NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Sepasang suami istri tengah duduk saling berhadapan di kelilingi hiasan indah berupa bunga-bunga dan berbagai hiasan perayaan lainnya. Yang mana menambah kesan romantic dan penuh cinta. Jelas semua itu telah disiapkan sedemikian rupa oleh salah satu dari dua insan yang tengah duduk dengan tenang itu.

Fania Narendra, wanita cantik dengan lesung pipi yang terlihat manis menghiasi kedua pipinya. Ia menatap teduh ke arah pria matang di depannya, yang terlihat semakin menawan. Namun entah mengapa hatinya merasa mengganjal dengan pandangan itu, seolah tak puas.

Sementara Ronal Andana, balik menatap wanita cantik di hadapannya dengan senyuman manisnya. Kekagumannya pada istrinya itu tak pernah surut dimakan waktu, bahkan sampai detik ini dirinya masih terus dibuat jatuh cinta oleh wanita menawan itu.

“Ini anniversary pernikahan kita ke-3, aku berharap tahun depan sudah ada bayi mungil yang akan menambah warna pernikahan kita, Sayang.” Ronald mengulas senyumannya dengan menggenggam tangan Fania, demi menyalurkan kehangatan yang Ia rasakan saat membayangkan hal itu.

Memang sudah tiga tahun mereka menjalani rumah tangga, namun sampai detik ini mereka belum juga dikaruniai keturunan. Bukan karena mereka tidak bisa, tapi memang Fania yang belum ingin memiliki seorang anak, karena alasan karir.

Fania menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dirinya teringat sesuatu yang perlu Ia sampaikan pada suaminya.

“Ronald, apa kamu memang ingin segera memiliki baby untuk saat ini?” tanya Fania dengan ragu.

Fania sudah tahu jawabannya apa, namun Ia benar-benar ingin membuka obrolan itu untuk mencapai pada titip perbincangan inti yang ingin diungkapkannya.

“Sayang, tentu saja. Bukankah pernikahan memang wajarnya juga karena ingin memiliki keturunan? Aku pun sama, meskipun keturunan bukanlah alasan utama pernikahan, tapi membayangkan memiliki miniatur dirimu ada di sini, membuatku bahagia.” Jelas Ronald dengan antusiasnya, memang dirinya menginginkan bayi yang lucu sudah sejak tahun pertama pernikahan. Namun keinginan Fania, Ia berusaha untuk menuruti wanita yang begitu dicintainya itu.

“Maafkan aku, Ronald. Bisakah kita menundanya dulu, karena aku belum siap?” tanya Fania dengan gugup, rasanya seperti pengakuan dosa saat ini. Karena Ia kembali menolak keinginan suaminya.

Ronald menghela nafas panjang, berusaha untuk memaklumi keinginan Fania. Mungkin memang istrinya belum siap, karena latar belakang keluarganya. Ia berusaha untuk memaklumi hal itu. Tapi Ia juga butuh alasan yang jelas, kalau kemarin karir lalu apalagi saat ini.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa alasannya sehingga kamu belum siap? Apa kali ini karir lagi? Aku rasa karirmu sudah baik saat ini, kamu sudah menjadi desainer terkenal. Dan rata-rata kalangan atas, memakai jasamu bukan?” sarkas Ronald menginterupsi jika memang alasannya masihlah karir.

Fania menunduk pelan, takut sebenarnya untuk mengatakan kejujuran yang dipendamnya ini. Namun kalau Ia menundanya, pasti akan tambah runyam. Fania berusaha untuk mengangkat kembali kepalanya, menatap Ronald yang masih setia menatap lekat dirinya.

“Ak … ku, apa kamu tak akan marah, bila aku jujur?” tanya Fania dnegan ragu.

Ronald mengangguk mantap. “Bicaralah sejujurnya, aku tak akan marah.”

“Ronald, ehm … aku merasa perasaan cintaku untukmu seakan lenyap dan hi … lang. Maafkan aku” Fania akhirnya mengungkapkan kegundahan hatinya dengan jujur, bahkan Ia tak berani mengangkat kepalanya lagi setelah kembali menunduk.

