Tapi karena Nayla sudah lama di sana, mereka lebih percaya anak angkat daripada anak kandung sendiri. Dinda sakit hati sekali, Tan..." ucap Dinda dengan suara yang bergetar .

Mendengar cerita itu, tangan Amira yang memegang setir mengepal kuat. Wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Ia benar-benar tidak menyangka sahabatnya dan keluarganya bisa bertindak seburuk itu.

"Dasar tidak tahu diri! Mereka pikir siapa mereka?! Terkenal baik di luar, tapi di dalam rumah tega menyakiti anak sendiri cuma karena bukti palsu! Itu namanya bukan baik, tapi buta mata hati!" geram Amira .

Amira menghentakkan kakinya ke rem saat berhenti di lampu merah.

 "Mereka pikir karena Nayla sudah lama tinggal di sana, berarti dia suci dan benar?! Itu namanya menghakimi sepihak! Mereka lupa kalau kejahatan bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, tanpa memandang lama tinggal!"

Gio yang duduk di belakang pun ikut menggelengkan kepala tak habis pikir.

 "Gila ya... Padahal Om Leonardo kan terkenal tegas dan bijaksana. Kenapa kali ini dia malah lembek dan membiarkan Kak Dinda pergi begitu saja? Padahal Kak Dinda kelihatannya baik banget dan jujur."

 "Itu yang bikin mama geram setengah mati, Gio! Ko bisa Leonardo diam saja . Apa karena mereka terlalu menyayangi nayla sehingga mereka tidak bisa melihat sisi buruk seseorang . Padahal dari dulu mama sudah bisa menilai sendiri sifat dan sikap Nayla yang kurang sopan ." kesal Amira .

Benar saja, di tempat lain, Pak sam (ayah Liana) dan Pak Bram (ayah Leonardo) sedang menikmati suasana pagi dengan santai sambil berjalan kaki, sama sekali tidak tahu bahwa badai besar sedang terjadi dan cucu kandung mereka sedang menangis tersedu-sedu karena pergi dari rumah karena diperlakukan secara tidak adil.

 "Tunggu saja ya, Din . Tante antar kamu sampai rumah dengan selamat. Tapi setelah ini, Tante janji Tante akan datang ke rumah Dewantara. Tante akan marahi mereka semua! Tante tidak terima sahabat Tante bertindak sesuka hati begini!"

 Sesampainya di rumah Sari dan Pak Agus...

Mobil Amira berhenti di depan rumah sederhana itu. Pak Agus dan Sari yang sedang duduk di teras terkejut melihat Dinda turun dari mobil mewah dengan mata bengkak dan membawa koper.

 "Ya Allah... Dinda! Nak! Kenapa kamu balik lagi? Kenapa bawa barang-barang?!"

Sari dan Agus langsung berlari mendekat. Dinda langsung memeluk Sari dan menangis lagi.

 "Bu... Dinda mau tinggal di sini lagi. Dinda nggak kuat di sana. Mereka tuduh Dinda pencuri..."

"Apa?! Mereka berani menuduh kamu begitu?! Dasar orang tidak adil!"

Amira turun dari mobil dan menghampiri mereka.

" Hai sari , Aku Amira sahabatnya Liana , aku yakin kalian berdua pasti akan menjaga Dinda dengan baik. Dinda anak baik, dia jujur. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tolong jaga dia ya, Pak, bi sari . Nanti kalau ada apa-apa, hubungi aku bi . Ini kartu nama aku ." ucap Amira . sebenarnya Amira marah dengan kelakuan sehari 17 tahun yang lalu tapi melihat menjadi berlakukan baik dan disayangi oleh Sari dan suaminya hatinya melunak .

" mbak Amira , saya...."

" aku sudah tahu semuanya Bu Sari ... sebenarnya aku kecewa tapi melihat kasih sayang kalian terhadap Dinda sangat besar walaupun dalam keterbatasan ekonomi ."

Amira memberikan kartu namanya, lalu menatap Dinda lembut.

"Jangan sedih lagi ya Sayang. Kamu berharga. Tante janji akan bantu perbaiki semua ini."

Setelah memastikan Dinda aman di sana, Amira langsung masuk kembali ke mobil. Wajahnya kembali berubah tegas dan murka.

 "Gio, sabuk pengamanmu. Kita langsung menuju ke rumah Tante Liana sekarang juga. Hari ini Tante mau bikin keributan demi kebenaran!"

"Siap, Mah. Ayo kita kasih pelajaran sama mereka yang tidak adil itu."

