Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKRAR DI BALIK JERUJI WASIAT.
"Kita terlambat, Tuan. Keretanya sudah tiba sepuluh menit yang lalu."
Suara Hans terdengar penuh sesal saat mereka berdiri di peron stasiun Jawa Timur yang padat. Maheer mengepalkan tangan, menatap rel kereta yang membentang seolah mengejek kegagalannya. Perjalanan darat yang berat dan medan yang sulit membuat mobil mereka tak mampu menandingi kecepatan kereta api.
"Jangan buang waktu. Langsung ke alamat pondok pesantren itu sekarang!" perintah Maheer dengan suara rendah yang berbahaya.
Setelah menempuh perjalanan dua jam menembus jalanan desa yang sempit dan asri, mobil mereka berhenti di depan sebuah gerbang kayu bertuliskan nama sebuah pondok pesantren. Suasana di sana sangat tenang, hanya terdengar suara sayup-sayup santri yang sedang melantunkan ayat suci. Maheer turun, merapikan kemejanya, dan berusaha meredam gejolak amarahnya.
Seorang pria paruh baya dengan jubah panjang dan sorban putih menyambut mereka dengan senyum teduh. "Assalamualaikum. Ada yang bisa saya bantu, Anak Muda?"
"Waalaikumsalam. Saya Maheer Arasyid. Saya mencari kakak ipar saya, Assel Salsabila," jawab Maheer sambil membungkuk hormat. Meskipun hatinya keras, ia tahu tempat ini memiliki martabat yang harus ia hargai.
Pria itu, Ustadz Khairul, mempersilakan Maheer masuk ke kediamannya. Di dalam ruang tamu yang beralaskan karpet tebal, Maheer menceritakan semuanya. Tentang kecelakaan itu, tentang kematian Muzammil, dan tentang wasiat yang mengharuskannya menikahi Assel demi melindungi Razka.
Ustadz Khairul mendengarkan tanpa memotong. Ia mengelus janggutnya yang sudah memutih, lalu menatap Maheer dengan pandangan yang dalam. "Nak Maheer, saya mengerti beban wasiat itu. Namun, pahamilah satu hal."
"Apa itu, Ustadz?"
"Seorang wanita yang kehilangan suami yang menjadi pelindungnya tidak akan bisa membuka hati dalam semalam. Wanita itu setia, dia akan selalu teringat pada suaminya. Dan ingatlah, wanita bisa berubah menjadi singa jika menyangkut anaknya. Anak adalah nyawa keduanya. Jika kau menyentuh titik sensitif itu dengan keras, dia akan semakin menjauh," nasehat Ustadz Khairul dengan suara menenangkan.
Maheer terdiam. Ego yang selama ini ia junjung terasa sedikit goyah.
"Jika kau ingin dia luluh, jangan gunakan kekerasan atau ancaman. Islam mengajarkan kita untuk melindungi wanita dengan kelembutan, bukan dengan paksaan yang melukai martabatnya. Menikah karena wasiat adalah ibadah, tapi cara menjalaninya harus tetap sesuai syariat yang penuh kasih sayang," lanjut Sang Ustadz.
Maheer menunduk perlahan. "Saya akan berusaha, Ustadz."
Setelah merasa Maheer cukup tenang, Ustadz Khairul memanggil istrinya untuk menjemput Assel. Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Assel muncul dengan langkah gontai, mendekap Razka yang tampak ketakutan melihat keberadaan Maheer di sana.
"Tidak! Aku tidak mau pulang dengannya!" jerit Assel seketika saat matanya bertemu dengan tatapan tajam Maheer. "Ustadz, tolong jangan biarkan dia membawa anakku!"
Ustadz Khairul memberi isyarat agar Assel duduk. "Assel, dengarkan dulu. Nak Maheer ke sini untuk menunaikan janji terakhir suamimu. Wasiat adalah amanah yang sangat berat di sisi Allah. Jika amanah ini tidak ditunaikan, jiwa yang telah pergi mungkin tidak akan tenang di sana."
Mendengar kata "wasiat" dan "ketenangan suaminya", tangis Assel pecah. Ia memeluk Razka semakin erat. Bayangan wajah Muzammil yang bersimbah darah kembali muncul. Ia tahu betapa suaminya sangat mencintai adiknya, meski Maheer selalu membencinya.
"Aku... aku setuju menikah," ucap Assel dengan suara bergetar. "Tapi aku punya syarat."
Maheer mengerutkan kening. "Apa syaratnya?"
"Jangan sentuh aku. Selama aku menjalani masa iddah dan selama hatiku belum menerima ini, kau tidak boleh memperlakukanku sebagai istri secara batin. Aku butuh waktu untuk berduka," tegas Assel dengan mata yang sembab namun penuh keberanian.
Maheer terdiam sesaat, ia tidak paham maksud dari masa iddah tersebut. Ustadz Khairul segera menjelaskan bahwa dalam Islam, seorang wanita yang baru ditinggal mati suaminya harus menunggu selama empat bulan sepuluh hari sebelum bisa membina hubungan baru, sebagai bentuk penghormatan dan memastikan rahimnya bersih.
"Baik, aku setuju," ujar Maheer singkat. "Selama kau tidak melarikan diri lagi, aku akan menghormati batasan itu."
Hari itu juga, di dalam masjid pondok pesantren yang sederhana, suasana berubah menjadi khidmat. Ustadz Khairul memanggil beberapa ustadz pengajar sebagai saksi. Tidak ada pesta, tidak ada baju mewah. Hanya ada Maheer yang duduk di depan Ustadz Khairul dengan tangan yang saling menggenggam.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Maheer Arasyid bin Arasyid, dengan Assel Salsabila binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Assel Salsabila binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Maheer dengan satu tarikan napas yang mantap.
"Sah?"
"Sah!"
Assel yang duduk di belakang hanya bisa tertunduk, membiarkan air matanya jatuh membasahi kerudungnya. Ia kini resmi menjadi istri dari pria yang paling membencinya. Sebuah ikatan suci telah terjalin di atas luka yang masih menganga.
Setelah doa penutup, Maheer berdiri dan mendekati Assel. Ia tidak menyentuhnya, hanya berdiri dengan jarak yang cukup. "Ayo pulang. Ibu sudah menunggu di rumah sakit."
Assel berdiri tanpa sepatah kata pun. Ia menatap Ustadz Khairul dengan pandangan terima kasih sekaligus duka. Pelarian itu telah berakhir, namun perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, suasana terasa sangat dingin.
Razka tertidur di antara mereka, menjadi satu-satunya pembatas sekaligus alasan mengapa kedua manusia yang saling membenci itu kini terikat dalam satu takdir. Maheer menatap keluar jendela, memikirkan nasehat Ustadz Khairul. Ia sudah mendapatkan apa yang ia mau, namun ia sadar, memenangkan raga Assel jauh lebih mudah daripada menaklukkan badai di dalam hatinya sendiri.
Perjalanan ini bukan lagi tentang mengejar buronan, melainkan tentang bagaimana dua jiwa yang hancur mencoba bertahan dalam satu atap yang sama. Semua pun akan bertanya-tanya, mampukah Maheer menjaga batasannya, ataukah dendam lamanya akan kembali merusak janji suci yang baru saja diucapkannya?
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah