Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - Tempat Yang Sama
Sore itu datang bersama langit yang muram dan udara yang menahan hujan. Awan menggantung rendah sejak siang, membuat cahaya hari cepat memudar meski jam belum terlalu larut. Angin membawa aroma tanah basah yang tipis, seperti kabar bahwa hujan hanya tinggal menunggu waktu.
Airel Virellia berdiri di depan gerbang kampus sambil memandangi jalan raya yang padat. Kendaraan bergerak saling menyalip, klakson sesekali terdengar, dan orang-orang berlalu dengan tujuan masing-masing. Namun semua itu terasa jauh darinya, seolah hanya menjadi latar yang tidak benar-benar ia dengar.
Sejak pagi, ada gelisah yang terus mengikuti langkahnya. Ia berusaha fokus di kelas, menjawab pertanyaan dosen saat diminta, bahkan sempat tertawa kecil ketika Kalista mengomentari sesuatu yang lucu. Meski begitu, setiap jeda yang muncul justru membawa pikirannya kembali pada satu orang.
Zev.
Nama itu kini lebih sering muncul daripada yang ingin ia akui. Beberapa hari terakhir, pria itu hadir dalam pola yang sulit dibaca. Kadang terlihat dekat, kadang menjauh sebelum sempat disapa. Tatapannya seolah mengenali sesuatu, tetapi sikapnya justru seperti sedang menolak untuk mengingat.
Kalista keluar dari gerbang sambil membuka payung lipat berwarna hitam. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti di samping Airel sambil menatap langit yang makin gelap.
“Kamu belum pulang?”
Airel menggeleng pelan. “Mau ke tempat dulu.”
Kalista menoleh. “Sekarang? Mau hujan.”
“Iya.”
“Ke halte?”
Airel diam sesaat sebelum menjawab. “Bukan.”
Kalista mengangkat alis, jelas penasaran, tetapi memilih tidak mendesak. “Ya udah. Jangan lama-lama, nanti hujan deres.”
Airel mengangguk kecil. Setelah Kalista pergi, ia mengeratkan genggaman pada tali tasnya lalu berbalik menuju jalan kecil di sisi kampus. Jalur itu jarang dipakai mahasiswa karena memutar dan lebih sepi dibanding jalan utama.
Ia sudah lama tidak melewatinya.
Namun sejak beberapa hari terakhir, tempat di ujung jalan itu terus muncul di kepalanya. Bukan dalam bentuk ingatan yang jelas, melainkan seperti panggilan samar yang terus menariknya datang.
Jembatan kecil di taman lama.
Langkah Airel menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun kering dan tanah lembap. Pohon-pohon besar di kanan kiri menutup sebagian cahaya, membuat suasana terasa lebih teduh dan dingin. Sesekali ranting bergoyang diterpa angin, menurunkan butir air sisa hujan semalam.
Beberapa menit kemudian, taman itu terlihat.
Tempatnya jauh lebih sepi daripada yang ia ingat. Cat bangku taman mulai pudar, lampu-lampu tua berdiri miring, dan rumput liar tumbuh di sela batu pijakan. Tidak ada anak-anak berlari, tidak ada suara tawa, hanya desir angin dan bunyi dedaunan yang saling bergesek.
Namun jembatan kecil itu masih ada.
Terbuat dari papan kayu dan rangka besi yang mulai kusam, membentang di atas aliran air sempit yang kini tinggal menyisakan arus kecil. Airel berdiri beberapa langkah darinya, memandangi tempat yang selama ini tersimpan di sudut pikirannya.
Banyak hal tentang masa kecil yang sudah kabur. Wajah-wajah memudar, suara-suara menghilang, dan kejadian tertentu terasa seperti milik orang lain. Namun tempat ini tetap tinggal, seolah menolak ikut hilang.
Ia pernah datang ke sini berkali-kali.
Dengan seseorang.
Bayangan tipis lewat di kepalanya. Langkah kaki kecil berlari di atas papan kayu. Tangan mungil yang mengayun sembarangan. Tawa pendek yang pecah lalu hilang tertelan angin.
Airel memejamkan mata sebentar. Saat dibuka kembali, wajah dalam ingatan itu tetap kabur. Yang tertinggal hanya rasa hangat dan janji lama yang belum pernah benar-benar lepas dari dirinya.
Ia berjalan naik ke jembatan dan berhenti di tengah. Tangannya menyentuh pagar besi yang dingin dan sedikit kasar karena karat. Dari sana, ia menatap air dangkal di bawah yang memantulkan langit kelabu.
“Kalau semuanya cuma kebetulan,” gumamnya pelan, “kenapa aku terus balik ke sini?”
Suara langkah kaki membuatnya menoleh.
Dari jalan setapak yang tadi ia lewati, seseorang berjalan mendekat dengan ritme tenang. Bahunya tegap, langkahnya mantap, dan meski jarak masih beberapa meter, Airel langsung mengenalinya.
Zevarion Hale.
Ia berhenti saat melihat Airel di atas jembatan. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan berlebihan, tetapi ada perubahan tipis yang tidak lolos dari pandangan Airel. Seperti seseorang yang menemukan sesuatu di tempat yang tidak ia duga.
Mereka saling menatap beberapa detik tanpa bicara. Angin lewat di antara mereka, membawa hawa dingin yang mulai tajam.
“Kamu…” ucap Zev akhirnya, lalu terdiam.
Airel menahan diri agar suaranya tetap datar. “Aku juga bisa bilang hal yang sama.”
Zev tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke jembatan, lalu ke bangku tua di dekat pohon, kemudian ke lampu taman yang sudah kusam. Semakin lama ia melihat sekeliling, semakin rumit ekspresi di wajahnya.
