NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 16

Dapur itu hanya diterangi lampu gantung kecil di atas meja bar. Cahaya kuningnya jatuh lembut, tapi tidak cukup hangat untuk mengusir sunyi yang menggantung di antara mereka.

Suara air mendidih pelan.

Rana berdiri membelakangi, tangannya sibuk membuka bungkus mie instan. Gerakannya tenang, selalu tenang- seolah semua sudah menjadi kebiasaan.

Dipta bersandar di sisi lain meja, memperhatikannya tanpa benar-benar tahu harus berkata apa.

"Kamu...tadi nggak makan?" suaranya akhirnya keluar, datar.

Rana tidak langsung menjawab. Ia memasukkan mie ke dalam panci, lalu baru berkata pelan.

"Masayu rewel, Alaric juga belum bisa potong sendiri."

Singkat. Sederhana. Tidak ada keluhan.

Dipta terdiam.

Seharusnya ia ada di sana.

seharusnya ia membantu.

Tapi kenyataannya, ia justru lebih banyak berbicara dengan Laras.

Tatapan Dipta jatuh ke punggung Rana yang ramping. Ada sesuatu yang terasa...mengganjal. Bukan karena apa yang ia lakukan, tapi karena apa yang tidak ia lakukan.

Namun alih-alih menahan atau memperbaiki, Dipta justru memilih arah lain.

"Kamu tadi...diam saja sama Laras?"

Rana berhenti sesaat. Tangannya menggenggam sendok, tapi tidak bergerak.

"Aku capek," jawabnya singkat.

Dipta menghela napas pelan, sedikit tidak puas.

"Bukan itu maksudku..."

Rana akhirnya menoleh, menatapnya sekilas. Tatapannya yang datar, tapi bukan kosong- lebih seperti...menahan sesuatu.

"Kamu kelihatan dingin," lanjut Dipta. "Aku nggak suka kalau kamu seperti itu di depan orang lain."

Kalimat itu menggantung.

Beberapa detik berlalu tanpa suara, selain air yang masih mendidih pelan.

Rana kembali menghadap panci. "Harusnya aku gimana?" tanyanya pelan.

Bukan menantang.

Bukan marah.

Hanya...bertanya.

Dipta tidak langsung menjawab. Dan disitulah masalahnya- ia sendiri benar-benar tidak tahu.

Rana mengaduk mie perlahan, lalu menambahkan bumbu. Aroma sederhana memenuhi dapur, kontras dengan suasana yang terasa semakin kaku.

"Aku cuma fokus sama anak-anak," lanjut Rana, masih membelakangi. "Itu aja."

Tidak ada penjelasan lain.

Tidak ada pembelaan.

Dipta mengatupkan rahang. Entah kenapa, jawaban itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.

Bukannya meredakan, justru terasa seperti jarak yang semakin jelas.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dipta berbalik.

Langkahnya terdengar menjauh dari dapur.

Rana tidak memanggil.

Tidak juga menoleh.

Ia hanya mematikan kompor, menuangkan mie ke dalam mangkuk, lalu duduk di kursi bar sendirian.

Suara langkah Dipta menghilang di balik pintu kamar.

Sunyi kembali memenuhi rumah itu.

Rana menatap mie di depannya cukup lama sebelum akhirnya mengambil sendok.

Satu suapan masuk ke mulutnya.

Hangat.

Tapi entah kenapa… tidak terasa apa-apa.

~

Pagi itu datang dengan tenang- terlalu tenang untuk sebuah rumah yang seharusnya penuh suara anak-anak di hari Minggu.

Cahaya matahari masuk dari jendela ruang makan, jatuh tepat di meja kecil tempat Rana duduk. Di pangkuannya, Masayu setengah mengantuk, mulutnya terbuka pelan setiap kali sendok kecil itu mendekat.

"Sedikit lagi, sayang…" bisik Rana lembut.

Masayu mengerjap, lalu menurut.

Di sisi lain rumah, suara pintu kamar terbuka.

Dipta keluar dengan langkah ringan. Kaos putih sederhana membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana training yang pas. Rambutnya masih sedikit basah, seolah ia sudah siap sejak lama.

Rana sempat melirik sekilas.

Biasanya, di jam seperti ini, suara Dipta akan terdengar memanggil.

"Mas Al, bangun. Kita sepedaan."

Lalu langkah kecil anak laki-laki itu akan berlari-lari, masih dengan mata setengah tertutup tapi penuh semangat.

Tapi pagi ini…

Tidak ada suara itu.

Dipta hanya berhenti sebentar di ruang makan. Tatapannya jatuh pada Masayu yang sedang disuapi, lalu ke arah kamar Alaric yang masih tertutup.

Hanya satu detik.

Atau mungkin kurang.

"Mas mau jogging," ucapnya singkat.

Rana mengangguk pelan.

"Iya."

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada tambahan apa pun.

Dipta mengambil kunci, lalu berjalan menuju pintu depan.

Suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali.

Klik.

Sederhana. Tapi entah kenapa, terdengar lebih keras dari biasanya.

Rana tetap di tempatnya.

Sendok di tangannya bergerak pelan, menyuapi Masayu yang kini mulai lebih terjaga. Anak itu mengoceh kecil, tidak mengerti apa pun tentang perubahan yang terjadi.

Beberapa menit berlalu.

Sunyi kembali mengambil alih.

Rana melirik ke arah kamar Alaric.

Masih tertutup.

Tidak ada suara langkah kecil.

Tidak ada tawa pagi.

Biasanya, di waktu seperti ini, ia akan sedikit tersenyum melihat Ayah dan anak itu bersiap keluar bersama.

Hari ini… tidak.

Rana menarik napas pelan.

"Masayu habiskan, ya," ucapnya lembut, seolah semuanya baik-baik saja.

Tapi matanya sempat kembali melirik ke arah pintu depan.

Kosong.

Dan untuk pertama kalinya, pagi yang biasanya terasa biasa saja…

terasa sedikit lebih jauh dari yang seharusnya.

...****************...

Bersambung...

Oh iya, maaf sebelumnya Yehppee bakalan libur setiap hari Sabtu dan Minggu ya☺️

Happy reading all🫶🫶🫶

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!