Mobil pun melaju kencang menuju kediaman keluarga Dewantara. Amira siap mengguncang ketenangan rumah itu dengan kebenaran yang sesungguhnya .

 Suara mobil Amira perlahan menghilang di ujung jalan, menyisakan keheningan di halaman rumah sederhana itu. Dinda masih berdiri mematung, memeluk koper kecilnya dengan erat. Matanya sembab dan wajahnya terlihat lelah luar biasa.

Bu Sari tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah mendekat, lalu dengan lembut menarik tangan Dinda masuk ke dalam rumah. Tatapan mata Bu Sari penuh dengan kesedihan dan rasa iba yang mendalam.

"Ayo masuk, Nak... Jangan berdiri di panas-panas lagi. Masuk, istirahat dulu ya." ajak Bu sari dengan lembut .

Mereka duduk bertiga di ruang tamu yang sempit namun sangat bersih dan hangat. Pak Agus mengambilkan segelas air putih hangat dan memberikannya kepada Dinda.

"Minum dulu Nak, biar tenang. Maafkan kami ya... Maafkan Bapak dan Ibu karena sudah membuat hidupmu jadi serumit ini."

Dinda menatap kedua orang yang membesarkannya itu. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini bukan air mata kesedihan karena dituduh, melainkan air mata haru.

 "Bapak... Ibu... kenapa Bapak dan Ibu minta maaf? Kalian tidak salah sama sekali. Justru Dinda yang mau minta maaf, Dinda balik lagi ke sini merepotkan kalian." ucap indah dengan suara yang masih bergetar .

Bu Sari menggeleng cepat. Ia meraih tangan Dinda, menggenggamnya hangat. Walaupun Dinda bukan anak yang lahir dari rahimnya, dan walaupun anak kandungnya sendiri (Nayla) membenci mereka, rasa sayang Bu Sari kepada Dinda tidak pernah berkurang sedikit pun. Justru karena Dinda baik dan penurut, Bu Sari makin sayang.

 "Jangan bicara begitu Nak. Kamu tidak pernah merepotkan kami. Selama 17 tahun kamu ada di sini, kamu adalah anugerah terindah buat kami. Kamu anak yang baik, penurut, rajin, dan tidak pernah membantah. Beda jauh sama..."

Bu Sari berhenti berbicara, ia tidak mau menyebut nama Nayla agar tidak menambah sakit hati Dinda. Tapi maksudnya jelas.

 "Kamu tahu kan Nak? Walaupun darah kita beda, tapi hati kita sudah menyatu. Di mata Ibu dan Bapak, kamu tetap anak kami. Selamanya."

Dinda langsung memeluk tubuh renta Bu Sari, menangis tersedu-sedu di dada wanita itu.

"Terima kasih Bu... Terima kasih Bapak. Di sini Dinda merasa tenang. Di sana... Dinda merasa asing. Mereka lebih percaya sama Nayla daripada sama Dinda. Mereka tuduh Dinda pencuri, Bu... Padahal Dinda tidak pernah ambil barang siapa pun." isak Dinda .

Mengelus kepala Dinda dengan sayang, matanya juga berkaca-kaca "Iya Nak, Bapak tahu. Bapak dan Ibu percaya 100% sama kamu. Kamu anak jujur. Orang boleh kaya, boleh punya jabatan tinggi, tapi kalau hatinya buta dan tidak adil, hidup mereka tidak akan tenang. Biarkan saja mereka di sana. Kamu di sini saja sama kami. Walaupun rumah ini kecil, makan kita seadanya, tapi kita bisa tidur nyenyak tanpa ada yang menuduh seenaknya."

"Iya Nak. Anggap saja ini ujian dari Tuhan. Kamu orang baik, pasti Tuhan akan tunjukkan jalan yang terbaik buat kamu. Sekarang kamu mandi dulu, ganti baju, terus tidur ya. Lupakan semua hal buruk tadi." ujar Bu sari .

Dinda mengangguk patuh. Ia merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Di tengah kekecewaannya terhadap keluarga kandungnya, ia sadar bahwa Tuhan masih memberinya dua orang tua yang luar biasa baik hatinya.

Mereka mungkin miskin harta, tapi kaya akan kasih sayang dan kejujuran.

 Sementara itu...

Mobil Amira sudah memasuki gerbang rumah keluarga Dewantara. Amira memarkirkan mobilnya dengan kasar. Wajahnya masih memerah menahan amarah. Ia siap untuk "mengamuk" demi membela keponakan yang baru ia kenal itu.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!