Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 16
Dapur itu hanya diterangi lampu gantung kecil di atas meja bar. Cahaya kuningnya jatuh lembut, tapi tidak cukup hangat untuk mengusir sunyi yang menggantung di antara mereka.
Suara air mendidih pelan.
Rana berdiri membelakangi, tangannya sibuk membuka bungkus mie instan. Gerakannya tenang, selalu tenang- seolah semua sudah menjadi kebiasaan.
Dipta bersandar di sisi lain meja, memperhatikannya tanpa benar-benar tahu harus berkata apa.
"Kamu...tadi nggak makan?" suaranya akhirnya keluar, datar.
Rana tidak langsung menjawab. Ia memasukkan mie ke dalam panci, lalu baru berkata pelan.
"Masayu rewel, Alaric juga belum bisa potong sendiri."
Singkat. Sederhana. Tidak ada keluhan.
Dipta terdiam.
Seharusnya ia ada di sana.
seharusnya ia membantu.
Tapi kenyataannya, ia justru lebih banyak berbicara dengan Laras.
Tatapan Dipta jatuh ke punggung Rana yang ramping. Ada sesuatu yang terasa...mengganjal. Bukan karena apa yang ia lakukan, tapi karena apa yang tidak ia lakukan.
Namun alih-alih menahan atau memperbaiki, Dipta justru memilih arah lain.
"Kamu tadi...diam saja sama Laras?"
Rana berhenti sesaat. Tangannya menggenggam sendok, tapi tidak bergerak.
"Aku capek," jawabnya singkat.
Dipta menghela napas pelan, sedikit tidak puas.
"Bukan itu maksudku..."
Rana akhirnya menoleh, menatapnya sekilas. Tatapannya yang datar, tapi bukan kosong- lebih seperti...menahan sesuatu.
"Kamu kelihatan dingin," lanjut Dipta. "Aku nggak suka kalau kamu seperti itu di depan orang lain."
Kalimat itu menggantung.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, selain air yang masih mendidih pelan.
Rana kembali menghadap panci. "Harusnya aku gimana?" tanyanya pelan.
Bukan menantang.
Bukan marah.
Hanya...bertanya.
Dipta tidak langsung menjawab. Dan disitulah masalahnya- ia sendiri benar-benar tidak tahu.
Rana mengaduk mie perlahan, lalu menambahkan bumbu. Aroma sederhana memenuhi dapur, kontras dengan suasana yang terasa semakin kaku.
"Aku cuma fokus sama anak-anak," lanjut Rana, masih membelakangi. "Itu aja."
Tidak ada penjelasan lain.
Tidak ada pembelaan.
Dipta mengatupkan rahang. Entah kenapa, jawaban itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.
Bukannya meredakan, justru terasa seperti jarak yang semakin jelas.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dipta berbalik.
Langkahnya terdengar menjauh dari dapur.
Rana tidak memanggil.
Tidak juga menoleh.
Ia hanya mematikan kompor, menuangkan mie ke dalam mangkuk, lalu duduk di kursi bar sendirian.
Suara langkah Dipta menghilang di balik pintu kamar.
Sunyi kembali memenuhi rumah itu.
Rana menatap mie di depannya cukup lama sebelum akhirnya mengambil sendok.
Satu suapan masuk ke mulutnya.
Hangat.
Tapi entah kenapa… tidak terasa apa-apa.
~
Pagi itu datang dengan tenang- terlalu tenang untuk sebuah rumah yang seharusnya penuh suara anak-anak di hari Minggu.
Cahaya matahari masuk dari jendela ruang makan, jatuh tepat di meja kecil tempat Rana duduk. Di pangkuannya, Masayu setengah mengantuk, mulutnya terbuka pelan setiap kali sendok kecil itu mendekat.
"Sedikit lagi, sayang…" bisik Rana lembut.
Masayu mengerjap, lalu menurut.
Di sisi lain rumah, suara pintu kamar terbuka.
Dipta keluar dengan langkah ringan. Kaos putih sederhana membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana training yang pas. Rambutnya masih sedikit basah, seolah ia sudah siap sejak lama.
Rana sempat melirik sekilas.
Biasanya, di jam seperti ini, suara Dipta akan terdengar memanggil.
"Mas Al, bangun. Kita sepedaan."
Lalu langkah kecil anak laki-laki itu akan berlari-lari, masih dengan mata setengah tertutup tapi penuh semangat.
Tapi pagi ini…
Tidak ada suara itu.
Dipta hanya berhenti sebentar di ruang makan. Tatapannya jatuh pada Masayu yang sedang disuapi, lalu ke arah kamar Alaric yang masih tertutup.
Hanya satu detik.
Atau mungkin kurang.
"Mas mau jogging," ucapnya singkat.
Rana mengangguk pelan.
"Iya."
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada tambahan apa pun.
Dipta mengambil kunci, lalu berjalan menuju pintu depan.
Suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali.
Klik.
Sederhana. Tapi entah kenapa, terdengar lebih keras dari biasanya.
Rana tetap di tempatnya.
Sendok di tangannya bergerak pelan, menyuapi Masayu yang kini mulai lebih terjaga. Anak itu mengoceh kecil, tidak mengerti apa pun tentang perubahan yang terjadi.
Beberapa menit berlalu.
Sunyi kembali mengambil alih.
Rana melirik ke arah kamar Alaric.
Masih tertutup.
Tidak ada suara langkah kecil.
Tidak ada tawa pagi.
Biasanya, di waktu seperti ini, ia akan sedikit tersenyum melihat Ayah dan anak itu bersiap keluar bersama.
Hari ini… tidak.
Rana menarik napas pelan.
"Masayu habiskan, ya," ucapnya lembut, seolah semuanya baik-baik saja.
Tapi matanya sempat kembali melirik ke arah pintu depan.
Kosong.
Dan untuk pertama kalinya, pagi yang biasanya terasa biasa saja…
terasa sedikit lebih jauh dari yang seharusnya.
...****************...
Bersambung...
Oh iya, maaf sebelumnya Yehppee bakalan libur setiap hari Sabtu dan Minggu ya☺️
Happy reading all🫶🫶🫶