Seolah tempat itu sedang berbicara dalam bahasa yang hanya ia dengar sendiri.
“Kamu sering ke sini?” tanya Airel.
Zev menggeleng kecil. “Enggak.”
Jawabannya cepat, tetapi nadanya ragu. Ia melangkah mendekat sampai di kaki jembatan, lalu berhenti lagi. Pandangannya menelusuri papan kayu satu per satu seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi.
“Aneh,” katanya pelan.
Airel turun satu langkah. “Apa?”
Zev mengangkat kepala dan menatap sekeliling sekali lagi. “Rasanya kayak pernah ke sini.”
Udara di dada Airel terasa menegang. Ia menatap pria itu lebih lama, mencoba menangkap apakah kalimat tadi hanya kebetulan atau sungguh keluar dari perasaan yang sama.
“Tadi kamu bilang enggak pernah.”
“Aku enggak ingat pernah ke sini,” jawab Zev sambil mengencangkan rahang. “Tapi tempat ini terasa kenal.”
Kata terakhir itu terdengar lebih jujur daripada seluruh kalimat sebelumnya.
Airel menggenggam pagar jembatan lebih erat. Tempat ini selama ini ia simpan sendiri. Bahkan pada Kalista pun ia hampir tidak pernah bercerita. Lalu bagaimana mungkin Zev berdiri di hadapannya dan mengatakan hal serupa?
Langit bergemuruh pelan.
Tetes hujan pertama jatuh di papan kayu, meninggalkan noda gelap kecil yang cepat bertambah banyak. Zev menengadah sesaat, lalu kembali memandang jembatan.
Di saat yang sama, sesuatu melintas di matanya.
Suara hujan deras. Tawa anak kecil. Tangan mungil yang menarik lengannya sambil berlari.
Zev memejamkan mata cepat.
Napasnya berubah lebih berat.
Airel turun dari jembatan dan berdiri di hadapannya dengan jarak beberapa langkah. Rambutnya mulai basah oleh gerimis, tetapi ia tidak peduli.
“Kamu kenapa?”
Zev membuka mata lagi. “Enggak apa-apa.”
Namun wajahnya lebih pucat dari tadi. Ada ketegangan jelas di garis rahangnya, dan jemarinya mengepal seperti sedang menahan sesuatu.
“Kamu benar-benar enggak ingat tempat ini?” tanya Airel lagi.
Ia menatap Airel cukup lama sebelum menjawab. Di matanya terlihat pertarungan yang nyata, antara keinginan bicara dan dorongan untuk menutup semuanya rapat.
“Aku…” Ia berhenti. “Aku enggak tahu.”
Hujan turun makin rapat, membasahi pundak mereka. Angin membawa aroma tanah dan daun basah yang membuat taman tua itu terasa hidup kembali.
Bersamaan dengan itu, sebuah potongan kenangan muncul di kepala Airel.
Seorang anak laki-laki berdiri di tengah jembatan sambil menoleh ke arahnya. Suara kecil berkata, “Cepat sini.”
Wajahnya tetap buram.
Namun cara berdirinya.
Cara bahunya sedikit miring.
Cara ia menoleh.
Detak jantung Airel melonjak keras.
Itu mirip Zev.
“Airel.”
Suara Zev menariknya kembali ke kenyataan.
Ia menatap pria itu. Zev sedang melihatnya dengan ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Bingung, tertekan, dan seperti sedang menahan sesuatu yang hampir lepas.
“Kita pernah ketemu sebelumnya?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghantam tepat di tengah dada Airel. Ia membuka bibir, lalu menutupnya lagi. Banyak jawaban ingin keluar, tetapi tidak ada satu pun yang utuh.
Ia ingin bilang iya.
Ia juga ingin bilang tidak tahu.
Karena dirinya sendiri masih berdiri di antara dua kemungkinan itu.
“Aku juga lagi nyari jawabannya,” katanya akhirnya.
Hujan turun lebih deras. Air memukul papan kayu, dedaunan, dan permukaan sungai kecil di bawah mereka. Keduanya tetap berdiri di sana tanpa payung dan tanpa bergerak.
Tempat tua itu seolah menyimpan napas yang lama tertahan.
Zev menoleh ke jembatan sekali lagi, lalu perlahan melangkah naik. Satu langkah, dua langkah, kemudian berhenti di tengah tempat Airel tadi berdiri.
Tangannya menyentuh pagar besi berkarat.
Tubuhnya menegang.
Kilasan datang cepat.
Seorang gadis kecil menangis. Hujan deras menutup suara sekitar. Dirinya berdiri di tempat yang sama sambil menggenggam tangan kecil itu dan berkata sesuatu.
Sebelum wajah siapa pun terlihat jelas, bayangan itu pecah.
Zev mundur satu langkah.
Napasnya terputus kasar.
Airel refleks mendekat. “Zev!”
Ia menoleh. Di matanya, untuk sesaat, terlihat sesuatu yang sangat lama terkubur. Bukan sekadar bingung, melainkan rasa kehilangan yang belum pernah sembuh.
“Aku… pernah ada di sini,” bisiknya.
Airel membeku.
Hujan terus turun tanpa jeda, memukul kayu jembatan dan membasahi pakaian mereka hingga berat. Namun dingin cuaca tidak sebanding dengan gejolak yang memenuhi dada Airel.
Kini mereka tidak lagi terhubung hanya oleh tatapan aneh atau perasaan samar yang sulit dijelaskan. Tempat ini mengenali mereka berdua, dan kenangan yang selama ini terkunci mulai mendorong pintunya terbuka sedikit demi sedikit.