Deg

Ronald tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, hatinya terasa sesak dan perih mendengar penuturan Fania yang jujur. Sungguh kalimat yang baru saja Ia dengar dari bibir manis istrinya tak pernah terbesit sedetik penting dalam pikirannya selama ini.

Ronald menatap sendu ke arah Fania dengan netra yang sudah berkaca-kaca. Lidahnya kelu hanya untuk mengeluarkan satu kata pun. Ini teramat perih untuk dirinya rasakan.

Tiga tahun, mereka sudah hidup bersama dalam satu atap. Ia pikir sudah mengenal Fania luar dan dalam, seluruh yang ada pada Fania, Ia pikir sudah Ia pahami dan Ia kenali. Tapi detik ini, dirinya merasa tak lagi mengenal wanita di hadapannya itu.

Benarkah wanita yang selama ini Ia cintai yang baru saja mengutarakan kalimat menyakitkan itu. Apa salahnya, dan apa kekurangannya sehingga Fania berkata dengan begitu teganya saat ini.

Ronald berusaha mengatur nafasnya yang memburu dan terasa sesak. Ia hembuskan nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Fania sejak tadi.

Fania hanya mampu terdiam dan merasa bersalah setelah jujur mengungkapkan isi hatinya. Apa Ia sudah salah, harusnya Ia tak jujur mengatakan semua itu. Ada sebersit penyesalan dalam hatinya, namun Ia terpis. Karena menurutnya akan lebih baik jika Ronald tahu dibanding Ia memendamnya keresahannya sendiri.

Melihat Ronald yang tampak menyedihkan seperti itu, membuat perasaan tidak tega menyusup dalam hati Fania. Ingin rasanya Ia raih suaminya itu untuk Ia bawa dalam dekapan hangatnya.

Namun teringat kembali apa yang sudah Ia katakan, Fania sadar jelas bahwa dirinya penyebab suaminya menjadi seperti itu. Hingga suara Ronald mengehentikan lamunannya.

“Jadi maumu apa sekarang?” tanya Ronald dengan wajah datarnya, setelah berhasil mengendalikan rasa sesak di hatinya.

Fania menunduk dalam, melihat bagaimana tatapan Ronald yang begitu datar. Dan sungguh itu membuatnya takut dan tak nyaman.

“Aku tak ingin kita berpisah, karena aku yakin ini hanya sementara. Dan aku akan mencintaimu lagi.” Jelas Fania dengan begitu yakin, dan begitu entengnya.

Sontak hal itu membuat Ronald tersenyum sinis, ada perih yang kembali menyusup dalam hatinya. Semudah itu istrinya berucap padanya, seolah apa yang semua dikatakan tak menyakiti dirinya.

“Lalu bagaimana kalau kamu tetap tak mencintaiku lagi?” tanya Ronald dengan sarkas.

Fania terdiam mendengar ujaran sarkas Ronald. Benar, hal itu tak pernah Ia pikirkan sebelumnya. Lalu Ia akan bagaimana jika itu terjadi. Tapi memikirkan perpisahan bersama Ronald, jelas hal itu tidak pernah Ia inginkan. Bahkan tak pernah terbesit untuk berpisah dari suaminya itu.

“Aku … aku juga tak tahu, tapi bisakah kita jalani ini dulu? Biarkan waktu yang akan menjawabnya.” Fania menjawab sesuai yang terlintas dalam pikirannya.

Kembali, Ronald mengulas senyum sinisnya. “Semudah itu kamu bicara? Aku tak pernah sedikitpun tak mencintai kamu. Apa kamu sebenarnya mencintai orang lain, saat ini?” sarkas Ronald yang tak mampu lagi menahan geramnya.

Mengingat Fania yang selalu bekerja di luar rumah, bertemu dengan banyak orang-orang hebat. Tak menutup kemungkinan bukan, jika Fania bertemu dan jatuh cinta pada seorang pria yang menarik perhatiannya.

Sebagai seorang desainer terkenal, tentu saja Fania memiliki banyak partner bisnis yang cukup menarik dan menawan.

"Ronald, bukankah kamu bilang tak akan marah kalau aku jujur?"

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!